23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
February 20, 2021
in Cerpen
Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Di jalan itu cuma ada seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang.   

Jalan itu sepi. Jalan kecil yang merupakan cabang dari jalan yang lebih besar. Tadi Kiki berada di jalan yang lebih besar itu, berjalan sendirian sembari membayangkan bagaimana caranya menyelesaikan cerita yang sudah telanjur ditulisnya.

Kiki juga memikirkan mimpinya. Semalam, sebelum tertidur di lantai, dia memang sempat berpikir untuk menulis sebuah cerita. Sudah lama dia tidak menulis, tepatnya sejak dia disibukkan oleh pekerjaan menjadi editor buku-buku praktis. Suatu pekerjaan yang membuatnya bosan bukan kepalang. Kemarin seluruh pekerjaan itu sudah selesai, jadi dia akan punya cukup waktu untuk menulis cerita. Kiki tidak betul-betul ingat sejak kapan dia suka menulis cerita, atau tepatnya suka pada cerita. Tapi dia ingat cerita pertama yang didengarnya adalah cerita dari seorang kawan masa kecilnya tentang seekor anjing. Kata kawannya, anjing itu adalah anjing setan.

Sebenarnya cerita tentang anjing itu tidak pernah tuntas, tak pernah ada kelanjutannya. Cuma sampai pada adegan di mana kawannya itu berhadap-hadapan dengan seekor anjing di sebuah cabang jalan. Setiap kali cerita akan beranjak ke bagian selanjutnya, kawannya itu akan berhenti lantas mengatakan kalau ia ingin kencing, atau merasa lapar, atau tiba-tiba mengantuk. Waktu Kiki sudah dewasa dan terbersit keinginan untuk menjadi penulis, dia berusaha menulis cerita tentang anjing itu, tapi tak pernah berhasil. Dia telah menulis cerita tentang berbagai peristiwa dengan berbagai gaya, semua berhasil diselesaikannya, kecuali cerita tentang anjing itu. Sudah sering bolak-balik dia periksa bakal ceritanya tapi tak juga ditemukan di mana letak kesalahan yang membuat cerita tentang anjing itu selalu macet.

Barangkali karena semalam sebelum tidur dia kembali berpikir untuk menulis cerita tentang anjing itu, dia pun bermimpi tentang anjing. Dalam mimpi dia melihat dirinya sedang berjalan sendirian. Ketika memasuki cabang jalan yang lebih kecil, dia melihat seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang. Kiki merasa bergairah meski ada pula bagian dirinya yang menggigil ketakutan. Di jalan itu tidak ada siapa-siapa. Tepi-tepinya dibatasi tembok-tembok rumah dengan semak-semak liar tumbuh sehat di bawahnya. Kiki dan anjing itu berhadap-hadapan. Pasti ini anjing setan, pikir Kiki. Tampaknya perkelahian akan segera terjadi kalau saja bunyi spiker dari masjid tak jauh dari rumahnya membuat mimpi itu pecah dan Kiki harus kembali ke dunia nyata.

Terjaga sedini itu sama sekali bukan masalah bagi Kiki, tapi pupusnya mimpi tentang anjing itu membuatnya sedikit jengkel. Dengan malas Kiki naik ke tempat tidur, bergelung memeluk bantal, berusaha kembali memasuki alam tidur. Tidak bisa. Seperti biasa bila sudah terjaga matanya akan senantiasa menolak bila diajak menjejak ke luar alam nyata. Dia bangkit, membuka seluruh pakaiannya lalu dengan telanjang bulat masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya berkali-kali. Diam-diam dia bersumpah, hari ini cerita tentang anjing setan itu harus berhasil dituntaskannya.

Puas mengguyur dan menggosok tubuh dengan sabun Kiki keluar kamar mandi dengan perasaan lebih tenang. Dia sedikit geli dengan ulahnya tadi, memakai tiga macam sabun seakan-akan tubuhnya penuh najis dan butuh lebih dari satu kali bilasan untuk menyucikannya. Tapi dia memang merasa suci setelah itu. Bersamaan dengan perasaan suci itu, dia ingat, sampai berusia tiga puluh tahun ini dia belum pernah menyentuh atau disentuh laki-laki. Bahkan sejauh yang bisa dia ingat, tak pernah ada laki-laki yang mendekatinya dan sebaliknya tak pernah ada laki-laki yang menarik minatnya. Meski begitu tak pernah pula dia berpikir kalau dirinya menyukai sesama jenis. Dia punya beberapa kenalan perempuan -tak pernah ada hal-hal aneh di antara mereka.

Kenyataan yang seakan baru disadarinya itu tak membuat Kiki penasaran. Itu bukan hal yang penting. “Lalu apakah yang penting? Sebentar, mmh, mungkin pekerjaan.” Kiki berpikir-pikir sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu handuk yang sama menggelung rambutnya yang panjang dan basah. “Pekerjaan juga tidak begitu penting,” ujarnya menyimpulkan. “Aku memang tak bandel dalam pekerjaan. Aku selalu menuruti semua permintaan atasanku. Tapi itu bukan karena aku takut kehilangan pekerjaan. Berhenti bekerja di sana tidak akan menjadi masalah besar. Aku bisa cari pekerjaan lain. Kalau tidak ketemu juga, tidak masalah.”

“Mungkin kebahagiaan orangtua lebih penting.”  Kiki tertawa-tawa saat pikirannya baru saja selesai dengan kalimat itu. “Kebahagiaan orangtua? Ayolah, aku bahkan tidak betul-betul paham maksud kalimat itu,” serunya pada bayangannya sendiri yang terpantul di cermin rias. Tubuhnya telanjang tapi dia tak punya niat sedikit pun untuk mengamati tubuh itu. Meski merasa pikiran tentang orangtua itu menggelikan, dia tetap ingat pada orangtuanya. Ayahnya seorang sipir penjara yang pernah dipenjara gara-gara dianggap lalai membiarkan seorang tahanan kabur. Meskipun ayahnya sudah beratus-ratus kali bilang bahwa beberapa waktu sebelum kejadian itu dia diminta atasannya untuk membeli ayam geprek, tak ada seorang pun yang percaya. Ayahnya memang tak punya bukti yang kuat, sebab kata ayahnya penjual ayam geprek tidak membuka dagangannya malam itu. Ketika penjual ayam geprek dikonfirmasi, dia mengaku kalau malam itu dia membuka dagangannya seperti biasa, bahkan dia juga menambahkan kalau malam itu dia menyediakan lebih banyak ayam geprek dari hari-hari biasanya.    

Waktu ayahnya dipenjara, ibunya mengambil tabungan dan membuka usaha. Tak disangka dagangannya laris luar biasa. Konon penjual ayam geprek langganan atasan ayahnya sampai menutup usaha. Atasan ayahnya berpindah menjadi langganan ayam geprek ibunya. Sering ibunya datang ke kantor atasan itu untuk mengantar ayam geprek. Bahkan seluruh staf di rumah tahanan tempat ayahnya dipenjara juga menjadi langganan. Karena itu ibunya jadi sering datang ke rumah tahanan. Tentu saja setiap kali datang dia sempatkan menengok suaminya. Mereka tampak bahagia.

“Mereka sudah bahagia sejak lama, jadi memikirkan kebahagiaan mereka adalah usaha yang sia-sia,” demikian simpulan Kiki sekaligus menutup cerita tentang orangtuanya yang tadi diingat-ingat untuk dirinya sendiri.

Setelah mengenakan pakaian –kaus tipis warna hitam berleher rendah dan celana panjang dari kain lentur warna merah- yang menampakkan bentuk tubuhnya yang matang dan imajinatif, Kiki beranjak ke dapur, membuat roti bakar dengan lapis margarin dan gula pasir, serta setengah gelas susu. Kiki meletakkan makanan dan minuman itu di meja lalu membuka pintu, menyibak hordin jendela dan memandang ke jalanan. Pagi masih mentah, bias matahari dari belakang rumahnya baru sedikit saja tumpah ke halaman. Kiki melihat langit, tak ada apa-apa di sana. Lalu apa yang penting? Mungkin kawan masa kecilnya itu; si pengisah anjing setan. Kiki mau mengingat-ingat soal kawannya itu, tapi langsung dibatalkan. Dia lebih teringat pada sumpahnya tadi; cerita tentang anjing setan itu harus beres hari ini. Di meja yang sama di mana terletak roti bakar dan setengah gelas susu, Kiki lantas membuka mesin tulis dan menulis sederet kalimat:

Di jalan itu cuma ada seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang.    

Kiki membaca pelan-pelan tulisannya. Adegan itu sudah persis dengan mimpinya semalam. Mungkin karena sudah lama tidak menulis, saat akan menulis dia jadi mudah macet. Dia pernah mendengar kalau situasi semacam itu kerap menimpa para penulis. Tapi bagaimana pun juga dia sudah bersumpah, segala upaya harus dilakukan agar cerita tentang anjing setan itu selesai. Kiki segera menghabiskan sarapannya lantas tanpa menaruh perabotan makan di wastafel, dia mengambil sweater dan beranjak keluar. Mesin tulis dibiarkan menyala, bahkan pintu depan tak dikuncinya. Dia perlu berjalan-jalan sebentar untuk memanjangkan tali imajinasinya.

Berada di luar rumah, di tengah-tengah alam dan kenyataan, terasa bagi Kiki seperti berada dalam cerita fiksi. Sesaat dia membayangkan bagaimana kalau dirinya sebenarnya cuma tokoh fiksi yang diciptakan seorang pengarang, yang katakanlah lahir di sebuah kota di mana pernah berdiri pelabuhan lama dan kini sekadar menjadi kota tua semata yang sejak suatu kerusuhan besar semakin sepi dan merana. Katakanlah kota itu bernama Ampenan. “Ya, bagaimana kalau aku sesungguhnya cuma tokoh fiksi yang diciptakan seorang pengarang yang lahir di sebuah kota bernama Ampenan?” Kiki tertawa-tawa kecil meningkahi pikirannya itu. “Kalau memang begitu, dia pasti pengarang yang hebat,” ujarnya lagi.   

Jalanan masih sepi. Beberapa penjual penganan pagi belum menggelar dagangannya, kecuali penjual ayam geprek yang mangkal di bawah pohon persis di tikungan menuju jalan yang lebih kecil. Kiki mengamati penjual ayam geprek yang mirip kanak-kanak itu dan teringat sesuatu, tapi dia tetap memusatkan pikirannya pada upaya menyelesaikan cerita yang sudah telanjur ditulisnya. Tanpa disadari dia berbelok ke jalan kecil itu. Jalan yang tepi-tepinya dibatasi tembok-tembok rumah dengan semak-semak liar tumbuh sehat di bawahnya. Kiki terus melangkah. Di jalan itu tak ada siapa-siapa. Di jalan itu cuma ada seekor anjing.*** [T]

Mataram, 23 Januari 2021

_____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Next Post

Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co