2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Kiki Sulistyo by Kiki Sulistyo
January 2, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Kiki Sulistyo || Hantu Rima, Pigmen Bunyi, Martiria

Salah stu karya pada pamaeran Tugas Akhir mahasiswa seni rupa Undiksha Singaraja, 2018


Malam Penjagalan


wahai, pemapar ikhbar –berkatilah hewan ini dengan

hamun dan sifat dayus, sebelum dunia membuatnya kudus.


di kandang ia terkinjat, melihat tali-jerat seakan melihat

jalur gunung,  dataran anggara, molek-alam dalam

lukisan penduduk kota, tempat induk mengasah tanduknya.


tapi tanduk cuma jimat pintu rumah, setelah upacara dan

kelambur mantra melunturkan kutuk di tengah wabah.

tak ada amnesti untuknya, tak ada palu atau pandita.

harga daging berdering dalam tidur juragan, bilamana

penjagal itu melihat pagi terayun seperti kapak,


langit berminyak, 


dan udara bengkak bagai tertimbun lemak.


(2018)


Pigmen Bunyi



sudah lama seseorang menyisir rambut; suara terompet

merembet dari palet yang dibiarkan lengket. lukisan belum jadi,

sungai masih mengarsir kabut, polesan-polesan lembut.


pigmen bunyi dari seuntai nyanyi, setelah basah gaun terseret

di permukaan batu, seseorang menunggu, lembar air dibalik

dan kekosongan menerangi bagian paling tajam dari sirip ikan.


saat itu air pasti sudah jadi helai-helai lembut, seseorang meraba,

menemukan akar kata seraya memuji kemerduan warna dari ilham

yang berenang ke lubuk dalam; kanvas suara di dinding dunia.


sudah lama seseorang menatap, kavaleri waktu menetap di lukisan

yang belum jadi. sungai lengket dalam suara terompet dan ikan-ikan

mengarsir aransemen bagi seseorang yang tak akan kembali


(2019)


Martiria


dia mengerti, bangsa tak ada bila tak ada luka

maka disimpannya potret pengungsi dengan

latar merah-besi.          kampus-kampus yang mati,

hangus, lalu berdiri lagi bagai monumen api


“Merdeka!” ratapnya.


seketika itu juga seluruh gagasan beku, sedang

batu-batu terbang ke berbagai penjuru.

para mahasiswa menemuinya

melalui brosur dan paket pariwisata.

tak ada mesiu di mata mereka

senantiasa gembira, bagai budak distrik

mengenakan setelan batik.


maka bertutur saja dia perihal armada selatan

kaigun, gugus tulang dada, juga bangkai romusha

di jalur ladang. pita suaranya membujut, sekian

umur digulung takut, hingga kelakar yang

keluar terdengar seakan bakaran gambut.

(dan mereka ikut tertawa, mereka ikut tertawa)

kaftan dan pomade, hijab dan pantalon,

tugas akhir: wawancara dengan sejarah.

mereka merasa naik ikazuchi.  ikut perang, unggah

swafoto,     colek kawan-seperbudakan.


(2018)


Anjungan


piala untuk pikiran terlarang, di anjungan

setiap pengunjung menjunjung pujian bagi

para korban perang. rapat-rapat menyimpan

rapat-rapat budi pekerti sampai saat dibagikan

sebagai percobaan perusahaan obat-obatan;

untuk anak-anak pengungsi, untuk penyangsi

yang membakar diri, mandi api di lautan oligarki.

lalu jatuh socrates, setetes demi setetes,

memanjat machiavelli setali demi setali,

mencapai negara, dan demi demit,

semua parasit politik menggigit lidah pelawak

hingga gagak-gagak menukik ke dalam putik bunga,

mengisap sari luka agar bisa kita muntahkan lagi

sebagai bisa kata-kata.


[2019]


Hantu Rima


aku hantu rima, aku tak pernah takut

pada tuts piano, buku kafka, kodok di sepatu tentara

aku cinta pada logika, kalau kau logika, aku akan

bernyanyi di depan makammu setiap hari, awan

dinihari, lewat seperti kristen stewart, melirik

puisi lirik di kantung mata penderita kusta.

aku menjadi rima setelah pura-pura percaya

semua kata tak ada artinya, bagaimana bisa,

tanya saja pada rhoma irama, o, dia sang raja

yang malih jadi entang kosasih dalam kenangan

eka kurniawan


sst, sebenarnya aku ini pengungsi,

dari lipstik aung san suu kyi-


dan kau dengar kan kata seruling sebelum tertulis

kata seruling untuk kedua kali?


[2019]


Therese Kepada Camille

                                  : Zola


perahu telah terjungkir dan kulihat hidupmu yang getir

memenuhi langit hampa. saat itu juga aku ingin menyembah

ibumu, janda tua dungu yang merebutku dari tangan serdadu.

sering kuimpikan padang-padang afrika, macan dahan, dan perang

terbuka. aku gipsi dari gurun mati, dilemparkan ke kota kotor ini.


aku rindukan dadamu, tanah malit terbuka untuk aneka penyakit

tapi kerinduanku semata dusta, bibit bunga busuk baunya

terhidu hidung pembaca; di dalam kamar mati, kulihat kecemasannya

tenggelam bersama hantumu yang basah, berusaha mendengar

suaramu menggaruk-garuk pintu rumah


pembaca itu tidak berduka, ‘kematian’, katanya, ‘hanya statistika’

dan kami menyusulmu, mengulang peristiwa ketika Laurent

melemparmu ke danau terbuka, sebelum membalik  perahu,

seperti membalik halaman pertama sebuah buku

yang terus-menerus menyeru namaku.


(2020)


Periode Biru


dinding kupu-kupu. jantung beliamu. keheningan

batas pandang manakala bimasakti membuka

tabung malam. tanganku memetik senar akustik.

di lentik jarimu. dan musik tertarik ke orbit mistik.

debar dinding itu. kupu-kupu belia itu. kita berciuman

sebentar, sebelum sebentang tulang digurat di tengah

padang. tanda pedang. tanda perang. mereka menemukan

sepasang mumi telanjang. cahaya seketika pasang.

bulan dipasang di ketinggian. bayang-bayang bunyi.

bermekaran seperti puisi. jarijarimu memetiknya; nyanyi

sunyi. terasing dari mimpi. biru bumi.


(2020)    

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mewarisi Kemarahan

Next Post

Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Kiki Sulistyo

Kiki Sulistyo

Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisi terbarunya berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Dialog Bisu di Meja Makan || Cerpen Satia Guna

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co