2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 23, 2021
in Khas
Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Masjid di Singaraja

Hari itu sedang marak dan panasnya isu soal tindakan presiden Prancis Emmanuel Marcon, tapi sepertinya saya tidak akan ikut ambil bagian soal keributan itu. Sebab saya sangat sadar bahwa itu sudah ada yang menanganinya, jangankan hal yang membuat ribut dunia, hal yang membuat ribut di rumah saja saya yakin orang tua kita tidak akan tinggal diam.

Maka saya memilih untuk menepi dan mencoba berjarak dengan isu itu, meskipun sesekali terlintas tetapi saya tetap memaksakan kehendak untuk menepi. Bukan berarti saya tidak peduli dan itu menjadi tidak penting bagi saya. Itu sangat penting, tapi hal yang lebih penting adalah sudah sampai di mana diri ini? Dan bagaimana lingkungan saat ini yang ditempati? Apakah ada sesuatu yang baik atau buruk yang bisa dijadikan lebih berarti untuk berpijak ke depan?

Beberapa hari lalu, saya menyempatkan diri pulang ke kampung halaman sekalipun mengikuti kegiatan yang memang kebetulan dilaksanakan di Singaraja, kampung halaman saya. Ketika saya pulang memang tujuan saya bukan untuk berlibur dan lari dari kegiatan-kegiatan di Denpasar. Tapi memang ada kegiatan yang sedang dilaksanakan di Singaraja. Jadi kesadaran saya berangkat menuju Singaraja memang untuk kegiatan tersebut. Saya lepaskan segala rasa kerinduan terhadap kampung, bau masakan bibik saya, atau nikmatnya bermalas-malasan di warung sekitar kampung.

Dalam perjalanan menuju Singaraja justru bayangan yang terbesit dalam pikiran adalah bangunan-bangunan tua sepanjang kampung, masjid-masjid yang berdekatan, serta masakan-masakan enak yang sering menjadi jajan langganan ketika pulang. Memang bahwa manusia tidak akan pernah lepas oleh rumahnya sendiri. Akhirnya ketika sampai di kampung hal yang pertama saya ingin lakukan adalah singgah ke rumah dan makan masakan keluarga. Setelah itu pergi ke tempat kegiatan yang dituju. Kebetulan waktu itu ada pentas Monolog dan Musikalisasi Puisi oleh Komunitas Mahima yang dalam rangka Workshop Penulisan Seni Pertunjukan yang dilaksanakan oleh Cush-Cush Gallery.

Setelah usai menonton pementasan rasa lelah pasti jelas ada dalam tubuh sebab dalam perjalanan panjang dari Denpasar, kemudian langsung singgah ke tempat tujuan. Meski menyempatkan diri singgah di rumah untuk sekedar makan, tapi lelah tetaplah lelah. Akhirnya setelah berbincang-bincang sebentar, dan hari sudah larut malam sudah waktunya tubuh untuk istirahat.

Saat itu, 31 Oktober 2020, saya mendengar kabar bahwa Masjid di kampung saya yaitu Masjid Agung Jami’, sedang melaksanakan Bazzar di sekitaran halaman masjid. Khusus untuk ibu-ibu yang memang mempunyai hobi dalam hal berdagang, tapi pikiran malah melompat ke persoalan lain. Saya malah memikirkan ini masjid sebenarnya tempat apa, semua hal rasanya belakangan ini dilakukan. Entah itu kegiatan keagamaan termasuk sholat, pengajian bahkan sampai kegiatan mengajar karate setiap minggu pagi di halaman masjid, makan-makan bersama, lomba 17 Agustus dan sekarang bazzar. Yang tentunya tiap pribadi seseorang mempunyai bayangan sendiri soal bazzar. Tentu banyak kegiatan di dalamnya, dan memang menimbulkan keramaian masyarakat. Tetapi, karena ini dilakukanya di masjid dan di kampung akhirnya memang yang hadir adalah masyarakat sekitar kampung, walaupun mungkin ada beberapa dari luar kampung yang mengetahuinya dari media sosial.

Pikiran saya masih terbayang sebenarnya bagaimana penggunaan masjid ini pada esensinya, dan apakah ada keuntungan yang didapat dari hal-hal yang dilakukan di sekitaran masjid? Terlepas itu dari segi materi, tentu saya rasa ada hal yang lebih dari sekedar materi. Dan mungkin hasil yang keuntungan yang didapatkan dari penjualan bazzar itu untuk diinfaqan ke masjid juga sebagian. Saya akhirnya curiga bahwa jangan-jangan sebenarnya yang diharapkan dari penyelenggara bazzar justru bukan soal keuntungan, tetapi hal lain yang saya katakan tadi. Meskipun saya tidak pernah bertanya langsung kepada penyelenggara tujuanya apa. Tapi saya mencoba menginterpretasikan kegiatan tersebut berdampak kemana dengan pendapat saya pribadi. Karena ini terjadi di kampung saya sendiri, tentu saya harus sadar akan hal yang sedang terjadi.

Bahwa ada hal yang saya kira menuju pada tujuan lain soal bagaimana merubah pola pikir masyarakat soal masjid, dan bagaimana sebagai masyarakat seharusnya mengambil sikap soal masjid sebagai objek dan tempat yang semata-mata tidak dipergunakan pada ranah umumnya. Biasanya masjid memang digunakan untuk hal keagamaan yang saya pikir itu begitu suci, harus lepas dari realitas dunia, harus kosong dari segalanya. Tetapi ketika melihat realitas yang baru saya lihat di masjid saya, akhirnya ada kesadaran untuk berpikir ulang dan mempertanyakan kembali kemungkinan dari sebagaimana luas masjid ini berguna untuk masyarakat dan sejauh mana? Karena saya kira masjid memiliki potensi yang sangat besar dalam menggerakan banyak massa khususnya masyarakat sekitar yang pasti mempunyai rasa memiliki yang lebih, apalagi terhadap masjid di sekitar lingkunganya. Dan kemudian bagaimana caranya untuk membangun kesadaran kepada masyarakat untuk mencintai atau peduli kepada masjid yang ada di kampungnya sendiri.

Kegiatan bazzar di masjid di Singaraja

Saya ingin bercerita sedikit. Dulu, sewaktu kecil masjid adalah hal yang menyenangkan. Karena selain saya masih kecil dan tentu pikiran hanya bermain dan bermain tak jarang akhirnya saya dan teman-teman sering bermain di masjid, entah itu waktu sholat atau setelah sholat. Akun-akun lucu di instagram sering mengatakan sering terjadi adanya perang sarung ketika malam Ramadhan, dulu memang sempat saya rasakan sewaktu kecil. Masjid menjadi tempat yang menyenangkan dan banyak kegiatan lain biasanya di hari-hari besar. Dulu saya ingat ada tradisi Maulid Nabi di kampung saya dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, saya ingat waktu kecil dulu tiap kali ada acara Maulid Nabi kampung saya menjadi ramai, bahkan ramainya hampir seperti hari raya. Ada beberapa acara yang dilakukan, seperti mengarak pajegan telur keliling kota dan dibarengi mengarak peserta khitan atau sunat menggunakan dokar atau delman. Setelah itu ada pentas-pentas tradisi bela diri seperti pencak silat atau musik tradisional lainya. 

Kemudian setelah beberapa waktu dan tahun berganti hal tersebut seakan menjadi biasa saja dan menghilang perlahan. Mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan memilih menumbuhkan diri di pondok pesantren hal itu tidak pernah saya rasakan lagi dan hilangnyapun menjadi hal yang biasa saja. Kampung terlihat sunyi, masjid begitu sunyi tak ada kegiatan apapun kecuali di waktu sholat. Mungkin di tahun-tahun pertama saya rasa itu biasa saja, tapi bagaimana masyarakat lain memandangnya? Saya tidak mengerti pasti apa yang melatarbelakangi segala itu sirna perlahan. Apakah itu representasi dari orang-orang yang mengurusi masjid atau yang dikenal sebagai takmir? Atau mungkin memang masyarakat sendiri yang merasa lelah melakukanya? Atau saya sendiri mungkin yang terlalu berlebihan dalam mengenang masa kecil dan menganggap ini sangat penting? Atau ini memang benar-benar penting diingat?

Balik lagi ke waktu hari ini, ketika masjid di kampung saya semacam membangun hal yang semata-mata bukan untuk kepentingan masjidnya saja, tapi sadar juga akan potensi masyarakatnya. Dan bagaimana masyarakat secara sadar atau tidak sadar dibangun untuk mencintai masjid yang ada di sekitarnya, dengan kegiatan-kegiatan yang mudah dilakukan dan tidak berat untuk pikiran. Karena saya rasa kegiatan-kegiatan seperti ini lebih berpotensi untuk membangun komunikasi antar masyarakat lainya sehingga menimbulkan pola berpikir dan rasa memiliki bersama yang semakin tinggi. Walaupun memang budaya seperti ini akan lama sekali terbangun dan lambat disadarinya oleh seluruh masyarakat lain. Atau malah tidak ada yang menyadari, tetapi masyarakat senang saja melakukan hal-hal seperti ini karena ringan dan ruangan yang tercipta dari kegiatan ini-pun lebih fresh ketimbang pengajian yang lebih formal. Saya bukan menyalahkan bahwa pengajian itu tidak penting, artinya kegiatan-kegiatan ini menjadi semacam penyeimbang untuk membangun masyrakat secara tidak langsung. Ketika pengajian itu menjadi formal dan lebih tertuju mengajarkan untuk kaidah-kaidah agama, dan kegiatan-kegiatan ini pun menjadi nilai lebih karena yang dibangun di dalamnya adalah komunikasi antara masyarakat, yang saya yakini bahwa komunikasi mampu membangun keterikatan antar masyarakat yang lebih kuat. Sehingga rasa gotong royong itu terbangun sendirinya. Akhirnya nanti ketika dalam waktu yang dikehendaki masyarakat sudah terbiasa menghadapi hal-hal kebersamaan. Artinya dalam acara seperti ini yang terbangun adalah semacam pelatihan kegiatan antar masyarakat tentang bagaimana mengelola organisasi masyarakat secara teratur dan tepat. Sehingga kemudian masyarakat sendiri yang memiliki kesadaran untuk ambil bagian dalam suatu pekerjaan.

Pencapaianya-pun tidak hanya kesiapan masyarakatnya saja yang tercapai, tapi aspek-aspek lainya saya rasa akan ikut terbangun alami. Baik dari aspek ekonomi dan sosialnya pasti akan ikut serta. Tidak bisa menciptakan suatu lingkungan masayrakat yang baik jika memang tidak dengan sadar membangunya sendiri. Dan tentu harus melihat serta membaca bagaimana setiap potensi lokal yang ada di lingkungan tersebut harus juga dimanfaatkan. Dengan begitu masyarakat ringan tangan mengerjakanya karena dibidangnya dan akhirnya berdampak hingga ke luar kampungnya. Maka hal-hal yang besar tercipta dari hal-hal sederhana dan ringan, tidak bisa semata-mata begitu saja melomat dan mangajak masyarakat mengambil bagian dalam membangun lingkungan tapi tidak ada proses membaca gejala serta potensi kemungkinan lainnya.  Sebab ada kecendrungan biasanya kenapa masyarakat tidak mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkunganya sendiri, itu saya rasa karena beberapa masyarakat tersebut merasa tidak mengetahui apa yang sekiranya dapat dikerjakan dengan potensi yang dia punya. Karena saya sebagai kaum muda-muda sering merasakan seperti itu. Atau kadang juga ada semacam rasa berjarak antara satu kelompok dengan kelompok lainya. Dan ini pun akhirnya menjadi suatu hal yang patut dipikirkan kembali. Bagaimana cara menjembatani setiap individu atau organisasi-organisasi yang ada dalam lingkungan masyarakat tersebut. Maka saya rasa kegiatan-kegiatan inipun secara tidak langsung dapat menjadi salah satu jembatan.

Saya membayangkan nanti bagaiman semisal bahwa yang dulu terjadi di masa kecil saya, betapa gembiranya berjalan-jalan keliling kota menggunakan baju koko terbagus di lemari. Betapa nikmatnya makan telur rebus bersama teman-teman. Dan hiasan telurnya dibawa pulang lalu digantung di kamar sebagai penanda bahwa hari indah dan menyenangkan itu baru saja dilewati sebagai anak-anak kampung kecil. Saya mengharapkan hal semacam itu terjadi, kebersamaan dan komunikasi antar masyrakat terbangun dan tidak ada semacam berjarak satu sama lain. Masyarkat membaur menjadi satu untuk perayaan bersama. Kemudian saya melihat bagaimana anak-anak kecil yang bahagia seumuran saya dulu, berlari-lari kecil dengan teman sebayanya dan mengabadikan mereka ke dalam foto dan menulisnya kelak. Bercerita soal bagaimana zaman berganti dan peradaban itu selalu berjalan dengan regenerasi yang dengan sadar harus dibangun sejak dini. Tentu ini menjadi tanggung jawab bersama sebagai masyarakat. Sebagai penutup, bolehkah saya mengatakan jika ingin melihat lingkungan masyarakat Islam, maka lihat kehidupan Masjid yang ada di lingkungan tersebut. Salam. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan

Next Post

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co