3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
February 23, 2021
in Khas
Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Masjid di Singaraja

Hari itu sedang marak dan panasnya isu soal tindakan presiden Prancis Emmanuel Marcon, tapi sepertinya saya tidak akan ikut ambil bagian soal keributan itu. Sebab saya sangat sadar bahwa itu sudah ada yang menanganinya, jangankan hal yang membuat ribut dunia, hal yang membuat ribut di rumah saja saya yakin orang tua kita tidak akan tinggal diam.

Maka saya memilih untuk menepi dan mencoba berjarak dengan isu itu, meskipun sesekali terlintas tetapi saya tetap memaksakan kehendak untuk menepi. Bukan berarti saya tidak peduli dan itu menjadi tidak penting bagi saya. Itu sangat penting, tapi hal yang lebih penting adalah sudah sampai di mana diri ini? Dan bagaimana lingkungan saat ini yang ditempati? Apakah ada sesuatu yang baik atau buruk yang bisa dijadikan lebih berarti untuk berpijak ke depan?

Beberapa hari lalu, saya menyempatkan diri pulang ke kampung halaman sekalipun mengikuti kegiatan yang memang kebetulan dilaksanakan di Singaraja, kampung halaman saya. Ketika saya pulang memang tujuan saya bukan untuk berlibur dan lari dari kegiatan-kegiatan di Denpasar. Tapi memang ada kegiatan yang sedang dilaksanakan di Singaraja. Jadi kesadaran saya berangkat menuju Singaraja memang untuk kegiatan tersebut. Saya lepaskan segala rasa kerinduan terhadap kampung, bau masakan bibik saya, atau nikmatnya bermalas-malasan di warung sekitar kampung.

Dalam perjalanan menuju Singaraja justru bayangan yang terbesit dalam pikiran adalah bangunan-bangunan tua sepanjang kampung, masjid-masjid yang berdekatan, serta masakan-masakan enak yang sering menjadi jajan langganan ketika pulang. Memang bahwa manusia tidak akan pernah lepas oleh rumahnya sendiri. Akhirnya ketika sampai di kampung hal yang pertama saya ingin lakukan adalah singgah ke rumah dan makan masakan keluarga. Setelah itu pergi ke tempat kegiatan yang dituju. Kebetulan waktu itu ada pentas Monolog dan Musikalisasi Puisi oleh Komunitas Mahima yang dalam rangka Workshop Penulisan Seni Pertunjukan yang dilaksanakan oleh Cush-Cush Gallery.

Setelah usai menonton pementasan rasa lelah pasti jelas ada dalam tubuh sebab dalam perjalanan panjang dari Denpasar, kemudian langsung singgah ke tempat tujuan. Meski menyempatkan diri singgah di rumah untuk sekedar makan, tapi lelah tetaplah lelah. Akhirnya setelah berbincang-bincang sebentar, dan hari sudah larut malam sudah waktunya tubuh untuk istirahat.

Saat itu, 31 Oktober 2020, saya mendengar kabar bahwa Masjid di kampung saya yaitu Masjid Agung Jami’, sedang melaksanakan Bazzar di sekitaran halaman masjid. Khusus untuk ibu-ibu yang memang mempunyai hobi dalam hal berdagang, tapi pikiran malah melompat ke persoalan lain. Saya malah memikirkan ini masjid sebenarnya tempat apa, semua hal rasanya belakangan ini dilakukan. Entah itu kegiatan keagamaan termasuk sholat, pengajian bahkan sampai kegiatan mengajar karate setiap minggu pagi di halaman masjid, makan-makan bersama, lomba 17 Agustus dan sekarang bazzar. Yang tentunya tiap pribadi seseorang mempunyai bayangan sendiri soal bazzar. Tentu banyak kegiatan di dalamnya, dan memang menimbulkan keramaian masyarakat. Tetapi, karena ini dilakukanya di masjid dan di kampung akhirnya memang yang hadir adalah masyarakat sekitar kampung, walaupun mungkin ada beberapa dari luar kampung yang mengetahuinya dari media sosial.

Pikiran saya masih terbayang sebenarnya bagaimana penggunaan masjid ini pada esensinya, dan apakah ada keuntungan yang didapat dari hal-hal yang dilakukan di sekitaran masjid? Terlepas itu dari segi materi, tentu saya rasa ada hal yang lebih dari sekedar materi. Dan mungkin hasil yang keuntungan yang didapatkan dari penjualan bazzar itu untuk diinfaqan ke masjid juga sebagian. Saya akhirnya curiga bahwa jangan-jangan sebenarnya yang diharapkan dari penyelenggara bazzar justru bukan soal keuntungan, tetapi hal lain yang saya katakan tadi. Meskipun saya tidak pernah bertanya langsung kepada penyelenggara tujuanya apa. Tapi saya mencoba menginterpretasikan kegiatan tersebut berdampak kemana dengan pendapat saya pribadi. Karena ini terjadi di kampung saya sendiri, tentu saya harus sadar akan hal yang sedang terjadi.

Bahwa ada hal yang saya kira menuju pada tujuan lain soal bagaimana merubah pola pikir masyarakat soal masjid, dan bagaimana sebagai masyarakat seharusnya mengambil sikap soal masjid sebagai objek dan tempat yang semata-mata tidak dipergunakan pada ranah umumnya. Biasanya masjid memang digunakan untuk hal keagamaan yang saya pikir itu begitu suci, harus lepas dari realitas dunia, harus kosong dari segalanya. Tetapi ketika melihat realitas yang baru saya lihat di masjid saya, akhirnya ada kesadaran untuk berpikir ulang dan mempertanyakan kembali kemungkinan dari sebagaimana luas masjid ini berguna untuk masyarakat dan sejauh mana? Karena saya kira masjid memiliki potensi yang sangat besar dalam menggerakan banyak massa khususnya masyarakat sekitar yang pasti mempunyai rasa memiliki yang lebih, apalagi terhadap masjid di sekitar lingkunganya. Dan kemudian bagaimana caranya untuk membangun kesadaran kepada masyarakat untuk mencintai atau peduli kepada masjid yang ada di kampungnya sendiri.

Kegiatan bazzar di masjid di Singaraja

Saya ingin bercerita sedikit. Dulu, sewaktu kecil masjid adalah hal yang menyenangkan. Karena selain saya masih kecil dan tentu pikiran hanya bermain dan bermain tak jarang akhirnya saya dan teman-teman sering bermain di masjid, entah itu waktu sholat atau setelah sholat. Akun-akun lucu di instagram sering mengatakan sering terjadi adanya perang sarung ketika malam Ramadhan, dulu memang sempat saya rasakan sewaktu kecil. Masjid menjadi tempat yang menyenangkan dan banyak kegiatan lain biasanya di hari-hari besar. Dulu saya ingat ada tradisi Maulid Nabi di kampung saya dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, saya ingat waktu kecil dulu tiap kali ada acara Maulid Nabi kampung saya menjadi ramai, bahkan ramainya hampir seperti hari raya. Ada beberapa acara yang dilakukan, seperti mengarak pajegan telur keliling kota dan dibarengi mengarak peserta khitan atau sunat menggunakan dokar atau delman. Setelah itu ada pentas-pentas tradisi bela diri seperti pencak silat atau musik tradisional lainya. 

Kemudian setelah beberapa waktu dan tahun berganti hal tersebut seakan menjadi biasa saja dan menghilang perlahan. Mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan memilih menumbuhkan diri di pondok pesantren hal itu tidak pernah saya rasakan lagi dan hilangnyapun menjadi hal yang biasa saja. Kampung terlihat sunyi, masjid begitu sunyi tak ada kegiatan apapun kecuali di waktu sholat. Mungkin di tahun-tahun pertama saya rasa itu biasa saja, tapi bagaimana masyarakat lain memandangnya? Saya tidak mengerti pasti apa yang melatarbelakangi segala itu sirna perlahan. Apakah itu representasi dari orang-orang yang mengurusi masjid atau yang dikenal sebagai takmir? Atau mungkin memang masyarakat sendiri yang merasa lelah melakukanya? Atau saya sendiri mungkin yang terlalu berlebihan dalam mengenang masa kecil dan menganggap ini sangat penting? Atau ini memang benar-benar penting diingat?

Balik lagi ke waktu hari ini, ketika masjid di kampung saya semacam membangun hal yang semata-mata bukan untuk kepentingan masjidnya saja, tapi sadar juga akan potensi masyarakatnya. Dan bagaimana masyarakat secara sadar atau tidak sadar dibangun untuk mencintai masjid yang ada di sekitarnya, dengan kegiatan-kegiatan yang mudah dilakukan dan tidak berat untuk pikiran. Karena saya rasa kegiatan-kegiatan seperti ini lebih berpotensi untuk membangun komunikasi antar masyarakat lainya sehingga menimbulkan pola berpikir dan rasa memiliki bersama yang semakin tinggi. Walaupun memang budaya seperti ini akan lama sekali terbangun dan lambat disadarinya oleh seluruh masyarakat lain. Atau malah tidak ada yang menyadari, tetapi masyarakat senang saja melakukan hal-hal seperti ini karena ringan dan ruangan yang tercipta dari kegiatan ini-pun lebih fresh ketimbang pengajian yang lebih formal. Saya bukan menyalahkan bahwa pengajian itu tidak penting, artinya kegiatan-kegiatan ini menjadi semacam penyeimbang untuk membangun masyrakat secara tidak langsung. Ketika pengajian itu menjadi formal dan lebih tertuju mengajarkan untuk kaidah-kaidah agama, dan kegiatan-kegiatan ini pun menjadi nilai lebih karena yang dibangun di dalamnya adalah komunikasi antara masyarakat, yang saya yakini bahwa komunikasi mampu membangun keterikatan antar masyarakat yang lebih kuat. Sehingga rasa gotong royong itu terbangun sendirinya. Akhirnya nanti ketika dalam waktu yang dikehendaki masyarakat sudah terbiasa menghadapi hal-hal kebersamaan. Artinya dalam acara seperti ini yang terbangun adalah semacam pelatihan kegiatan antar masyarakat tentang bagaimana mengelola organisasi masyarakat secara teratur dan tepat. Sehingga kemudian masyarakat sendiri yang memiliki kesadaran untuk ambil bagian dalam suatu pekerjaan.

Pencapaianya-pun tidak hanya kesiapan masyarakatnya saja yang tercapai, tapi aspek-aspek lainya saya rasa akan ikut terbangun alami. Baik dari aspek ekonomi dan sosialnya pasti akan ikut serta. Tidak bisa menciptakan suatu lingkungan masayrakat yang baik jika memang tidak dengan sadar membangunya sendiri. Dan tentu harus melihat serta membaca bagaimana setiap potensi lokal yang ada di lingkungan tersebut harus juga dimanfaatkan. Dengan begitu masyarakat ringan tangan mengerjakanya karena dibidangnya dan akhirnya berdampak hingga ke luar kampungnya. Maka hal-hal yang besar tercipta dari hal-hal sederhana dan ringan, tidak bisa semata-mata begitu saja melomat dan mangajak masyarakat mengambil bagian dalam membangun lingkungan tapi tidak ada proses membaca gejala serta potensi kemungkinan lainnya.  Sebab ada kecendrungan biasanya kenapa masyarakat tidak mau ikut berpartisipasi dalam kegiatan di lingkunganya sendiri, itu saya rasa karena beberapa masyarakat tersebut merasa tidak mengetahui apa yang sekiranya dapat dikerjakan dengan potensi yang dia punya. Karena saya sebagai kaum muda-muda sering merasakan seperti itu. Atau kadang juga ada semacam rasa berjarak antara satu kelompok dengan kelompok lainya. Dan ini pun akhirnya menjadi suatu hal yang patut dipikirkan kembali. Bagaimana cara menjembatani setiap individu atau organisasi-organisasi yang ada dalam lingkungan masyarakat tersebut. Maka saya rasa kegiatan-kegiatan inipun secara tidak langsung dapat menjadi salah satu jembatan.

Saya membayangkan nanti bagaiman semisal bahwa yang dulu terjadi di masa kecil saya, betapa gembiranya berjalan-jalan keliling kota menggunakan baju koko terbagus di lemari. Betapa nikmatnya makan telur rebus bersama teman-teman. Dan hiasan telurnya dibawa pulang lalu digantung di kamar sebagai penanda bahwa hari indah dan menyenangkan itu baru saja dilewati sebagai anak-anak kampung kecil. Saya mengharapkan hal semacam itu terjadi, kebersamaan dan komunikasi antar masyrakat terbangun dan tidak ada semacam berjarak satu sama lain. Masyarkat membaur menjadi satu untuk perayaan bersama. Kemudian saya melihat bagaimana anak-anak kecil yang bahagia seumuran saya dulu, berlari-lari kecil dengan teman sebayanya dan mengabadikan mereka ke dalam foto dan menulisnya kelak. Bercerita soal bagaimana zaman berganti dan peradaban itu selalu berjalan dengan regenerasi yang dengan sadar harus dibangun sejak dini. Tentu ini menjadi tanggung jawab bersama sebagai masyarakat. Sebagai penutup, bolehkah saya mengatakan jika ingin melihat lingkungan masyarakat Islam, maka lihat kehidupan Masjid yang ada di lingkungan tersebut. Salam. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BEMBENG YANG NGEMBENG || Bagian pertama dari tiga tulisan

Next Post

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Atat Yang Bijaksana #1

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co