27 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Dwi S. Wibowo by Dwi S. Wibowo
December 20, 2020
in Ulasan
Kunang-kunang Hitam: Sebuah Narasi Tentang Perempuan dan Alam

Novel Kunang-kunang Hitam

  • Judul: Kunang-kunang Hitam
  • Penulis: Geg Ary Suharsani
  • Penerbit: Binsar Hiras, 2020
  • ISBN: 978-623-92658-1-4
  • Cetakan pertama, Januari 2020, 14x20cm,166 halaman

Perkembangan industri pariwisata di Bali seringkali menimbulkan dampak berupa konflik horisontal yang melibatkan pihak investor dengan masyarakat lokal, misalnya saja pada perkara alih fungsi lahan milik warga setempat menjadi area destinasi wisata.  Proses transformasi ini kerap kali tidak dapat diselesaikan semata-mata dengan metode transaksional, jual-beli ataupun sewa berjangka. Ada banyak aspek yang menjadi pertimbangan, sekaligus alasan mengapa proses ini kemudian mencapai jalan buntu meski sudah dinegosiasikan berulangkali, dengan berbagai cara, termasuk melibatkan pihak-pihak lain.

Permasalahan semacam ini bukan baru-baru ini saja menjadi topik bahasan bagi orang-orang Bali, bahkan mungkin sejak awal pulau ini membuka diri bagi para pelancong. Gde Aryantha Soetama pernah menulis, “Tanah bagi orang bali kini tak lagi semata tumpah darah, tak lagi Cuma tenpat untuk menandur benih atau mendirikan gubuk, juga masa depan dan harta karun. Namun tanah jua yang kini menjadi dilemma paling ruwet, tak ada persoalan sekusut masalah tanah. Tak ada bencana paling dahsyat dibanding persoalan tanah.”

Dalam industri pariwisata, tanah jadi memiliki nilai ekonomi yang terus menanjak. Dan untuk berbagai alasan, orang-orang Bali mulai bersedia menjual tanahnya kepada para investor. Yang kemudian seiring waktu mengubah lanskap di wilayahnya yang semula agraris, menjadi deretan destinasi wisata yang kemilau. Juga untuk berbagai alasan lainnya, ada orang-orang Bali yang dengan bujukan apapun, tetap enggan menjual tanahnya. Mempertahankan berbagai tanaman tetap tumbuh disana, meski sekedar cukup untuk makan sehari-hari. Atau bahkan semata membiarkan sepucuk pohon tua tetap berdiri kokoh dengan keyakinan pada pesan suci warisan leluhur.

Kemajuan industri pariwisata dengan gelimang uang memang kerap dibayangkan sebagai gemerlap cahaya yang memukau setiap orang, meskipun ada disi gelapnya yang kerap tak terlihat. Itulah yang mungkin dimetaforakan oleh Geg Ary Suharsani menjadi tajuk novel perdananya, Kunang-kunang Hitam. Novel setebal 158 halaman ini memang mengadopsi konflik alih fungsi lahan menjadi destinasi wisata sebagai klimaks dari keseluruhan kisah yang dihadirkan. Melalui penggambaran kegigihan seorang perempuan tua mempertahankan hutan warisan miliknya dari incaran investor, meski telah ditawar dengan nominal tinggi, hingga ancaman terror yang dialami karena penolakannya tersebut.

Novel ini mengambil latar berupa kawasan hutan di sekitar Danau Tamblingan, satu dari tiga deret danau besar yang ada di sisi barat Bali (Tamblingan, Buyan dan Beratan). Dalam pengantarnya, penulis mengungkapkan alasan personalnya mengapa memilih untuk menuliskan cerita dengan latar Tamblingan. Alasan emosional yang kemudian akan terpantul pada penggambaran tokohnya dalam memandang latar tersebut. Sehingga pembaca akan dengan mudah menemukan fakta bahwa ternyata penulis juga menyusup ke dalam cerita dan menyamar menjadi mata dari salah satu (atau bahkan lebih) tokoh yang ada di dalam novelnya ini. Sesuatu yang sangat wajar terjadi.

Tetapi sebagaimana kita tahu, Tamblingan adalah salah satu kawasan konservasi. Posisi ini tentu saja memberikan premis bagi pembaca, terutama untuk meningkatkan tensi konflik yang ingin dibangun dalam cerita. Selain menjadi lanskap ekologis, Danau Tamblingan juga merupakan kawasan yang memiliki nilai historis dan spiritual. Terdapat sejumlah situs sakral serta temuan artefak arkeologis disana. Bagi penulis, aspek ini bisa menjadi nilai tambah bagi ceritanya, sebagaimana digambarkan bahwa kawasan ini menawarkan eksotisme bagi investor untuk membangun sebuah resort yang akan menjadi primadona wisata nantinya. Penulis membangun logika cerita bahwa ada kawasan hutan milik pribadi yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan konservasi yang dikuasai negara. Sebagaimana lazimnya hutan, kawasan ini tidak tersentuh oleh banyak orang, sekaligus menyimpan misteri.

Kisah dalam novel ini diawali dengan sebuah prolog berupa adegan melodramatik menjelang kematian Made Darma yang masih sempat meninggalkan pesan suci bagi istrinya, Ni Luh Candri untuk menjaga dan mempertemukan seorang putra mahkota dengan leluhurnya. Inilah yang akan menjadi benang merah cerita, sekaligus alasan si tokoh utama, Ni Luh Candri dalam mempertahankan hutan warisan miliknya dari awal hingga akhir novel ini. Tokoh Ni Luh Candri digambarkan sebagai seorang perempuan berusia enam puluh tahun yang hidup menyendiri di tengah hutan seluas dua hektar dengan akses jalan yang sulit ditempuh untuk menuju kesana. Sesungguhnya ia memiliki seorang anak laki-laki, tapi sejak kematian suaminya delapan tahun silam, memilih pergi meninggalkan Ni Luh Candri seorang diri.

Secara sosiologis, Ni Luh Candri digambarkan sebagai karakter yang terpisah dari lingkungan sosialnya. Rumahnya jauh dari pedesaan, bahkan nyaris tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat desa sekitar. Hubungan emosionalnya justru lebih dekat dengan hutan dan seisinya. Meski demikian, di dalam novel ini, Ni Luh Candri tidak hadir sendirian. Ada dua tokoh lain yang sepihak dengannya, yaitu Pendarayu dan Damarwengi. Pendarayu merupakan seorang perempuan yang berprofesi sebagai arkeolog dan sedang melakukan penelitian di kawasan Tamblingan, sedangkan Damarwengi adalah anak Ni Luh Candri yang baru saja tiba dari London setelah bermimpi tentang ibunya. Keduanya kemudian terseret dalam konflik lahan yang terjadi antara Ni Luh Candri dan orang-orang suruhan investor.

Pada separuh awal novel ini, pembaca mungkin tidak akan menemukan alasan yang signifikan, mengapa Ni Luh Candri mati-matian berniat menjaga hutan warisan miliknya tersebut, selain pernyataan tegas macam ini,

“meski berkarung-karung uang disodorkan di hadapanku. Keyakinan dan prinsipku tidak akan pernah terbeli. Walaupun tanah tempatku berpijak ini akan ditukar dengan tanah di daerah Kuta sekalipun. Aku tidak akan berubah. Sekali tidak, tetap tidak.”

Penulis barangkali memang sengaja menyimpan jawaban atas pertanyaan ini yang disiapkan sebagai kejutan menjelang penghujung cerita. Tentu ini menjadi metode yang sangat wajar dilakukan oleh penulis demi tujuan menjaga intensi pembaca tetap bertahan hingga halaman terakhir.

Sampai di sini, sebenarnya sangat menarik untuk melihat bagaimana penulis menampilkan perspektif gendernya dalam membangun karakter protagonis di dalam cerita. Secara umum kita akan disuguhi sebuah narasi tentang seorang perempuan penjaga alam yang dioposisikan dengan pihak investor. Topik ini tentu memberikan konteks untuk menjangkarkan kehadiran novel Kunang-kunang Hitam dan penulisnya dalam lingkup sosialnya di Bali. Sehingga pembaca juga bisa mendapatkan suatu perspektif atau sikap keberpihakan penulis terhadap fenomena sosial yang sebenarnya kerap dijumpai.

Hadirnya karakter Ni Luh Candri yang mulanya berjuang mempertahankan tanahnya seorang diri juga menyiratkan sebuah pernyataan gender yang kuat bahwa seorang perempuan bisa saja melawan musuh yang dibayangkan begitu besar, kuat, massif dan terstruktur seperti investor (koorporasi). Kisah ini tentu saja mengingatkan kita pada berbagai gerakan sosial yang dilakukan oleh para perempuan untuk mempertahankan tanah, alam, dan lingkungan hidup mereka. Seperti misalnya gerakan Chipko di India yang ada sejak abad ke 18, sebuah gerakan sosial yang diinisiasi oleh para perempuan untuk melindungi pohon-pohon dari penebangan. Mereka berinisiatif untuk berkelompok dan memeluk pohon sebagai bentuk protes terhadap upaya penebangan pohon yang dilakukan kala ini. Nama Chipko sendiri berarti sebuah pelukan. Dan tentu saja, mengingatkan kita pada gerakan-gerakan serupa di Indonesia, misalnya kisah Mama Aleta Baun yang berjuang melawan korporasi tambang di NTT. Kisah para Kartini Kendeng yang berjuang melawan pembangunan pabrik semen. Ataupun jika ingin melihat cermin yang lebih dekat, tahun lalu di banjar Selasih (Payangan) seorang ibu bernama Putu Astiti berdiri paling depan menghadang  alat berat yang akan menggusur kebun pisang garapannya untuk dibangun resort.

Di dalam novel ini, Ni Luh Candri dideskripsikan menggunakan cara untuk mengelabuhi orang-orang yang berusaha menerornya dengan berpura-pura melakukan ritual sihir pengleakan. Stereotipe yang memang dalam masyarakat seringkali dilekatkan pada sosok perempuan tua, janda, apalagi yang tinggal menyendiri. Pelekatan stereotype ini juga dipengaruhi oleh cara pandang dalam budaya patriarkhi untuk mendiskriminasi posisi perempuan dari lingkungan. Dalam novel ini, stereotype ini juga yang membuat masyarakat dan aparatur desa seperti terpisah dengan kehidupan Ni Luh Candri, juga alasannya tinggal di tengah hutan seorang diri. Tetapi penulis justru tidak mempermasalahkan stereotype ini dengan mempermainkannya secara ironis, dengan penggambaran Ni Luh Candri justru mampu mengelabuhi orang-orang yang menerornya dengan cara berpura-pura memiliki ilmu gaib tersebut. Meski sepanjang novel ini, Ia tidak pernah menunjukkan kesaktiannya itu secara nyata.

Menjelang penghujung cerita, barulah pembaca akan memperoleh jawaban mengapa perempuan tua ini mau melewatkan usianya untuk menjaga hutan warisan tersebut. Ni Luh Candri, Damarwengi, dan Pendarayu akhirnya tiba di tengah hutan dimana sebuah makam tua tersebunyi disamping sebuah mata air. Sosok di balik makam itulah konon pemilik Kawasan hutan itu yang sesungguhnya. Secara simbolik kita dapat memahami bahwa ada alasan historis sekaligus ekologis di baliknya, meskipun tidak secara gamblang dipaparkan oleh penulis.

Dari segi penulisannya, alih-alih ditulis dengan plot linear, novel Kunang-kunang hitam justru memilih kisah dengan plot acak yang terbagi menjadi 22 bab ringkas. Di separuh awal, pembaca akan menemukan lompatan cerita yang tersusun secara teratur. Serta pengembangan karakter tokoh di masing-masing bab yang seolah saling terpisah, tetapi kemudian memiliki pertalian pada paruh kedua novel ini. Teknik penulisan semacam ini tentu sangat membantu pembaca mempertahankan rasa keingintahuannya hingga ke akhir cerita, apalagi didukung dengan narasi yang mengalir lancar. Meski mengankat problematika sosial yang serius, namun teknik penuturannya yang sederhana membuat novel ini berpotensi untuk dibaca berbagai kalangan. Bacaan ringan yang mungkin bisa dituntaskan dalam sekali duduk.

Pada akhirnya, saya ucapkan selamat untuk mbok Geg Ary Suharsani atas terbitnya novel ini!

  • Tulisan ini disampaikan dalam acara Bedah Buku Kunang-Kunang Hitam di Jatijagat Kampung Puisi, Denpasar, Sabtu 19 Desember 2020

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suami Vegan || Cerpen Bulan Nurguna

Next Post

“Nyerod” ke Desa dan “Culture Shock” yang Menyenangkan || Catatan 2 Tahun Pernikahan

Dwi S. Wibowo

Dwi S. Wibowo

Penyair dan penulis seni rupa

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Nyerod” ke Desa dan “Culture Shock” yang Menyenangkan || Catatan 2 Tahun Pernikahan

“Nyerod” ke Desa dan “Culture Shock” yang Menyenangkan || Catatan 2 Tahun Pernikahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan
Tualang

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

by Chusmeru
July 27, 2026
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa
Esai

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi
Ulas Buku

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan
Khas

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

by Angga Wijaya
July 27, 2026
Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego
Esai

Merasa Bebas, Padahal Diperbudak Ego

ADA sebuah kalimat yang telah bertahan melewati pergantian zaman, melintasi peradaban, dan terus dikutip hingga hari ini: “Dan kamu akan...

by T.H. Hari Sucahyo
July 26, 2026
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan
Khas

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Khas

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

“Kapan Nikah?”: Ketika Usia Jadi Alat untuk Menghakimi Perempuan

"Kapan Nikah?" Dua kata yang terdengar ringan di telinga yang menanyakannya, tapi menjadi beban yang dibawa pulang bagi perempuan yang...

by Fitria Hani Aprina
July 25, 2026
Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi
Ulas Pentas

Melarut di Bali Utara: No-Audience Performance, Tubuh, dan Lanskap Menjadi Saksi

  Tubuh berjalan pelandi antara bukit, rumah, dan laut yang tidak selesai. Angin membawa nama-namayang pernah singgah di pelabuhan,lalu hilang...

by I Wayan Sujana Suklu
July 25, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Tidak semua orang membatik untuk menghasilkan kain. Ada yang membatik agar hatinya tetap utuh." Di ruang terbuka lantai atas rumahnya,...

by Tri Nugroho Adi
July 25, 2026
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan
Panggung

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co