14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Ini salah satu jenis sakura, yang ada di sekitaran dam. [Foto koleksi Riris Sanjaya]

Makin hari urusan pandemi ini makin berlanjut. Saya berusaha tidak membaca lagi berita-berita terkait kericuhan yang terjadi, tetapi tetap mengikuti anjuran pemerintah dan para ahli, terutama mengacu pada pesan dan himbauan dari sang suami yang berada di Bali. Tidak ada peringatan yang lebih menakutkan bagi saya yang sedang bekerja di Jepang jauh dari keluarga ini, daripada kata-kata suami yang bagaikan peluru menembus ruang dan waktu.

Sudah sejak bulan lalu, setelah 10 hari bekerja kemudian saya diliburkan hingga akhir Mei, kemudian dikabari bahwa Juni ini juga sama, libur sebulan penuh. Yang sangat saya syukuri, atas bantuan pemerintah Jepang dan kebijakan perusahaan, gaji saya dan seluruh rekan kerja tetap dibayarkan. Sungguh, ini yang namanya makan gaji buta. Semoga saja saya tidak buta memakan gaji.

Begitulah, karena tidak ada tugas dan jadwal yang harus dipenuhi setiap harinya, saya dan teman-teman mulai aktif berinteraksi dan beraksi. Kami mengeksplor kawasan wisata alam yang kami datangi dengan penuh pertimbangan protokoler kesehatan. Apalagi, sebelum libur kami dihimbau untuk tidak bepergian ke daerah-daerah zona kasus berbahaya, demi menjaga daerah Niseko tetap nihil dalam hitungan kasus corona.

Sebelumnya, ada seseorang yang sepertinya hanya demam biasa, sudah dikirim ke pusat kesehatan dan dipindahkan dari asrama. Wiih, saya sungguh sangat berusaha menghindari hal itu. Makanya meskipun agak mahal, saya tetap memesan jamu Tolak Angin dari Online Shop-Indonesian Store yang ada di Tokyo, sambil pesan beberapa tempe dan bumbu masak. Atau kadang-kadang suka diberi gratis oleh sahabat saya dari Bali yang berbeda tempat kerja. Kalau gratis, khasiatnya dobel! Hahaa

Air terjun pertama yang saya kunjungi di Jepang. {Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Tanggal 15 kemarin, kami semua gajian, diberikan 100% karena pemerintah tetap memberikan subsidi. Kemudian, yang awalnya rencana dipotong 20% oleh perusahaan untuk tanggal 15 bulan depan, katanya tidak jadi karena pemerintah masih memberikan dana bantuan. Waah, setelah saya menyampaikan terima kasih pada atasan dengan wajah pura-pura datar, saya berpaling dan membiarkan mulut saya menganga.

Entah apa karena saya bukan warga asli, atau saya memang kurang tertarik untuk mendalami, saya kurang paham bagaimana kebijakan ini diputuskan. Bagaimana proses dan sumber dananya. Bagi saya, bantuan langsung yang diterima tanpa babibu seperti ini begitu menyenangkan, sangat patut disyukuri. Terlebih, Mei lalu, sesaat sebelum putri pertama saya berulang tahun pada tanggal 30, kami semua dikumpulkan di ruang makan utama. Kami diminta mengisi form, untuk menerima bantuan langsung tunai sebesar 100.000 yen per orang. Hah? Bukan hanya untuk warga asli Jepang yang dihitung per-jiwa termasuk bayi, tetapi bagi kami yang juga terdaftar dalam administrasi kependudukan, kami berhak menerima bantuan tersebut. Setelah formulir diiisi sesuai petunjuk, diinformasikan bahwa dana akan diterima 2 minggu setelah pengiriman data. Kemudian setelah satu minggu lebih, saat saya dan rekan-rekan sedang bepergian, beberapa dari kami menarik tunai di bank kantor pos, dan mendapati uang bantuannya sudah masuk ke rekening. Wah, tidak sampai 2 minggu seperti yang disampaikan. Jadilah saya punya kado istimewa untuk si kecil.


BACA Kabar dari Jepang lain yang ditulis Riris Sanjaya


Saya terus bertanya-tanya sambil terus berbahagia, bagaimana bisa, seperti apa, kemudian setelahnya bagaimana, memberikan bantuan dengan sigap dan tanpa banyak ucap. Entah kalau para pengamat politik atau ekonomi, atau siapapun mengutarakan opini mengenai hal ini, saya yang pekerja migran, hanya sangat bersyukur. Sungguh saya bersyukur sekali, mengingat bagaimana pandemi ini memengaruhi perekonomian dunia.

Demikianlah hari-hari saya lalui dengan mengunjungi beberapa kawasan alam yang masuk dalam wilayah aman, dengan sangat berhati-hati meskipun sebagian besar wilayah State of Emergency-nya sudah diangkat. Dan hampir setiap hari pula kami memasak berbagai hidangan bersama di dapur utama asrama.

Karena memiliki 4 musim, saat daun bertumbuh seperti ini, warnanya sungguh-sungguh hijau. [Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Belakangan ini, saya kembali membuka buku pelajaran bahasa Jepang, kembali melihat resep masakan, mencoba memahami cara bercocok tanam hidroponik. Saya berusaha mengingatkan tubuh dan otak saya bahwa saya memiliki target bekerja di sini. Saya tidak ingin sampai terlena, dan larut dalam suka-cita. Begitu juga rekan-rekan saya, mereka tetap giat berolahraga dan terus belajar segala hal. Mereka sangat menginspirasi saya. Saya berpikir untuk beraktivitas seolah-olah saya sedang bekerja. Bangun pagi, sembahyang, memasak, belajar, berolahraga, menciptakan hari-hari yang produktif. Saya ingin bersiap untuk kembali bekerja pada Agustus nanti.

Begitu rencananya, hingga pagi ini, di atas meja ruang bersama, saya melihat amplop putih bertuliskan nama lengkap saya: A A AYU RAHADIANI CWARI. Apa ini?

Oh, tidak. Berantakanlah program sempurna saya. Saya dan pastinya seluruh rekan saya yang terdaftar sebagai penduduk kota Niseko, menerima voucher dari pemerintah yang bisa digunakan untuk makan di restoran-restoran yang ada di kawasan Niseko. Tidak hanya restoran, layanan jasa seperti perbaikan kendaraan, furnitur rumah, toko kebutuhan sehari-hari, hingga pemandian air panas, dan perawatan salon pun bisa kami dapatkan dengan menukarkan 6 lembar voucher ini. Keren sekali bukan? Sekali lagi, saya tidak punya teori tentang bagaimana ini diatur, tetapi, saya berasumsi pemerintah setempat bersinergi dengan seluruh pebisnis wilayah untuk bersama-sama menghidupkan perekonomian.  Ini adalah cara mereka mendukung kebertahanan masing-masing. Ditambah dengan upaya pencegahan virus yang terpercaya, mereka sungguh berusaha.

Kalau begini, saya kan jadi ingin jalan-jalan lagi. Belajarnya nanti saja. Eh, ada whatsapp dari suami. Ya sudah, saya pergi makan setelah belajar. Teman-teman, tetap semangat di sana ya! [T]

Tags: JepangNegeri Sakurapekerja migran
Share272TweetSendShareSend
Previous Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Next Post

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik - [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co