2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung dan Kota, Siapa Cemburu Pada Siapa?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
August 11, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Ketika tidak begitu punya kesempatan untuk bepergian, tentu kita harus menemukan berbagai cara demi bisa tetap nyaman berada di rumah. Untungnya, sebagai insan yang kreatif, manusia bisa menemukan beragam cara. Misalnya saja menulis, membaca, bermain dengan hewan peliharaan, bercocok tanam, memasak, membuat kerajinan tangan, berdagang online, dan masih banyak lagi.

Bagi aku yang tinggal di kota besar dengan kondisi rumah seadanya (bukan rumah real estate layaknya anak gedongan), tentu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa kerasan di rumah. Aku tidak punya dapur yang memadai untuk bisa mengeksplorasi kemampuan tata boga. Lahan hijau untuk bercocok tanam juga hanya beberapa depa. Di rumah pun tidak ada kolam renang atau lapangan sebagai tempat mengolah raga. Mimpi memiliki perpustakaan pribadi saja terbentur dengan minimnya jumlah kamar.

Jika sudah begitu, salah satu pelampiasanku adalah menonton. Acara yang kutonton bukan acara jalan-jalan, melainkan acara kehidupan di perkampungan. Salah satu yang menjadi langganan tontonanku adalah acara tentang bocah yang bertualang di kampungnya dan petualangan mas gundul di kampung-kampung orang di Tanah Air. Acara itu tayang setiap hari di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kedua acara itu mengekspos kehidupan di kampung. Acara bocah bertualang menggambarkan kehidupan bocah-bocah di perkampungan yang ada di Tanah Air. Acara tersebut menceritakan serunya bocah-bocah kampung bermain, bertualang mencari bahan makanan dan memasak bersama orang tua. Sementara itu, acara petualangan mas gundul menampilkan petualangan mas-mas tak berambut di kampung orang. Di sana beliau belajar hidup sebagaimana orang kampung setempat. Mulai dari mengumpulkan bahan makanan, membantu warga mengurus hewan ternak, mengolah bahkan menjadi makanan tradisional yang sedap, hingga ikut menikmati aktivitas budaya lokal.

Bagian yang paling kusenangi dari acara-acara tersebut adalah melihat orang-orang (terutama anak-anak) bisa menikmati hidup dengan leluasa di kampung yang masih dikelilingi alam terbuka. Mereka dekat dengan hutan, pantai, sungai, bukit, gunung, hingga tanah lapang. Mau piknik tinggal mampir ke bukit terdekat dan menggelar tikar. Mau ke kebun binatang tinggal masuk hutan yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Mau berenang pun, tak usah bayar karcis. Tinggal nyemplung saja ke sungai atau laut di depan rumah yang begitu bening dan menyegarkan.

Tanpa perlu keluar uang, mereka juga bisa mendapatkan makanan. Bahkan untuk kampung yang dekat dengan laut, boga laut yang biasanya mahal di perkotaan pun bisa menjadi makanan gratis yang dapat mereka santap setiap saat. Betapa sempurnanya kehidupan demikian di mataku.

***

Tontonan harianku tadi seringnya membuat aku merasa cemburu. Aku merasa hidup di ibu kota yang katanya menjanjikan segalanya, ternyata toh tidak juga. Di kota besar ini aku tidak bisa dengan mudah mendapatkan kesejukan alam seperti bocah-bocah petualang di televisi. Aku bahkan tidak bisa menikmati asyiknya membuat makanan dengan bahan-bahan tradisional dan perabotan sederhana di balai-balai di tengah bukit.

Kota besar ini malah membuatku berjumpa dengan pohon-pohon beton. Tujuan hiburanku pun lautan buatan di dalam pusat perbelanjaan. Mau bermain di tengah hutan, malah harus bayar mahal masuk hutan yang tanamannya terbuat dari plastik. Mau berenang atau main seluncuran, lagi-lagi harus ke pusat hiburan keluarga dan membayar mahal. Itu pun hanya dapat hutan tropis dan ombak rekayasa mesin-mesin industri.

Aku rasa, aku tidak sendiri. Mereka yang merindukan kehidupan sederhana di tengah alam terbuka, hari ini jumlahnya semakin banyak. Terlebih lagi, kehidupan di kota besar yang semakin modern malah terasa semakin mencekik leher. Setiap waktu kita harus bergerak cepat, terburu-buru agar tidak ada orang lain yang menyikat. Setiap harinya, kita pun terkepung polusi, mulai dari polusi pemandangan, polusi udara, polusi suara, polusi pikiran, hingga polusi moral. Identitas budaya manusianya juga luruh menjadi seragam, sama, dan tidak ada ciri khasnya.

***

Menuju paradigma yang berbeda. Suatu ketika aku pernah berjumpa dengan dua orang mahasiswa yang konon sedang melakukan penelitian soal pendidikan. Mereka menanyakan pendapatku soal anak-anak di pedalaman. Aku bilang pada mereka bahwa anak-anak tersebut mungkin sebenarnya bahagia karena dekat dengan alamnya dan sumber daya semua tersedia tanpa biaya. Mungkin media massa saja yang selama ini sok mengekspos kehidupan mereka seolah sedih dan serba kurang.

Jawabanku itu rasanya membuat kedua mahasiswa itu salah tingkah. Mereka kemudian mencoba menjelaskan kondisi anak-anak di pedalaman yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kehidupan yang layak. Ketika itu, aku masih tetap bersikukuh pada paradigmaku tadi. Akhirnya mereka menyerah meyakinkan aku dan pergi begitu saja.

Sampai pada akhirnya, aku berkesempatan menjumpai seorang yang tinggal di perkampungan. Aku menjumpai anak muda ini secara tidak sengaja di sebuah warung kecil di dekat kampungnya. Aku kala itu sedang berwisata sejenak untuk melepas penat setelah berbulan-bulan kerja di kota tanpa cuti.

Selama di ibu kota, aku jarang sekali memulai percakapan dengan orang asing. Sebab, rasa curiga tentu selalu mengikuti. Ketika berada di luar ibu kota, aku lebih bisa tertarik untuk mengobrol dengan orang lokal karena ingin tahu lebih banyak soal daerah yang kudatangi. Dalam percakapanku dengannya, jejaka ini mengemukakan mimpinya untuk merantau ke ibu kota. Aku pun terdorong untuk bertanya kenapa dia malah ingin hijrah ke kota padahal aku saja ingin tinggal di kampungnya.

Kawan baruku itu menuturkan jawaban cukup panjang. Baginya, ibu kota adalah tujuan hidup yang lebih baik. Di ibu kota, dia bisa leluasa menemukan dunia baru karena akses informasi dari jaringan internet cepat sudah tersedia. Sumber pengetahuan juga jauh lebih lengkap dengan tersedianya lembaga pendidikan yang seolah tak terbatas. Dia juga bisa bertemu banyak orang baru dengan pikiran maju yang bisa membantunya berkembang.

Membandingkan dengan kampungnya, kawanku ini mengeluhkan betapa sulitnya mengakses informasi dari kampung. Pasokan listrik yang tidak stabil (beberapa kampung bahkan masih ada yang belum dapat aliran listrik) menjadi salah satu penyebab mereka tidak bisa leluasa mengakses sumber informasi seperti TV, radio, media cetak, dan internet. Orang kampungnya bahkan ada yang harus menempuh jarak hingga sekian kilometer untuk sekadar bisa mendapatkan sinyal ponsel.

Selain kemajuan keterampilan dan kecerdasan, ibu kota juga menjadi primadona warga kampung karena di sana mereka bisa menikmati kesejukan ruangan ber-AC setiap waktu. Hal yang juga sangat diidam-idamkan dari kota besar adalah bisa sering-sering ke mal untuk belanja banyak hal yang tak tersedia di kampungnya. Wahana permainan modern pun bisa dengan mudah ditemukan di dalam pusat hiburan keluarga yang tersedia di mana-mana.

Berbicara soal makanan, kota besar juga menjadi surga bagi kawanku tadi. Dia bilang, ibu kota akan membuatnya bisa menjumpai beragam makanan dari berbagai daerah, bahkan belahan dunia. Dia tentu tak lagi akan bosan dengan makanan tradisional di kampung yang menurutnya itu-itu saja. Ibu kota nantinya bisa membawanya menyantap beraneka makanan yang sebelumnya belum pernah dia cicipi. Setiap hari bisa berganti-ganti dengan mudahnya. Asal punya dana.

***

Orang kota sepertiku ingin merasakan tenang dan damainya hidup di kampung. Sementara orang kampung mendambakan kehidupan serba ada di ibu kota. Percakapan satu malamku dengan kawan baru membuat kami paham bahwa kami saling cemburu. Lantas, apakah dengan bertukar tempat kami akan menemukan dambaan kami? Bukankah manusia selalu saja kurang bersyukur?

Tags: Jakartakampungkampung halamanKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Next Post

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co