14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Seorang Penjudi

Satria Aditya by Satria Aditya
September 13, 2020
in Cerpen
Kisah Seorang Penjudi

Karya keramik dalam pameran seni rupa di Undiksha

Matahari tepat berada di atas kepala. Jalan-jalan berdebu, pohon-pohon menari tertiup angin dan semua orang lalu lalang dengan memakai pelepah pisang agar panas itu tidak menyengat kulit mereka. Lain halnya dengan Dodar, ia masih berkeling di sekitar desa. Mencari bandar togel, mukanya selalu mengkerut mengingat mimpinya tadi malam atau kejadian aneh yang ia lihat kemarin. Ia masih berjalan, bertanya pada siapapun yang berpapasan dengannya. Wajahnya masih mengkerut mengingat mimpinya kemarin malam juga hitungan-hitungannya pada buku mimpi. Ia mencari di warung tempatnya biasa berkumpul dengan penjudi lain. Tapi tak ada seorag bandar togelpun di sana. Maklum, bandar togel biasa berkeliling untuk mencari tempat. Karena profesinya sangat berbahaya. Untuk membayar seorang aparat ia harus membayar dengan seluruh modalnya, makanya bandar togel itu seorang yang nomaden. Berpindah-pindah tempat agar ia tidak mudah ditangkap saat adanya penggrebekan secara mendadak.

Dodar masih bingung mencari bandar-bandar togel itu. Dari rumah ia hanya bermodal ingatan, angka-angka yang sudah dihitungnya dan juga segompog uang untuk memasang seluruh angka yang sudah ia pikirkan. Ia masih mencari dari tempat satu ke tempat lainnya. Akhirnya setelah pencarian panjangnya, ia menemukan seorang bandar dan banyak orang yang berkumpul di sana. Ikut berjudi atau hanya melihat orang yang menghitung angka-angka itu. Dodar ikut nimbrung, mencari celah dan waktu yang tepat untuk memasang nomor-nomor itu.

“87-78, 92-29, Katak, Ular, Mobil!” ucap Dodar dengan wajah yang sangat yakin.

Bandar itu lantas langsung mencatat semua angka dan mencari-cari apa yang disebutkan oleh Dodar. Dodar masih melihat orang-orang yang datang lalu pergi dari tempat itu.

“Pasti tembus! Mimpiku tidak pernah salah akhir-akhir ini. Dari tiga hari yang lalu aku bermimpi katak dan cicak itu selalu bercengkrama di luar pagar rumahku. Dan hitungan yang dari seminggu yang lalu juga tak akan pernah salah,” pikir Dodar.

Dodar lantas kembali ke rumahnya. Ia selalu berpikir akan menjadi orang kaya. Segompok uang yang ia bawa tadi sudah habis untuk memasang semua angka-angka itu.

Sepanjang jalan ia selalu melihat-lihat keadaan sekitar. Berharap ada kejadian aneh atau sesuatu yang jatuh dari langit. Itu bisa ia ingat dan percaya bisa membawa keberuntungan untuk judi togelnya esok hari. Sepanjang perjalanannya ke rumah, ia tak melihat apapun, entah itu sebuah kejadian di luar nalar atau hanya kejadian-kejadian biasa yang dilihatnya.

Ia sampai di rumah tepat saat matahari akan tenggelam. Ia lantas beranjak ke tempat tidur untuk mendapatkan sebuah kejadian yang akan diingatnya melalui mimpi, lalu untuk dipasangkan judi togel esok hari.

Tak sampai beberapa sepuluh menit, ia langsung tertidur pulas. Pulas sekali. Dalam mimpinya ia ditemui sekelebat bayangan putih, bayangan itu dilihat Dodar sangat jelas sekali.

“Siapa? Jangan macam-macam, saya bukan orang sakti. Pergilah!” kata Dodar ketakutan.

“Ning, meme tau cening sangat ingin sekali nomor-nomor itu. pergilah besok ke Mrajapati, bertapalah di sana saat tengah malam. Meme akan datang memberikan semua keinginanmu” Kata bayangan putih itu, lalu menghilang.

“Meme? Meme?Meme?” Dodar masih kebingungan.

Dodar langsung terbangun, nafasnya tidak beraturan saat itu, Dodar merasa linglung dan terus berpikir tentang mimpi itu.

“Siapa tadi? Setiap aku bermimpi, aku tidak pernah sekalipun melihat sosok sejelas itu meskipun hanya bayangan saja.”

Dodar masih terus berpikir. Ia masih ragu, apa ia harus ke sana atau tidak. Tapi, di satu sisi Dodar sangat mempercayai mimpi-mimpinya itu.

“Kesempatan! Jarang-jarang ada seseorang yang menawarkan aku nomor togel. Orang-orang bilang, kalau ada seseorang yang menawarkan sebuah nomor lewat mimpi nomor itu akan tembus berkali-kali lipat. Ya! Aku harus ke sana.”

Dodar lantas kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda sembari mengingat mimpi aneh apa lagi yang akan dia dapatkan.

Esok harinya, Dodar melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Istri dan anaknya sudah biasa melihat Dodar keluar rumah seharian hanya untuk mencari bandar togel dan baru pulang setelah matahari akan terbenam. Saat perjalanan pulang, Dodar selalu berpikir tentang mimpi yang selalu menghantui pikirannya itu. Dodar selalu percaya akan mimpinya, apalagi saat ada seseorang yang tiba-tiba saja menawarkannya sebuah nomor. Sampai ia tak sadar sudah sampai di sebuah kuburan yang ada di ujung sungai di desanya itu. Dodar lantas melaksanakan apa yang diperintahkan oleh bayangan putih yang datang pada mimpinya itu.

“Me, tiang sudah di sini. Tiang akan melaksanakan apa yang diperintahkan, Meme,” kata Dodar sambil pelan-pelan memejamkan matanya.

Setengah jam berselang, Dodar tidak melihat apapun. Ia hanya melihat kegelapan dan merasakan angin malam yang begitu dingin. Dodar merasa ia sedang dibohongi, ia selalu menggerutu di dalam hatinya. Tapi, Dodar selalu memejamkan matanya dan tidak melakukan apapun sambil bertapa. Setelah lebih dari dua jam, Dodar mendengar suara air sungai mengalir, suara jangkrik dan pohon beringin di belakangnya mulai bergerak karena angin. Beberapa menit kemudian ia merasakan hewan melata yang sangat besar mulai bergerak ke arahnya, namun Dodar tidak berkutik sama sekali bahkan matanyapun tidak sedikitpun terbuka. Ia mulai merasakan tubuhnya sudah akan dililit oleh hewan itu. Tanah di sekitarnya mulai bergetar hebat sampai retak sedikit demi sedikit dan terbelah, ia melihat seluruh kejadian saat itu walaupuan matanya masih tertutup dengan rapat, Dodar juga tidak berkutik sama sekali saat itu.

Dari dalam tanah yang terbelah itu, muncul beberapa sosok yang menyeramkan dan mulai menari mengelilingi Dodar. Ia masih merasakan getaran hebat itu, sampai ia melihat sebuah pelinggih di depannya mulai sedikit terbelah dan muncul sekelebat bayangan putih. Ya, bayangan yang ia lihat saat mimpi malam itu.

“Meme! Tiang sudah di sini. Tiang sudah menepati janji untuk datang ke sini. Segala seuatu sudah tiang lihat, Me. Sekarang, tiang meminta janji Meme saat di mimpi kemarin.” Dodar masih memejamkan matanya.

“Ning, dengarkan Meme dulu. Meme tidak punya nomor-nomor yang meme janjikan kemarin. Tapi, meme sudah melihat Cening melewati ujian-ujian yang meme berikan. Meme hanya punya ini, sedikit air,” kata Meme sambil menunjukkan air yang ada di tangannya.

“Tapi Meme sudah janji akan memberikan nomor-nomor itu! kalau saja tiang tau meme akan meberikan saya air itu, untuk apa juga saya ke sini” Saut Dodar dengan muka yang marah.

“Dengarkan Meme dulu. Ini adalah tamba untuk mengobati orang-orang yang mebutuhkan pengobatan.”

“Lantas setelah saya mendapatkan ini apa yang saya dapatkan, Me?”

“Kamu bisa mengabdi di desamu, Ning, untuk keluargamu dan semuanya.”

“Baiklah, Me. Jika itu sudah menjadi jalan tiang, tiang akan laksanakan perintah meme”

“Cening, kamu harus bawa air ini dengan kedua telapak tanganmu. Ingat, jangan sampai sekali-kali air di tanganmu ini bergetar. Taruhlah di dalam gentong tanah liat berekuran besar, jika air ini habis meme akan datang untuk mengisinya” Sembari maruh air itu di telapak tangan Dodar.

“Sekarang cening boleh pergi. Ingat pesan-pesan meme, jikalau cening tidak mengikuti apa yang meme katakan air itu akan habis dengan sendirinya.”

Bayangan putih itu tiba-tiba menghilang. Dodar lantas membuka matanya, apa yang ia lihat saat memejamkan matanya itu benar-benar ia lihat setelah membuka mata. Air yang ada di telapak tangannya, tanah yang terbelah dan satu pelinggih yang sedikit terbelah. Lantas ia pulang dengan membawa air itu di telapak tangannya tanpa ada getaran dan satu tetespun air itu tidak jatuh sampai di rumahnya. Dodar lantas menaruh air itu di sebuah gentong, air itu lantas memenuhi gentong itu dengan sendirinya. Dodar masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sampai beberapa harinya orang-orang mulai berdatangan ke rumah Dodar meminta pengobatan untuk segala macam penyakit. Selama bertahun-tahun lamanya, Dodar masih setia mengobati warga-warga desa yang mengalami berbagai macam penyakit non-medis, sampai orang-orang dari desa lain mencarinya untuk mengobati penyakit-penyakit yang mereka derita. Air itupun selalu terisi penuh dan tak pernah habis.

Suatu ketika, Dodar merasa hidupnya begitu-begitu saja. Ia masih suka memasang togel walaupun sudah menjadi balian sakti. Hidupnya sama seperti dulu, hanya saja ia selama bisa mengobati bisa mencukupi ekonomi keluarganya. Lalu, ia memiliki rencana untuk menaikkan tarif pengobatannya yang sebelumnya ia hanya dibayar dengan iklas. Setelah menaikkan tarif pengobatannya, beberapa bulan kemudian orang-orang yang berbobat ke rumahnya kian menyepi, tetapi Dodar masih tetap menerima orang-orang yang berbobat namun dengan tarif yang mahal. Setelah beberapa tahun, air itu kian sedikit sampai akhirnya gentong yang sebelumnya terisi oleh air untuk pengobatan mengering total. Dodar mulai meninggalkan pekerjaannya untuk mengobati orang dan memulai tidur dan mengingat mimpinya lalu mencari badar togel.

Keterangan:

Meme dalam bahasa Indonesia berarti Ibu

Cening dalam bahasa Indonesia berarti Anak

Merajapati adalah pura yang terletak di sebuah kuburan di Bali

Tiang dalam bahasa Indonesia berarti Saya

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Panggilan Jiwa dari Batu Karang Art

Next Post

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

[Puisi-puisi Esa Bhaskara]: Dua Butir Soal Ujian Puisi yang Abadi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co