23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung dan Kota, Siapa Cemburu Pada Siapa?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
August 11, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Ketika tidak begitu punya kesempatan untuk bepergian, tentu kita harus menemukan berbagai cara demi bisa tetap nyaman berada di rumah. Untungnya, sebagai insan yang kreatif, manusia bisa menemukan beragam cara. Misalnya saja menulis, membaca, bermain dengan hewan peliharaan, bercocok tanam, memasak, membuat kerajinan tangan, berdagang online, dan masih banyak lagi.

Bagi aku yang tinggal di kota besar dengan kondisi rumah seadanya (bukan rumah real estate layaknya anak gedongan), tentu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa kerasan di rumah. Aku tidak punya dapur yang memadai untuk bisa mengeksplorasi kemampuan tata boga. Lahan hijau untuk bercocok tanam juga hanya beberapa depa. Di rumah pun tidak ada kolam renang atau lapangan sebagai tempat mengolah raga. Mimpi memiliki perpustakaan pribadi saja terbentur dengan minimnya jumlah kamar.

Jika sudah begitu, salah satu pelampiasanku adalah menonton. Acara yang kutonton bukan acara jalan-jalan, melainkan acara kehidupan di perkampungan. Salah satu yang menjadi langganan tontonanku adalah acara tentang bocah yang bertualang di kampungnya dan petualangan mas gundul di kampung-kampung orang di Tanah Air. Acara itu tayang setiap hari di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kedua acara itu mengekspos kehidupan di kampung. Acara bocah bertualang menggambarkan kehidupan bocah-bocah di perkampungan yang ada di Tanah Air. Acara tersebut menceritakan serunya bocah-bocah kampung bermain, bertualang mencari bahan makanan dan memasak bersama orang tua. Sementara itu, acara petualangan mas gundul menampilkan petualangan mas-mas tak berambut di kampung orang. Di sana beliau belajar hidup sebagaimana orang kampung setempat. Mulai dari mengumpulkan bahan makanan, membantu warga mengurus hewan ternak, mengolah bahkan menjadi makanan tradisional yang sedap, hingga ikut menikmati aktivitas budaya lokal.

Bagian yang paling kusenangi dari acara-acara tersebut adalah melihat orang-orang (terutama anak-anak) bisa menikmati hidup dengan leluasa di kampung yang masih dikelilingi alam terbuka. Mereka dekat dengan hutan, pantai, sungai, bukit, gunung, hingga tanah lapang. Mau piknik tinggal mampir ke bukit terdekat dan menggelar tikar. Mau ke kebun binatang tinggal masuk hutan yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Mau berenang pun, tak usah bayar karcis. Tinggal nyemplung saja ke sungai atau laut di depan rumah yang begitu bening dan menyegarkan.

Tanpa perlu keluar uang, mereka juga bisa mendapatkan makanan. Bahkan untuk kampung yang dekat dengan laut, boga laut yang biasanya mahal di perkotaan pun bisa menjadi makanan gratis yang dapat mereka santap setiap saat. Betapa sempurnanya kehidupan demikian di mataku.

***

Tontonan harianku tadi seringnya membuat aku merasa cemburu. Aku merasa hidup di ibu kota yang katanya menjanjikan segalanya, ternyata toh tidak juga. Di kota besar ini aku tidak bisa dengan mudah mendapatkan kesejukan alam seperti bocah-bocah petualang di televisi. Aku bahkan tidak bisa menikmati asyiknya membuat makanan dengan bahan-bahan tradisional dan perabotan sederhana di balai-balai di tengah bukit.

Kota besar ini malah membuatku berjumpa dengan pohon-pohon beton. Tujuan hiburanku pun lautan buatan di dalam pusat perbelanjaan. Mau bermain di tengah hutan, malah harus bayar mahal masuk hutan yang tanamannya terbuat dari plastik. Mau berenang atau main seluncuran, lagi-lagi harus ke pusat hiburan keluarga dan membayar mahal. Itu pun hanya dapat hutan tropis dan ombak rekayasa mesin-mesin industri.

Aku rasa, aku tidak sendiri. Mereka yang merindukan kehidupan sederhana di tengah alam terbuka, hari ini jumlahnya semakin banyak. Terlebih lagi, kehidupan di kota besar yang semakin modern malah terasa semakin mencekik leher. Setiap waktu kita harus bergerak cepat, terburu-buru agar tidak ada orang lain yang menyikat. Setiap harinya, kita pun terkepung polusi, mulai dari polusi pemandangan, polusi udara, polusi suara, polusi pikiran, hingga polusi moral. Identitas budaya manusianya juga luruh menjadi seragam, sama, dan tidak ada ciri khasnya.

***

Menuju paradigma yang berbeda. Suatu ketika aku pernah berjumpa dengan dua orang mahasiswa yang konon sedang melakukan penelitian soal pendidikan. Mereka menanyakan pendapatku soal anak-anak di pedalaman. Aku bilang pada mereka bahwa anak-anak tersebut mungkin sebenarnya bahagia karena dekat dengan alamnya dan sumber daya semua tersedia tanpa biaya. Mungkin media massa saja yang selama ini sok mengekspos kehidupan mereka seolah sedih dan serba kurang.

Jawabanku itu rasanya membuat kedua mahasiswa itu salah tingkah. Mereka kemudian mencoba menjelaskan kondisi anak-anak di pedalaman yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kehidupan yang layak. Ketika itu, aku masih tetap bersikukuh pada paradigmaku tadi. Akhirnya mereka menyerah meyakinkan aku dan pergi begitu saja.

Sampai pada akhirnya, aku berkesempatan menjumpai seorang yang tinggal di perkampungan. Aku menjumpai anak muda ini secara tidak sengaja di sebuah warung kecil di dekat kampungnya. Aku kala itu sedang berwisata sejenak untuk melepas penat setelah berbulan-bulan kerja di kota tanpa cuti.

Selama di ibu kota, aku jarang sekali memulai percakapan dengan orang asing. Sebab, rasa curiga tentu selalu mengikuti. Ketika berada di luar ibu kota, aku lebih bisa tertarik untuk mengobrol dengan orang lokal karena ingin tahu lebih banyak soal daerah yang kudatangi. Dalam percakapanku dengannya, jejaka ini mengemukakan mimpinya untuk merantau ke ibu kota. Aku pun terdorong untuk bertanya kenapa dia malah ingin hijrah ke kota padahal aku saja ingin tinggal di kampungnya.

Kawan baruku itu menuturkan jawaban cukup panjang. Baginya, ibu kota adalah tujuan hidup yang lebih baik. Di ibu kota, dia bisa leluasa menemukan dunia baru karena akses informasi dari jaringan internet cepat sudah tersedia. Sumber pengetahuan juga jauh lebih lengkap dengan tersedianya lembaga pendidikan yang seolah tak terbatas. Dia juga bisa bertemu banyak orang baru dengan pikiran maju yang bisa membantunya berkembang.

Membandingkan dengan kampungnya, kawanku ini mengeluhkan betapa sulitnya mengakses informasi dari kampung. Pasokan listrik yang tidak stabil (beberapa kampung bahkan masih ada yang belum dapat aliran listrik) menjadi salah satu penyebab mereka tidak bisa leluasa mengakses sumber informasi seperti TV, radio, media cetak, dan internet. Orang kampungnya bahkan ada yang harus menempuh jarak hingga sekian kilometer untuk sekadar bisa mendapatkan sinyal ponsel.

Selain kemajuan keterampilan dan kecerdasan, ibu kota juga menjadi primadona warga kampung karena di sana mereka bisa menikmati kesejukan ruangan ber-AC setiap waktu. Hal yang juga sangat diidam-idamkan dari kota besar adalah bisa sering-sering ke mal untuk belanja banyak hal yang tak tersedia di kampungnya. Wahana permainan modern pun bisa dengan mudah ditemukan di dalam pusat hiburan keluarga yang tersedia di mana-mana.

Berbicara soal makanan, kota besar juga menjadi surga bagi kawanku tadi. Dia bilang, ibu kota akan membuatnya bisa menjumpai beragam makanan dari berbagai daerah, bahkan belahan dunia. Dia tentu tak lagi akan bosan dengan makanan tradisional di kampung yang menurutnya itu-itu saja. Ibu kota nantinya bisa membawanya menyantap beraneka makanan yang sebelumnya belum pernah dia cicipi. Setiap hari bisa berganti-ganti dengan mudahnya. Asal punya dana.

***

Orang kota sepertiku ingin merasakan tenang dan damainya hidup di kampung. Sementara orang kampung mendambakan kehidupan serba ada di ibu kota. Percakapan satu malamku dengan kawan baru membuat kami paham bahwa kami saling cemburu. Lantas, apakah dengan bertukar tempat kami akan menemukan dambaan kami? Bukankah manusia selalu saja kurang bersyukur?

Tags: Jakartakampungkampung halamanKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Next Post

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co