14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Bulan Nurguna by Bulan Nurguna
December 20, 2020
in Cerpen
Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Salah satu karya instalasi dalam Pemran SEni Rupa di kampus Undiksha Singaraja, 29 November 2019

Suami yang seorang vegan itu sibuk menguleni tepung yang sudah dicampur dengan jodoh-jodohnya: air, pengembang, garam, sedikit gula, dan “perasa ayam” yang berasal dari pati jagung, jamur, dan bumbu alami yang tidak mengandung ayam.  Setelah sekitar dua puluh menit, ditutupnya calon makanan itu dengan kain. Dia tunggu setengah jam sambil membaca surat kabar lokal, memilih berita penting yang diminatinya seputar ekonomi, lingkungan, dan humaniora. Setelah setengah jam, dia rebus air, menunggu mendidih, dan memasukkan adonan tadi ke dalamnya.

Dia memang biasa membuat makanan sendiri, sebab makanan di luar hanya sedikit yang sesuai seleranya. Dia memikirkan juga masalah kebersihan dan harga yang sering kali tidak bertemu satu sama lain. Bila tempatnya bersih dan makanannya enak, sering kali harganya kelewat mahal. Bila harganya murah dan makanannya enak, sering kali tempatnya jorok: mejanya yang nampak berminyak, tempat mencuci piring yang tidak punya air bersih yang mengalir, atau tempat sampahnya berantakan, terlihat seperti kebagian tugas menyambut tamu.

Hanya dua tempat di kota itu yang sesuai seleranya, tahu tek-tek di daerah pesisir dan warung siomay di tengah kota -tetapi karena mengandung ikan, selalu ia pesan tanpa memakai siomay. Selain itu, semua tempat, bila tidak jorok, pasti mahal. Bila murah, pasti jorok. Bila enak, murah, dan bersih, pasti mengandung perasa kimia atau mengandung kaldu daging.

Soal daging ini, dia punya falsafah yang diambilnya dari buku-buku tentang vegan; yang paling diingatnya adalah kalimat “kita adalah apa yang kita makan”. Bila manusia sering mengonsumsi daging, maka ia akan memiliki sifat-sifat hewani yang kasar, mudah marah, dan tidak punya pikiran yang panjang. Lagi pula, apakah tega melihat ikan, ayam, dan sapi meregang nyawa hanya untuk melayani nafsu makan manusia? Selain itu, makan sayur dan buah baginya lebih murah, tentu saja buah-buah lokal yang sedang musim atau sayuran lokal yang tak mengenal musim. Tentu bukan hanya sayur dan buah, ada juga kacang-kacangan, tempe, tahu, dan gluten -daging “bohongan” yang memang kerap dia bikin sendiri dengan tepung yang diuleni dan direbus.

Istrinya, yang penyuka berat daging, terutama ayam dan sapi, suka mempertanyakan keimanan suaminya masalah “agama” vegan tersebut. Apakah suaminya tidak lemas sebab tidak makan daging? Apakah sebenarnya suaminya masih memendam minat pada daging? Tetapi karena mungkin sudah telanjur diucapkan pada saat benar-benar tinggi minatnya pada dunia vegan, dia mempertahankan argumennya bahkan di saat sebenarnya dia menginginkan daging?

Istrinya sudah sering bilang, “Sesekali makanlah daging supaya sehat”. Tetapi dia berkeras bahwa tidak makan daging malahan membuatnya lebih sehat dan ringan rasa badannya. “Lagi pula, kamu adalah apa yang kamu makan,” katanya. Sebenarnya, istrinya agak tersinggung dengan kata-kata itu, sebab ia merasa dikhianati karena dahulu ketika awal pacaran mereka sering pergi ke tempat wisata yang puluhan kilometer jaraknya hanya untuk makan sate jeroan. Di awal-awal rumah tangga pun, mereka pernah membuka warung soto daging dan soto ayam kampung untuk menopang hidup mereka yang sederhana. Lalu istrinya juga ingat bahkan sepuluh tahun setelah menikah suaminya masih mau  diajak ke resepsi pernikahan dan selalu mengambil sedikit nasi dan sayur, tidak mengambil kerupuk dan sambal tetapi mengambil daging, udang, cumi, dan ikan yang banyak, sampai-sampai dia kesusahan menghabiskan semuanya.

Rupanya sekarang berbeda, setelah lima belas tahun menikah, suaminya berubah. Apakah ini karena perekonomian mereka yang membaik dan kerja-kerja fisik yang berkurang karena sudah bisa diserahkan kepada karyawan, sehingga membuat suaminya memiliki waktu lebih, untuk mengatur apa yang layak dan tidak layak masuk perutnya? Dan dia juga punya waktu lebih untuk mengolah sendiri makanan di rumah?

Si istri sebenarnya tipikal orang yang membebaskan suaminya untuk hal apa saja, kecuali perselingkuhan, sebagaimana di rumah tangga lainnya. Untuk urusan makanan sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli. Tetapi kesehatan suaminya yang membuatnya agak khawatir, sebab pernah ia baca iklan layanan masyarakat yang menganjurkan makan empat sehat lima sempurna. Ada daging di gambar itu, dan ia kurang percaya ketika suaminya berkata bahwa protein yang ada dalam tahu, tempe, dan biji-bijian tidak kalah banyaknya dari yang ada dalam daging.

Selain masalah kesehatan, si istri juga punya ketersinggungan: ia merasa direndahkan oleh suaminya itu. Bila ia makan ayam, ia jadi bermental chicken, begitu? Jika ia makan sapi ia akan malas dan gemuk seperti sapi? Ah, pikirnya, suaminya itu hanya melebih-lebihkan saja. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, bahkan merasa dirinya lebih baik dari istrinya.

Si istri semakin sering merasa direndahkan dan dikhianati, tidak hanya soal apa yang dimakan, tapi juga soal siapa yang diberi makan. Contohnya kucing-kucing kampung yang sering mampir di rumah itu. Si istri sungguh cinta kebersihan, dan kucing-kucing kampung itu suka membuang kotoran di sembarang tempat di rumah itu; di halaman, di ruang tamu, di ruang tidur, dan yang paling membuatnya marah adalah di dapur. Seakan kucing-kucing itu mengejeknya: tempatmu makan adalah tempatku berak, dasar manusia! Karena itulah ia menjadikan kucing-kucing itu musuhnya. Tiap ia melihat kucing itu ada di rumahnya, ia kejar, ia lempari dengan apa saja yang ada; batu sampai buku, garpu sampai sapu.

Sementara itu suaminya selalu memberi makan kucing-kucing itu dengan makanan yang ada di meja, makanan yang sebenarnya dimasak istrinya untuk dirinya sendiri dan kedua anak perempuannya. Kucing itu juga dia elus-elus, sesekali dia gendong satu persatu, sampai dia ajak berbicara tentang falsafah kehidupan, “Kucing-kucing, tidakkah kau lihat manusia saling menyakiti, saling mengkhianati di dalam janji?” Si istri yang melihatnya dari jendela kamar tersenyum sinis. Ia berpikir, paling-paling suaminya mendapat kata-kata itu dari tivi atau ceramah agama, sebab ia tak melihat bahwa  itu hasil pengalaman pribadi suaminya. “Kamu yang mengkhianatiku..,”  gumamnya. Ternyata makin lama kucing-kucing bisa membaca karakter suami-istri itu; ketika si suami pergi ke restoran milik mereka, dan si istri hanya sendirian di rumah, kucing-kucing itu tidak terlihat satu pun. Mereka hafal betul, ada istri berarti bencana, ada suami berarti anugerah.

Suatu hari, tanpa sengaja, si istri menemukan secarik kertas -semacam brosur- dari kantong suaminya:  “Open BO. Bebas gaya. Mandi kucing. Doggy Style…”

 “Dasar pengkhianat! Rupanya dia tidak hanya memberi makan kucing-kucing, tetapi juga menjadi kucing, menjadi anjing padahal bukan pemakan daging,” ucap si istri. Ia ingat, dulu suaminya berjanji akan makan apa saja asal bersama, saling setia, dan melawan apa pun bersama-sama.

Ia marah besar, saking marahnya ia tidak mau masak. Ia pergi ke rumah makan cepat saji paling terkenal dan sudah memiliki cabang puluhan ribu di seluruh dunia. Ia memesan satu keranjang ayam; dada, paha, dan sayap. Ia makan ayam-ayam itu sambil sesekali menenggak minuman soda. “Ya suamiku, aku memang apa yang aku makan. Aku makan junk food dan kau pikir  aku akan jadi sampah. Tapi kau tahu kan? Sampah bisa membuat orang mati.”

Setelah itu ia pergi ke toko pertanian dan peternakan, melihat-lihat di etalase khusus pembasmi hama. Ternyata harga semua jenis pembasmi hama murah sekali, tidak sebanding dengan nilai filosofisnya yang begitu besar: membasmi kehidupan lain yang mengganggu kehidupanmu.

Sesampainya di rumah, ia membuat gluten rasa ayam seperti yang dibuat suaminya, dan ia ganti gluten yang telah dibuat suaminya dengan yang baru saja ia buat. “Selamat makan, suamiku. Kucing tidak mengerti bahasa manusia, bila salah sedikit kita boleh menyiram atau memukulnya untuk memberi tahu. Bila salahnya banyak, kita memberinya racun. Dan aku sudah malas mencium anjing bergelar suami…” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Corona, Refleksi 2020

Next Post

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Bulan Nurguna

Bulan Nurguna

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co