23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
August 11, 2020
in Opini
Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Pura Paluang (Pura Mobil). Sumber foto: nusapenidapanoramic.com

Umat Hindu Bali sempat digemparkan oleh keberadaan Pura Paluang. Pasalnya, pura mistis yang berlokasi di Dusun (Banjar) Karang Dawa, Desa Bunga Mekar, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung-Bali ini dianggap memiliki arsitektur yang tidak lazim. Dari 13 pelinggih yang ada, dua pelinggihnya berbentuk mobil. Persisnya berbentuk mobil jeep (Suzuki jimmy) yang dipercaya sebagai pelinggih  Ida Bhatara Ratu Gede Ngurah (Siwa) dan Hyang Mami (Durga). Sementara, yang satunya lagi berbentuk mobil VW kodok (VW Beatle), pelinggih dari para pengikutnya. Kemudian, banyak umat Hindu penasaran. Referensi tatwa mana yang (kira-kira) dijadikan dasar pendirian pelinggih mobil tersebut?

Selama ini, umat Hindu Bali sudah memilikilandasan panduan rancang bangun arsitektur (pemujaan/ pelinggih) tradisional Bali yang dimuat dalam lontar Asta Kosala Kosali. Lontar ini memuat falsafah perwujudan arsitektur pura yaitu Tri Hita Karana, Panca Maha Buta dan Nawa Sanga.

Selain Asta Kosala Kosali, juga termuat dalam lontar Dewa Tattwa, Kusumadewa, Ithi Prakerti, Padmabhuwana, Anda Bhuwana, dan lain-lain. Landasan-landasan bangunan tradisional ini juga sangat terkait dengan ajaran etika dan moralitas kehinduan (Ida Pandita Dukuh Samiaga dalam Suyoga, 2019).

Jika mengacu pada sastra (lontar) yang ada, maka Pandita Dukuh Samiaga mengungkapkan bahwa pendirian pelinggih mobil dapat dikatakan tidak menggunakan landasan panduan rancang bangun Arsitektur Tradisional Bali, yang lazim digunakan oleh masyarakat Hindu Bali (Suyoga, 2019). Terus, pendirian pelinggih mobil itu menggunakan acuan (tatwa) yang mana?

Hingga kini, masyarakat setempat memang belum menemukan dasar tatwa (sejarah tertulis atau lontar) atas pendirian pelinggih mobil tersebut. Hal ini diakui oleh masyarakat di Karang Dawa. Beberapa referensi yang saya baca, hampir semuanya menyebutkan bahwa Pura Paluang atau Pura Mobil dibangun dari “fondasi mitos” yang kuat. Baik penglingsir, jero mangku, tokoh adat dan masyarakat setempat mengungkapkan hal sama.

Diceritakan dulu, warga Karang Dawa berniat membuka lahan perkebunan baru di area Pura Paluang. Dalam proses pengerjaannya, ditemukan sebongkah batu karang besar yang perlu dipindahkan ke tempat lain. Batu itu dipindahkan oleh warga. Namun, keesokan harinya batu itu kembali ke tempat semula. Kejadiannya tidak hanya sekali. Setiap dipindahkan, besoknya batu itu kembali lagi ke tempat semula. Aneh dan tidak wajar. Karena itu, warga memohon petunjuk kepada orang pintar. Dari hasil penerawangan orang pintar inilah, lahir petunjuk niskala untuk mendirikan bangunan suci di kawasan tersebut.

Menurut Jro Mangku Suar, awalnya dibuatkan pelinggih sederhana berupa tumpukan batu. Dalam perjalanannya, ada petunjuk sekala nyata dan niskala gaib bahwa Ida Bhatara yang berstana di Pura Paluang memiliki kendaraan “kereta” beroda empat tanpa kuda (menyerupai mobil). Sebelum ada pelinggih mobil, setiap piodalan di pura ini sering ada umat yang kerasukan dan meminta agar dibuatkan bangunan suci berbentuk kereta tanpa kuda/ mobil. Akhirnya, dibangunlah kedua pelinggih tersebut. Jadi, awalnya hanya ada dua pelinggih berbentuk mobil. Setelah banyak orang bersembahyang, dibangunlah pelinggih-pelinggih lainnya dan berkembang menjadi seperti saat ini (dalam Suyoga, SENADA Vol, 2, 2019).

Meski keluar dari pakem bangunan tradisional Bali, namun tidak menyurutkan hasrat berspiritual warga setempat. Berpuluh-puluh tahun (mungkin sudah hitungan abad), warga Karang Dawa menjadikan pelinggih berbentuk mobil sebagai tempat pemujaan. Cerita-cerita (mitos) yang diceritakan secara turun-temurun justru semakin menguatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kebesaran dan kekuasaan Hyang Mami.

Bahkan, semakin ke depan, eksistensi “aura mistis” dari Pura Paluang semakin kuat menundukkan keyakinan masyarakat setempat. Pasalnya, eksistensi kuasa Hyang Mami kian nyata dirasakan oleh masyarakat Karang Dawa. Kesimpulan ini didapat dari kolerasi peristiwa-peristiwa nyata (dunia nyata) yang dialami oleh warga setempat. Misalnya, soal suara mobil misterius tengah malam.

Menurut cerita, saat malam hari warga setempat sering mendengar suara deru mobil, klakson dan melihat sinar yang terang  melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah barat laut. Namun, deru suara mesin itu terdengar sepintas, lalu menghilang di kegelapan malam. Beberapa warga tertentu bahkan pernah melihat secara langsung mobil gaib itu seperti bentuk mobil Jimmy Katana buatan Jepang.

Namun bedanya, bagian depan mobil gaib ini dililit oleh dua ekor naga, sama seperti pelinggih mobil di Pura Paluang. Mobil gaib ini konon sering keliling desa, kadang-kadang melaju di jalan, di udara, dan bahkan di atas laut (RADITYA No.253, Agustus 2018). Masyarakat setempat meyakini bahwa mobil gaib itu merupakan kendaraan Hyang Mami. Karena masyarakat setempat percaya bahwa pada malam tertentu Hyang Mami berkeliling memantau umatnya dengan mengendarai mobil.

Cerita mistis lainnya pernah dituturkan oleh Jro Mangku Suar. Dulu, waktu kecil, ayahnya pernah dirampok oleh 2 perampok bersenjata golok. Sang ayah sudah tak berdaya dan berpikir akan meninggal. Namun, tiba-tiba ayahnya mengingat Pura Mobil dan berdoa memohon keselamatan. Ketika golok hendak menebas leher sang ayah, tiba-tiba golok itu terpental karena ayahnya mendadak kebal. Malah, perampok itu dapat dilumpuhkan oleh sang ayah (https://bali.tribunnews.com/2015/09/04/).

Terkait dengan kekuatan Hyang Mami, Putu Gita menuturkan bahwa pernah ada warga lain terjebak air dalam goa karang saat mengambil sarang burung walet. Kemudian, dia teringat dengan Ida yang melinggih di Pura Mobil. Seketika itu pula, datang mobil menjatuhkan batu ke dalam air sehingga mendorong keluar goa. Akhirnya, goa tertutup dan orang itu selamat (https://bali.tribunnews.com/2015/09/04/). Dan masih banyak cerita-cerita mistis lainnya.

Riak Teologi Lokal

Tumpukan cerita-cerita mistis, yang berkaitan dengan eksistensi kekuatan Beliau (Ida Bhatara Ratu Gede Ngurah-Hyang Mami), kian menebalkan (menguatkan) kepercayaan dan keyakinan masyarakat setempat. Cerita mistis itu dipelihara secara turun-temurun. Diceritakan dari  generasi ke generasi, tanpa riak pengingkaran. Semua warga setempat percaya bahwa mitos itu nyata dan hidup dalam setiap tarikan napas mereka.

Karena itu, pelinggih mobil diterima sebagai sebuah kebenaran. Kebenaran untuk menyalurkan hasrat religi baik personal maupun kolektif. Keyakinan terhadap kebenaran inilah yang membawa mereka merasakan kenyamanan berketuhanan—meskipun keluar dari pakem rancang bangun arsitektur tradisional Bali.

Dalam konteks ini, saya melihat ada semacam riak teologi lokal. Riak yang saya maksud adalah sejenis gejolak batin. Masyarakat Karang Dawa (kelompok masyarakat tertentu) hendak mengkaji ulang bahwa keseragaman berteologi (berketuhanan) bukan harga mati—walaupun sudah dianggap mapan.

Dengan kata lain, masyarakat Karang Dawa menginginkan celah kemerdekaan berteologi melalui simbol pelinggih mobil. Lewat simbol inilah mereka ingin menunjukkan bahwa sekelompok orang memiliki otoritas (caranya sendiri) dalam berketuhanan. Ya, mungkin mereka berpikir bahwa berketuhanan merupakan ranah (rasa) keyakinan/ kepercayaan. Ranah yang sebetulnya sangat subjektif. Jika terjadi perbedaan respon (pikiran, sikap, dan tindakan) antara satu atau kelompok orang dengan yang lainnya, mesti dihargai.

Namun demikian, bukan berarti otoritas dan subjektivitas ini lantas menjadi bias. Seolah-olah setiap personal dan kelompok orang “semau gue” merumuskan arsitektur pelinggih. Tentu harus ada fondasi yang kuat atas keputusan yang diambil. Setidaknya, keputusan itu memiliki latar belakang yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara skala maupun niskala.

Dari uraian skala dan niskala sebelumnya, mungkin pendirian pelinggih mobil ini dapat diterima sebagai riak/ gejolak (baca: spirit kebebasan) berteologi lokal ala masyarakat Karang Dawa. Gejolak yang tentu saja berdasar, tidak ngawur. Mereka memiliki kronologi mitos (pengalaman mistis) yang panjang, mulai dari masa lalu hingga sekarang. Mitos-mitos itu hadir melalui pengalaman mistis (niskala) dan nyata (skala) yang dialami oleh warga lokal dan bahkan termasuk warga luar dusun.

Lalu, apakah modal mitos bisa dijadikan dasar berteologi (baca: merumuskan bentuk pemujaan)? Wah, saya belum pernah membaca tentang hal ini. Setahu saya, tidak sedikit (mungkin) pendirian pura di Bali dibangun dari latar cerita mistis (mitos). Saya tidak tahu, apakah cerita mistis merupakan salah satu syarat dalam pendirian tempat pemujaan. Rasanya tidak. Karena mitos tidak terukur. Sering irasional sehingga tidak kuat dijadikan prasyarat rasional.

Namun, kenyataan yang saya lihat justru mitos menguatkan rasa “keangkeran atau kesakralan” sebuah pura. Mitos menjadikan pura menjadi lebih berkharisma, mistis, sakral, metaksu dan lain sebagainya. Terserah. Mungkin Anda mengatakan ini perspektif lama. Cara pandang orang-orang zaman dulu, tetapi setidaknya ini yang dialami oleh banyak umat hingga sekarang. Sangat kontekstual dengan eksistensi Pura Paluang saat ini.

Mitos dan efek kuasa keangkeran ini menyebabkan Pura Paluang (yang secara arsitektur “nyeleneh”) disegani kesakralannya oleh kelompok keluarga tertentu (awalnya) hingga masyarakat luas. Menurut Jro Mangku Suar, awalnya pura ini adalah pura keluarga. Dalam perkembangannya, banyak orang berkunjung (masyarakat lokal Nusa, Bali daratan, dan orang luar Bali), dengan berbagai tujuan persembahyangan, seperti proses memohon kesembuhan, memohon “taksu balian”, keberhasilan usaha dagang, kesuksesan meraih jabatan politik, memohon keturunan, dan lainnya yang telah banyak berhasil.

Potensi pura ini semakin terlihat dan semakin naik daun dalam kancah pura yang patut diperhitungkan di Nusa Penida. Desa berinisiatif melakukan penataan dengan perluasan halaman pura dan penambahan sejumlah pelinggih. Selanjutnya, dikelola oleh pengurus pura tersendiri di bawah Dusun /Lingkungan Karang Dawa, Desa Bunga Mekar. Statusnya menjadi Pura Kahyangan Desa dan diempon oleh sekitar 80 Kepala Keluarga (dalam Suyoga, SENADA Vol, 2, 2019).

Lebih lanjut Jro Mangku Suar menuturkan bahwa Pura Paluang dianggap sebagai Pura Dalem, tetapi bukan Pura Dalem Kahyangan Desa, melainkan Pura Dalem Jagat, sama seperti Pura Dalem Ped di Desa Ped, Nusa Penida (RADITYA No.253, Agustus 2018).

Dalam perkembangannya, kini Pura Paluang justru kian melejit dan populer di kalangan umat Hindu secara luas. Hal ini tidak terlepas dari bentuk arsitekturnya yang dianggap unik (plus mitos-mitos kuat yang melatarbelakanginya). Suyoga melihat fenomena ini sebagai kontestasi pergulatan identitas. Ia melihat bahwa ada relasi wacana-kuasa-pengetahuan yang melatarbelakangi altar berbentuk mobil tersebut. Hasil ini diperoleh setelah melakukan penelitan dengan menggunakan pendekatan kritis Kajian Budaya (pendekatan pascastrukturalisme), metodologi genealogi kekuasaan Foucault dan teori relasi wacana-kuasa-pengetahuan dari Foucault.

Menurut Suyoga, ada kuasa pengetahuan yang kuat dalam mitos. Kuasa ini dikembangkan oleh para intelektual organik, yakni tokoh religius (pemangku) bersama tokoh adat dan dinas dusun Karang Dawa. Kemudian, pengetahuan di balik mitos itu ditangkap dan dikembangkan sebagai kuasa melalui media bangunan suci berbentuk mobil. Selanjutnya, relasi kuasa bekerja mendisiplinkan tubuh masyarakat Dusun Karang Dawa untuk patuh dan taat dalam praktik pemujaan di Pura Paluang. Kuasa disiplin bahkan sudah meluas mendisiplinkan tubuh masyarakat di luar wilayah Dusun Karang Dawa. Pendisiplinan tubuh ini tidak saja sebagai bentuk pemenuhan hasrat dan ekspektasi, perekat relasi sosial, tetapi sudah menjadi ideologi.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa secara arsitektural desain pelinggih mobil dipengaruhi oleh merk pabrik mobil tertentu (VW dan Suzuki), lalu ditransformasikan menjadi simbol keagamaan atau tanda religius. Pelinggih mobil yang di luar nilai dan norma tradisi tersebut, menurut Suyoga termasuk kategori budaya populer.

Hal ini sesuai dengan pemikiran Piliang yang memahami agama di dalam budaya populer berkembang bersamaan dengan industrialisasi, produksi massa, dan media massa. Justru karena label pop inilah, Pura Paluang dengan dua pelinggih mobilnya mampu bersanding dalam kontestasi identitas sebagai pura yang “wajib” dikunjungi bila melakukan perjalanan spiritual ke Nusa Penida (Suyoga, 2019).

Jadi, Suyoga lebih menyoroti eksistensi Pura Paluang dari unsur budaya pop dan konteks beragama kekinian. Namun, saya lebih tertarik membaca eksistensi Pura Paluang dari perspektif “kemerdekaan berteologi lokal”. Terserah. Anda mungkin memiliki perspektif yang berbeda. [T]

Tags: agamaKlungkungNusa PenidaSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampung dan Kota, Siapa Cemburu Pada Siapa?

Next Post

Aud Kelor: “Anak Kedua” Carma Citrawati yang Komikal, Satir dan Menggemaskan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Kelor dalam Aud Kelor

Aud Kelor: “Anak Kedua” Carma Citrawati yang Komikal, Satir dan Menggemaskan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co