3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Seorang Penjudi

Satria Aditya by Satria Aditya
September 13, 2020
in Cerpen
Kisah Seorang Penjudi

Karya keramik dalam pameran seni rupa di Undiksha

Matahari tepat berada di atas kepala. Jalan-jalan berdebu, pohon-pohon menari tertiup angin dan semua orang lalu lalang dengan memakai pelepah pisang agar panas itu tidak menyengat kulit mereka. Lain halnya dengan Dodar, ia masih berkeling di sekitar desa. Mencari bandar togel, mukanya selalu mengkerut mengingat mimpinya tadi malam atau kejadian aneh yang ia lihat kemarin. Ia masih berjalan, bertanya pada siapapun yang berpapasan dengannya. Wajahnya masih mengkerut mengingat mimpinya kemarin malam juga hitungan-hitungannya pada buku mimpi. Ia mencari di warung tempatnya biasa berkumpul dengan penjudi lain. Tapi tak ada seorag bandar togelpun di sana. Maklum, bandar togel biasa berkeliling untuk mencari tempat. Karena profesinya sangat berbahaya. Untuk membayar seorang aparat ia harus membayar dengan seluruh modalnya, makanya bandar togel itu seorang yang nomaden. Berpindah-pindah tempat agar ia tidak mudah ditangkap saat adanya penggrebekan secara mendadak.

Dodar masih bingung mencari bandar-bandar togel itu. Dari rumah ia hanya bermodal ingatan, angka-angka yang sudah dihitungnya dan juga segompog uang untuk memasang seluruh angka yang sudah ia pikirkan. Ia masih mencari dari tempat satu ke tempat lainnya. Akhirnya setelah pencarian panjangnya, ia menemukan seorang bandar dan banyak orang yang berkumpul di sana. Ikut berjudi atau hanya melihat orang yang menghitung angka-angka itu. Dodar ikut nimbrung, mencari celah dan waktu yang tepat untuk memasang nomor-nomor itu.

“87-78, 92-29, Katak, Ular, Mobil!” ucap Dodar dengan wajah yang sangat yakin.

Bandar itu lantas langsung mencatat semua angka dan mencari-cari apa yang disebutkan oleh Dodar. Dodar masih melihat orang-orang yang datang lalu pergi dari tempat itu.

“Pasti tembus! Mimpiku tidak pernah salah akhir-akhir ini. Dari tiga hari yang lalu aku bermimpi katak dan cicak itu selalu bercengkrama di luar pagar rumahku. Dan hitungan yang dari seminggu yang lalu juga tak akan pernah salah,” pikir Dodar.

Dodar lantas kembali ke rumahnya. Ia selalu berpikir akan menjadi orang kaya. Segompok uang yang ia bawa tadi sudah habis untuk memasang semua angka-angka itu.

Sepanjang jalan ia selalu melihat-lihat keadaan sekitar. Berharap ada kejadian aneh atau sesuatu yang jatuh dari langit. Itu bisa ia ingat dan percaya bisa membawa keberuntungan untuk judi togelnya esok hari. Sepanjang perjalanannya ke rumah, ia tak melihat apapun, entah itu sebuah kejadian di luar nalar atau hanya kejadian-kejadian biasa yang dilihatnya.

Ia sampai di rumah tepat saat matahari akan tenggelam. Ia lantas beranjak ke tempat tidur untuk mendapatkan sebuah kejadian yang akan diingatnya melalui mimpi, lalu untuk dipasangkan judi togel esok hari.

Tak sampai beberapa sepuluh menit, ia langsung tertidur pulas. Pulas sekali. Dalam mimpinya ia ditemui sekelebat bayangan putih, bayangan itu dilihat Dodar sangat jelas sekali.

“Siapa? Jangan macam-macam, saya bukan orang sakti. Pergilah!” kata Dodar ketakutan.

“Ning, meme tau cening sangat ingin sekali nomor-nomor itu. pergilah besok ke Mrajapati, bertapalah di sana saat tengah malam. Meme akan datang memberikan semua keinginanmu” Kata bayangan putih itu, lalu menghilang.

“Meme? Meme?Meme?” Dodar masih kebingungan.

Dodar langsung terbangun, nafasnya tidak beraturan saat itu, Dodar merasa linglung dan terus berpikir tentang mimpi itu.

“Siapa tadi? Setiap aku bermimpi, aku tidak pernah sekalipun melihat sosok sejelas itu meskipun hanya bayangan saja.”

Dodar masih terus berpikir. Ia masih ragu, apa ia harus ke sana atau tidak. Tapi, di satu sisi Dodar sangat mempercayai mimpi-mimpinya itu.

“Kesempatan! Jarang-jarang ada seseorang yang menawarkan aku nomor togel. Orang-orang bilang, kalau ada seseorang yang menawarkan sebuah nomor lewat mimpi nomor itu akan tembus berkali-kali lipat. Ya! Aku harus ke sana.”

Dodar lantas kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda sembari mengingat mimpi aneh apa lagi yang akan dia dapatkan.

Esok harinya, Dodar melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Istri dan anaknya sudah biasa melihat Dodar keluar rumah seharian hanya untuk mencari bandar togel dan baru pulang setelah matahari akan terbenam. Saat perjalanan pulang, Dodar selalu berpikir tentang mimpi yang selalu menghantui pikirannya itu. Dodar selalu percaya akan mimpinya, apalagi saat ada seseorang yang tiba-tiba saja menawarkannya sebuah nomor. Sampai ia tak sadar sudah sampai di sebuah kuburan yang ada di ujung sungai di desanya itu. Dodar lantas melaksanakan apa yang diperintahkan oleh bayangan putih yang datang pada mimpinya itu.

“Me, tiang sudah di sini. Tiang akan melaksanakan apa yang diperintahkan, Meme,” kata Dodar sambil pelan-pelan memejamkan matanya.

Setengah jam berselang, Dodar tidak melihat apapun. Ia hanya melihat kegelapan dan merasakan angin malam yang begitu dingin. Dodar merasa ia sedang dibohongi, ia selalu menggerutu di dalam hatinya. Tapi, Dodar selalu memejamkan matanya dan tidak melakukan apapun sambil bertapa. Setelah lebih dari dua jam, Dodar mendengar suara air sungai mengalir, suara jangkrik dan pohon beringin di belakangnya mulai bergerak karena angin. Beberapa menit kemudian ia merasakan hewan melata yang sangat besar mulai bergerak ke arahnya, namun Dodar tidak berkutik sama sekali bahkan matanyapun tidak sedikitpun terbuka. Ia mulai merasakan tubuhnya sudah akan dililit oleh hewan itu. Tanah di sekitarnya mulai bergetar hebat sampai retak sedikit demi sedikit dan terbelah, ia melihat seluruh kejadian saat itu walaupuan matanya masih tertutup dengan rapat, Dodar juga tidak berkutik sama sekali saat itu.

Dari dalam tanah yang terbelah itu, muncul beberapa sosok yang menyeramkan dan mulai menari mengelilingi Dodar. Ia masih merasakan getaran hebat itu, sampai ia melihat sebuah pelinggih di depannya mulai sedikit terbelah dan muncul sekelebat bayangan putih. Ya, bayangan yang ia lihat saat mimpi malam itu.

“Meme! Tiang sudah di sini. Tiang sudah menepati janji untuk datang ke sini. Segala seuatu sudah tiang lihat, Me. Sekarang, tiang meminta janji Meme saat di mimpi kemarin.” Dodar masih memejamkan matanya.

“Ning, dengarkan Meme dulu. Meme tidak punya nomor-nomor yang meme janjikan kemarin. Tapi, meme sudah melihat Cening melewati ujian-ujian yang meme berikan. Meme hanya punya ini, sedikit air,” kata Meme sambil menunjukkan air yang ada di tangannya.

“Tapi Meme sudah janji akan memberikan nomor-nomor itu! kalau saja tiang tau meme akan meberikan saya air itu, untuk apa juga saya ke sini” Saut Dodar dengan muka yang marah.

“Dengarkan Meme dulu. Ini adalah tamba untuk mengobati orang-orang yang mebutuhkan pengobatan.”

“Lantas setelah saya mendapatkan ini apa yang saya dapatkan, Me?”

“Kamu bisa mengabdi di desamu, Ning, untuk keluargamu dan semuanya.”

“Baiklah, Me. Jika itu sudah menjadi jalan tiang, tiang akan laksanakan perintah meme”

“Cening, kamu harus bawa air ini dengan kedua telapak tanganmu. Ingat, jangan sampai sekali-kali air di tanganmu ini bergetar. Taruhlah di dalam gentong tanah liat berekuran besar, jika air ini habis meme akan datang untuk mengisinya” Sembari maruh air itu di telapak tangan Dodar.

“Sekarang cening boleh pergi. Ingat pesan-pesan meme, jikalau cening tidak mengikuti apa yang meme katakan air itu akan habis dengan sendirinya.”

Bayangan putih itu tiba-tiba menghilang. Dodar lantas membuka matanya, apa yang ia lihat saat memejamkan matanya itu benar-benar ia lihat setelah membuka mata. Air yang ada di telapak tangannya, tanah yang terbelah dan satu pelinggih yang sedikit terbelah. Lantas ia pulang dengan membawa air itu di telapak tangannya tanpa ada getaran dan satu tetespun air itu tidak jatuh sampai di rumahnya. Dodar lantas menaruh air itu di sebuah gentong, air itu lantas memenuhi gentong itu dengan sendirinya. Dodar masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sampai beberapa harinya orang-orang mulai berdatangan ke rumah Dodar meminta pengobatan untuk segala macam penyakit. Selama bertahun-tahun lamanya, Dodar masih setia mengobati warga-warga desa yang mengalami berbagai macam penyakit non-medis, sampai orang-orang dari desa lain mencarinya untuk mengobati penyakit-penyakit yang mereka derita. Air itupun selalu terisi penuh dan tak pernah habis.

Suatu ketika, Dodar merasa hidupnya begitu-begitu saja. Ia masih suka memasang togel walaupun sudah menjadi balian sakti. Hidupnya sama seperti dulu, hanya saja ia selama bisa mengobati bisa mencukupi ekonomi keluarganya. Lalu, ia memiliki rencana untuk menaikkan tarif pengobatannya yang sebelumnya ia hanya dibayar dengan iklas. Setelah menaikkan tarif pengobatannya, beberapa bulan kemudian orang-orang yang berbobat ke rumahnya kian menyepi, tetapi Dodar masih tetap menerima orang-orang yang berbobat namun dengan tarif yang mahal. Setelah beberapa tahun, air itu kian sedikit sampai akhirnya gentong yang sebelumnya terisi oleh air untuk pengobatan mengering total. Dodar mulai meninggalkan pekerjaannya untuk mengobati orang dan memulai tidur dan mengingat mimpinya lalu mencari badar togel.

Keterangan:

Meme dalam bahasa Indonesia berarti Ibu

Cening dalam bahasa Indonesia berarti Anak

Merajapati adalah pura yang terletak di sebuah kuburan di Bali

Tiang dalam bahasa Indonesia berarti Saya

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggilan Jiwa dari Batu Karang Art

Next Post

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co