1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Puji Retno Hardiningtyas by Puji Retno Hardiningtyas
June 21, 2020
in Ulasan
Kisah Pelacur dan Beberapa Eksperimen Jurnalistik dan Politik – [Tentang Cerpen-Cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”]

Pengantar

Siapa Yahya Umar? Ia lahir di Bangkalan, Madura, 25 September 1968. Nama Yahya Umar—dikenal sebagai seorang wartawan lepas (freelance), setelah sebelumnya menjadi wartawan Bali Post dan Denpasar Post (Denpost), penulis kumpulan cerpen Foto Bupati di Kamar Pelancur (2020), novel Istana Para Kuli (2016), dan menulis buku-buku bertema politik. Pembicaraan kali ini adalah kumpulan cerpen berjudul Foto Bupati di Kamar Pelacur. Kumpulan cerpen ini terbit di masa pandemi Covid-19, tepatnya Maret 2020 yang diterbitkan oleh Mahima Institute Indonesia. Kumcer ini terdiri atas tiga belas cerpen dan cerpen berjudul “Khotbah Seorang Pelacur” pernah dimuat di Denpost edisi Minggu. Namun, sebelumnya cerpen tesebit menjadi pemenang III dalam Lomba Penulisan Cerpen yang dilaksanakan Balai Bahasa Denpasar tahun 2004 dengan judul “Pak Dewan”. Begitu juga dengan cerpen “Gila” pernah dimuat di majalah Al-Kisah (2004) dan “Romantika” dimuat di Bali Post.

Untuk mengawali pembahasan, hal yang perlu diingat bahwa bagaimanapun juga karya sastra selalu mengedepankan aspek fiksionalitas. Karya sastra sebagai hasil rekaan memperlihatkan kemampuannya dalam membingkai dunia nyata ke dalam dunia fksi. Keduanya, dunia nyata dan fiksi, menyatu dalam balutan fiksionalitas dan disajikan secara estetis. Secara tematik, kumpulan cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur karya Yahya Umar dibagi menjadi dua tema mayor sebagai berikut. Pertama, sebanyak delapan cerpen bertema politik, sosial/tuna wiswa, dan pemberitaan/media masa. Cerpen-cerpen tersebut memperlihatkan adanya pertarungan ideologi. Sebagian ideologi yang muncul dalam cerpen dapat mewakili kelas dominan, yaitu negara, ideologi yang lain adalah suara pengarang yang mewakili kelas subaltern, yaitu masyarakat. Hal ini juga memperlihatkan bahwa ideologi-ideologi yang tampil dalam kedua (“Foto Bupati di Kamar Pelacur” dan “Khotbah Serang Pelacur”) cerpen yang dijadikan sampel pembahasan merupakan representasi pertarungan ideologi yang terjadi dalam masyarakat Indonesia yang masih terjadi hingga sekarang. Kedua, lima cerpen bertema persoalan rumah tangga dan cinta. Cerita-cerita di dalamnya berkiasah tentang hubungan cinta yang “tak biasa” dalam sebuah gaya “realisme fantastis”: seorang suami istri yang kehidupannya belum dikaruani anak, tidak tercukupi kebutuhan rumah tangganya, bahkan sampai poligami. Mari, kita simak kisah-kisah Yahya Umar dalam kumpulan cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur yang menyuguhkan labirin imajinasi yang seolah tak berujung, tetapi di sana-sini membenturkan kita pada pertanyaan tentang perempuan, cinta, pelacur, politik dan politikus, dan jurnalistik. 

Melihat Sastra dan Politik Cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur

Wacana yang muncul dalam cerpen-cerpen Yahya Umar adalah sebuah sistem sosial politik yang terlampau “sederhana” ditunjukkan sedemikan mudahnya pada tokoh bupati yang berkuasa tanpa menampilkan konflik kuasa yang tidak adil dan tidak memiliki akses kuasa. Perhatikan cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur” tidak ada masalah yang memungkinkan tokoh bupati yang berkuasa dengan menggunakan posisinya secara semena-mena demi kepentingan pribadinya. Sebaliknya, tokoh bupati yang digambarkan adalah abstrak karena hanya dalam sebuah poster kampaye yang dipasang di dinding kamar tokoh Suciwati.

“Siapa yang menaruh foto itu,” tangan kirinya menunjuk poster di dinding kamar Suciwati. Lelaki itu menatap tajam perempuan yang baru saja dikencani. Suciwati memandang poster Bupati dan Wakil Bupati.

“Itu kenang-kenangan waktu kampaye,” jawab Suciwati. Santai (Umar, 2020: 3—4).

Dari kutipan tersebut sangat jelas tidak ada jejak pertarungan politik yang dihadirkan dalam cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur”. Bandingkan ketika membaca cerpen Kompas berjudul “Tawanan” karya Tahi Simbolon dan “Mogok” karya F. Rahardi, muncul pertarungan ideologi dekade tahun 1970—1980-an yang merupakan tahun bersejarah bagi pers Indonesia. Peristiwa Malari tahun 1974 adalah “batas air” atau titik tolak performen pers di masa Orde Baru. Nah, kembali pada cerpen “Foto Bupati di Kamar Pelacur” adalah cerpen dengan sekuen cerita kilas balik pada masa kampaye dan persoalan klimaksnya adalah poster calon bupati dan wakil bupati yang menang dan menjabat sekarang dipasang di kamar Suciwati. Karena poster kampaye yang dipasang Suciwati di dinding kamarnya itu dianggap menghina bupati dan wakil bupati. Suciwati dilaporkan oleh lelaki yang mengencaninya dan menjalani sidang dan dijatuhi hukuman 5 bulan penjara potong masa tahanan. Meskipun di awal cerita cerpen, Suciwati dikisahkan tewas dengan kepala remuk, pengarang mampu membawa alur cerita pada ending terbuka. Kehadiran tokoh sentral seperti Suciwati, sekadar hadir dalam cerita tanpa ada karakter kuat dan unik. Apakah perannya sebagai pelacur yang cantik, tubuh yang indah, primadoma kompleks pelacuran, dan langganan pejabat cukup menjadi karakter kuat? Persepsi ini kembali pada pembaca atau kegagalan pengarang dalam menghadirkan fiksionalitas utuh dalam cerpennya.

Terlepas dari “kekuranglengkapan” unsur fiksionalitas dalam beberapa cerpennya, Yahya telah mampu menghadirkan cerita dengan jejak diksi khas jurnalistik yang sangat kuat. Kekuatan jurnalistik lahir dalam cerpen-cerpennya, salah satu faktornya karena pengarang berlatar belakang jurnalistik. Dapat dilihat dari tujuh cerpen lainnya pun bertema sosial politik dan “ada kesan tempelan” bahasa pers yang pengarang sendiri seolah-olah terjebak: antara fiksi dan data faktual yang menjadi ciri bahasa jurnalistik. Pembaca dapat melihat pada cerpen “Elegi Cinta Orang Kota” (hlm. 73–82) dan “Romantika” (hlm. 92–101), bagaimana pengarang “terjebak” dan “keluar” dari fiksionalitas. Terlepas dari kelemahan itu, cerpen ini telah memberikan informasi faktual: peristiwa sosial, sastra, jurnalistik, dan politik yang menjadi pelangi dalam kehidupan.

Dari kacamata analisis wacana kritis, cerpen-cerpen Foto Bupati di Kamar juga memiliki agenda untuk mengoreksi bias-bias yang terjadi akibat politisasi dan mengikutsertakan minoritas yang biasanya tersingkirkan, bahkan disingkirkan dari wacana yang dihadirkan dalam cerpen. Meminjam istilah Gramsci menyebutkan bahwa manusia adalah subjek, fakta yang mengubah sejarah. Dalam wilayah teks, manusia muncul dalam tokoh-tokoh cerita, dalam hal ini tokoh-tokoh dalam cerpen karya Yahya Umar. Teori hegemoni penting dalam analisis ini karena teori hegemoni membantu mengungkap konstelasi kekuasaan yang ada dalam teks cerpen. Namun, justru cerpen karya Yahya Umar tidak mewakili konteks pertarungan ideologi politik yang ditawarkannya. Peristiwa yang sama dihadirkan pada “Khotbah Sang Pelacur” (hlm. 10—21), tokoh Asih dan Pak Susila adalah simbol sosial dan politik. Sekuen tokoh Pak Susila sebagai subjek politikus justru tidak dimunculkan oleh pangarang. Sebaliknya, kemunculan tokoh Pak Susila yang notabene sebagai politisi (anggota dewan) untuk memenuhi nafsunya kepada seorang pelacur bernama Asih. Di lain sisi, pengarang juga memunculkan topik pers yang dihadirkan dalam kecamuk pikiran tokoh Asih. Berikut percakapan dalam cerpen tersebut “…Mulai dari halaman kota, olahraga, sesekali membaca berita politik. Sampai ketika Asih ketemu judul berita “Tak Etis, anggota Dewan Terima Dana Purnabakti Ratusan Juta”. Ada juga berita yang berjudul “Rapor Merah, tak Pantas anggota Dewan dapat Purnabakti”. “Anggota Dewan hanya Bisa Keruk Uang Rakyat, Kinerja tak Becus” (Yahya, 2020, hlm. 14).

Cerpen “Catatan Harian Istri Politisi” (hlm. 22—31); “Dilarang Menjadi Anggota Dewan” (hlm. 32—39); “Karangan Bunga” (hlm. 40—45); “Gila” (hlm. 46–51); “Riniti” (hlm 52—57); dan “Virus” (hlm. 58—64) mempunyai kompleksitas dan pluralitas ideologi yang terbangun dari topik politik yang dihadirkan dari hubungan tokoh cerita. Pluralitas ideologi yang ditemukan dalam kedelapan cerpen. Hanya saja, pluralitas ideologi itu tidaklah sama porsinya dalam setiap cerpennya. Ada ideologi yang dominan, ada yang kurang dominan, dan ada pula yang tidak dominan. Yang paling dominan ideologi cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur adalah kehidupan sosial disusul oleh politik, jurnalistik, kapitalisme, otoritarianisme, materialisme, humanisme, realisme, feminisme, dan seksualisme. Sebagai akhir topik sastra dan politik ini ditemukan sosok tokoh yang berdiri sendiri dengan perwatakan yang cukup kuat, seperti Lena (“Catatan Harian Istri Politisi”), Ibu Sofi (Dilarang Menjadi Anggota Dewan”), Ibu Titik (“Karangan Bunga”), Kak Budi (“Gila”), dan Riniti (“Riniti”). Untuk cerpen “Virus” justru tidak menggambarkan tokoh dengan karakter kuat—warga, para menteri, para pejabat, para pakar dan petugas—semua tokoh hadir dengan peristiwa sendiri-sendiri ketika warga panik menghadapi virus yang menyerang. Pengarang menggunakan metafor virus sebagai pintu masuk kelas sosial masyarakat dan membuka kesadaran perubahan kehidupan. Meskipun karakter tokoh tidak kuat, di sinilah, pilihan pengarang untuk menghadirkan isu sosial yang ingin disampaikan dalam cerpen-cerpennya.

Kisah Cinta dalam Pertarungan Posisi Perempuan

Kelima cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur berkisah tentang cinta dan bagaimana posisi perempuan dalam rumah tangga. Kelima cerpen itu adalah “Seorang Ayah yang Berburu di Kuburan”; “Episode Cinta Orang Kota”; “Luka yang Membisu” (hlm. 83—91); “Romantika” (hlm. 92—101); dan “Cinta yang Menua” (hlm. 102—111). Seperti halnya Socrates berpendapat bahwa hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak layak dijalani. Kelima cerpen tersebut adalah kisah-kisah yang menggambarkan hidup dengan cinta dengan pasangannya, terutama tokoh perempuan yang memilih untuk membahagiakan suaminya. Cinta Ibu dalam cerpen “Seorang Ayah yang Berburu di Kuburan” (hlm. 65—72) sudah tidak mampu menghadapi suaminya yang tidak bertanggung jawab memenuhi kebutuhan rumah tangga. Di akhir kisahnya tokoh Ibu meninggal dalam kondisi hamil, “Ibu tampak terbengong-begong. Aku meronta. Kutendang-tendang perut ibu. Aku ingin mengingatkan ibu agar tidak membiarkan ayah melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. “Ibu, ayah itu lelaki yang tidak bertanggung jawab. Ia ingin jalan pintas. Ayah mau enaknya sendiri,” kataku menggedor-gedor perasan Ibu” (Yahya, 2020, hlm. 67).

Cerpen lain berjudul “Episode Cinta Orang Kota” (hlm. 73—82) yang menyuarakan harapan pengarang agar perempuan mampu tegar dan mampu menolak keinginan laki-laki yang merugikan dirinya, dan perempuan juga harus mau beraktivitas di dunia publik tidak hanya mengungkung diri di dunia domestik. Namun, persoalan akan menjadi lain ketika pasangan suami istri belum dikaruniai seorang anak. Seperti yang dilakukan oleh tokoh Esti yang memutuskan tidak berangkat kerja ketika pikirannya berkecamuk antara anak dan pekerjaan. Perhatikan kutipan ini “Sesampainya Esti di rumah, Ajat langsung menunjukkan keheranannya. Tidak seperti biasanya Esti seperti itu. Biasanya ia selalu bersemangat bekerja. Meliput berbagai peristiwa dan menulisnya menjadi berita…” (Yahya, 2020, hlm. 81). Mungkin akan ada pandangan negatif dari masyarakat sekitar, tetapi perempuan harus bergerak maju dan sukses. Namun, peran domestik perempuan pun tetap dijaga dan dipertahankan. Hal tersebut pun seiiring dengan cerpen berjudul “Luka yang Membisu”, tokoh perempuan bernama Sofi harus merelakan suaminya menikah dengan perempuan lain “Oh, syukurlah. Jadi, Sofi setuju Sulaiman kawin lagi? Wajah ibu mertuanya merona. Sofi mengangguk pelan. Anggukan yang menusuk-nusuk luka di hatinya. Sofi menguatkan perasannya” (Yahya, 2020, hlm. 89). Dari kelima cerpen yang menggambarkan citra perempuan atau ibu menunjukkan bahwa pengarang masih menginginkan perempuan menyadari kodratnya sebagai seorang ibu, meskipun mereka juga menuntut kesetaraan dengan laki-laki. Gambaran tersebut ada dalam tokoh yang diciptakan pengarang.

Peran perempuan yang ditonjolkan dalam cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur adalah idealogi feminisme moderat, yaitu feminisme yang mempunyai ideologi yang tidak menentang perkawinan dan tidak menganjurkan perempuan untuk melajang seumur hidup. Ideologi ini menjunjung tinggi kodrat perempuan yang memungkinkan perempuan untuk melahirkan dan merawat anak. Feminisme moderat mendukung perempuan untuk melakukan tugas-tugas alami. Di samping itu, feminisme moderat juga menganjurkan agar perempuan bisa hidup mandiri, baik secara intelektual maupun secara ekonomis karena kesanggupan ini akan membuat perempuan memiliki kedudukan sejajar dan akan melepaskan ketergantungan dirinya pada laki-laki. Inilah cara Yahya Umar dalam bercerita dalam cerpen-cerpennya yang dapat dikatakan “sederhana”, tetapi sarat dengan masalah yang mendasar mengenasi ketidakadilan kehdiupan sosial/tuna wisma, politik, jurnalistik dalam sastra.

Penutup

Kesaksian sastra dalam cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur ini bentuk ungkapan pengarang terhadap represifnya poltik di Indonesia, semakin menguatkan kepercayaan masyarakat bahwa sastra memiliki peran penting dalam berkebudayaan. Sastra dengan fiksionlitasnya bercerita kisah kehidupan pelacur yang trelibat dalam perpolitikan di Indonesia, bahkan media massa berperan sebagai kontrol sosial dan fakta dalam kehidupan masyarakat. Ketiga unsur tersebut hadir dalam cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur menjadi data pelengkap karya sebagai strategi estetika sastra. Sekali lagi, pengarang memahami cara bercerita dalam sebuah cerpen menjadi menarik dengan tema yang diangkatnya dan bagaimana pembaca menghayatinya. Selamat membaca kumpulan cerpen Foto Bupati di Kamar Pelacur. [T]

  • Tulisan ini telah disampaikan dalam acara Ngobrol Seputar Bali (Ngobali), Minggu, 14 Juni 2020, pukul 16.00—18.00 Wita melalui virtual (zoom).
Tags: BukuCerpenjurnalismekumpulan cerpenPolitikresensi buku
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Oh, Jadi, Ini yang Namanya Makan Gaji Buta? | Kabar dari Jepang

Next Post

Pangan, Hidup Mati Bangsa

Puji Retno Hardiningtyas

Puji Retno Hardiningtyas

Penulis, peneliti sastra, bekerja di Balai Bahasa Bali

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pangan, Hidup Mati Bangsa

Pangan, Hidup Mati Bangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co