24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Bulan Nurguna by Bulan Nurguna
December 20, 2020
in Cerpen
Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Salah satu karya instalasi dalam Pemran SEni Rupa di kampus Undiksha Singaraja, 29 November 2019

Suami yang seorang vegan itu sibuk menguleni tepung yang sudah dicampur dengan jodoh-jodohnya: air, pengembang, garam, sedikit gula, dan “perasa ayam” yang berasal dari pati jagung, jamur, dan bumbu alami yang tidak mengandung ayam.  Setelah sekitar dua puluh menit, ditutupnya calon makanan itu dengan kain. Dia tunggu setengah jam sambil membaca surat kabar lokal, memilih berita penting yang diminatinya seputar ekonomi, lingkungan, dan humaniora. Setelah setengah jam, dia rebus air, menunggu mendidih, dan memasukkan adonan tadi ke dalamnya.

Dia memang biasa membuat makanan sendiri, sebab makanan di luar hanya sedikit yang sesuai seleranya. Dia memikirkan juga masalah kebersihan dan harga yang sering kali tidak bertemu satu sama lain. Bila tempatnya bersih dan makanannya enak, sering kali harganya kelewat mahal. Bila harganya murah dan makanannya enak, sering kali tempatnya jorok: mejanya yang nampak berminyak, tempat mencuci piring yang tidak punya air bersih yang mengalir, atau tempat sampahnya berantakan, terlihat seperti kebagian tugas menyambut tamu.

Hanya dua tempat di kota itu yang sesuai seleranya, tahu tek-tek di daerah pesisir dan warung siomay di tengah kota -tetapi karena mengandung ikan, selalu ia pesan tanpa memakai siomay. Selain itu, semua tempat, bila tidak jorok, pasti mahal. Bila murah, pasti jorok. Bila enak, murah, dan bersih, pasti mengandung perasa kimia atau mengandung kaldu daging.

Soal daging ini, dia punya falsafah yang diambilnya dari buku-buku tentang vegan; yang paling diingatnya adalah kalimat “kita adalah apa yang kita makan”. Bila manusia sering mengonsumsi daging, maka ia akan memiliki sifat-sifat hewani yang kasar, mudah marah, dan tidak punya pikiran yang panjang. Lagi pula, apakah tega melihat ikan, ayam, dan sapi meregang nyawa hanya untuk melayani nafsu makan manusia? Selain itu, makan sayur dan buah baginya lebih murah, tentu saja buah-buah lokal yang sedang musim atau sayuran lokal yang tak mengenal musim. Tentu bukan hanya sayur dan buah, ada juga kacang-kacangan, tempe, tahu, dan gluten -daging “bohongan” yang memang kerap dia bikin sendiri dengan tepung yang diuleni dan direbus.

Istrinya, yang penyuka berat daging, terutama ayam dan sapi, suka mempertanyakan keimanan suaminya masalah “agama” vegan tersebut. Apakah suaminya tidak lemas sebab tidak makan daging? Apakah sebenarnya suaminya masih memendam minat pada daging? Tetapi karena mungkin sudah telanjur diucapkan pada saat benar-benar tinggi minatnya pada dunia vegan, dia mempertahankan argumennya bahkan di saat sebenarnya dia menginginkan daging?

Istrinya sudah sering bilang, “Sesekali makanlah daging supaya sehat”. Tetapi dia berkeras bahwa tidak makan daging malahan membuatnya lebih sehat dan ringan rasa badannya. “Lagi pula, kamu adalah apa yang kamu makan,” katanya. Sebenarnya, istrinya agak tersinggung dengan kata-kata itu, sebab ia merasa dikhianati karena dahulu ketika awal pacaran mereka sering pergi ke tempat wisata yang puluhan kilometer jaraknya hanya untuk makan sate jeroan. Di awal-awal rumah tangga pun, mereka pernah membuka warung soto daging dan soto ayam kampung untuk menopang hidup mereka yang sederhana. Lalu istrinya juga ingat bahkan sepuluh tahun setelah menikah suaminya masih mau  diajak ke resepsi pernikahan dan selalu mengambil sedikit nasi dan sayur, tidak mengambil kerupuk dan sambal tetapi mengambil daging, udang, cumi, dan ikan yang banyak, sampai-sampai dia kesusahan menghabiskan semuanya.

Rupanya sekarang berbeda, setelah lima belas tahun menikah, suaminya berubah. Apakah ini karena perekonomian mereka yang membaik dan kerja-kerja fisik yang berkurang karena sudah bisa diserahkan kepada karyawan, sehingga membuat suaminya memiliki waktu lebih, untuk mengatur apa yang layak dan tidak layak masuk perutnya? Dan dia juga punya waktu lebih untuk mengolah sendiri makanan di rumah?

Si istri sebenarnya tipikal orang yang membebaskan suaminya untuk hal apa saja, kecuali perselingkuhan, sebagaimana di rumah tangga lainnya. Untuk urusan makanan sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli. Tetapi kesehatan suaminya yang membuatnya agak khawatir, sebab pernah ia baca iklan layanan masyarakat yang menganjurkan makan empat sehat lima sempurna. Ada daging di gambar itu, dan ia kurang percaya ketika suaminya berkata bahwa protein yang ada dalam tahu, tempe, dan biji-bijian tidak kalah banyaknya dari yang ada dalam daging.

Selain masalah kesehatan, si istri juga punya ketersinggungan: ia merasa direndahkan oleh suaminya itu. Bila ia makan ayam, ia jadi bermental chicken, begitu? Jika ia makan sapi ia akan malas dan gemuk seperti sapi? Ah, pikirnya, suaminya itu hanya melebih-lebihkan saja. Merasa dirinya lebih baik dari orang lain, bahkan merasa dirinya lebih baik dari istrinya.

Si istri semakin sering merasa direndahkan dan dikhianati, tidak hanya soal apa yang dimakan, tapi juga soal siapa yang diberi makan. Contohnya kucing-kucing kampung yang sering mampir di rumah itu. Si istri sungguh cinta kebersihan, dan kucing-kucing kampung itu suka membuang kotoran di sembarang tempat di rumah itu; di halaman, di ruang tamu, di ruang tidur, dan yang paling membuatnya marah adalah di dapur. Seakan kucing-kucing itu mengejeknya: tempatmu makan adalah tempatku berak, dasar manusia! Karena itulah ia menjadikan kucing-kucing itu musuhnya. Tiap ia melihat kucing itu ada di rumahnya, ia kejar, ia lempari dengan apa saja yang ada; batu sampai buku, garpu sampai sapu.

Sementara itu suaminya selalu memberi makan kucing-kucing itu dengan makanan yang ada di meja, makanan yang sebenarnya dimasak istrinya untuk dirinya sendiri dan kedua anak perempuannya. Kucing itu juga dia elus-elus, sesekali dia gendong satu persatu, sampai dia ajak berbicara tentang falsafah kehidupan, “Kucing-kucing, tidakkah kau lihat manusia saling menyakiti, saling mengkhianati di dalam janji?” Si istri yang melihatnya dari jendela kamar tersenyum sinis. Ia berpikir, paling-paling suaminya mendapat kata-kata itu dari tivi atau ceramah agama, sebab ia tak melihat bahwa  itu hasil pengalaman pribadi suaminya. “Kamu yang mengkhianatiku..,”  gumamnya. Ternyata makin lama kucing-kucing bisa membaca karakter suami-istri itu; ketika si suami pergi ke restoran milik mereka, dan si istri hanya sendirian di rumah, kucing-kucing itu tidak terlihat satu pun. Mereka hafal betul, ada istri berarti bencana, ada suami berarti anugerah.

Suatu hari, tanpa sengaja, si istri menemukan secarik kertas -semacam brosur- dari kantong suaminya:  “Open BO. Bebas gaya. Mandi kucing. Doggy Style…”

 “Dasar pengkhianat! Rupanya dia tidak hanya memberi makan kucing-kucing, tetapi juga menjadi kucing, menjadi anjing padahal bukan pemakan daging,” ucap si istri. Ia ingat, dulu suaminya berjanji akan makan apa saja asal bersama, saling setia, dan melawan apa pun bersama-sama.

Ia marah besar, saking marahnya ia tidak mau masak. Ia pergi ke rumah makan cepat saji paling terkenal dan sudah memiliki cabang puluhan ribu di seluruh dunia. Ia memesan satu keranjang ayam; dada, paha, dan sayap. Ia makan ayam-ayam itu sambil sesekali menenggak minuman soda. “Ya suamiku, aku memang apa yang aku makan. Aku makan junk food dan kau pikir  aku akan jadi sampah. Tapi kau tahu kan? Sampah bisa membuat orang mati.”

Setelah itu ia pergi ke toko pertanian dan peternakan, melihat-lihat di etalase khusus pembasmi hama. Ternyata harga semua jenis pembasmi hama murah sekali, tidak sebanding dengan nilai filosofisnya yang begitu besar: membasmi kehidupan lain yang mengganggu kehidupanmu.

Sesampainya di rumah, ia membuat gluten rasa ayam seperti yang dibuat suaminya, dan ia ganti gluten yang telah dibuat suaminya dengan yang baru saja ia buat. “Selamat makan, suamiku. Kucing tidak mengerti bahasa manusia, bila salah sedikit kita boleh menyiram atau memukulnya untuk memberi tahu. Bila salahnya banyak, kita memberinya racun. Dan aku sudah malas mencium anjing bergelar suami…” [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Corona, Refleksi 2020

Next Post

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Bulan Nurguna

Bulan Nurguna

Lahir di Mataram, Lombok, 4 Juni 1990. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Kini ikut bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co