3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 14, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Jñana. Sederhananya berarti pengetahuan. Orang yang berhasil memahaminya, konon akan terlepas dari suka dan duka. Memahami Jñana bukanlah persoalan mudah. Sulitnya memahami ajaran ini, disebutkan berkali-kali dalam pustaka-pustaka tentang Jñana. Meski sulit, ajaran ini selalu dikatakan sangat utama. Karena keutamaannya itulah, banyak orang mencarinya di balik lempir-lempir lontar, kertas, kayu, bambu, dan seterusnya. Sayangnya, pustaka-pustaka tentang Jñana seperti teka-teki yang tidak pernah selesai.

Bolehlah kita menaruh harapan besar pada otak yang dianugerahkan kemampuan berpikir untuk menjawab teka-teki bersilang itu. Meskipun begitu, kita tak boleh lupa membekali otak dengan makanan, minuman, peta, kendaraan, dan cara merumuskan jawaban. Tanpa semua itu, otak hanya melahirkan kuda-kuda liar yang sulit dijinakkan. Hasilnya, segala jenis bacaan dikiranya jawaban, semua produk intelektual diduga akhir perjalanan. Intinya, jawaban untuk teka-teki silang Jñana tidak dapat ditemukan hanya dengan membolak-balik daun tulis dan kertas gambar. Lalu bagaimana caranya?

Tunggu dulu. Tidak semua pertanyaan harus dijawab langsung. Tiap pertanyaan selalu mengandung maksud yang bahkan tidak pernah terkira sebelumnya. Yang paling berbahaya adalah pertanyaan yang tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban.

Ya, tidak tiap pertanyaan adalah pertanyaan. Sebuah pertanyaan bisa jadi adalah kamuflase dari pernyataan. Pertanyaan semacam itu hanya kamuflase dari segudang jawaban yang tersimpan tidak dalam pertanyaan, tapi dalam otak orang yang bertanya. Wujud awalnya memang seperti pertanyaan. Kemudian ia berubah menjadi pernyataan, lalu berubah lagi menjadi penyanggahan. Tahap selanjutnya, menjadi hinaan. Jika ada yang demikian, sebaiknya tinggalkan. Karena menurut ajarannya, Jñana tidak ada pada orang yang demikian.

Barangkali orang yang begitu, hanya sedang meniru-niru tokoh sekelas Bungkling atau I Ketut Bagus. Tujuannya tentu saja agar terlihat cerdas. Kecerdasan adalah kekuatan. Untuk melegitimasi kecerdasan, maka pertanyaan yang sulit itu dibuat-buat. Hasilnya orang yang bertanya dan yang menjawab, sama-sama bingung. Begitu pula yang membaca tidak kalah bingungnya. Begitulah jadinya, Jñana bukan hanya mempermainkan orang yang bertanya, tapi juga orang yang larut pada pertanyaan. Baik yang bertanya ataupun yang menjawab, keduanya sama-sama korban dari situasi dan produk pikirannya sendiri.

Sama halnya dengan pemuja yang mencari Tuhannya dengan kebodohan dan kepintaran. Pemuja yang bodoh, mencari dengan kebodohannya yang gelap. Pemuja yang cerdas terus menerus bertanya dan mencari Tuhannya dalam kepintarannya yang benderang. Keduanya berakhir pada sisi yang sama, keduanya sama-sama tidak tahu tentang apa yang sesungguhnya mereka cari. Mirip orang pergi berlibur ke pantai yang sepi sunyi, setelah sampai di sana, ia baru bertanya, “apa yang saya cari di tempat ini?”. Keduanya sama-sama mencari, sama-sama bingung, sama-sama tidak menemukan apa-apa.

Isa Upanisad berkata demikian. Mereka yang memuja karena bodoh, masuk ke dalam kegelapan dan kebodohan. Ia yang memuja karena kecerdasannya, akan lebih masuk ke dalam kegelapan. Jadi, dengan kebodohan atau pun dengan kepintaran, pemuja berakhir di tempat yang gelap. Karena kegelapan yang dicapai berakar dari titik pencarian berbeda, apakah kualitas gelap yang dialami keduanya sama?

Coba tanyakan apa arti gelap kepada Lubdaka. Sebab ia konon menjadi pemuja pada saat gelap. Di malam gelap itulah, Lubdaka yang berpakaian serba gelap konon mendapatkan anugerah. Apalah anugerah jika bukan cahaya. Di dalam deskripsi tentang penyatuan antara pemuja dengan pujaan yang dicapai melalui yoga, berulangkali disebutkan penyatuan itu dicirikan oleh cahaya permata [manik sphatika]. Narasi yang lain menyebutkan kalau keadaan tercapainya penyatuan dianalogikan seperti langit yang terang benderang.

Jñana adalah busur yang bisa digunakan untuk melepaskan anak panah agar tepat sasaran. Itu kata Tattwa Jñana. Bayangkan seorang pemburu membawa anak panah, lalu melepaskannya dengan tangan kosong untuk memburu seekor tikus yang jauh. Lemah dan tidak tepat sasaran. Maka, agar anak panah itu melesat dengan kuat bertenaga dan tepat, diperlukan busur. Busur itulah Jñana, anak panah adalah pragoyasandhi. Agar sasaran tertembus dengan tepat, bukan hanya alat yang penting, tapi kualitas pemburunya. Syaratnya sudah dijelaskan jauh-jauh hari oleh Mpu Kanwa, yakni pemusatan batin. Sakatilinganing ambek tan wyarthan dadi kapitut [semua yang dipusatkan dalam batin tidak mungkin lenyap, segala tujuan tercapai]. Jangan lupa, batin pun hanya alat.

Material itulah alat. Ialah Panca Maha Bhuta. Tanah, air, cahaya, udara, langit, itu semua alat. Yang ada di dalamnya juga alat. Aroma, rasa, warna, sentuhan, suara, itu semua alat. Buktinya semua unsur itu selalu disebut-sebut dalam ritual. Bukankah bunga mengandung aroma dan warna? Bukankah segala jenis tarian itu gerak bayu [udara]? Suara-suara seperti suara gambelan, kulkul, mantra, dan seterusnya juga alat.

Alat-alat itu tidak hanya diperlukan dan dipakai saat upacara beramai-ramai. Orang yang mendiamkan tubuhnya dengan mengendalikan nafas di kesunyiannya sendiri pun memerlukan alat material itu. Dalam banyak sekali pustaka, tubuh ini konon juga dibentuk atas unsur-unsur yang sama dengan jagat. Jadi tubuh ini juga alat pemujaan. Dengan mengendalikan nafas, dikontrolnya pikiran. Tapi nafas juga alat. Setelah nafas benar-benar terkendali, konon muncullah suara-suara halus. Dan suara adalah alat. Karena suara itu sulit untuk dilihat dan dibayangkan dalam pemusatan pikiran, maka ia dibuat tertulis dengan aksara. Jadi aksara hanya alat.

Meskipun demikian, semua alat itu memiliki fungsinya masing-masing. Alat-alat itu, kadang saya bayangkan seperti mainan anak-anak. Seorang anak yang ingin bermain dan membahagiakan dirinya, bebas memilih alat apa yang akan dimainkannya. Maka tidak aneh, jika banyak anak-anak bermain, dan membandingkan mainan siapa yang paling bagus. Sebagaimana umumnya permainan, suatu saat akan terasa membosankan. Setelah bosan, apa yang akan dilakukannya untuk mendapatkan kebahagiaan? Mungkin salah satu caranya adalah membuang semua mainan, lalu bermain petak umpet dengan dirinya sendiri. Dipejamkan mata mereka, lalu asik menerka dan menghitung, berapa banyak kunang-kunang yang menari-nari di depan matanya yang tertutup. Terlalu lama asik menghitung, tiba-tiba semua kunang-kunang hilang dan pandangan mata jadi gelap. Mereka menangis sejadi-jadinya. Air matanya terlanjur menetes. Dibukanya kedua mata yang tadi tertutup. Barulah mereka sadar, ternyata semua itu hanya mimpi. [*][T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masjid dan Gerakan Masyarakat di Sekelilingnya || Catatan dari Kampung di Singaraja

Next Post

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co