2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
February 20, 2021
in Cerpen
Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Ilustrasi tatkala.co || Satia Guna

Di jalan itu cuma ada seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang.   

Jalan itu sepi. Jalan kecil yang merupakan cabang dari jalan yang lebih besar. Tadi Kiki berada di jalan yang lebih besar itu, berjalan sendirian sembari membayangkan bagaimana caranya menyelesaikan cerita yang sudah telanjur ditulisnya.

Kiki juga memikirkan mimpinya. Semalam, sebelum tertidur di lantai, dia memang sempat berpikir untuk menulis sebuah cerita. Sudah lama dia tidak menulis, tepatnya sejak dia disibukkan oleh pekerjaan menjadi editor buku-buku praktis. Suatu pekerjaan yang membuatnya bosan bukan kepalang. Kemarin seluruh pekerjaan itu sudah selesai, jadi dia akan punya cukup waktu untuk menulis cerita. Kiki tidak betul-betul ingat sejak kapan dia suka menulis cerita, atau tepatnya suka pada cerita. Tapi dia ingat cerita pertama yang didengarnya adalah cerita dari seorang kawan masa kecilnya tentang seekor anjing. Kata kawannya, anjing itu adalah anjing setan.

Sebenarnya cerita tentang anjing itu tidak pernah tuntas, tak pernah ada kelanjutannya. Cuma sampai pada adegan di mana kawannya itu berhadap-hadapan dengan seekor anjing di sebuah cabang jalan. Setiap kali cerita akan beranjak ke bagian selanjutnya, kawannya itu akan berhenti lantas mengatakan kalau ia ingin kencing, atau merasa lapar, atau tiba-tiba mengantuk. Waktu Kiki sudah dewasa dan terbersit keinginan untuk menjadi penulis, dia berusaha menulis cerita tentang anjing itu, tapi tak pernah berhasil. Dia telah menulis cerita tentang berbagai peristiwa dengan berbagai gaya, semua berhasil diselesaikannya, kecuali cerita tentang anjing itu. Sudah sering bolak-balik dia periksa bakal ceritanya tapi tak juga ditemukan di mana letak kesalahan yang membuat cerita tentang anjing itu selalu macet.

Barangkali karena semalam sebelum tidur dia kembali berpikir untuk menulis cerita tentang anjing itu, dia pun bermimpi tentang anjing. Dalam mimpi dia melihat dirinya sedang berjalan sendirian. Ketika memasuki cabang jalan yang lebih kecil, dia melihat seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang. Kiki merasa bergairah meski ada pula bagian dirinya yang menggigil ketakutan. Di jalan itu tidak ada siapa-siapa. Tepi-tepinya dibatasi tembok-tembok rumah dengan semak-semak liar tumbuh sehat di bawahnya. Kiki dan anjing itu berhadap-hadapan. Pasti ini anjing setan, pikir Kiki. Tampaknya perkelahian akan segera terjadi kalau saja bunyi spiker dari masjid tak jauh dari rumahnya membuat mimpi itu pecah dan Kiki harus kembali ke dunia nyata.

Terjaga sedini itu sama sekali bukan masalah bagi Kiki, tapi pupusnya mimpi tentang anjing itu membuatnya sedikit jengkel. Dengan malas Kiki naik ke tempat tidur, bergelung memeluk bantal, berusaha kembali memasuki alam tidur. Tidak bisa. Seperti biasa bila sudah terjaga matanya akan senantiasa menolak bila diajak menjejak ke luar alam nyata. Dia bangkit, membuka seluruh pakaiannya lalu dengan telanjang bulat masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya berkali-kali. Diam-diam dia bersumpah, hari ini cerita tentang anjing setan itu harus berhasil dituntaskannya.

Puas mengguyur dan menggosok tubuh dengan sabun Kiki keluar kamar mandi dengan perasaan lebih tenang. Dia sedikit geli dengan ulahnya tadi, memakai tiga macam sabun seakan-akan tubuhnya penuh najis dan butuh lebih dari satu kali bilasan untuk menyucikannya. Tapi dia memang merasa suci setelah itu. Bersamaan dengan perasaan suci itu, dia ingat, sampai berusia tiga puluh tahun ini dia belum pernah menyentuh atau disentuh laki-laki. Bahkan sejauh yang bisa dia ingat, tak pernah ada laki-laki yang mendekatinya dan sebaliknya tak pernah ada laki-laki yang menarik minatnya. Meski begitu tak pernah pula dia berpikir kalau dirinya menyukai sesama jenis. Dia punya beberapa kenalan perempuan -tak pernah ada hal-hal aneh di antara mereka.

Kenyataan yang seakan baru disadarinya itu tak membuat Kiki penasaran. Itu bukan hal yang penting. “Lalu apakah yang penting? Sebentar, mmh, mungkin pekerjaan.” Kiki berpikir-pikir sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu handuk yang sama menggelung rambutnya yang panjang dan basah. “Pekerjaan juga tidak begitu penting,” ujarnya menyimpulkan. “Aku memang tak bandel dalam pekerjaan. Aku selalu menuruti semua permintaan atasanku. Tapi itu bukan karena aku takut kehilangan pekerjaan. Berhenti bekerja di sana tidak akan menjadi masalah besar. Aku bisa cari pekerjaan lain. Kalau tidak ketemu juga, tidak masalah.”

“Mungkin kebahagiaan orangtua lebih penting.”  Kiki tertawa-tawa saat pikirannya baru saja selesai dengan kalimat itu. “Kebahagiaan orangtua? Ayolah, aku bahkan tidak betul-betul paham maksud kalimat itu,” serunya pada bayangannya sendiri yang terpantul di cermin rias. Tubuhnya telanjang tapi dia tak punya niat sedikit pun untuk mengamati tubuh itu. Meski merasa pikiran tentang orangtua itu menggelikan, dia tetap ingat pada orangtuanya. Ayahnya seorang sipir penjara yang pernah dipenjara gara-gara dianggap lalai membiarkan seorang tahanan kabur. Meskipun ayahnya sudah beratus-ratus kali bilang bahwa beberapa waktu sebelum kejadian itu dia diminta atasannya untuk membeli ayam geprek, tak ada seorang pun yang percaya. Ayahnya memang tak punya bukti yang kuat, sebab kata ayahnya penjual ayam geprek tidak membuka dagangannya malam itu. Ketika penjual ayam geprek dikonfirmasi, dia mengaku kalau malam itu dia membuka dagangannya seperti biasa, bahkan dia juga menambahkan kalau malam itu dia menyediakan lebih banyak ayam geprek dari hari-hari biasanya.    

Waktu ayahnya dipenjara, ibunya mengambil tabungan dan membuka usaha. Tak disangka dagangannya laris luar biasa. Konon penjual ayam geprek langganan atasan ayahnya sampai menutup usaha. Atasan ayahnya berpindah menjadi langganan ayam geprek ibunya. Sering ibunya datang ke kantor atasan itu untuk mengantar ayam geprek. Bahkan seluruh staf di rumah tahanan tempat ayahnya dipenjara juga menjadi langganan. Karena itu ibunya jadi sering datang ke rumah tahanan. Tentu saja setiap kali datang dia sempatkan menengok suaminya. Mereka tampak bahagia.

“Mereka sudah bahagia sejak lama, jadi memikirkan kebahagiaan mereka adalah usaha yang sia-sia,” demikian simpulan Kiki sekaligus menutup cerita tentang orangtuanya yang tadi diingat-ingat untuk dirinya sendiri.

Setelah mengenakan pakaian –kaus tipis warna hitam berleher rendah dan celana panjang dari kain lentur warna merah- yang menampakkan bentuk tubuhnya yang matang dan imajinatif, Kiki beranjak ke dapur, membuat roti bakar dengan lapis margarin dan gula pasir, serta setengah gelas susu. Kiki meletakkan makanan dan minuman itu di meja lalu membuka pintu, menyibak hordin jendela dan memandang ke jalanan. Pagi masih mentah, bias matahari dari belakang rumahnya baru sedikit saja tumpah ke halaman. Kiki melihat langit, tak ada apa-apa di sana. Lalu apa yang penting? Mungkin kawan masa kecilnya itu; si pengisah anjing setan. Kiki mau mengingat-ingat soal kawannya itu, tapi langsung dibatalkan. Dia lebih teringat pada sumpahnya tadi; cerita tentang anjing setan itu harus beres hari ini. Di meja yang sama di mana terletak roti bakar dan setengah gelas susu, Kiki lantas membuka mesin tulis dan menulis sederet kalimat:

Di jalan itu cuma ada seekor anjing. Hitam. Besar. Bulunya lebat. Ekornya buntung. Matanya tajam seperti mata pedang.    

Kiki membaca pelan-pelan tulisannya. Adegan itu sudah persis dengan mimpinya semalam. Mungkin karena sudah lama tidak menulis, saat akan menulis dia jadi mudah macet. Dia pernah mendengar kalau situasi semacam itu kerap menimpa para penulis. Tapi bagaimana pun juga dia sudah bersumpah, segala upaya harus dilakukan agar cerita tentang anjing setan itu selesai. Kiki segera menghabiskan sarapannya lantas tanpa menaruh perabotan makan di wastafel, dia mengambil sweater dan beranjak keluar. Mesin tulis dibiarkan menyala, bahkan pintu depan tak dikuncinya. Dia perlu berjalan-jalan sebentar untuk memanjangkan tali imajinasinya.

Berada di luar rumah, di tengah-tengah alam dan kenyataan, terasa bagi Kiki seperti berada dalam cerita fiksi. Sesaat dia membayangkan bagaimana kalau dirinya sebenarnya cuma tokoh fiksi yang diciptakan seorang pengarang, yang katakanlah lahir di sebuah kota di mana pernah berdiri pelabuhan lama dan kini sekadar menjadi kota tua semata yang sejak suatu kerusuhan besar semakin sepi dan merana. Katakanlah kota itu bernama Ampenan. “Ya, bagaimana kalau aku sesungguhnya cuma tokoh fiksi yang diciptakan seorang pengarang yang lahir di sebuah kota bernama Ampenan?” Kiki tertawa-tawa kecil meningkahi pikirannya itu. “Kalau memang begitu, dia pasti pengarang yang hebat,” ujarnya lagi.   

Jalanan masih sepi. Beberapa penjual penganan pagi belum menggelar dagangannya, kecuali penjual ayam geprek yang mangkal di bawah pohon persis di tikungan menuju jalan yang lebih kecil. Kiki mengamati penjual ayam geprek yang mirip kanak-kanak itu dan teringat sesuatu, tapi dia tetap memusatkan pikirannya pada upaya menyelesaikan cerita yang sudah telanjur ditulisnya. Tanpa disadari dia berbelok ke jalan kecil itu. Jalan yang tepi-tepinya dibatasi tembok-tembok rumah dengan semak-semak liar tumbuh sehat di bawahnya. Kiki terus melangkah. Di jalan itu tak ada siapa-siapa. Di jalan itu cuma ada seekor anjing.*** [T]

Mataram, 23 Januari 2021

_____

BACA CERPEN LAIN

Ilustrasi tatkala.co [Satia Guna]

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Next Post

Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Puisi-puisi NW Adnyani | Matahari Tenggelam di Danau Batur

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co