17 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 19, 2021
in Esai
Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Lumbung yang roboh

Lumbung keluarga saya roboh. Lumbung dibangun sekitar pertengahan abad 20 dan itulah lumbung pertama milik kami. Pada zamannya, lumbung itu adalah lumbung yang elit.

Dalam bahasa Bali lumbung disebut jineng atau klumpu. Ada beberapa bentuk lumbung yang saya kenal: pertama, berbentuk kubus dengan empat kaki, hanya untuk menyimpan gabah; dan kedua, lumbung dengan empat kaki atau lebih namun dilengkapi tempat nongkrong—pada bagian belakang sebagai penyimpanan gabah, bagian depan sebagai tempat nongkrong—atau bertingkat: di bawah tempat nongkrong, di lantai dua penyimpanan gabah.

Umumnya, lumbung di daerah saya berbentuk yang pertama saya sebutkan: hanya untuk menyimpan gabah. Sementara itu, lumbung keluarga saya yang roboh itu dilengkapi dengan tempat nongkrong di depan penyimpanan gabah, dan lumbung itu bukan dirobohkan, tapi roboh dengan sendirinya karena memang tidak difungsikan lagi.

Robohnya lumbung keluarga membuat saya bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa tidak digunakan lagi?”

Kebetulan, setelah lumbung itu roboh, keluarga kami berkumpul; bukan barang baru, kumpul untuk sekadar ngobrol memang menjadi kebiasaan kami. Dan paman saya memulai sebuah percakapan tanpa ada pancingan sama sekali.

Ketika paman saya masih kecil—sekitar tahun 1940-an—padi membutuhkan waktu lama untuk dapat menghasilkan. Padi baru bisa dipanen sekitar enam hingga tujuh bulan setelah ditanam. Dalam rentang waktu yang panjang itu, makan tidak bisa sembarangan: harus hemat. Karena itu pula, gabah harus dimanajemen dengan cermat agar tidak kehabisan stok sebelum masa panen tiba.

Karena beras menjadi makanan yang istimewa, mulailah mereka mencampur beras dengan jenis makanan yang lain: ketela, jagung, umbi talas, dan sebagainya. Sejenak, saya merasa ngilu mendengar cerita itu; tak bisa saya bayangkan seandainya saya menjumpai situasi seperti itu. Tetapi, berhubung paman saya mengaku, “Padahal makanan dulu seperti itu, tapi tetap terasa nikmat,” saya tunda perasaan sombong itu.

Di lain sisi, meski paman saya mengatakan menikmati beras dengan berbagai campuran, ia dan kakek saya menyambut gembira program pemerintah yang kala itu menggelar Revolusi Hijau. Padi mulai bisa dipanen dalam waktu lebih singkat. Barangkali, setelah biasa dengan hasil panen yang “ngebut”, mereka tidak lagi memperhatikan porsi makan nasi. Perlahan-lahan, lumbung tidak menjadi tempat penting untuk menyimpan gabah, “Toh persediaan tak pernah habis,” lanjutnya dengan biasa-biasa saja.

Meski lumbung masih mendapat perlakuan yang khusus—sebab banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan di lumbung: mengucap kata yang tidak sopan terhadap gabah atau mengumpat tikus yang lalu lalang dan merusak karung gabah—tetapi lumbung tak lagi menjadi perut penyimpan makanan. Siklus yang berubah itu rupanya telah menggeser fungsi lumbung, dan padi yang praktis membuat tanah menjadi mesin yang harus mengikuti pola industri: semakin cepat semakin bagus.

Saya sempat mengunjungi beberapa villa di Lovina, Ubud, Tejakula, dan beberapa tempat pariwisata lainnya untuk melihat perubahan fungsi lumbung. Di berbagai tempat yang saya kunjungi, saya dapati lumbung yang biasanya ada di halaman belakang rumah, justru ada di halaman paling depan.

Tetapi itu bukan lumbung yang saya kenal, lumbung itu sangat asing bagi saya: catnya mengkilap—tidak seperti lumbung saya yang kayunya bulukan, atapnya rapi berbahan ijuk, kayu, atau genteng—tidak menggunakan atap seng seperti lumbung saya yang hingga karatan belum juga diganti, dan tidak berisi beras, tapi dihuni bergantian oleh para turis.

Saya membayangkan pelajaran ketika SD: kata guru saya, onta menyimpan air di punggung, Pohon apel menyimpan cadangan makanan pada buah, dan ada yang nyeletuk, “Manusia menyimpan makanan di lumbung.” Tapi kini, entah untuk menyimpan apa lumbung itu, dan entah apa fungsinya; mungkin kita memang tidak memerlukan lumbung untuk menyimpan persediaan makanan? Atau di dalam lumbung ada lumbung yang lain?—dompet pengunjung. Lumbung telah berevolusi: menjadi kamar untuk para turis atau dibiarkan perlahan roboh sendiri.

Setelah dipikir-pikir, makanan campuran yang diceritakan oleh paman saya itu tak lagi membuat ngilu; justru yang membuat saya merasa demikian adalah slogan, “Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung pangan Dunia Tahun 2045”. Saya rasa, orang-orang yang mengenal; yang masih memiliki; atau pernah memiliki lumbung akan merasa senang. Tapi, mengapa lumbung saya sampai roboh beberapa saat lalu? Atau slogan itu memang tidak melibatkan lumbung yang ketinggalan zaman seperti itu?

Cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia adalah cita-cita “indah”, tapi masalahnya, lumbung saya aja roboh, kok. Hal yang mungkin terjadi adalah slogan akan tetap sebagai slogan atau hanyut kayak kenangan. Saya membayangkan, seandainya sirkulasi padi menjadi enam atau tujuh bulan: paling tidak, saya akan akrab dengan berbagai makanan olahan yang dulu dianggap makanan kejepit.

Barangkali, hal-hal yang dulu “menjepit” juga sudah berevolusi; tidak punya uang mungkin adalah “kejepit” yang sesungguhnya—tapi sialnya, uang tidak bisa diolah seperti makanan—mungkin itu alasan mengapa orang-orang sekarang lebih menghargai uang dan sulit menghargai makanan. Jangankan mengolah ulang makanan yang tersisa kemarin malam, sisa makanan yang baru dimasak pun bisa dibuang begitu saja.

Jika siklus padi itu kembali—setidaknya—kita bisa lebih menghargai makanan, atau mungkin ada jenis masakan baru dari olahan makanan sisa, dan tentunya, bila sirkulasi padi masih bertahan seperti dulu, barangkali lumbung akan memiliki nilai sebagaimana mestinya; meskipun tidak menutup kemungkinan tetap berevolusi menjadi lumbung yang tidak menyimpan padi, tetapi “dolar”.

Eh, ngomong-ngomong, lumbung yang dijadikan kamar hotel di daerah pariwisata juga sama nasibnya dengan lumbung saya.  Ya, ya, lumbung yang menyimpan “dollar” itu  kini juga “roboh” dihantam pandemi. Dan orang-orang mulai lagi bicara soal ketahanan pangan… [T]

Tags: lumbungpadipandemiPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makanan, Hasil Perkawinan Alam dan Budaya

Next Post

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

by Sugi Lanus
September 17, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

Read moreDetails

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
0
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

Read moreDetails

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails
Next Post
Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Suara dari Dalam Lemari

BEKERJA sebagai arsitek muda freelance, Dara Ayunita terbiasa tidur larut malam. Itu tak menjadi masalah, meskipun ia masih tinggal di...

by Chusmeru
September 17, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

Oleh Sugi Lanus BUKTI perkawinan pengelana India kuno dan perempuan-perempuan Bali tidak hanya tertulis dalam prasasti Bali kuno, tetapi juga...

by Sugi Lanus
September 17, 2026
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar
Khas

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan
Panggung

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium
Gaya

Lift Rumah Mewah Kalea untuk Hunian Premium

SAAT ini, banyak pemilik rumah mewah di Indonesia memilih menggunakan lift rumah mewah Indonesia dari Kalea karena lift ini dapat...

by tatkala
September 16, 2026
Membaca Naga Agus Kama Loedin
Ulas Rupa

Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

by I Wayan Westa
September 16, 2026
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan
Ulas Rupa

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

by Angga Wijaya
September 16, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem
Esai

Purbaya Yudhi Sadewa, Saatnya Berkarya Tanpa Pamrih di Luar Sistem

SENIN, 14 September 2026, tidak ada suara petir yang menggelegar. Namun, masyarakat cukup dikejutkan oleh sebuah kabar yang sesungguhnya sudah...

by Agung Sudarsa
September 16, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co