3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Seorang Penjudi

Satria Aditya by Satria Aditya
September 13, 2020
in Cerpen
Kisah Seorang Penjudi

Karya keramik dalam pameran seni rupa di Undiksha

Matahari tepat berada di atas kepala. Jalan-jalan berdebu, pohon-pohon menari tertiup angin dan semua orang lalu lalang dengan memakai pelepah pisang agar panas itu tidak menyengat kulit mereka. Lain halnya dengan Dodar, ia masih berkeling di sekitar desa. Mencari bandar togel, mukanya selalu mengkerut mengingat mimpinya tadi malam atau kejadian aneh yang ia lihat kemarin. Ia masih berjalan, bertanya pada siapapun yang berpapasan dengannya. Wajahnya masih mengkerut mengingat mimpinya kemarin malam juga hitungan-hitungannya pada buku mimpi. Ia mencari di warung tempatnya biasa berkumpul dengan penjudi lain. Tapi tak ada seorag bandar togelpun di sana. Maklum, bandar togel biasa berkeliling untuk mencari tempat. Karena profesinya sangat berbahaya. Untuk membayar seorang aparat ia harus membayar dengan seluruh modalnya, makanya bandar togel itu seorang yang nomaden. Berpindah-pindah tempat agar ia tidak mudah ditangkap saat adanya penggrebekan secara mendadak.

Dodar masih bingung mencari bandar-bandar togel itu. Dari rumah ia hanya bermodal ingatan, angka-angka yang sudah dihitungnya dan juga segompog uang untuk memasang seluruh angka yang sudah ia pikirkan. Ia masih mencari dari tempat satu ke tempat lainnya. Akhirnya setelah pencarian panjangnya, ia menemukan seorang bandar dan banyak orang yang berkumpul di sana. Ikut berjudi atau hanya melihat orang yang menghitung angka-angka itu. Dodar ikut nimbrung, mencari celah dan waktu yang tepat untuk memasang nomor-nomor itu.

“87-78, 92-29, Katak, Ular, Mobil!” ucap Dodar dengan wajah yang sangat yakin.

Bandar itu lantas langsung mencatat semua angka dan mencari-cari apa yang disebutkan oleh Dodar. Dodar masih melihat orang-orang yang datang lalu pergi dari tempat itu.

“Pasti tembus! Mimpiku tidak pernah salah akhir-akhir ini. Dari tiga hari yang lalu aku bermimpi katak dan cicak itu selalu bercengkrama di luar pagar rumahku. Dan hitungan yang dari seminggu yang lalu juga tak akan pernah salah,” pikir Dodar.

Dodar lantas kembali ke rumahnya. Ia selalu berpikir akan menjadi orang kaya. Segompok uang yang ia bawa tadi sudah habis untuk memasang semua angka-angka itu.

Sepanjang jalan ia selalu melihat-lihat keadaan sekitar. Berharap ada kejadian aneh atau sesuatu yang jatuh dari langit. Itu bisa ia ingat dan percaya bisa membawa keberuntungan untuk judi togelnya esok hari. Sepanjang perjalanannya ke rumah, ia tak melihat apapun, entah itu sebuah kejadian di luar nalar atau hanya kejadian-kejadian biasa yang dilihatnya.

Ia sampai di rumah tepat saat matahari akan tenggelam. Ia lantas beranjak ke tempat tidur untuk mendapatkan sebuah kejadian yang akan diingatnya melalui mimpi, lalu untuk dipasangkan judi togel esok hari.

Tak sampai beberapa sepuluh menit, ia langsung tertidur pulas. Pulas sekali. Dalam mimpinya ia ditemui sekelebat bayangan putih, bayangan itu dilihat Dodar sangat jelas sekali.

“Siapa? Jangan macam-macam, saya bukan orang sakti. Pergilah!” kata Dodar ketakutan.

“Ning, meme tau cening sangat ingin sekali nomor-nomor itu. pergilah besok ke Mrajapati, bertapalah di sana saat tengah malam. Meme akan datang memberikan semua keinginanmu” Kata bayangan putih itu, lalu menghilang.

“Meme? Meme?Meme?” Dodar masih kebingungan.

Dodar langsung terbangun, nafasnya tidak beraturan saat itu, Dodar merasa linglung dan terus berpikir tentang mimpi itu.

“Siapa tadi? Setiap aku bermimpi, aku tidak pernah sekalipun melihat sosok sejelas itu meskipun hanya bayangan saja.”

Dodar masih terus berpikir. Ia masih ragu, apa ia harus ke sana atau tidak. Tapi, di satu sisi Dodar sangat mempercayai mimpi-mimpinya itu.

“Kesempatan! Jarang-jarang ada seseorang yang menawarkan aku nomor togel. Orang-orang bilang, kalau ada seseorang yang menawarkan sebuah nomor lewat mimpi nomor itu akan tembus berkali-kali lipat. Ya! Aku harus ke sana.”

Dodar lantas kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda sembari mengingat mimpi aneh apa lagi yang akan dia dapatkan.

Esok harinya, Dodar melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Istri dan anaknya sudah biasa melihat Dodar keluar rumah seharian hanya untuk mencari bandar togel dan baru pulang setelah matahari akan terbenam. Saat perjalanan pulang, Dodar selalu berpikir tentang mimpi yang selalu menghantui pikirannya itu. Dodar selalu percaya akan mimpinya, apalagi saat ada seseorang yang tiba-tiba saja menawarkannya sebuah nomor. Sampai ia tak sadar sudah sampai di sebuah kuburan yang ada di ujung sungai di desanya itu. Dodar lantas melaksanakan apa yang diperintahkan oleh bayangan putih yang datang pada mimpinya itu.

“Me, tiang sudah di sini. Tiang akan melaksanakan apa yang diperintahkan, Meme,” kata Dodar sambil pelan-pelan memejamkan matanya.

Setengah jam berselang, Dodar tidak melihat apapun. Ia hanya melihat kegelapan dan merasakan angin malam yang begitu dingin. Dodar merasa ia sedang dibohongi, ia selalu menggerutu di dalam hatinya. Tapi, Dodar selalu memejamkan matanya dan tidak melakukan apapun sambil bertapa. Setelah lebih dari dua jam, Dodar mendengar suara air sungai mengalir, suara jangkrik dan pohon beringin di belakangnya mulai bergerak karena angin. Beberapa menit kemudian ia merasakan hewan melata yang sangat besar mulai bergerak ke arahnya, namun Dodar tidak berkutik sama sekali bahkan matanyapun tidak sedikitpun terbuka. Ia mulai merasakan tubuhnya sudah akan dililit oleh hewan itu. Tanah di sekitarnya mulai bergetar hebat sampai retak sedikit demi sedikit dan terbelah, ia melihat seluruh kejadian saat itu walaupuan matanya masih tertutup dengan rapat, Dodar juga tidak berkutik sama sekali saat itu.

Dari dalam tanah yang terbelah itu, muncul beberapa sosok yang menyeramkan dan mulai menari mengelilingi Dodar. Ia masih merasakan getaran hebat itu, sampai ia melihat sebuah pelinggih di depannya mulai sedikit terbelah dan muncul sekelebat bayangan putih. Ya, bayangan yang ia lihat saat mimpi malam itu.

“Meme! Tiang sudah di sini. Tiang sudah menepati janji untuk datang ke sini. Segala seuatu sudah tiang lihat, Me. Sekarang, tiang meminta janji Meme saat di mimpi kemarin.” Dodar masih memejamkan matanya.

“Ning, dengarkan Meme dulu. Meme tidak punya nomor-nomor yang meme janjikan kemarin. Tapi, meme sudah melihat Cening melewati ujian-ujian yang meme berikan. Meme hanya punya ini, sedikit air,” kata Meme sambil menunjukkan air yang ada di tangannya.

“Tapi Meme sudah janji akan memberikan nomor-nomor itu! kalau saja tiang tau meme akan meberikan saya air itu, untuk apa juga saya ke sini” Saut Dodar dengan muka yang marah.

“Dengarkan Meme dulu. Ini adalah tamba untuk mengobati orang-orang yang mebutuhkan pengobatan.”

“Lantas setelah saya mendapatkan ini apa yang saya dapatkan, Me?”

“Kamu bisa mengabdi di desamu, Ning, untuk keluargamu dan semuanya.”

“Baiklah, Me. Jika itu sudah menjadi jalan tiang, tiang akan laksanakan perintah meme”

“Cening, kamu harus bawa air ini dengan kedua telapak tanganmu. Ingat, jangan sampai sekali-kali air di tanganmu ini bergetar. Taruhlah di dalam gentong tanah liat berekuran besar, jika air ini habis meme akan datang untuk mengisinya” Sembari maruh air itu di telapak tangan Dodar.

“Sekarang cening boleh pergi. Ingat pesan-pesan meme, jikalau cening tidak mengikuti apa yang meme katakan air itu akan habis dengan sendirinya.”

Bayangan putih itu tiba-tiba menghilang. Dodar lantas membuka matanya, apa yang ia lihat saat memejamkan matanya itu benar-benar ia lihat setelah membuka mata. Air yang ada di telapak tangannya, tanah yang terbelah dan satu pelinggih yang sedikit terbelah. Lantas ia pulang dengan membawa air itu di telapak tangannya tanpa ada getaran dan satu tetespun air itu tidak jatuh sampai di rumahnya. Dodar lantas menaruh air itu di sebuah gentong, air itu lantas memenuhi gentong itu dengan sendirinya. Dodar masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sampai beberapa harinya orang-orang mulai berdatangan ke rumah Dodar meminta pengobatan untuk segala macam penyakit. Selama bertahun-tahun lamanya, Dodar masih setia mengobati warga-warga desa yang mengalami berbagai macam penyakit non-medis, sampai orang-orang dari desa lain mencarinya untuk mengobati penyakit-penyakit yang mereka derita. Air itupun selalu terisi penuh dan tak pernah habis.

Suatu ketika, Dodar merasa hidupnya begitu-begitu saja. Ia masih suka memasang togel walaupun sudah menjadi balian sakti. Hidupnya sama seperti dulu, hanya saja ia selama bisa mengobati bisa mencukupi ekonomi keluarganya. Lalu, ia memiliki rencana untuk menaikkan tarif pengobatannya yang sebelumnya ia hanya dibayar dengan iklas. Setelah menaikkan tarif pengobatannya, beberapa bulan kemudian orang-orang yang berbobat ke rumahnya kian menyepi, tetapi Dodar masih tetap menerima orang-orang yang berbobat namun dengan tarif yang mahal. Setelah beberapa tahun, air itu kian sedikit sampai akhirnya gentong yang sebelumnya terisi oleh air untuk pengobatan mengering total. Dodar mulai meninggalkan pekerjaannya untuk mengobati orang dan memulai tidur dan mengingat mimpinya lalu mencari badar togel.

Keterangan:

Meme dalam bahasa Indonesia berarti Ibu

Cening dalam bahasa Indonesia berarti Anak

Merajapati adalah pura yang terletak di sebuah kuburan di Bali

Tiang dalam bahasa Indonesia berarti Saya

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggilan Jiwa dari Batu Karang Art

Next Post

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co