23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Riris Sanjaya by Riris Sanjaya
January 26, 2021
in Khas
Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Ini salah satu jenis sakura, yang ada di sekitaran dam. [Foto koleksi Riris Sanjaya]

Makin hari urusan pandemi ini makin berlanjut. Saya berusaha tidak membaca lagi berita-berita terkait kericuhan yang terjadi, tetapi tetap mengikuti anjuran pemerintah dan para ahli, terutama mengacu pada pesan dan himbauan dari sang suami yang berada di Bali. Tidak ada peringatan yang lebih menakutkan bagi saya yang sedang bekerja di Jepang jauh dari keluarga ini, daripada kata-kata suami yang bagaikan peluru menembus ruang dan waktu.

Sudah sejak bulan lalu, setelah 10 hari bekerja kemudian saya diliburkan hingga akhir Mei, kemudian dikabari bahwa Juni ini juga sama, libur sebulan penuh. Yang sangat saya syukuri, atas bantuan pemerintah Jepang dan kebijakan perusahaan, gaji saya dan seluruh rekan kerja tetap dibayarkan. Sungguh, ini yang namanya makan gaji buta. Semoga saja saya tidak buta memakan gaji.

Begitulah, karena tidak ada tugas dan jadwal yang harus dipenuhi setiap harinya, saya dan teman-teman mulai aktif berinteraksi dan beraksi. Kami mengeksplor kawasan wisata alam yang kami datangi dengan penuh pertimbangan protokoler kesehatan. Apalagi, sebelum libur kami dihimbau untuk tidak bepergian ke daerah-daerah zona kasus berbahaya, demi menjaga daerah Niseko tetap nihil dalam hitungan kasus corona.

Sebelumnya, ada seseorang yang sepertinya hanya demam biasa, sudah dikirim ke pusat kesehatan dan dipindahkan dari asrama. Wiih, saya sungguh sangat berusaha menghindari hal itu. Makanya meskipun agak mahal, saya tetap memesan jamu Tolak Angin dari Online Shop-Indonesian Store yang ada di Tokyo, sambil pesan beberapa tempe dan bumbu masak. Atau kadang-kadang suka diberi gratis oleh sahabat saya dari Bali yang berbeda tempat kerja. Kalau gratis, khasiatnya dobel! Hahaa

Air terjun pertama yang saya kunjungi di Jepang. {Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Tanggal 15 kemarin, kami semua gajian, diberikan 100% karena pemerintah tetap memberikan subsidi. Kemudian, yang awalnya rencana dipotong 20% oleh perusahaan untuk tanggal 15 bulan depan, katanya tidak jadi karena pemerintah masih memberikan dana bantuan. Waah, setelah saya menyampaikan terima kasih pada atasan dengan wajah pura-pura datar, saya berpaling dan membiarkan mulut saya menganga.

Entah apa karena saya bukan warga asli, atau saya memang kurang tertarik untuk mendalami, saya kurang paham bagaimana kebijakan ini diputuskan. Bagaimana proses dan sumber dananya. Bagi saya, bantuan langsung yang diterima tanpa babibu seperti ini begitu menyenangkan, sangat patut disyukuri. Terlebih, Mei lalu, sesaat sebelum putri pertama saya berulang tahun pada tanggal 30, kami semua dikumpulkan di ruang makan utama. Kami diminta mengisi form, untuk menerima bantuan langsung tunai sebesar 100.000 yen per orang. Hah? Bukan hanya untuk warga asli Jepang yang dihitung per-jiwa termasuk bayi, tetapi bagi kami yang juga terdaftar dalam administrasi kependudukan, kami berhak menerima bantuan tersebut. Setelah formulir diiisi sesuai petunjuk, diinformasikan bahwa dana akan diterima 2 minggu setelah pengiriman data. Kemudian setelah satu minggu lebih, saat saya dan rekan-rekan sedang bepergian, beberapa dari kami menarik tunai di bank kantor pos, dan mendapati uang bantuannya sudah masuk ke rekening. Wah, tidak sampai 2 minggu seperti yang disampaikan. Jadilah saya punya kado istimewa untuk si kecil.


BACA Kabar dari Jepang lain yang ditulis Riris Sanjaya


Saya terus bertanya-tanya sambil terus berbahagia, bagaimana bisa, seperti apa, kemudian setelahnya bagaimana, memberikan bantuan dengan sigap dan tanpa banyak ucap. Entah kalau para pengamat politik atau ekonomi, atau siapapun mengutarakan opini mengenai hal ini, saya yang pekerja migran, hanya sangat bersyukur. Sungguh saya bersyukur sekali, mengingat bagaimana pandemi ini memengaruhi perekonomian dunia.

Demikianlah hari-hari saya lalui dengan mengunjungi beberapa kawasan alam yang masuk dalam wilayah aman, dengan sangat berhati-hati meskipun sebagian besar wilayah State of Emergency-nya sudah diangkat. Dan hampir setiap hari pula kami memasak berbagai hidangan bersama di dapur utama asrama.

Karena memiliki 4 musim, saat daun bertumbuh seperti ini, warnanya sungguh-sungguh hijau. [Foto: koleksi Riris Sanjaya]

Belakangan ini, saya kembali membuka buku pelajaran bahasa Jepang, kembali melihat resep masakan, mencoba memahami cara bercocok tanam hidroponik. Saya berusaha mengingatkan tubuh dan otak saya bahwa saya memiliki target bekerja di sini. Saya tidak ingin sampai terlena, dan larut dalam suka-cita. Begitu juga rekan-rekan saya, mereka tetap giat berolahraga dan terus belajar segala hal. Mereka sangat menginspirasi saya. Saya berpikir untuk beraktivitas seolah-olah saya sedang bekerja. Bangun pagi, sembahyang, memasak, belajar, berolahraga, menciptakan hari-hari yang produktif. Saya ingin bersiap untuk kembali bekerja pada Agustus nanti.

Begitu rencananya, hingga pagi ini, di atas meja ruang bersama, saya melihat amplop putih bertuliskan nama lengkap saya: A A AYU RAHADIANI CWARI. Apa ini?

Oh, tidak. Berantakanlah program sempurna saya. Saya dan pastinya seluruh rekan saya yang terdaftar sebagai penduduk kota Niseko, menerima voucher dari pemerintah yang bisa digunakan untuk makan di restoran-restoran yang ada di kawasan Niseko. Tidak hanya restoran, layanan jasa seperti perbaikan kendaraan, furnitur rumah, toko kebutuhan sehari-hari, hingga pemandian air panas, dan perawatan salon pun bisa kami dapatkan dengan menukarkan 6 lembar voucher ini. Keren sekali bukan? Sekali lagi, saya tidak punya teori tentang bagaimana ini diatur, tetapi, saya berasumsi pemerintah setempat bersinergi dengan seluruh pebisnis wilayah untuk bersama-sama menghidupkan perekonomian.  Ini adalah cara mereka mendukung kebertahanan masing-masing. Ditambah dengan upaya pencegahan virus yang terpercaya, mereka sungguh berusaha.

Kalau begini, saya kan jadi ingin jalan-jalan lagi. Belajarnya nanti saja. Eh, ada whatsapp dari suami. Ya sudah, saya pergi makan setelah belajar. Teman-teman, tetap semangat di sana ya! [T]

Tags: JepangNegeri Sakurapekerja migran
Share272TweetSendShareSend
Previous Post

Rasisme, Emon dan Tertawalah Sebelum Dilarang

Next Post

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Riris Sanjaya

Riris Sanjaya

Lahir di Singaraja, kini bekerja di Jepang

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik - [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co