3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Satia Guna by Satia Guna
January 2, 2021
in Cerpen
Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Ilustrasi oleh Satia Guna

Aku menikmati kesendirian ini, aku berhalusinasi tentang berbagai alasan kesendirianku. Tubuh ini terasa dingin sekali, padahal masih berada di dekatmu, sayang, ruangan ini terasa gelap, padahal masih ada engkau yang menerangi kegelisahanku, bibir ini terasa hambar, padahal setiap saat kau cumbu selalu, dan hati ini masih sunyi padahal sudah kau buka teralinya sejak mata kita bertemu...

Pagi ini aku menikmati segelas kopi gelap dan sepiring pisang goreng serta sebungkus kesendirian, kesendirian ini benar-benar yang paling nikmat. Padahal umur perkawinan kami sudah  menginjak 25 tahun, seharusnya rumah tangga kami semakin harmonis. Entah mengapa kekacauan pikiran untuk selalu merasa sendiri ini menggerogoti seluruh hati. Entah Ia juga merasakannya tapi sama sekali tak terlihat kalau ia merasakan bahwa ia pun mengalami pesakitan ini. Pagi ini ia minta izin padaku untuk pergi ke pasar membeli keperluan dapur.

Mengapa laki-laki itu seperti termangu pagi ini. Padahal hari ini hari yang sangat cerah, harusnya ia bersemangat dan pergi berolahraga bersama teman-temannya. Laki-laki itu nampak aneh belakangan ini. Ia selalu menghabiskan waktunya bersemedi dengan lukisannya. Tak pernah ia sempat untuk mencumbuku lagi. Dasar lelaki, di saat ada suatu pekerjaan yang sulit selalu egoismenya muncul. Aku kepasar pun ia hanya menatapku dan tak berkata sepatah katapun.

Aku lelah sekali pagi ini memikirkannya dan memikirkan rasa kesendirian ini. Masih adakah cinta yang kumiliki untuknya? Atau masih adakah cinta yang ia miliki padaku? Harusnya tak ada istilah cinta lagi dalam hubungan suami istri, yang ada harusnya rasa mengerti antara satu sama lain. Hari-hariku akhir-akhir ini terasa hambar dan pernah sekali kukatakan itu pada istriku tapi ia hanya menjawab biasa saja. Apakah itu menandakan ia sudah bosan padaku atau bagaimana, aku masih mencari tahu.

Apa sulit untuk membagi senyuman bagi istrinya yang tercinta ini. Aku sungguh-sungguh sudah merasa kebingungan dengan sifatnya yang aneh itu. Sifat yang selalu tak menganggapku ada dan sifat dimana aku hanya sebuah boneka yang setiap saat bisa ia mainkan jika dibutuhkan. Apa yang sedang ia pikirkan. Hanya dapur yang bisa mengerti seorang istri, tempat di mana ia bisa menumpahkan amarahnya pada sebuah wajan dan bawang.

Ia masih saja duduk di teras dan menatapku dengan tatapan yang begitu misterius, apakah ia ingin membunuhku, aku tertawa dalam hati sembari mengaduk telur dan beberapa sayuran yang tadi sudah kubeli. Aku bagai telur dalam baskom ini dan ia adalah sayurnya. Aku yang berusaha mengandaikan Sesutu hal dengan sangat luas dan ia hanya memikirkan sesuatu secara sempit. Masihkah ia mencintaiku atau cintanya mungkin sudah pudar dimakan usia.

Aku meragu pada istriku, raguku membuatku semakin senang, apa yang terjadi. Apa yang merasuki pikiranku. Aku terbawa suasana hati, aku terlampau jauh, terlampau jauh berharap.

Aku heran dengan semua perlakuannya padaku, hatiku terbakar, hangus tak tersisa. Ia terus memperhatikan gerak-gerikku, aku merasa risih, sungguh risih.

Biar kuceritakan sedikit pertemuan kami, ini adalah pertemuan yang begitu mengesankan hatiku. Aku adalah wanita dengan rambut bergelombang, kulitku sawo matang, wajahku bulat dengan mata berbingkai, dan senyum yang dihiasi lesung pipi. Kata-kata tentang diriku tadi, bukan aku yang menerka-nerka, ia yang mengatakannya, ia mengatakannya saat pertama kami bertemu dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ia memegang tanganku, sangat mesra, dengan kelingkingnya yang menggapai kelingkingku, ini sebuah perjanjian, iya ini sebuah perjanjian, sebuah perjanjian yang ia sematkan dalam doanya.

Kami masih duduk-duduk di bawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan. Ditengah ramainya orang berlalu lalang menjumpai kami dengan bisikan diiringi tawa. Apa yang mereka tertawakan? Tempat kencan kami benar bukan, di bawah lindungan, dibawah pohon berdaun bintang, berdaun harapan.

Kami adalah pasangan yang sangat romantik dalam kesederhanaan, dalam kepekatan nasib, dan kegelisahan orang-orang.

Biarkan juga aku bercerita tentang masa-masa saat kita bertemu. Aku adalah, ah sudahlah. Bentuk tubuh seorang laki-laki tak harus kusampaikan. Laki-laki tak menarik untuk diceritakan. Bentuk tubuh lelaki tak menarik untuk diceritakan, yang lebih menarik diceritakan adalah kehebatan laki-laki. Baik, aku akan menceritakan tentang kehebatanku. Aku adalah seorang seniman propaganda yang sangat apik mengatur sandiwara. Aku orang hebat. Semua orang mengaggumi seniku, aku seorang laki-laki multitalenta, aku bisa menari, aku bisa melukis, aku berteater, menulis, ah semua aku bisa, tapi hanya satu yang tak aku bisa, yaitu membahagiakan hati perempuan. Beralih dari cerita kehidupanku. Wanita merupakan mahluk yang pelik, penuh dengan liku, penuh ranjau yang harus dilalui oleh seorang laki-laki. Wanita selalu menikmati hal-hal yang berbau romantik, semiotik, artistik, apalah yang tik..tik..tik, seperti rintik hujan di pagi hari, begitulah perempuan, seperti rintik hujan di pagi hari, hanya rintik tapi membasahi. Hei, aku menceritakanmu lebih baik dari pada dirimu, KAU TAHU!

Aku tahu ia sangat pandai mengatur sandiwara di rumah, ia seorang aktor teater wajarlah rumah dijadikan sebagai panggungnya. Ia mengatur tatanan lampu di rumah, mengatur dekorasinya agar terlihat lebih artistik, jujur ini membuatku muak. Wanita ia bilang menyukai hal-hal yang berbau artistik, cuiihhh, kami lebih suka hal-hal yang berbau romantik_SAMA SAJA.

Ia kenapa lagi minggu ini, selalu bermuram durja. Masakannya tak seenak seminggu yang lalu, empat hari yang lalu, dan dua hari yang lalu. Nasinya hambar, memang nasi itu hambar tapi tak seperti biasanya, sangat hambar bahkan dingin sedingin tangannya menuangi air ke gelasku, apakah ia berselingkuh, apa benar? Apa iya? Aku penasaran.

Hari ini aku memasakan nasi sisa kemarin padanya, semoga ia menikmati kehambaran hati ini. Menikmati piluku. Menuanginya air dingin membeku agar merogoh isi kepalanya yang selalu penuh api cemburu. Kau tahu sayang rambutmu yang gondrong itu perlu dicukur rapi, saat bercinta rambutmu itu membuat tubuhku geli.

Setiap hari aku selalu disuruh untuk mencukur rambutku, hei apa dia buta, rambut gondrongku ini memiliki kharisma tersendiri, kharisma yang membuat orang menjadi tahu aku seniman, bukan hanya rambut gondrongku, tapi wajahku yang berkarakter juga menambah aura senimanku keluar. Kau tak tahu apa-apa, ini bukan fhasion, ini jati diri.

Pagi yang cerah hari ini mereka berdua duduk berhadapan di meja makan, memandang satu sama lain, memandang mata, tangan bahu, hingga hati masing-masing. Suara tak terdengar di meja makan, suara tak terdengar di antara mereka. Yang terdengar hanyalah isi hati mereka yang tengah beradu.

Aku masih bertanya dalam hati, apakah istriku berselingkuh, apakah benar ia sudah mencintai pria lain, pria yang lebih gagah dariku, pria yang mengutamakan istrinya daripada lukisan istrinya. Memandangi manis istrinya bukan menambahkan rasa manis itu pada lukisan.

Ia berfikir aku selingkuh, ia pikir aku menghianatinya. Menghianati cinta yang sudah kubangun bertahun-tahun. Jawabanya tentu saja IYA. Iya aku berselingkuh, berselingkuh untuk kepentingannya. Untuk cerita-cerita yang akan ia tulis pada catatan hariannya yang ia kunci rapat-rapat dan takada satupun orang yang boleh melihatnya termasuk aku. ISTRINYA.

Jadi benar ia berselingkuh, jadi selama ini ia menghianati cintaku, menghianati janji yang kita buat di bawah pohon berdaun bintang, berdaun ah.. harapan katanya. Harapan yang seolah-olah pupus hanya karena disapu rasa curiga dan pengkhianatan, tapi, tapi aku menikmati ini, inilah puncak konflik yang aku tunggu-tunggu, di mana aku yang menderita, penderitaan ini sangat nikmat. Nikmat sekali, aku tersenyum sendiri seperti orang gila tapi sedikit waras. Ia berselingkuh. Aku penasaran dengan siapa ia berselingkuh, mungkinkah dengan sahabatku sendiri, atau dengan adikku, kakakku, ayolah kumohon orang terdekat, agar konfliknya semakin menarik, aku mencintai saat-saat seperti ini. Aku menikmatinya.

Iya, aku memang berselingkuh, berselingkuh dengan sahabatnya, yang lebih mapan, yang lebih mencintai wanita daripada lukisan wanita yang dicintainya. Tatanan rambut lebih rapi. Memakai jas, celana casual, dengan kemeja lengan panjang yang menawan, bagaimana? Bagus kan kalau seorang wanita yang menceritakan keindahan laki-laki, tak sepertimu yang hanya diam memandangi lekuk indah tubuhku pada lukisanmu itu. Aku muak suamiku yang tercinta, suamiku yang penuh dengan hal-hal romantik yang hanya kau nikmati sendiri tanpa kau bagi denganku. Kita sudahi saja untuk hari ini suamiku.

Mereka saling menatap satu sama lain, di tengah meja bundar itu, ditengah riuh suara sendok dan piring, dengan pemanis gemericik air kran, tetes demi tetes, yang mengiri mereka dalam dialog bisu yang setiap hari terjadi, mereka diam, hanya memandang, tertawa, tersenyum, menangis, namun tak berkata, hanya hati mereka berdialog di atas meja makan, di bawah alam sadar. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Next Post

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Dewa Komang Yudi || Mengubah Lilin Menjadi Obor

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co