2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jejak Sejarah Klungkung

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
April 28, 2021
in Khas
Jejak Sejarah Klungkung

Kerta Gosa merupakan komplek bangunan atau balai pengadilan warisan Keraton Semarapura (1686-1908)

Setelah berhasil dikuasai Belanda pasca perang Puputan Klungkung, didirikanlah sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) pada 1920. Sekolah ini kemudian berganti nama menjadi SMP Negeri 1 Semarapura pada 1 Agustus 1947 sampai akhir 1990. Atas inisiasi dr. Tjokorde Gde Agung, Bupati Klungkung pertama kala itu, gedung SMPN 1 Semarapura diubah menjadi Museum Semarajaya. Peresmiannya dilakukan oleh Bapak Rudini yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Indonesia pada 28 April 1992. Acara ini juga bersamaan dengan HUT Kota Semarapura, peresmian Monumen Puputan Klungkung serta memperingati 84 tahun pasca perang Puputan Klungkung. Perang penghabisan raja serta masyarakat Klungkung melawan serbuan tentara Belanda.

Pada buku Kebangkitan Nasional Daerah Bali diuraikan kronologis sejarah Klungkung. Di dalamnya disebutkan perkenalan Belanda pertama kali dengan Bali, khususnya Klungkung terjadi pada masa pemerintahan Dalem Bekung yang didampingi oleh sang adik, Dalem Segening pada 1597. Comelis de Houtman adalah orang Belanda yang pertama datang ke Bali. Ia dan pasukannya mendarat di Pantai Gelgel (Batu Klotok). Mereka tinggal di Bali selama satu bulan yaitu dari tanggal 25 Januari sampai 26 Februari 1597. Hubungan antara Bali dengan Belanda kala itu hanya terbatas pada bidang perdagangan dan tukar menukar duta. Pada tahun 1601, misalnya, tercatat van Heemskerk singgah di Bali, mempersembahkan sepucuk surat dari Pangeran Mauritius. Sebagai balasannya, Raja Bali kemudian menghadiahkan seorang gadis Bali. Hubungan ini tetap terjalin setelahnya. Pada tahun 1633, Gubemur Jendral Hendrick Brouwer mengirim Jan Oosterwijck sebagai duta ke Bali. 

Sistem ikatan kontrak antara Belanda dengan Klungkung baru terjadi setelah Bali terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil. Situasi ini menyebabkan Bali lemah dan memudahkan Belanda untuk menerapkan sistem kontrak. Belanda mengirim Huskus Koopman sebagai duta ke Bali. Koopman mencari dukungan Raja Klungkung sebagai susuhunan raja-raja Bali-Lombok untuk mengajukan kontrak. Isi pokok perjanjian tersebut ialah bahwa Dewa Agung Putra sebagai Raja Klungkung dan susuhunan di atas Pulau Bali dan Lombok, mengakui Bali sebagai bagian dari Hindia Belanda. Mereka tidak akan menyerahkannya kepada bangsa kulit putih lainnya dan akan menaikkan bendera Belanda setiap ada kapal atau perahu Belanda masuk Pelabuhan Bali. Surat-surat perjanjian dibuat di hadapan Raja Buleleng, Karangasem, dan Badung serta ditandatangani pada 6 Desember 1841 oleh Dewa Agung Putra dan Huskus Koopman yang disahkan oleh Gubernur Jenderal di Batavia. Raja Klungkung mau menandatangi karena Belanda menjanjikan bantuan untuk mengembalikan kekuasaannya atas Lombok.

Tanggal 24 Mei 1843 kembali ditandatangani sebuah perjanjian yang bertempat di Istana Klungkung, dimana Belanda menghendaki agar hak tawan karang dihapuskan. Intervensi Belanda menimbulkan perbedaan sikap di antara kerajaan-kerajaan di Bali. Tercatat dalam buku Bali pada Abad XIX: Perjuangan Rakyat dan  Raja-raja  Menentang Kolonialisme Belanda 1808-1908 oleh A. A. Gde Agung, pada akhir 1847, perkembangan politik di Bali semakin tegang. Konflik semakin runcing karena diterimanya laporan dari Batavia perihal kapal milik warga Hindia Belanda asal Pamekasan yang karam di Pantai Lirang, Buleleng, dirampas oleh penduduk sekitarnya. Hal yang sama terjadi pula di Pantai Kusamba wilayah Kerajaan Klungkung. Sebuah kapal dagang berbendera Belanda karam dan dirampas penduduk pantai. Gubernur Jenderal mengajukan tuntutan kepada Raja Buleleng dan Dewa Agung di Klungkung. Karena tidak dihiraukan, Gubernur Jenderal J. J. Rochussen melayangkan ultimatum pada 7 Maret 1848.

Pada 19 April 1849, Belanda berhasil memukul hancur Jagaraga. Setelah Buleleng takluk, Belanda kemudian menduduki Karangasem. Keberhasilan Belanda dalam menduduki dua kerajaan di Bali ini telah membangkitkan semangat perang untuk menyerang Klungkung. Mayor Jenderal Michiels, setelah mendapat persetujuan dari Batavia, memutuskan untuk menyerang Klungkung sebagai hukuman atas penyelewengan terhadap apa yang telah dimuat dalam perjanjian dengan Belanda. Klungkung diketahui telah memberi bantuan kepada Buleleng dalam perang melawan Belanda. Pada saat itu, Klungkung diperintah oleh I Dewa Agung Putra Kusumba yang berkedudukan di keraton Kusamba. Dewa Agung Putra Kusamba dibantu oleh putrinya Dewa Agung Istri Kanya yang berkedudukan di istana Smarapura.

Monumen Puputan Klungkung

Tanggal 8 Mei 1849 Armada Belanda di bawah pimpinan Michiels mendarat di Padang (Teluk Padang). Setelah merebut Desa Padang, pada 24 Mei 1849, Kusamba diserang oleh Belanda dari timur. Walaupun Kusamba telah lebih dahulu mempersiapkan pasukannya yang dipusatkan di Pura Goa Lawah dengan garis pertahanan sepanjang Bukit Wates, namun serangan Belanda yang mendadak itu cukup mengejutkan laskar Kusamba yang hanya bersenjatakan keris, tombak, bambu runcing, dan beberapa pucuk bedil buatan sendiri. Hanya dalam waktu lima jam, pertahanan Goa Lawah telah berhasil direbut Belanda.

Mayor Jenderal Michiels dan Van Swieten, melanjutkan serangannya ke Kusamba. Belanda menyerang Kusamba dari tiga jurusan. Dari utara adalah angkatan darat pimpinan Van Swieten, dari timur dipimpin oleh Michiels sendiri, sementara dari selatan (pantai) adalah pasukan marinir di bawah pimpinan Bauricius. Pada jam tiga sore, tanggal 24 Mei 1849, pasukan mundur sambil melakukan politik bumi hangus dengan membakar kampung-kampung.

Kekalahan Kusamba didengar oleh Dewa Agung Istri Kanya yang telah diserahi takhta oleh ayahnya. Dewa Agung Istri Kanya memerintahkan panglima Anak Agung Made Sangging berangkat ke Kusamba. Tanggal 25 Mei 1849, pagi-pagi buta, laskar Kusamba melakukan serangan balasan. Penyerbuan tak terduga ini sangat mengejutkan pasukan Belanda dalam kemah sekitar istana Kusamba. Dalam kegaduhan dan hiruk pikuk ini, pasukan istimewa di bawah pimpinan Anak Agung Made Sangging menyusup dengan tugas utama membunuh Jendral yang berbintang tujuh (Yang dimaksud adalah Jenderal Michiels). Sebelum Belanda sadar akan sergapan yang mendadak ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Jenderal Michiels pun roboh.

Pada 13 Juli 1849, perdamaian digelar antara Dewa Agung di Klungkung dengan pihak Gubernemen. Ekspedisi militer Belanda diakhiri dengan penandatanganan perjanjian perdamaian antara raja-raja Bali yang bersengketa dengan pihak Gubernemen di Kuta. Kerajaan-kerajaan Bali tidak lagi memiliki hak kedaulatan. Mereka harus mengakui kekuasaan tertinggi Ratu di Belanda. Salah satu butir perjanjian menegaskan kembali penghapusan praktik adat tawan karang untuk selamanya. Meski demikian, Belanda tampaknya belum merasa puas. Tanggal 23 September 1904, Belanda kembali menyodorkan sebuah perjanjian yang berkaitan dengan pengukuhan dan penobatan Raja Klungkung.

Dalam waktu setengah abad, Klungkung terus memperkuat persatuan dengan raja-raja di Bali. Ketika Belanda menyerang Badung 1906, Klungkung berada di belakangnya. Tindakan ini menambah sengketa dengan Belanda. Dengan berhasil mengalahkan Badung, Belanda dengan berani mengajukan kontrak pada 17 Oktober 1906 yang ingin menempatkan Klungkung dalam Stan Lannschap Colonial. Perjanjian yang terdiri dari 31 pasal ini tercatat merupakan perjanjian yang paling panjang yang pernah ditandatangani oleh raja Klungkung. Isinya memuat masalah-masalah perekonomian seperti penyerahan daerah Sibang dan Abiansemal, penyerahan hasil beacukai penjualan candu dan cukai pelabuhan. Perjanjian 17 Oktober 1906 dilengkapi dengan perjanjian 19 Januari 1908. Kedua perjanjian ini menetapkan kerajaan Klungkung sepenuhnya di bawah pemerintahan Belanda baik secara politik, ekonomi maupun sosial budaya. Punggawa Cokorda Gelgel, Paman Dewa Agung Jambe sangat menentang perjanjian ini. Ia dengan tegas mengatakan kepada Dewa Agung ketidaksetujuannya dan bertekad melawan Belanda.

Pada tanggal 18 April 1908 tiba-tiba di Gelgel terjadi kebakaran di seluruh kompleks rumah candu. Mantri candu terbunuh namun tidak diketahui siapa pelakunya. Belanda menganggap bahwa peristiwa ini adalah perbuatan Cokorda Gelgel sebagai suatu pernyataan perang. Pada tanggal 19 April 1908 pasukan gabungan Belanda didatangkan dari Gianyar dan Karangasem untuk menyerbu Gelgel. Rakyat Gelgel di bawah pimpinan Cokorda Gelgel dan putranya antara lain Cokorda Made Gelgel dan Cokorda Pegig dengan gigih mempertahankan daerahnya. Hal ini kemudian diketahui oleh raja Klungkung Dewa Agung Jambe yang segera mengirim laskar menuju Gelgel di bawah pimpinan Ida Bagus Jumpung. Perlawanan ber1angsung selama setengah hari dan akhirnya kemenangan ada di pihak Belanda. Cokorda Made Gelgel, Cokorda Pegig dan Ida Bagus Jumpung gugur dalam pertempuran itu. Perlawanan dilanjutkan pada malam harinya di mana pihak laskar Gelgel mengadakan serangan. Belanda pun membalas serbuan sampai ke kota Klungkung.

Tanggal 21 April 1908 Klungkung segera mendapat serangan dari pihak Belanda. Raja Klungkung Dewa Agung Jambe beserta pemimpin masyarakat lainnya telah bertekad untuk menghadapi serangan Belanda. Di bawah pimpinan Overste Schuroth, armada perang Belanda mendarat di Kusamba. Sebagian lagi mendarat di pantai lebih. Belanda menyerang Klungkung melalui tiga arah yaitu: dari sebelah timur dipimpin oleh Kolonel Carpentier Alting, dari sebelah selatan dipimpin oleh Mayoor H. Missofer. Laskar Banjarangkan di bawah pimpinan Cokorda Gde Oka membendung pasukan Belanda dari arah barat.

Pada saat Belanda memasuki kota, keluarga raja telah bertekad untuk melaksanakan puputan. Dalam perlawanan ini tampil ke depan Dewa Agung Semara Bawa saudara raja Klungkung dan putra mahkota Dewa Agung Gde Agung bersama ibunda beliau Dewa Agung Muter. Mereka menyerbu pasukan Belanda. Semua gugur dalam perlawanan. Dewa Agung Jambe bersama laskar Klungkung juga gugur dalam perlawanan. Jatuhnya Klungkung ini kemudian menandai kekuasaan Belanda yang berhasil menaklukkan seluruh wilayah kerajaan di Bali. [T]

Denpasar, 2021

Tags: baliHari Ulang Tahun KlungkungKlungkungsejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

Next Post

Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Ketut Bimbo Meninggal, Satirnya Hidup | “Mau Gantung Diri, Tak Bisa Ngebon Tali”

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co