2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Ini salah satu jenis sakura, yang ada di sekitaran dam. [Foto koleksi Riris Sanjaya]

Makin hari urusan pandemi ini makin berlanjut. Saya berusaha tidak membaca lagi berita-berita terkait kericuhan yang terjadi, tetapi tetap mengikuti anjuran pemerintah dan para ahli, terutama mengacu pada pesan dan himbauan dari sang suami yang berada di Bali. Tidak ada peringatan yang lebih menakutkan bagi saya yang sedang bekerja di Jepang jauh dari keluarga ini, daripada kata-kata suami yang bagaikan peluru menembus ruang dan waktu.

Sudah sejak bulan lalu, setelah 10 hari bekerja kemudian saya diliburkan hingga akhir Mei, kemudian dikabari bahwa Juni ini juga sama, libur sebulan penuh. Yang sangat saya syukuri, atas bantuan pemerintah Jepang dan kebijakan perusahaan, gaji saya dan seluruh rekan kerja tetap dibayarkan. Sungguh, ini yang namanya makan gaji buta. Semoga saja saya tidak buta memakan gaji.

Begitulah, karena tidak ada tugas dan jadwal yang harus dipenuhi setiap harinya, saya dan teman-teman mulai aktif berinteraksi dan beraksi. Kami mengeksplor kawasan wisata alam yang kami datangi dengan penuh pertimbangan protokoler kesehatan. Apalagi, sebelum libur kami dihimbau untuk tidak bepergian ke daerah-daerah zona kasus berbahaya, demi menjaga daerah Niseko tetap nihil dalam hitungan kasus corona.

Sebelumnya, ada seseorang yang sepertinya hanya demam biasa, sudah dikirim ke pusat kesehatan dan dipindahkan dari asrama. Wiih, saya sungguh sangat berusaha menghindari hal itu. Makanya meskipun agak mahal, saya tetap memesan jamu Tolak Angin dari Online Shop-Indonesian Store yang ada di Tokyo, sambil pesan beberapa tempe dan bumbu masak. Atau kadang-kadang suka diberi gratis oleh sahabat saya dari Bali yang berbeda tempat kerja. Kalau gratis, khasiatnya dobel! Hahaa

Air terjun pertama yang saya kunjungi di Jepang. {Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Tanggal 15 kemarin, kami semua gajian, diberikan 100% karena pemerintah tetap memberikan subsidi. Kemudian, yang awalnya rencana dipotong 20% oleh perusahaan untuk tanggal 15 bulan depan, katanya tidak jadi karena pemerintah masih memberikan dana bantuan. Waah, setelah saya menyampaikan terima kasih pada atasan dengan wajah pura-pura datar, saya berpaling dan membiarkan mulut saya menganga.

Entah apa karena saya bukan warga asli, atau saya memang kurang tertarik untuk mendalami, saya kurang paham bagaimana kebijakan ini diputuskan. Bagaimana proses dan sumber dananya. Bagi saya, bantuan langsung yang diterima tanpa babibu seperti ini begitu menyenangkan, sangat patut disyukuri. Terlebih, Mei lalu, sesaat sebelum putri pertama saya berulang tahun pada tanggal 30, kami semua dikumpulkan di ruang makan utama. Kami diminta mengisi form, untuk menerima bantuan langsung tunai sebesar 100.000 yen per orang. Hah? Bukan hanya untuk warga asli Jepang yang dihitung per-jiwa termasuk bayi, tetapi bagi kami yang juga terdaftar dalam administrasi kependudukan, kami berhak menerima bantuan tersebut. Setelah formulir diiisi sesuai petunjuk, diinformasikan bahwa dana akan diterima 2 minggu setelah pengiriman data. Kemudian setelah satu minggu lebih, saat saya dan rekan-rekan sedang bepergian, beberapa dari kami menarik tunai di bank kantor pos, dan mendapati uang bantuannya sudah masuk ke rekening. Wah, tidak sampai 2 minggu seperti yang disampaikan. Jadilah saya punya kado istimewa untuk si kecil.


BACA Kabar dari Jepang lain yang ditulis Riris Sanjaya


Saya terus bertanya-tanya sambil terus berbahagia, bagaimana bisa, seperti apa, kemudian setelahnya bagaimana, memberikan bantuan dengan sigap dan tanpa banyak ucap. Entah kalau para pengamat politik atau ekonomi, atau siapapun mengutarakan opini mengenai hal ini, saya yang pekerja migran, hanya sangat bersyukur. Sungguh saya bersyukur sekali, mengingat bagaimana pandemi ini memengaruhi perekonomian dunia.

Demikianlah hari-hari saya lalui dengan mengunjungi beberapa kawasan alam yang masuk dalam wilayah aman, dengan sangat berhati-hati meskipun sebagian besar wilayah State of Emergency-nya sudah diangkat. Dan hampir setiap hari pula kami memasak berbagai hidangan bersama di dapur utama asrama.

Karena memiliki 4 musim, saat daun bertumbuh seperti ini, warnanya sungguh-sungguh hijau. [Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Belakangan ini, saya kembali membuka buku pelajaran bahasa Jepang, kembali melihat resep masakan, mencoba memahami cara bercocok tanam hidroponik. Saya berusaha mengingatkan tubuh dan otak saya bahwa saya memiliki target bekerja di sini. Saya tidak ingin sampai terlena, dan larut dalam suka-cita. Begitu juga rekan-rekan saya, mereka tetap giat berolahraga dan terus belajar segala hal. Mereka sangat menginspirasi saya. Saya berpikir untuk beraktivitas seolah-olah saya sedang bekerja. Bangun pagi, sembahyang, memasak, belajar, berolahraga, menciptakan hari-hari yang produktif. Saya ingin bersiap untuk kembali bekerja pada Agustus nanti.

Begitu rencananya, hingga pagi ini, di atas meja ruang bersama, saya melihat amplop putih bertuliskan nama lengkap saya: A A AYU RAHADIANI CWARI. Apa ini?

Oh, tidak. Berantakanlah program sempurna saya. Saya dan pastinya seluruh rekan saya yang terdaftar sebagai penduduk kota Niseko, menerima voucher dari pemerintah yang bisa digunakan untuk makan di restoran-restoran yang ada di kawasan Niseko. Tidak hanya restoran, layanan jasa seperti perbaikan kendaraan, furnitur rumah, toko kebutuhan sehari-hari, hingga pemandian air panas, dan perawatan salon pun bisa kami dapatkan dengan menukarkan 6 lembar voucher ini. Keren sekali bukan? Sekali lagi, saya tidak punya teori tentang bagaimana ini diatur, tetapi, saya berasumsi pemerintah setempat bersinergi dengan seluruh pebisnis wilayah untuk bersama-sama menghidupkan perekonomian.  Ini adalah cara mereka mendukung kebertahanan masing-masing. Ditambah dengan upaya pencegahan virus yang terpercaya, mereka sungguh berusaha.

Kalau begini, saya kan jadi ingin jalan-jalan lagi. Belajarnya nanti saja. Eh, ada whatsapp dari suami. Ya sudah, saya pergi makan setelah belajar. Teman-teman, tetap semangat di sana ya! [T]

Tags: JepangNegeri Sakurapekerja migran
Share272TweetSendShareSend
Previous Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Next Post

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik - [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co