14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Makanan, Hasil Perkawinan Alam dan Budaya

I Putu Suiraoka by I Putu Suiraoka
February 19, 2021
in Esai
Makanan, Hasil Perkawinan Alam dan Budaya

Foto ilustrasi makanan [Suiraoka]

Sejak zaman dahulu dan sepanjang sejarah peradaban, manusia (dan juga spesies lainnya) di planet ini telah berinteraksi dengan alam. Ada satu perintah utama dalam interaksi dengan alam tersebut yang mesti diiikuti yaitu: “bertahan hidup”.

Dalam kurun waktu yang sangat panjang, keharusan bertahan hidup ini tidak hanya didasarkan pada kemampuan melindungi dirinya dari kondisi lingkungan yang (mungkin) sangat merugikan, tetapi juga pada kemampuannya untuk memenangkan tantangan makan atau diimakan.

Pada zaman purba kita dapat menyimak bahwa manusia telah menempatkan kelangsungan hidupnya dalam dua prinsip praktis yaitu pengumpulan segala sesuatu yang dapat dimakan dan berburu. Bahkan dikatakan bahwa “Manusia telah hidup sebagai pemburu-pengumpul selama 99 persen dari sejarahnya, dan ini mungkin telah membentuknya secara biologis”. Bentuknya dapat dalam bentuk mengumpulkan buah dari pepohonan ataupun membunuh mangsanya, hubungan manusia dengan lingkungan disekitarnya didasarkan pada transformasi itu.

Perkembangan selanjutnya adalah ketika nenek moyang kita mengembangkan pendekatan yang semakin canggih terhadap alam, jauh sebelum munculnya pertanian sekitar 15.000 tahun yang lalu. Di zaman paleolitik, manusia telah menemukan dan mulai menggunakan api.

Selama periode yang sama, mereka menciptakan semakin banyak alat-alat untuk berburu, memancing, pertahanan dan juga bangunan penampungan. Peralatan-peralatan ini awalnya dari kayu, batu kemudian dari semakin berkembang dengan menggunakan logam.   

Karena keterbatasan-keterbatasan fisiknya jika dibandingkan dengan hewan lainlah, manusia si pemburu-pengumpul mengembangkan hal itu. Berangkat dari sumber daya mental dan keingintahuannya yang luar biasa.

Pola konsumsi makanan beberapa populasi manusia juga mengikuti apa yang tersedia dan menjadi sumber daya di lingkungannya. Sehingga sampai saat ini kita banyak menemukan pola konsumsi makanan masyarakat yang tinggi konsumsi dagingnya, ada juga yang dominan dari ikan dan kerang atau bahkan beberapa kelompok dengan pola vegetarian.

Bagaimana lantas pola budaya konsumsi makanan ini diturunkan kepada generasi selanjutnya? Apakah memang karena kondisi alam yang tidak menyediakan sumber daya yang cukup? Tetapi kenapa mereka tidak berpindah untuk mencari tempat yang lebih banyak sumber daya makanannya? Ataukah hal tersebut memang merupakan hasil pemikirannya? Karena perkembangan semakin besarnya volume otak manusia?

Akibatnya, upaya “budaya” pertama manusia sebagian besar melibatkan masalah tentang cara menemukan makanan dan membuka jalan bagi dorongan luar biasa omnivora-nya. Pollan, dalam karyanya yang terkenal, “Dilema Omnivore”, menyetujui sepenuhnya dengan pandangan kaitan volume otak dengan pemilihan makanan ini. Dalam catatan Pollan, hewan lain mengikuti strategi yang berlawanan, yaitu pola makan yang sangat selektif dan, sejalan dengan ini, mereka pada umumnya memiliki otak yang sangat kecil.

Seperti sempat disebutkan di awal, bahwa penemuan api menandai langkah besar dalam kemampuan manusia untuk memanipulasi alam. Digunakan bergantian untuk panas, cahaya, perlindungan dari binatang buas, mengirim pesan dan mengeringkan pakaian, api memungkinkan perkembangan budaya progresif yang sangat penting, terutama dalam hal diet. Bagi Levi Strauss, memasak makanan menggunakan api adalah “penemuan yang membuat manusia menjadi manusia”. Sebelum belajar memasak, makanan (terutama daging) dimakan mentah atau busuk.

Penggunaan api membawa perubahan yang menentukan. Dalam karyanya Levi Strauss menyatakan bahwa memasak secara simbolis menandai transisi dari alam ke budaya, dan juga dari alam ke masyarakat, mengingat bahwa ketika mentah itu asli dari alam, dimasak berarti suatu langkah yang bersifat kultural dan sosial.

Konsep-konsep ini dijabarkan lebih lanjut dengan menggunakan analisis “segitiga kuliner” yang membagi “memasak makanan” menjadi tiga kategori berbeda: dipanggang, direbus, dan diasap. Di semua masyarakat, pemanggangan adalah bentuk memasak pertama, yang paling dekat dengan tatanan alam. Penggunaan api yang paling kuno didasarkan pada langsung mengekspos makanan ke api – makanan yang diletakkan di atas tongkat hanya “dibakar”.

Mengasap dan merebus adalah dua bentuk perkembangan budaya yang membedakan diri dari memanggang dalam penggunaan kreatif dua elemen terpisah untuk memasak. Udara dan asap untuk kegiatan mengasap, serta air dalam beberapa jenis wadah atau wajan untuk merebus. Penggunaan peralatan untuk memasak, persyaratan untuk merebus, tentu saja merupakan bukti evolusi budaya, tetapi demikian juga kemampuan untuk mengasap dalam rangka memperluas kemampuan makanan untuk menahan pembusukan untuk jumlah waktu yang jauh lebih lama dibandingkan metode memasak lainnya.

Hubungan antara alam dan budaya dapat dijelaskan oleh Levi Strauss berdasarkan perbandingan berbagai metode yaitu : “Mengukus dan merebus berbeda dalam hal sifat elemen perantara antara api dan makanan, yaitu udara atau air. Mengasap dan memanggang dibedakan oleh peran yang lebih besar atau lebih kecil yang diberikan udara; dan memanggang dan merebus dibedakan dengan ada atau tidak adanya air. Batas antara alam dan budaya, yang dapat dibayangkan sebagai sejajar dengan poros udara atau poros air, menempatkan pembakaran dan mengasap di sisi alam, merebus di sisi budaya dalam hal cara yang digunakan; atau mengasap di sisi budaya dan memanggang dan merebus di sisi alam dalam hal hasil “. [T]

Tags: alamBudayamakanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Laporan Keuangan Desa Adat dengan Nilai-nilai Kearifan Lokal dan Kebudayaan Bali

Next Post

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

I Putu Suiraoka

I Putu Suiraoka

Dr. I Putu Suiraoka, M.Kes., dosen di jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Lumbung Padi Sudah Roboh | Kini, Lumbung untuk Kamar Turis Roboh Pula

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co