8 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 19, 2021
in Esai
Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Lumbung yang roboh

Lumbung keluarga saya roboh. Lumbung dibangun sekitar pertengahan abad 20 dan itulah lumbung pertama milik kami. Pada zamannya, lumbung itu adalah lumbung yang elit.

Dalam bahasa Bali lumbung disebut jineng atau klumpu. Ada beberapa bentuk lumbung yang saya kenal: pertama, berbentuk kubus dengan empat kaki, hanya untuk menyimpan gabah; dan kedua, lumbung dengan empat kaki atau lebih namun dilengkapi tempat nongkrong—pada bagian belakang sebagai penyimpanan gabah, bagian depan sebagai tempat nongkrong—atau bertingkat: di bawah tempat nongkrong, di lantai dua penyimpanan gabah.

Umumnya, lumbung di daerah saya berbentuk yang pertama saya sebutkan: hanya untuk menyimpan gabah. Sementara itu, lumbung keluarga saya yang roboh itu dilengkapi dengan tempat nongkrong di depan penyimpanan gabah, dan lumbung itu bukan dirobohkan, tapi roboh dengan sendirinya karena memang tidak difungsikan lagi.

Robohnya lumbung keluarga membuat saya bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa tidak digunakan lagi?”

Kebetulan, setelah lumbung itu roboh, keluarga kami berkumpul; bukan barang baru, kumpul untuk sekadar ngobrol memang menjadi kebiasaan kami. Dan paman saya memulai sebuah percakapan tanpa ada pancingan sama sekali.

Ketika paman saya masih kecil—sekitar tahun 1940-an—padi membutuhkan waktu lama untuk dapat menghasilkan. Padi baru bisa dipanen sekitar enam hingga tujuh bulan setelah ditanam. Dalam rentang waktu yang panjang itu, makan tidak bisa sembarangan: harus hemat. Karena itu pula, gabah harus dimanajemen dengan cermat agar tidak kehabisan stok sebelum masa panen tiba.

Karena beras menjadi makanan yang istimewa, mulailah mereka mencampur beras dengan jenis makanan yang lain: ketela, jagung, umbi talas, dan sebagainya. Sejenak, saya merasa ngilu mendengar cerita itu; tak bisa saya bayangkan seandainya saya menjumpai situasi seperti itu. Tetapi, berhubung paman saya mengaku, “Padahal makanan dulu seperti itu, tapi tetap terasa nikmat,” saya tunda perasaan sombong itu.

Di lain sisi, meski paman saya mengatakan menikmati beras dengan berbagai campuran, ia dan kakek saya menyambut gembira program pemerintah yang kala itu menggelar Revolusi Hijau. Padi mulai bisa dipanen dalam waktu lebih singkat. Barangkali, setelah biasa dengan hasil panen yang “ngebut”, mereka tidak lagi memperhatikan porsi makan nasi. Perlahan-lahan, lumbung tidak menjadi tempat penting untuk menyimpan gabah, “Toh persediaan tak pernah habis,” lanjutnya dengan biasa-biasa saja.

Meski lumbung masih mendapat perlakuan yang khusus—sebab banyak pantangan yang tidak boleh dilakukan di lumbung: mengucap kata yang tidak sopan terhadap gabah atau mengumpat tikus yang lalu lalang dan merusak karung gabah—tetapi lumbung tak lagi menjadi perut penyimpan makanan. Siklus yang berubah itu rupanya telah menggeser fungsi lumbung, dan padi yang praktis membuat tanah menjadi mesin yang harus mengikuti pola industri: semakin cepat semakin bagus.

Saya sempat mengunjungi beberapa villa di Lovina, Ubud, Tejakula, dan beberapa tempat pariwisata lainnya untuk melihat perubahan fungsi lumbung. Di berbagai tempat yang saya kunjungi, saya dapati lumbung yang biasanya ada di halaman belakang rumah, justru ada di halaman paling depan.

Tetapi itu bukan lumbung yang saya kenal, lumbung itu sangat asing bagi saya: catnya mengkilap—tidak seperti lumbung saya yang kayunya bulukan, atapnya rapi berbahan ijuk, kayu, atau genteng—tidak menggunakan atap seng seperti lumbung saya yang hingga karatan belum juga diganti, dan tidak berisi beras, tapi dihuni bergantian oleh para turis.

Saya membayangkan pelajaran ketika SD: kata guru saya, onta menyimpan air di punggung, Pohon apel menyimpan cadangan makanan pada buah, dan ada yang nyeletuk, “Manusia menyimpan makanan di lumbung.” Tapi kini, entah untuk menyimpan apa lumbung itu, dan entah apa fungsinya; mungkin kita memang tidak memerlukan lumbung untuk menyimpan persediaan makanan? Atau di dalam lumbung ada lumbung yang lain?—dompet pengunjung. Lumbung telah berevolusi: menjadi kamar untuk para turis atau dibiarkan perlahan roboh sendiri.

Setelah dipikir-pikir, makanan campuran yang diceritakan oleh paman saya itu tak lagi membuat ngilu; justru yang membuat saya merasa demikian adalah slogan, “Mewujudkan Indonesia sebagai Lumbung pangan Dunia Tahun 2045”. Saya rasa, orang-orang yang mengenal; yang masih memiliki; atau pernah memiliki lumbung akan merasa senang. Tapi, mengapa lumbung saya sampai roboh beberapa saat lalu? Atau slogan itu memang tidak melibatkan lumbung yang ketinggalan zaman seperti itu?

Cita-cita pemerintah menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia adalah cita-cita “indah”, tapi masalahnya, lumbung saya aja roboh, kok. Hal yang mungkin terjadi adalah slogan akan tetap sebagai slogan atau hanyut kayak kenangan. Saya membayangkan, seandainya sirkulasi padi menjadi enam atau tujuh bulan: paling tidak, saya akan akrab dengan berbagai makanan olahan yang dulu dianggap makanan kejepit.

Barangkali, hal-hal yang dulu “menjepit” juga sudah berevolusi; tidak punya uang mungkin adalah “kejepit” yang sesungguhnya—tapi sialnya, uang tidak bisa diolah seperti makanan—mungkin itu alasan mengapa orang-orang sekarang lebih menghargai uang dan sulit menghargai makanan. Jangankan mengolah ulang makanan yang tersisa kemarin malam, sisa makanan yang baru dimasak pun bisa dibuang begitu saja.

Jika siklus padi itu kembali—setidaknya—kita bisa lebih menghargai makanan, atau mungkin ada jenis masakan baru dari olahan makanan sisa, dan tentunya, bila sirkulasi padi masih bertahan seperti dulu, barangkali lumbung akan memiliki nilai sebagaimana mestinya; meskipun tidak menutup kemungkinan tetap berevolusi menjadi lumbung yang tidak menyimpan padi, tetapi “dolar”.

Eh, ngomong-ngomong, lumbung yang dijadikan kamar hotel di daerah pariwisata juga sama nasibnya dengan lumbung saya.  Ya, ya, lumbung yang menyimpan “dollar” itu  kini juga “roboh” dihantam pandemi. Dan orang-orang mulai lagi bicara soal ketahanan pangan… [T]

Tags: lumbungpadipandemiPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Makanan, Hasil Perkawinan Alam dan Budaya

Next Post

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails
Next Post
Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Anjing Setan | Cerpen Kiki Sulistyo

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis
Pendidikan

Dari Rasa ke Kata: Cara Seru Belajar Bahasa Prancis

“J’aime atau je n’aime pas?” PERTANYAAN itu terdengar beberapa kali di LSPR Bali pada Senin, 28 September 2026. Saat itu,...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026
Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek
Buku Tatkala

Permata Bali — Kumpulan Cerita Pendek

Judul: Permata Bali -- kumpulan cerita pendek Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putu Oka Sukanta ISBN: Masih dalam proses...

by Buku Tatkala
October 7, 2026
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa
Opini

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

by Chusmeru
October 7, 2026
10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud
Pameran

10 Perspektif tentang Bali dalam Pameran Seni di Sthala Ubud

SUDAH mengunjungi pameran Ten Ubud Local Artists di Sthala Ubud Bali? Jumlah karya yang disajikan tidak terlalu banyak memang, namun...

by Nyoman Budarsana
October 7, 2026
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co