23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
April 29, 2021
in Khas
Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Foto: Youtube Astapa Production

Suatu hari dalam sebuah acara musik di Nusa Penida, penyanyi Ketut Bimbo ditegur pihak sponsor. Bukan karena aksi salah menyanyi di atas panggung, tapi karena ia ketahuan nongkrong di sebuah warung.

Ketut Bimbo saat itu memang dikontrak sebagai salah satu artis yang akan tampil dalam acara itu. Pihak sponsor beranggapan Ketut Bimbo adalah artis yang dikontrak, mestinya istirahat di hotel, tapi malah nongkrong di warung bersama masyarakat umum.

Ketut Bimbo berkilah: kalau dilihat dari surat kontrak, ia dikontrak untuk menyanyi, bukan dikontrak untuk masalah pergaulan.

Begitulah salah satu cerita tentang kesahajaan penyanyi Ketut Bimbo sebagaimana dikutip dalam buku “Kene Keto Musik Pop Bali” terbitan Mahima Institute Indonesia (2020) yang ditulis pengamat musik Made Adnyana.

Dari cerita itu kita tahu Ketut Bimbo adalah penyanyi yang bersahaja. Ia suka berkawan dengan siapa saja, meski saat-saat berada dalam puncak karirnya sebagai penyanyi pop Bali.

Kamis 29 April 2021, penyanyi itu berpulang ke alam kesunyian setelah beberapa tahun berjuang melawan diabetes yang dideritanya. “Kemarin malam saya ditelepon oleh sama Jro Mandri (kakaknya Ketut Bimbo) mengabarkan bahwa Pak Bimbo sudah kritis sekali di rumahnya,” kata Gede Harta Wijaya di Singaraja, Kamis siang.

Gede Harta Wijaya yang akrab dipanggil De Arta adalah keponakan Ketut Bimbo, yang kini menjadi penerus Radio La Baronk di Singaraja. Radio La Baronk adalah tempat awal Ketut Bimbo berkarir sebagai penyiar radio sekira tahun 1973.

Menurut De Arta, jenazah Ketut Bimbo akan dikremasi Jumat 30 April siang di Krematorium YPUH di Singaraja.

***

Siapa Ketut Bimbo?

Pada awal tahun 1980-an penggemar musik pop Bali dikejutkan dengan lagu “Buduh” yang dikumandangkan seluruh stasiun radio di Bali. Lagu itu dinyanyikan Ketut Bimbo yang kemudian menjadi cikal-bakal kepopulerannya di blantika musik pop Bali.

Liriknya sahaja tapi nakal. Kisahnya lara tapi lucu.


Buduh, buduh, tiang buduh

Pipis sing ngelah, yen ngalih utang sing kegugu

Tiang mekita mati, das mati megantung, nanging sing maan nganggeh tali


Gila, gila, saya gila

Uang tak punya, cari utang tak dipercaya

Saya ingin mati, nyaris gantung diri, tapi tak dapat ngutang (ngebon)i tali


Begitulah sejumlah penggalan lirik lagu “Buduh” yang pada awal-awal tahun 1980-an itu hampir semua penggemarnya bisa menirukan dengan begitu pasih. Lirik dengan kualitas satir yang amat tajam. Semua harus didapat dengan uang, bahkan untuk gantung diri pun tak bisa karena tak punya uang untuk beli tali.

Lagu yang terdapat dalam ambul “Buduh” itu memang fenomenal. Generasi muda yang saat itu sempat dimabukkan oleh lagu-lagu cinta mendayu-dayu dan patah hati tak tertahankan — dalam lagu-lagu pop Bali dan pop Indonesia — seakan mendapatkan penyadaran bahwa dunia tak melulu soal cinta dan patah hati. Ada dunia yang makin maju, manusia makin banyak, dan stress bisa mengintai setiap orang, kapan saja, ada cinta atau tak ada cinta.

Sebagaimana ditulis dalam buku “Kene Keto Musik Pop Bali”, Album “Buduh” pertama kali direkam dengan sangat sederhana menggunakan tape deck, hanya dengan instrument gitar bolong dan sapu lidi. Awalnya lagu itu dimainkan di TVRI Bali, kemudian ada yang menyarankan dibawa ke Aneka Record, sebuah studio rekaman di Tabanan. Di Aneka Record, satu album yang berisi 12 lagu hanya direkam selama 7 jam, mulai pukul 5 sore dan tengah malam sudah kelar.

Setelah dilempar ke pasaran, album itu laris manis. Lagu “Buduh” membuat orang buduh; membawa gitar bolong ke mana-mana dam menyanyikan lagu “Buduh” sendirian di tempat sunyi atau ramai-ramai di warung dan poskamling.

Kepopulean Ketut Bimbo tak terbendung kemudian. Selain rekaman di Aneka Record, ia juga sempat rekaman di Maharani Record dan Bali Record. Setelah almbum “Buduh”, terdapat banyak album dan lagu hits yang telah dihasilkannya, antara lain “Ngabut Keladi”, “Manis Nyakitin”, “Mebalih Wayang”, “Korting Dua Bulan”, dan “Alas Wayah”.

Hampir semua lagunya mengandung satir di dunia yang “makin ngewayahan” dan membuat (manusia Bali) inguh ini. Ada keprihatinan juga tentang punahnya kesenian tradisional dalam lagu “Mebalih Wayang”. Ada kepasrahan juga dalam lagu cinta penuh dusta, “Korting Dua Bulan”. Ada selalu hal-hal yang pantas direnungkan dalam kelucuan-kelucuan dunia yang fana ini.  

***

Ketut Bimbo yang lahir dengan nama Ketut Budiasa di Desa Banyuatis, Buleleng, tahun 1954 ini menciptakan sendiri lagu-lagunya berdasarkan fenomena sosial yang ditemuinya dalam pergaulan dengan banyak kalangan. Ia memang suka bergaul dengan siapa saja, bahkan saat-saat populer ia tak pernah berlagak seperti artis yang bahkan ditemui pun susah. Ia masih terbiasa nongkrong di warung, sebagaimana dilakukan di sela-sela manggung di Nusa Penida itu.

Tentang sikapnya itu, Ketut Bimbo menyatakan bahwa ia memang tak bisa “mesebeng tegeh” alias sombong. Ia bahkan tak pernah membayangkan dirinya akan sepopuler itu, lagunya disukai, dan penggemarnya melimpah. Ia hanya ingin menghibur dan mencari kawan. Soal pendapatan dan keterkenalan tampaknya bukanlah hal yang utama.

Awalnya Ketut Bimbo adalah seorang penyiar di Radio Massachuset (kemudian berubah menjadi Radio La Baronk), Singaraja, Buleleng. Nama Bimbo diambil dari nama grup musik nasional asal Bandung, yang digawangi musisi bersaudara, Syam, Acil, dan Iin Parlina. Ketertarikannya dengan grup Bimbo, karena lagu-lagu Bimbo bertutur lugas soal kritik sosial dengan bahasa yang tertata rapi yang kemudian mempengaruhi tema-tema yang digarap dalam lagu ciptaan Ketut Bimbo sendiri. Nama Bimbo bahkan dipakai dipilih sebagai nama udara saat siaran radio. Dalam berkarir sebagai penyiar, ia sempat pindah ke Lombok, juga ke sebuah radio di Karangasem.

***

Sejak sekitar lima tahun lalu, Ketut Bimbo terpaksa beristirahat di rumahnya di Banjar Tengah, Desa Banyuatis, Buleleng, akibat komplikasi diabetes yang dideritakan. Selama itu teman-temannya sesama artis dan penggemarnya sangat merindukannya. Beberapa kali teman artis berkunjung ke Banyuatis untuk memberi semangat, sampai akhirnya Ketut Bimbo menyerah. Ia berpulang dengan meninggalkan lagu-lagu ciptaannya yang masih didengar dan ditonton di media sosial hingga kini.

Selamat jalan, Bli Ketut Bimbo. Raga boleh mati, tapi satir yang penuh pesan kehidupan tak pernah bisa mati. [T]

Tags: in memoriammusik pop bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jejak Sejarah Klungkung

Next Post

Tasik Overland Adventure Ride Bromo 2021 | Berselimut Dingin di Puncak Cokroniti

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Tasik Overland Adventure Ride Bromo 2021 | Berselimut Dingin di Puncak Cokroniti

Tasik Overland Adventure Ride Bromo 2021 | Berselimut Dingin di Puncak Cokroniti

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co