28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 19, 2021
in Esai
Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Lumbung yang roboh

Lumbung keluarga saya roboh. Lumbung dibangun sekitar pertengahan abad 20 dan itulah lumbung pertama milik kami. Pada zamannya, lumbung itu adalah lumbung yang elit.

Dalam bahasa Bali lumbung disebut jineng atau klumpu. Ada beberapa bentuk lumbung yang saya kenal: pertama, berbentuk kubus dengan empat kaki, hanya untuk menyimpan gabah; dan kedua, lumbung dengan empat kaki atau lebih namun dilengkapi tempat nongkrong—pada bagian belakang sebagai penyimpanan gabah, bagian depan sebagai tempat nongkrong—atau bertingkat: di bawah tempat nongkrong, di lantai dua penyimpanan gabah.

Umumnya, lumbung di daerah saya berbentuk yang pertama saya sebutkan: hanya untuk menyimpan gabah. Sementara itu, lumbung keluarga saya yang roboh itu dilengkapi dengan tempat nongkrong di depan penyimpanan gabah, dan lumbung itu bukan dirobohkan, tapi roboh dengan sendirinya karena memang tidak difungsikan lagi.

Robohnya lumbung keluarga membuat saya bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa tidak digunakan lagi?”

Kebetulan, setelah lumbung itu roboh, keluarga kami berkumpul; bukan barang baru, kumpul untuk sekadar ngobrol memang menjadi kebiasaan kami. Dan paman saya memulai sebuah percakapan tanpa ada pancingan sama sekali.

Ketika paman saya masih kecil—sekitar tahun 1940-an—padi membutuhkan waktu lama untuk dapat menghasilkan. Padi baru bisa dipanen sekitar enam hingga tujuh bulan setelah ditanam. Dalam rentang waktu yang panjang itu, makan tidak bisa sembarangan: harus hemat. Karena itu pula, gabah harus dimanajemen dengan cermat agar tidak kehabisan stok sebelum masa panen tiba.

Karena beras menjadi makanan yang istimewa, mulailah mereka mencampur beras dengan jenis makanan yang lain: ketela, jagung, umbi talas, dan sebagainya. Sejenak, saya merasa ngilu mendengar cerita itu; tak bisa saya bayangkan seandainya saya menjumpai situasi seperti itu. Tetapi, berhubung paman saya mengaku, “Padahal makanan dulu seperti itu, tapi tetap terasa nikmat,” saya tunda perasaan sombong itu.

Di lain sisi, meski paman saya mengatakan menikmati beras dengan berbagai campuran, ia dan kakek saya menyambut gembira program pemerintah yang kala itu menggelar Revolusi Hijau. Padi mulai bisa dipanen dalam waktu lebih singkat. Barangkali, setelah biasa dengan hasil panen yang “ngebut”, mereka tidak lagi memperhatikan porsi makan nasi. Perlahan-lahan, lumbung tidak menjadi tempat penting untuk menyimpan gabah, “Toh persediaan tak pernah habis,” lanjutnya dengan biasa-biasa saja.

Meski lumbung masih mendapat perlakuan yang khusus—sebab banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan di lumbung: mengucap kata yang tidak sopan terhadap gabah atau mengumpat tikus yang lalu lalang dan merusak karung gabah—tetapi lumbung tak lagi menjadi perut penyimpan makanan. Siklus yang berubah itu rupanya telah menggeser fungsi lumbung, dan padi yang praktis membuat tanah menjadi mesin yang harus mengikuti pola industri: semakin cepat semakin bagus.

Saya sempat mengunjungi beberapa villa di Lovina, Ubud, Tejakula, dan beberapa tempat pariwisata lainnya untuk melihat perubahan fungsi lumbung. Di berbagai tempat yang saya kunjungi, saya dapati lumbung yang biasanya ada di halaman belakang rumah, justru ada di halaman paling depan.

Tetapi itu bukan lumbung yang saya kenal, lumbung itu sangat asing bagi saya: catnya mengkilap—tidak seperti lumbung saya yang kayunya bulukan, atapnya rapi berbahan ijuk, kayu, atau genteng—tidak menggunakan atap seng seperti lumbung saya yang hingga karatan belum juga diganti, dan tidak berisi beras, tapi dihuni bergantian oleh para turis.

Saya membayangkan pelajaran ketika SD: kata guru saya, onta menyimpan air di punggung, Pohon apel menyimpan cadangan makanan pada buah, dan ada yang nyeletuk, “Manusia menyimpan makanan di lumbung.” Tapi kini, entah untuk menyimpan apa lumbung itu, dan entah apa fungsinya; mungkin kita memang tidak memerlukan lumbung untuk menyimpan persediaan makanan? Atau di dalam lumbung ada lumbung yang lain?—dompet pengunjung. Lumbung telah berevolusi: menjadi kamar untuk para turis atau dibiarkan perlahan roboh sendiri.

Setelah dipikir-pikir, makanan campuran yang diceritakan oleh paman saya itu tak lagi membuat ngilu; justru yang membuat saya merasa demikian adalah slogan, “Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung pangan Dunia Tahun 2045”. Saya rasa, orang-orang yang mengenal; yang masih memiliki; atau pernah memiliki lumbung akan merasa senang. Tapi, mengapa lumbung saya sampai roboh beberapa saat lalu? Atau slogan itu memang tidak melibatkan lumbung yang ketinggalan zaman seperti itu?

Cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia adalah cita-cita “indah”, tapi masalahnya, lumbung saya aja roboh, kok. Hal yang mungkin terjadi adalah slogan akan tetap sebagai slogan atau hanyut kayak kenangan. Saya membayangkan, seandainya sirkulasi padi menjadi enam atau tujuh bulan: paling tidak, saya akan akrab dengan berbagai makanan olahan yang dulu dianggap makanan kejepit.

Barangkali, hal-hal yang dulu “menjepit” juga sudah berevolusi; tidak punya uang mungkin adalah “kejepit” yang sesungguhnya—tapi sialnya, uang tidak bisa diolah seperti makanan—mungkin itu alasan mengapa orang-orang sekarang lebih menghargai uang dan sulit menghargai makanan. Jangankan mengolah ulang makanan yang tersisa kemarin malam, sisa makanan yang baru dimasak pun bisa dibuang begitu saja.

Jika siklus padi itu kembali—setidaknya—kita bisa lebih menghargai makanan, atau mungkin ada jenis masakan baru dari olahan makanan sisa, dan tentunya, bila sirkulasi padi masih bertahan seperti dulu, barangkali lumbung akan memiliki nilai sebagaimana mestinya; meskipun tidak menutup kemungkinan tetap berevolusi menjadi lumbung yang tidak menyimpan padi, tetapi “dolar”.

Eh, ngomong-ngomong, lumbung yang dijadikan kamar hotel di daerah pariwisata juga sama nasibnya dengan lumbung saya.  Ya, ya, lumbung yang menyimpan “dollar” itu  kini juga “roboh” dihantam pandemi. Dan orang-orang mulai lagi bicara soal ketahanan pangan… [T]

Tags: lumbungpadipandemiPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makanan, Hasil Perkawinan Alam dan Budaya

Next Post

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

by Chusmeru
October 28, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

Read moreDetails

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

by Angga Wijaya
October 27, 2026
0
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

Read moreDetails

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
0
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

Read moreDetails

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails
Next Post
Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co