3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 14, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Jñana. Sederhananya berarti pengetahuan. Orang yang berhasil memahaminya, konon akan terlepas dari suka dan duka. Memahami Jñana bukanlah persoalan mudah. Sulitnya memahami ajaran ini, disebutkan berkali-kali dalam pustaka-pustaka tentang Jñana. Meski sulit, ajaran ini selalu dikatakan sangat utama. Karena keutamaannya itulah, banyak orang mencarinya di balik lempir-lempir lontar, kertas, kayu, bambu, dan seterusnya. Sayangnya, pustaka-pustaka tentang Jñana seperti teka-teki yang tidak pernah selesai.

Bolehlah kita menaruh harapan besar pada otak yang dianugerahkan kemampuan berpikir untuk menjawab teka-teki bersilang itu. Meskipun begitu, kita tak boleh lupa membekali otak dengan makanan, minuman, peta, kendaraan, dan cara merumuskan jawaban. Tanpa semua itu, otak hanya melahirkan kuda-kuda liar yang sulit dijinakkan. Hasilnya, segala jenis bacaan dikiranya jawaban, semua produk intelektual diduga akhir perjalanan. Intinya, jawaban untuk teka-teki silang Jñana tidak dapat ditemukan hanya dengan membolak-balik daun tulis dan kertas gambar. Lalu bagaimana caranya?

Tunggu dulu. Tidak semua pertanyaan harus dijawab langsung. Tiap pertanyaan selalu mengandung maksud yang bahkan tidak pernah terkira sebelumnya. Yang paling berbahaya adalah pertanyaan yang tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban.

Ya, tidak tiap pertanyaan adalah pertanyaan. Sebuah pertanyaan bisa jadi adalah kamuflase dari pernyataan. Pertanyaan semacam itu hanya kamuflase dari segudang jawaban yang tersimpan tidak dalam pertanyaan, tapi dalam otak orang yang bertanya. Wujud awalnya memang seperti pertanyaan. Kemudian ia berubah menjadi pernyataan, lalu berubah lagi menjadi penyanggahan. Tahap selanjutnya, menjadi hinaan. Jika ada yang demikian, sebaiknya tinggalkan. Karena menurut ajarannya, Jñana tidak ada pada orang yang demikian.

Barangkali orang yang begitu, hanya sedang meniru-niru tokoh sekelas Bungkling atau I Ketut Bagus. Tujuannya tentu saja agar terlihat cerdas. Kecerdasan adalah kekuatan. Untuk melegitimasi kecerdasan, maka pertanyaan yang sulit itu dibuat-buat. Hasilnya orang yang bertanya dan yang menjawab, sama-sama bingung. Begitu pula yang membaca tidak kalah bingungnya. Begitulah jadinya, Jñana bukan hanya mempermainkan orang yang bertanya, tapi juga orang yang larut pada pertanyaan. Baik yang bertanya ataupun yang menjawab, keduanya sama-sama korban dari situasi dan produk pikirannya sendiri.

Sama halnya dengan pemuja yang mencari Tuhannya dengan kebodohan dan kepintaran. Pemuja yang bodoh, mencari dengan kebodohannya yang gelap. Pemuja yang cerdas terus menerus bertanya dan mencari Tuhannya dalam kepintarannya yang benderang. Keduanya berakhir pada sisi yang sama, keduanya sama-sama tidak tahu tentang apa yang sesungguhnya mereka cari. Mirip orang pergi berlibur ke pantai yang sepi sunyi, setelah sampai di sana, ia baru bertanya, “apa yang saya cari di tempat ini?”. Keduanya sama-sama mencari, sama-sama bingung, sama-sama tidak menemukan apa-apa.

Isa Upanisad berkata demikian. Mereka yang memuja karena bodoh, masuk ke dalam kegelapan dan kebodohan. Ia yang memuja karena kecerdasannya, akan lebih masuk ke dalam kegelapan. Jadi, dengan kebodohan atau pun dengan kepintaran, pemuja berakhir di tempat yang gelap. Karena kegelapan yang dicapai berakar dari titik pencarian berbeda, apakah kualitas gelap yang dialami keduanya sama?

Coba tanyakan apa arti gelap kepada Lubdaka. Sebab ia konon menjadi pemuja pada saat gelap. Di malam gelap itulah, Lubdaka yang berpakaian serba gelap konon mendapatkan anugerah. Apalah anugerah jika bukan cahaya. Di dalam deskripsi tentang penyatuan antara pemuja dengan pujaan yang dicapai melalui yoga, berulangkali disebutkan penyatuan itu dicirikan oleh cahaya permata [manik sphatika]. Narasi yang lain menyebutkan kalau keadaan tercapainya penyatuan dianalogikan seperti langit yang terang benderang.

Jñana adalah busur yang bisa digunakan untuk melepaskan anak panah agar tepat sasaran. Itu kata Tattwa Jñana. Bayangkan seorang pemburu membawa anak panah, lalu melepaskannya dengan tangan kosong untuk memburu seekor tikus yang jauh. Lemah dan tidak tepat sasaran. Maka, agar anak panah itu melesat dengan kuat bertenaga dan tepat, diperlukan busur. Busur itulah Jñana, anak panah adalah pragoyasandhi. Agar sasaran tertembus dengan tepat, bukan hanya alat yang penting, tapi kualitas pemburunya. Syaratnya sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Mpu Kanwa, yakni pemusatan batin. Sakatilinganing ambek tan wyarthan dadi kapitut [semua yang dipusatkan dalam batin tidak mungkin lenyap, segala tujuan tercapai]. Jangan lupa, batin pun hanya alat.

Material itulah alat. Ialah Panca Maha Bhuta. Tanah, air, cahaya, udara, langit, itu semua alat. Yang ada di dalamnya juga alat. Aroma, rasa, warna, sentuhan, suara, itu semua alat. Buktinya semua unsur itu selalu disebut-sebut dalam ritual. Bukankah bunga mengandung aroma dan warna? Bukankah segala jenis tarian itu gerak bayu [udara]? Suara-suara seperti suara gambelan, kulkul, mantra, dan seterusnya juga alat.

Alat-alat itu tidak hanya diperlukan dan dipakai saat upacara beramai-ramai. Orang yang mendiamkan tubuhnya dengan mengendalikan nafas di kesunyiannya sendiri pun memerlukan alat material itu. Dalam banyak sekali pustaka, tubuh ini konon juga dibentuk atas unsur-unsur yang sama dengan jagat. Jadi tubuh ini juga alat pemujaan. Dengan mengendalikan nafas, dikontrolnya pikiran. Tapi nafas juga alat. Setelah nafas benar-benar terkendali, konon muncullah suara-suara halus. Dan suara adalah alat. Karena suara itu sulit untuk dilihat dan dibayangkan dalam pemusatan pikiran, maka ia dibuat tertulis dengan aksara. Jadi aksara hanya alat.

Meskipun demikian, semua alat itu memiliki fungsinya masing-masing. Alat-alat itu, kadang saya bayangkan seperti mainan anak-anak. Seorang anak yang ingin bermain dan membahagiakan dirinya, bebas memilih alat apa yang akan dimainkannya. Maka tidak aneh, jika banyak anak-anak bermain, dan membandingkan mainan siapa yang paling bagus. Sebagaimana umumnya permainan, suatu saat akan terasa membosankan. Setelah bosan, apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan kebahagiaan? Mungkin salah satu caranya adalah membuang semua mainan, lalu bermain petak umpet dengan dirinya sendiri. Dipejamkan mata mereka, lalu asik menerka dan menghitung, berapa banyak kunang-kunang yang menari-nari di depan matanya yang tertutup. Terlalu lama asik menghitung, tiba-tiba semua kunang-kunang hilang dan pandangan mata jadi gelap. Mereka menangis sejadi-jadinya. Air matanya terlanjur menetes. Dibukanya kedua mata yang tadi tertutup. Barulah mereka sadar, ternyata semua itu hanya mimpi. [*][T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails
Next Post
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co