24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

Kadek Indra Putra by Kadek Indra Putra
October 17, 2021
in Cerpen
Petak Umpet-Umpetan | Cerpen Indra Putra

Ilustrasi: Salah satu sekual lukisan Hardiman yang pernah dipamerkan di Undiksha, Singaraja,

Suara telivisi yang sangat kencang terdengar dari salah satu sudut rumah. Terlihat seorang pria dengan kaos oblong dan celana pendek duduk santai di sofa. Sisa-sisa belek terlihat masih menempel di sela-sela matanya, penampilannya benar-benar berantakan bahkan dengan melihatnya, kita bisa menebak menu makanannya semalam. Layar televisi menampilkan berita terkini yang memberitakan penyebaran wabah yang datang dari negeri timur sana, diperparah dengan demo yang terjadi di tengah-tengah pandemi ini. Demo terjadi di seluruh penjuru kota dengan ribuan demonstran. Mereka menuntut penegakan hukuman bagi anggota dewan yang melakukan korupsi dana di tengah pandemi.

“Selamat siang pemirsa, seperti yang terlihat di belakang saya, terjadi demo di depan gedung DPR yang dilakukan oleh mahasiswa dan warga sipil. Para demonstran menuntut penegakan hukum terhadap anggota dewan yang melakukan korupsi, terlihat begitu banyak demonstran saling berdesak-desakan, namun belum ada tanggapan apa pun dari pemerintah.”

Fokus menyimak berita yang sedang hangat, Pria itu dibuat kesal karena suara ribut dari atas langit-langit rumahnya, seakan-akan sedang terjadi demo di atapnya. Ia memang jarang di rumah, tetapi semenjak pandemi ini ia selalu diam di rumah mengikuti arahan pemerintah. Mendengar keributan di langit-langit rumah emosinya tak tertahankan, ia bergegas beranjak dari sofanya dan mengambil sapu yang ada di dekatnya, lalu menggedor langit-langit yang sudah sedikit usang itu dengan sapu.

“Tikus sialan! Diam!” Pria itu berteriak ke arah atap rumahnya.

Belakangan, tikus-tikus itu semakin terbiasa mendengar umpatan yang diteriakan oleh Pria itu, tentu semenjak ia melakukan kerja dari rumah. Karena itu, sesungguhnya tidak ada gunanya mengumpat tikus-tikus, mereka hewan bangor yang hanya memedulikan isi perut. Tentu saja mereka akan mengabaikan apa yang Pria itu katakan. Hewan kotor itu mungkin hanya tahu jika si pria kesal.

Makanan yang disimpan di atas meja selalu berkurang bahkan jika tidak ada seorang yang memakannya, tentu saja itu ulah dari tikus-tikus itu. Sialnya, di rumah pria itu tidak ada kucing untuk mengusir mereka, sehingga tikus-tikus pencuri menjadi leluasa berkeliaran kesana-kemari. Mereka sangat lincah untuk mengendap dan mengambil makanan yang ada di atas meja, di dalam rak makanan, di atas piring, bahkan yang ada di dalam kaleng dengan tutup yang erat, entah bagaimana cara mereka membukanya. Untungnya setiap mereka mencuri selalu meninggalkan jejak berupa kotora yang baunya seperti tumpukan sampah.

“Sialan! Tikus sialan! Akan aku remukan badan kalian,” umpat pria itu dengan perasaan muak dengan tingkah tikus-tikus di rumahnya.

Tikus-tikus itu mengintip dari lubang yang ada di atap rumah pria itu. Seperti menonton pertunjukan, mereka duduk sambil menyantap hasil curian, sesekali cicitan mereka seperti tawa yang membuat si pria bertambah kesal.

“Dia tidak bisa berbuat apa selain marah-marah,” kata tikus kecil sambil menggigit potongan roti.

“Makan yang banyak, bukan banyak bicara seperti manusia!” lanjut tikus besar.

Tikus-tikus itu sangat puas berdecitan, menonton si pria, dan memakan hasil curiannya dengan lahap dan berpikir semuanya akan seperti itu selamanya.

Di suatu siang, pria itu sudah siap jika tikus-tikus di rumahnya muncul, tangannya sudah menggenggam sapu untuk memenuhi sumpahnya: meremukkan para tikus itu. Tampaknya, nyali tikus-tikus itu sedikit menciut setelah melihat pria itu dengan sapu yang selalu digenggam. Tentu saja para tikus paham jika pria itu ingin membunuh mereka. Namun, mereka tidak kehabisan akal, mereka menunggu sampai si pria lengah. Tentu tidak mudah. Mata pria itu terus terjaga menunggu kedatangan tikus dan tikus-tikus menunggu kesempatan yang tepat untuk mengambil makanan.

“Manusia ini benar-benar kekeh. Tidak mau kalah, bagaiaman ini, Bos?” tanya tikus kecil.

“Mau tidak mau salah satu dari kita harus keluar,” kata tikus besar.

“Aku takut kalau tertangkap, Bos,” jawab tikus kecil khawatir.

“Pengecut! sana pergi dan curi makanan itu, satu tikus lebih aman dari pada kita semua yang ke sana,” perintah tikus besar.

Tikus besar menyundul tikus kecil dengan moncongnya yang cukup panjang. Tujuannya jelas, makanan yang ada di atas piring dekat si pria. Tikus kecil yang malang itu terpaksa keluar dari persembunyiannya dan mencuri makanan yang ada di dekat pria itu. Tikus kecil mengendap-endap dan sangat memperhatikan langkahnya, tapi sepertinya pria itu sudah sangat siap. Ia mendengar decitan lagi, mata tikus kecil bertatapan dengan mata si pria, dan dengan sigap si pria mengangkat sapunya dan mengayunkan ke arah tikus kecil.

Pria itu memukul semua yang ada di hadapannya. Makanan di atas piring hancur berantakan tak tersisa karena terkena sapu yang dibawa oleh pria itu. Tikus kecil itu dapat lolos dari amukan si pria. Di sisi lain, sangat beruntung tikus kecil itu, tikus kecil lega karena selamat walaupun ia tidak mendapatkan apa-apa.

“Tidak akan aku beri ampun kalian!” kata pria itu sambil menunjuk ke arah atap dengan sapunya.

Badan tikus kecil itu bergetar ketakutan, jatungnya seperti ingin copot.

“Aku hampir saja mati, Bos, sedikit saja aku lengah maka habislah nyawaku,” kata tikus kecil dengan suara yang bergetar.

“Payah! Nyatanya kau selamat.”

Hingga malam tiba, tikus-tikus itu belum berani lagi mencoba untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Si pria terus berpikir untuk mencari cara bagaimana agar dapat menangkap dan memusnahkan tikus-tikus. Tiba-tiba ia ingat bahwa di rumahnya ada perangkap berbentuk seperti capit peninggalan ayahnya dahulu. Si pria bergegas menuju gudang untuk mencari perangkap yang ditinggalkan oleh ayahnya. Setelah menemukan perangkap, pria itu kembali lalu memasang beberapa perangkap tikus di tempat-tempat yang sering mereka datangi. Tak lupa, ia menaruh makanan di dalam perangkap sebagai umpan.

“Aku yakin, cara ini pasti berhasil,” kata si pria sangat percaya diri.

Pria itu meninggalkan perangkap tikus yang sudah ia pasang di semua sudut yang ia kira akan disinggahi para hewan kotor itu. Lalu, ia kembali duduk di sofa tepat di depan televisi; menonton dengan santai sambil menunggu tikus-tikus terjebak.

“Manusia bodoh itu sudah pergi! Dan… Dan… ada begitu banyak makanan,” kata tikus kecil menyampaikan kepada Tikus besar dan teman-temannya.

“Ya… ya… aku sudah lihat.” Air liur tikus besar mengalir deras dari mulutnya hingga membasahi kaki-kaki kecil tikus lain.

“Ayo kita ambil sebelum manusia itu datang!” kata tikus kecil penuh semangat.

Mereka tak sadar dan tak tahu bahwa apa yang mereka hadapi adalah perangkap untuk membunuh mereka. Saking laparnya, mereka dibutakan oleh makanan, mereka pun menyerbu perangkap itu tanpa ragu. Tidak bisa menghindar, satu per satu dari mereka terperangkap. Seketika badan mereka yang kecil remuk terkena besi dari perangkap tersebut. Seisi perut mereka keluar, mata mereka terpisah dengan kepalanya, lantai seketika dipenuhi oleh darah tikus-tikus itu, tak ada satu pun dari mereka yang tersisa.

Di ruangan lain, si pria duduk manis menonton televisi dan mendengar suara keributan-keributan yang berasal dari tempatnya memasang perangkap. Ia mendengar suara capitan yang terlepas diringi dengan suara decitan tikus-tikus yang kini mirip teriakan meminta tolong. Pria itu tersenyum lebar seperti seorang pembunuh berantai yang telah menghabisi korbannya. Ketika itu adalah pertama kalinya si pria tersenyum karena keributan yang dibuat oleh tikus-tikus.

Dari arah televisi terdengar reporter sedang menyampaikan sebuah berita.

“Sekilas info, telah terungkap kasus korupsi bansos. Terdapat 5 orang yang telah dinyatakan sebagai pelaku, mereka akan diancam  hukuman kurungan seumur hidup.“

“Di masa yang sulit ini, ada-ada saja tingkah tikus-tikus itu,” kata si pria sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam, tak ada lagi suara tikus yang ribut di atas langit-langit rumah hanya serakan bangkai tikus di beberapa sudut rumahnya. Mata pria itu memerah lelah, ia menguap, dan menyerahkan seluruh badannya ke atas sofa favoritnya dengan televisi yang masih menyala. Kali ini tidak akan ada lagi yang mengganggu tidurnya. [T]

__________

BACA CERPEN LAIN

Selamat Malam Cinta | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Heroik Luh Ayu Manik Mas Saat Pandemi Digarap dalam Wayang Kulit

Next Post

Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Kadek Indra Putra

Kadek Indra Putra

Lahir di Singaraja pada 01 Oktober 1999, tinggal di Denpasar Barat. Mahasiswa Manajemen Undiksha, yang aktif di UKM Teater Kampus Seribu Jendela dan dalam beberapa pertunjukkan berperan sebagai aktor. Selain itu, ia juga aktif dalam kelompok diskusi buku yaitu, Singaraja Literet.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Tiga Pelukis SDI Melukis Sembari Bernostalgia dalam Acara GKR Indonesia di Yogyakarta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co