13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kampung dan Kota, Siapa Cemburu Pada Siapa?

PanchoNgaco by PanchoNgaco
August 11, 2020
in Esai
Sop Kaki Kambing

Ketika tidak begitu punya kesempatan untuk bepergian, tentu kita harus menemukan berbagai cara demi bisa tetap nyaman berada di rumah. Untungnya, sebagai insan yang kreatif, manusia bisa menemukan beragam cara. Misalnya saja menulis, membaca, bermain dengan hewan peliharaan, bercocok tanam, memasak, membuat kerajinan tangan, berdagang online, dan masih banyak lagi.

Bagi aku yang tinggal di kota besar dengan kondisi rumah seadanya (bukan rumah real estate layaknya anak gedongan), tentu menjadi tantangan tersendiri untuk bisa kerasan di rumah. Aku tidak punya dapur yang memadai untuk bisa mengeksplorasi kemampuan tata boga. Lahan hijau untuk bercocok tanam juga hanya beberapa depa. Di rumah pun tidak ada kolam renang atau lapangan sebagai tempat mengolah raga. Mimpi memiliki perpustakaan pribadi saja terbentur dengan minimnya jumlah kamar.

Jika sudah begitu, salah satu pelampiasanku adalah menonton. Acara yang kutonton bukan acara jalan-jalan, melainkan acara kehidupan di perkampungan. Salah satu yang menjadi langganan tontonanku adalah acara tentang bocah yang bertualang di kampungnya dan petualangan mas gundul di kampung-kampung orang di Tanah Air. Acara itu tayang setiap hari di salah satu stasiun TV swasta nasional.

Kedua acara itu mengekspos kehidupan di kampung. Acara bocah bertualang menggambarkan kehidupan bocah-bocah di perkampungan yang ada di Tanah Air. Acara tersebut menceritakan serunya bocah-bocah kampung bermain, bertualang mencari bahan makanan dan memasak bersama orang tua. Sementara itu, acara petualangan mas gundul menampilkan petualangan mas-mas tak berambut di kampung orang. Di sana beliau belajar hidup sebagaimana orang kampung setempat. Mulai dari mengumpulkan bahan makanan, membantu warga mengurus hewan ternak, mengolah bahkan menjadi makanan tradisional yang sedap, hingga ikut menikmati aktivitas budaya lokal.

Bagian yang paling kusenangi dari acara-acara tersebut adalah melihat orang-orang (terutama anak-anak) bisa menikmati hidup dengan leluasa di kampung yang masih dikelilingi alam terbuka. Mereka dekat dengan hutan, pantai, sungai, bukit, gunung, hingga tanah lapang. Mau piknik tinggal mampir ke bukit terdekat dan menggelar tikar. Mau ke kebun binatang tinggal masuk hutan yang bisa dijangkau dengan jalan kaki. Mau berenang pun, tak usah bayar karcis. Tinggal nyemplung saja ke sungai atau laut di depan rumah yang begitu bening dan menyegarkan.

Tanpa perlu keluar uang, mereka juga bisa mendapatkan makanan. Bahkan untuk kampung yang dekat dengan laut, boga laut yang biasanya mahal di perkotaan pun bisa menjadi makanan gratis yang dapat mereka santap setiap saat. Betapa sempurnanya kehidupan demikian di mataku.

***

Tontonan harianku tadi seringnya membuat aku merasa cemburu. Aku merasa hidup di ibu kota yang katanya menjanjikan segalanya, ternyata toh tidak juga. Di kota besar ini aku tidak bisa dengan mudah mendapatkan kesejukan alam seperti bocah-bocah petualang di televisi. Aku bahkan tidak bisa menikmati asyiknya membuat makanan dengan bahan-bahan tradisional dan perabotan sederhana di balai-balai di tengah bukit.

Kota besar ini malah membuatku berjumpa dengan pohon-pohon beton. Tujuan hiburanku pun lautan buatan di dalam pusat perbelanjaan. Mau bermain di tengah hutan, malah harus bayar mahal masuk hutan yang tanamannya terbuat dari plastik. Mau berenang atau main seluncuran, lagi-lagi harus ke pusat hiburan keluarga dan membayar mahal. Itu pun hanya dapat hutan tropis dan ombak rekayasa mesin-mesin industri.

Aku rasa, aku tidak sendiri. Mereka yang merindukan kehidupan sederhana di tengah alam terbuka, hari ini jumlahnya semakin banyak. Terlebih lagi, kehidupan di kota besar yang semakin modern malah terasa semakin mencekik leher. Setiap waktu kita harus bergerak cepat, terburu-buru agar tidak ada orang lain yang menyikat. Setiap harinya, kita pun terkepung polusi, mulai dari polusi pemandangan, polusi udara, polusi suara, polusi pikiran, hingga polusi moral. Identitas budaya manusianya juga luruh menjadi seragam, sama, dan tidak ada ciri khasnya.

***

Menuju paradigma yang berbeda. Suatu ketika aku pernah berjumpa dengan dua orang mahasiswa yang konon sedang melakukan penelitian soal pendidikan. Mereka menanyakan pendapatku soal anak-anak di pedalaman. Aku bilang pada mereka bahwa anak-anak tersebut mungkin sebenarnya bahagia karena dekat dengan alamnya dan sumber daya semua tersedia tanpa biaya. Mungkin media massa saja yang selama ini sok mengekspos kehidupan mereka seolah sedih dan serba kurang.

Jawabanku itu rasanya membuat kedua mahasiswa itu salah tingkah. Mereka kemudian mencoba menjelaskan kondisi anak-anak di pedalaman yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan dan kehidupan yang layak. Ketika itu, aku masih tetap bersikukuh pada paradigmaku tadi. Akhirnya mereka menyerah meyakinkan aku dan pergi begitu saja.

Sampai pada akhirnya, aku berkesempatan menjumpai seorang yang tinggal di perkampungan. Aku menjumpai anak muda ini secara tidak sengaja di sebuah warung kecil di dekat kampungnya. Aku kala itu sedang berwisata sejenak untuk melepas penat setelah berbulan-bulan kerja di kota tanpa cuti.

Selama di ibu kota, aku jarang sekali memulai percakapan dengan orang asing. Sebab, rasa curiga tentu selalu mengikuti. Ketika berada di luar ibu kota, aku lebih bisa tertarik untuk mengobrol dengan orang lokal karena ingin tahu lebih banyak soal daerah yang kudatangi. Dalam percakapanku dengannya, jejaka ini mengemukakan mimpinya untuk merantau ke ibu kota. Aku pun terdorong untuk bertanya kenapa dia malah ingin hijrah ke kota padahal aku saja ingin tinggal di kampungnya.

Kawan baruku itu menuturkan jawaban cukup panjang. Baginya, ibu kota adalah tujuan hidup yang lebih baik. Di ibu kota, dia bisa leluasa menemukan dunia baru karena akses informasi dari jaringan internet cepat sudah tersedia. Sumber pengetahuan juga jauh lebih lengkap dengan tersedianya lembaga pendidikan yang seolah tak terbatas. Dia juga bisa bertemu banyak orang baru dengan pikiran maju yang bisa membantunya berkembang.

Membandingkan dengan kampungnya, kawanku ini mengeluhkan betapa sulitnya mengakses informasi dari kampung. Pasokan listrik yang tidak stabil (beberapa kampung bahkan masih ada yang belum dapat aliran listrik) menjadi salah satu penyebab mereka tidak bisa leluasa mengakses sumber informasi seperti TV, radio, media cetak, dan internet. Orang kampungnya bahkan ada yang harus menempuh jarak hingga sekian kilometer untuk sekadar bisa mendapatkan sinyal ponsel.

Selain kemajuan keterampilan dan kecerdasan, ibu kota juga menjadi primadona warga kampung karena di sana mereka bisa menikmati kesejukan ruangan ber-AC setiap waktu. Hal yang juga sangat diidam-idamkan dari kota besar adalah bisa sering-sering ke mal untuk belanja banyak hal yang tak tersedia di kampungnya. Wahana permainan modern pun bisa dengan mudah ditemukan di dalam pusat hiburan keluarga yang tersedia di mana-mana.

Berbicara soal makanan, kota besar juga menjadi surga bagi kawanku tadi. Dia bilang, ibu kota akan membuatnya bisa menjumpai beragam makanan dari berbagai daerah, bahkan belahan dunia. Dia tentu tak lagi akan bosan dengan makanan tradisional di kampung yang menurutnya itu-itu saja. Ibu kota nantinya bisa membawanya menyantap beraneka makanan yang sebelumnya belum pernah dia cicipi. Setiap hari bisa berganti-ganti dengan mudahnya. Asal punya dana.

***

Orang kota sepertiku ingin merasakan tenang dan damainya hidup di kampung. Sementara orang kampung mendambakan kehidupan serba ada di ibu kota. Percakapan satu malamku dengan kawan baru membuat kami paham bahwa kami saling cemburu. Lantas, apakah dengan bertukar tempat kami akan menemukan dambaan kami? Bukankah manusia selalu saja kurang bersyukur?

Tags: Jakartakampungkampung halamanKota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengelola Kemarahan di Masa Pandemi Nyaris Resesi

Next Post

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

PanchoNgaco

PanchoNgaco

Penikmat kopi pahit dan pekerja teks komersial yang masih gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Menetap di Jakarta.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Pura Mobil di Nusa Penida dan Riak Teologi Lokal

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co