3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
October 17, 2021
in Cerpen
Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

Ilustrasi: Salah satu sekual lukisan Hardiman yang pernah dipamerkan di Undiksha, Singaraja,

Suara telivisi yang sangat kencang terdengar dari salah satu sudut rumah. Terlihat seorang pria dengan kaos oblong dan celana pendek duduk santai di sofa. Sisa-sisa belek terlihat masih menempel di sela-sela matanya, penampilannya benar-benar berantakan bahkan dengan melihatnya, kita bisa menebak menu makanannya semalam. Layar televisi menampilkan berita terkini yang memberitakan penyebaran wabah yang datang dari negeri timur sana, diperparah dengan demo yang terjadi di tengah-tengah pandemi ini. Demo terjadi di seluruh penjuru kota dengan ribuan demonstran. Mereka menuntut penegakan hukuman bagi anggota dewan yang melakukan korupsi dana di tengah pandemi.

“Selamat siang pemirsa, seperti yang terlihat di belakang saya, terjadi demo di depan gedung DPR yang dilakukan oleh mahasiswa dan warga sipil. Para demonstran menuntut penegakan hukum terhadap anggota dewan yang melakukan korupsi, terlihat begitu banyak demonstran saling berdesak-desakan, namun belum ada tanggapan apa pun dari pemerintah.”

Fokus menyimak berita yang sedang hangat, Pria itu dibuat kesal karena suara ribut dari atas langit-langit rumahnya, seakan-akan sedang terjadi demo di atapnya. Ia memang jarang di rumah, tetapi semenjak pandemi ini ia selalu diam di rumah mengikuti arahan pemerintah. Mendengar keributan di langit-langit rumah emosinya tak tertahankan, ia bergegas beranjak dari sofanya dan mengambil sapu yang ada di dekatnya, lalu menggedor langit-langit yang sudah sedikit usang itu dengan sapu.

“Tikus sialan! Diam!” Pria itu berteriak ke arah atap rumahnya.

Belakangan, tikus-tikus itu semakin terbiasa mendengar umpatan yang diteriakan oleh Pria itu, tentu semenjak ia melakukan kerja dari rumah. Karena itu, sesungguhnya tidak ada gunanya mengumpat tikus-tikus, mereka hewan bangor yang hanya memedulikan isi perut. Tentu saja mereka akan mengabaikan apa yang Pria itu katakan. Hewan kotor itu mungkin hanya tahu jika si pria kesal.

Makanan yang disimpan di atas meja selalu berkurang bahkan jika tidak ada seorang yang memakannya, tentu saja itu ulah dari tikus-tikus itu. Sialnya, di rumah pria itu tidak ada kucing untuk mengusir mereka, sehingga tikus-tikus pencuri menjadi leluasa berkeliaran kesana-kemari. Mereka sangat lincah untuk mengendap dan mengambil makanan yang ada di atas meja, di dalam rak makanan, di atas piring, bahkan yang ada di dalam kaleng dengan tutup yang erat, entah bagaimana cara mereka membukanya. Untungnya setiap mereka mencuri selalu meninggalkan jejak berupa kotora yang baunya seperti tumpukan sampah.

“Sialan! Tikus sialan! Akan aku remukan badan kalian,” umpat pria itu dengan perasaan muak dengan tingkah tikus-tikus di rumahnya.

Tikus-tikus itu mengintip dari lubang yang ada di atap rumah pria itu. Seperti menonton pertunjukan, mereka duduk sambil menyantap hasil curian, sesekali cicitan mereka seperti tawa yang membuat si pria bertambah kesal.

“Dia tidak bisa berbuat apa selain marah-marah,” kata tikus kecil sambil menggigit potongan roti.

“Makan yang banyak, bukan banyak bicara seperti manusia!” lanjut tikus besar.

Tikus-tikus itu sangat puas berdecitan, menonton si pria, dan memakan hasil curiannya dengan lahap dan berpikir semuanya akan seperti itu selamanya.

Di suatu siang, pria itu sudah siap jika tikus-tikus di rumahnya muncul, tangannya sudah menggenggam sapu untuk memenuhi sumpahnya: meremukkan para tikus itu. Tampaknya, nyali tikus-tikus itu sedikit menciut setelah melihat pria itu dengan sapu yang selalu digenggam. Tentu saja para tikus paham jika pria itu ingin membunuh mereka. Namun, mereka tidak kehabisan akal, mereka menunggu sampai si pria lengah. Tentu tidak mudah. Mata pria itu terus terjaga menunggu kedatangan tikus dan tikus-tikus menunggu kesempatan yang tepat untuk mengambil makanan.

“Manusia ini benar-benar kekeh. Tidak mau kalah, bagaiaman ini, Bos?” tanya tikus kecil.

“Mau tidak mau salah satu dari kita harus keluar,” kata tikus besar.

“Aku takut kalau tertangkap, Bos,” jawab tikus kecil khawatir.

“Pengecut! sana pergi dan curi makanan itu, satu tikus lebih aman dari pada kita semua yang ke sana,” perintah tikus besar.

Tikus besar menyundul tikus kecil dengan moncongnya yang cukup panjang. Tujuannya jelas, makanan yang ada di atas piring dekat si pria. Tikus kecil yang malang itu terpaksa keluar dari persembunyiannya dan mencuri makanan yang ada di dekat pria itu. Tikus kecil mengendap-endap dan sangat memperhatikan langkahnya, tapi sepertinya pria itu sudah sangat siap. Ia mendengar decitan lagi, mata tikus kecil bertatapan dengan mata si pria, dan dengan sigap si pria mengangkat sapunya dan mengayunkan ke arah tikus kecil.

Pria itu memukul semua yang ada di hadapannya. Makanan di atas piring hancur berantakan tak tersisa karena terkena sapu yang dibawa oleh pria itu. Tikus kecil itu dapat lolos dari amukan si pria. Di sisi lain, sangat beruntung tikus kecil itu, tikus kecil lega karena selamat walaupun ia tidak mendapatkan apa-apa.

“Tidak akan aku beri ampun kalian!” kata pria itu sambil menunjuk ke arah atap dengan sapunya.

Badan tikus kecil itu bergetar ketakutan, jatungnya seperti ingin copot.

“Aku hampir saja mati, Bos, sedikit saja aku lengah maka habislah nyawaku,” kata tikus kecil dengan suara yang bergetar.

“Payah! Nyatanya kau selamat.”

Hingga malam tiba, tikus-tikus itu belum berani lagi mencoba untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Si pria terus berpikir untuk mencari cara bagaimana agar dapat menangkap dan memusnahkan tikus-tikus. Tiba-tiba ia ingat bahwa di rumahnya ada perangkap berbentuk seperti capit peninggalan ayahnya dahulu. Si pria bergegas menuju gudang untuk mencari perangkap yang ditinggalkan oleh ayahnya. Setelah menemukan perangkap, pria itu kembali lalu memasang beberapa perangkap tikus di tempat-tempat yang sering mereka datangi. Tak lupa, ia menaruh makanan di dalam perangkap sebagai umpan.

“Aku yakin, cara ini pasti berhasil,” kata si pria sangat percaya diri.

Pria itu meninggalkan perangkap tikus yang sudah ia pasang di semua sudut yang ia kira akan disinggahi para hewan kotor itu. Lalu, ia kembali duduk di sofa tepat di depan televisi; menonton dengan santai sambil menunggu tikus-tikus terjebak.

“Manusia bodoh itu sudah pergi! Dan… Dan… ada begitu banyak makanan,” kata tikus kecil menyampaikan kepada Tikus besar dan teman-temannya.

“Ya… ya… aku sudah lihat.” Air liur tikus besar mengalir deras dari mulutnya hingga membasahi kaki-kaki kecil tikus lain.

“Ayo kita ambil sebelum manusia itu datang!” kata tikus kecil penuh semangat.

Mereka tak sadar dan tak tahu bahwa apa yang mereka hadapi adalah perangkap untuk membunuh mereka. Saking laparnya, mereka dibutakan oleh makanan, mereka pun menyerbu perangkap itu tanpa ragu. Tidak bisa menghindar, satu per satu dari mereka terperangkap. Seketika badan mereka yang kecil remuk terkena besi dari perangkap tersebut. Seisi perut mereka keluar, mata mereka terpisah dengan kepalanya, lantai seketika dipenuhi oleh darah tikus-tikus itu, tak ada satu pun dari mereka yang tersisa.

Di ruangan lain, si pria duduk manis menonton televisi dan mendengar suara keributan-keributan yang berasal dari tempatnya memasang perangkap. Ia mendengar suara capitan yang terlepas diringi dengan suara decitan tikus-tikus yang kini mirip teriakan meminta tolong. Pria itu tersenyum lebar seperti seorang pembunuh berantai yang telah menghabisi korbannya. Ketika itu adalah pertama kalinya si pria tersenyum karena keributan yang dibuat oleh tikus-tikus.

Dari arah televisi terdengar reporter sedang menyampaikan sebuah berita.

“Sekilas info, telah terungkap kasus korupsi bansos. Terdapat 5 orang yang telah dinyatakan sebagai pelaku, mereka akan diancam  hukuman kurungan seumur hidup.“

“Di masa yang sulit ini, ada-ada saja tingkah tikus-tikus itu,” kata si pria sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam, tak ada lagi suara tikus yang ribut di atas langit-langit rumah hanya serakan bangkai tikus di beberapa sudut rumahnya. Mata pria itu memerah lelah, ia menguap, dan menyerahkan seluruh badannya ke atas sofa favoritnya dengan televisi yang masih menyala. Kali ini tidak akan ada lagi yang mengganggu tidurnya. [T]

__________

BACA CERPEN LAIN

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Heroik Luh Ayu Manik Mas Saat Pandemi Digarap dalam Wayang Kulit

Next Post

Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co