7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Kitab dan Laku yang Hilang

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 14, 2020
in Esai
Mewarisi Ketakutan, Merawat “Kebutaan”

Ada hal-hal menarik yang ingin saya lupakan. Memori tak cukup untuk menyimpannya. Namun jika dibuang begitu saja, saya seolah memperlakukan memori seperti sampah. Padahal, tak semua memori itu sampah. Ada memori yang sulit dibuang begitu saja. Itu adalah memori yang terlalu mencintai rumahnya. 

Saya teringat ulasan menarik seorang bule Prancis—soal kuasa “maha penghapus” yang telah hadir di jari-jari tangan kita, dalam bentuk tombol “delete”. Bayangkan, jari kita saat ini mengambil peran destruktif: menghapus file dalam sekejap. Termasuk file-file yang sesungguhnya ingin kita simpan, ingin kita kenang sepanjang hayat. Seolah ada kekuatan “Siwa” di jari kita.

Saya ingin bercerita tentang perbincangan masyarakat saat ini—bukan soal politik. Karena bincang politik di bale banjar dan warung-warung sudah lumrah. Lalu soal apa? Teologis! Wah…..!

Entah mengapa, debat teologis ternyata sudah mewabah di bale banjar, di warung-warung, mungkin juga di mall-mall. Ramainya debat teologi diwarnai dengan perburuan teks, buku-buku yang berhubungan dengan teologi. Jangan heran jika sekarang makin banyak orang yang fasih bicara Tuhan. Termasuk mengutip kitab ini dan itu.

Mereka mencari penjelasan Tuhan di dalam bacaan. Kurang klop jika tak baca kitab suci untuk mendukung pemahamannya tentang Ketuhanan. Dan sering, imajinasinya tentang “yang ilahi” terbatas yang dijelaskan di buku-buku, di kitab-kitab suci.

 Di sini penemuan tentang Ketuhanan sangat berhubungan dengan kitab suci. Jika ada penjelasan yang berbeda dengan yang tertulis: yang salah adalah yang tidak tertulis. Begitu kira-kira. Otoritas pun ada di dalam “yang tertulis”. 

Saya tergelitik dengan asumsi seorang kawan bahwa gerakan “melek huruf” tidaklah menandai suatu pencerahan dalam arti yang sebenarnya. Ini menarik, jika kita ingin melihat dari sisi lain—berpikir tentang yang lain. Sama seperti gerakan “melek kitab suci” apakah membawa pencerahan yang sebenarnya? Bisa iya, bisa juga tidak.

Sebelum orang memahami keilahian di dalam kitab suci, orang berkeyakinan dengan sangat sederhana: mereka percaya ada kekuatan alam yang melebihi dirinya, berdampak pada kehidupan manusia. Kesadarannya berpusat pada alam.

Mitos-mitos tumbuh subur. Kesuburan mitos seiring dengan kesuburan semesta. Meskipun kelak “ketakutan” atas mitos dianggap “menjajah kemanusiaan”. Manusia mesti berkuasa atas dirinya—tak dikuasai sesuatu di luar dirinya. Orang lalu mengkampanyekan: Aku berpikir maka Aku ada!

Saat ini orang memahami keilahian cukup dengan kitab yang dibawanya. Cukup meyakini apa yang tertuang di kitab. Apalagi sejak bekerjanya “kapitalisme cetak”—meminjam istilah Ben. Anderson—pembumian kitab suci semakin marak dilakukan. Setiap orang bisa mengakses “Ketuhanan” dalam kitab suci.

Efeknya, setiap orang memiliki otoritasnya untuk menafsir. Hal ini memang cukup merepotkan otoritas-otoritas tradisional yang terlembaga. Maka tak sedikit agama yang berupaya tetap menjaga otoritas kelembagaannya untuk menafsir teks. Artinya, meskipun masyarakat bisa mengakses kitab suci, namun otoritas tafsir ada di tangan “lembaga agama” yang diakui.

Di lembagaan keagamaan yang dimiliki umat Hindu dulu pernah ada kesatuan tafsir: tujuannya adalah menyamakan persepsi, di tengah perbedaan tafsir. Perbedaan tafsir untuk laku personal mungkin dianggap tak masalah. Namun jika perbedaan tafsir melahirkan sebuah gerakan keagamaan, ini dianggap merepotkan—bahkan mengancam tatanan.

Memang tak dipungkiri, pembumian kitab suci melemahkan otoritas-otoritas keagamaan tradisional. Saat ini, setiap orang punya otoritasnya sendiri untuk menafsir dan bicara apa saja. Konflik ideologi keagamaan bisa jadi berawal dari sini. Gerakan “melek kitab suci” di sisi lain justru bisa membuahkan konflik lantaran perbedaan tafsir. Mungkin disinilah relevannya ajwa wera.

Namun saat ini, di tengah perbincangan teologis yang sudah menyentuh lapisan terbawah masyarakat—apalagi dibarengi dengan gerakan “melek kitab suci”, kita seolah kehilangan “kesederhanaan” dalam memahami keilahian. Mereka sibuk berburunya di dalam teks-teks.

Justru teks menjadi “ladang perburuan”. Saat Lubdaka berburu di hutan, kita berburu Lubdaka di dalam teks. Jika apa yang ada di dalam diri, bertentangan dengan ucapan teks—maka yang disalahkan adalah “suara bathin diri”, karena tak sesuai dengan teks. Pokoknya apapun yang tak sesuai dengan sastra atau kitab suci, berarti itu tidak benar. Ortodoksi mengalahkan ortopraksi. Kita mengamputasi “pengalaman” karena selesai di tataran teks.

Di sini kita kehilangan yang namanya “pengalaman mengalami”. Kecerdasan yang didapat melalui pengalaman dan laku. Dan celakanya, kita sedang menertawai laku karena tak sesuai dengan teks.

Teringat pesan di dalam tembang Jawa: Ngelmu iku kelakone nganti laku. Dan laku itu telah hilang kini. Semua selesai di dalam teks. Padahal teks lebih mudah di “delete” daripada “laku” itu. [T]

BACA JUGA: Esai-esai lain dari I GUSTI AGUNG PARAMITA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Para Pemuja, Kegelapan dan Mimpi

Next Post

Lontar Kalender

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

Lontar Kalender

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co