23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nyanyi Menggunakan Basa Nosa, Dapat Apa?

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 20, 2020
in Opini
Nyanyi Menggunakan Basa Nosa, Dapat Apa?

Salah Satu Klip Nanang Mekaplar Berlatar Alam NP. Screenshot Video Klip Lagu “Babar Mekaplar”

Bernyanyi menggunakan bahasa nasional? Ah, biasa aja kali! Atau bernyanyi menggunakan bahasa daerah, misalnya bahasa Bali? Itu pun mungkin dirasakan sudah biasa. Sudah banyak. Bagaimana kalau bernyanyi menggunakan bahasa Bali dialek Nusa Penida (basa Nosa)? Nah, ini pasti tidak biasa alias langka! Akan tetapi, kenyataannya memang ada, lho!

Sebut saja Nanang Mekaplar dan Kalego Ajoesbedik. Hingga kini, keduanya sama-sama konsisten—kreatif menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu berbasa Nosa terutama di panggung medsos (youtube). Terus, mereka dapat apa, sih?

Setahu saya, Nanang Mekaplar merupakan pionir penyanyi berbasa Nosa, sedangkan Kalego bisa disebut sebagai regenerasinya. Sebagai pionir, setidaknya Nanang Mekaplar sudah menelurkan 2 album yaitu Ledok-Ledok dan Gending Nusa Penida. Jika pada album pertama berbentuk keeping VCD, maka album kedua beredar dalam bentuk cakram DVD dengan format audio MP3 dan digarap di EMP Studio Jakarta. Lagu-lagu Nanang juga dapat dinikmati lewat medsos.

Salah Satu Klip Nanang Mekaplar Berlatar Alam NP. Screenshot Video Klip Lagu “Babar Mekaplar”

Tema-tema lagunya cukup beragam mulai dari soal cinta (romantisme), kritik sosial, spiritual, kearifan lokal, alam (geografi) dan lain sebagainya. Namun, dari beragam tema yang diusung oleh Nanang Mekaplar, sejatinya sangat kental dengan spirit kecintaan terhadap tanah air NP. Hal ini diperkuat oleh video klipnya yang hampir 98 persen berlatar belakang geografi NP—sehingga ada kesan kuat bahwa menonton klip Nanang Mekaplar—kita seolah-olah digiring berwisata menikmati pesona Pulau NP secara virtual.

Komitmen bermusik (basa Nosa) Nanang Mekaplar pantas mendapat acungan jempol. Meskipun bernaung di bawah payung indie label, tak membuat Nanang bermusik asal-asalan. Pria yang bernama asli I Ketut Sudiarta ini tampak serius mulai dari proses kreatif penciptaan lagu, pembuatan video klip, hingga proses rekaman. Bukan hanya menguras pikiran, energi, waktu, melainkan juga menghabiskan isi kantong (modal). Namun, semua dapat dilaluinya tanpa alangan serius oleh Nanang Mekaplar, yang juga seorang doktor, dosen STAHN di Palangkaraya ini.

Berbeda dengan Kalego. Ia justru terjun ke dunia musik NP dengan modal nekat. Coba tonton videonya di youtube! Terlihat sangat sederhana. Menonton Kalego di youtube seperti menyaksikan penyanyi yang sedang live di satu tempat—dengan alat musik yang sangat sederhana yaitu berupa gitar akustik saja.

Meskipun demikian, Kalego bukan seniman kacangan. Lagu-lagunya di youtube mendapat sambutan luar biasa dari pencinta lagu basa Nosa. Hingga saat ini, ia berhasil mengantongi subscriber mencapai 15,5 ribu (Nanang justru masih di angka 6 ratusan). Sebuah pencapaian angka yang cukup spektakuler. Padahal, pria yang suka nyeleneh dan ngoceh ini baru dikenal oleh pecinta lagu basa Nosa beberapa tahun lalu.

Hingga sekarang, Kalego belum melahirkan album. Lelaki slengehan dan terkenal humoris ini masih menciptakan lagu-lagu secara sporadis, lalu mengunggah di chanel youtubenya. Tema-tema lagunya sangat ringan dan simpel. Dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, ia mampu mengemasnya ke dalam lirik-lirik lagu ala dirinya yang khas. Sederhana, kocak, tetapi bobot kritik sosialnya “mekaplar” dan menyentuh.

Sama halnya dengan Nanang Mekaplar, lagu-lagu Kalego juga dapat dinikmati oleh hampir semua kalangan masyarakat baik kelas bawah, menengah maupun kelas atas. Pun dari segala umur mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Karena lirik lagunya tidak terlalu puitis, tetapi seperti bahasa komunikasi sehari-hari, sehingga mudah dipahami oleh penutur basa Nosa.

Baik Nanang Mekaplar maupun Kalego sama-sama mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat NP. Keduanya mendapat apresiasi dari penutur basa Nosa yang tinggal di Pulau NP, Bali daratan, daerah trasmigrasi bahkan di luar negeri. Umumnya, mereka menyambut baik adanya penyanyi berbasa Nosa. Lalu, Nanang dan Kalego dapat apa?

Pertanyaan ini pantas diajukan mengingat jumlah penutur basa Nosa terbatas. Rasionalnya, pendengar/ penikmatnya terbatas pula, kan? Jumlah penutur setidaknya berpengaruh terhadap ruang lingkup penikmatnya. Semakin luas jangkauan bahasa yang digunakan oleh sang penyanyi, maka makin terbuka lebar untuk meraup penikmat (penggemar) lebih banyak.  

Kalau berpikir untung/ rugi, rasanya agak sulit memperoleh finansial yang menjanjikan dari total menjadi seorang penyanyi (musisi) lagu berbasa Nosa. Realita bicara bahwa pangsa pasarnya sangat terbatas. Sehebatnya-sehebatnya musisi NP, mereka tetap bergulir di seputaran penutur basa Nosa.

Persoalan akan berbeda apabila status penyanyi lagu Nosa mereka jadikan sebagai batu loncatan. Misalnya, setelah unjuk kualitas dan mimiliki massa, mereka menggandeng musisi kelas lokal Bali. Bisa jadi popularitasnya kian melebar. Lebih luas lagi misalnya, menggandeng musisi nasional atau internasional. Bisa jadi, kan?

Jika demikian adanya, semua pihak akan diuntungkan. Pertama, menguntungkan musisi itu sendiri karena potensial mendatangkan profit. Ya, mereka akan memiliki massa (penikmat) dan sekaligus pangsa pasar yang lebih luas. Artinya, potensi untuk meraup finansial lebih terbuka. Kedua, menguntungkan masyarakat NP karena berpeluang mempromosikan basa Nosa lebih luas ke publik. Jika sudah dikenal oleh massa di luar penutur NP, tentu lebih mudah menarik massa. Apalagi massa itu merupakan penggemar. Kok, bisa?

Anggaplah mantan penyanyi Nosa sudah menjadi idola masyarakat Bali atau nasional misalnya, maka lebih mudah mereka mempopulerkan basa Nosa. Lagu dalam bahasa apapun (termasuk basa Nosa) yang nantinya dibawakan, penggemar  pasti akan berusaha menikmatinya. Dengan kata lain, mereka (para penggemar) sesungguhnya sedang belajar basa Nosa.

Mungkinkah Nanang Mekaplar atau Kalego akan melakukan lompatan itu? Biarkan waktu yang menjawabnya nanti. Sekarang, coba ditimbang mereka dapat apa dari komitmen bernyanyi basa Nosa di medsos. Ya, mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa mereka ingin ketenaran, follower atau sekadar melampiaskan ekspresi berkreasi (seni). Menurut saya, misi tersebut mungkin ada, tetapi persentasenya tidak besar.

Penyanyi Nosa dan Soal Dedikasi

Kecenderungan yang saya lihat justru kepada misi “memberi” (meyadnya), bukan berorientasi pada materi atau finansial. Mereka (para penyanyi Nosa) mempertaruhkan dedikasinya demi tanah kelahiran. Dedikasi untuk menunjukkan bahwa betapa mereka sangat bangga dan cinta terhadap Pulau NP. Dedikasi inilah yang mendorong mereka berani menyanyikan lagu berbasa Nosa di panggung youtube. Mengapa saya katakan “berani”? Karena faktanya, basa Nosa masih dianggap sebagai dialek ledekan, walekan dan bullyan—walaupun sering dalam konteks bercanda.

Salah Satu Klip Nanang Mekaplar Berlatar Alam NP. Screenshot Video Klip Lagu “Babar Mekaplar”

Saya menangkap, ada komitmen dari seorang Nanang dan Kalego untuk mengangkat martabat orang NP melalui bernyanyi dengan mengunakan media bahasa. Mereka ingin menunjukkan ke publik bahwa orang NP dengan dialeknya tidak lagi relevan dipandang sebagai stereotip terisolir (terbelakang)—yang selama ini mungkin memberi efek minder kepada beberapa penutur NP. Sebaliknya, Nanang dan Kalego menginginkan kesetaraan dialek, bukan “kasta dialek”. Basa Nosa adalah salah satu bentuk dialek daerah, yang kelasnya sama dengan dialek-dialek daerah lainnya di Bali.

Selain itu, saya juga melihat Nanang dan Kalego tak ubahnya seperti guru sekolah. Mereka mendidik regenerasi NP untuk belajar basa Nosa. Sasarannya, terutama kepada orang NP yang tidak menggunakan basa Nosa sebagai bahasa ibu. Lewat lirik-lirik lagunya (yang tertulis), mereka hendak mengajarkan orang-orang belajar basa Nosa secara tertulis. Setidaknya, membantu orang-orang ketika belajar mengeja basa Nosa.

Kemudian, dari rekaman audio, mereka ingin membelajarkan orang tentang pelafalan basa Nosa dengan tepat. Selama ini, jarang ada basa Nosa dalam bentuk teks tertulis maupun rekaman audio. Biasanya, hanya sebagai keperluan komunikasi lisan dan berlalu begitu saja. Dengan adanya arsip bahasa dalam bentuk tulisan dan rekaman audio, sangat membantu orang untuk mempelajari linguistik basa Nosa lebih komprehensif.

Jadi, bukan hanya menjadi guru, keberadaan lagu-lagu berbasa Nosa juga menjadi referensi dan museum digital. Kondisi ini menyebabkan orang dengan praktis dan mudah belajar basa Nosa hanya lewat jejak digital. Cukup terkoneksi dengan internet, maka orang dapat dengan mudah belajar basa Nosa. Ke depan, referensi dan museum digital ini juga menjadi semacam penyelamat budaya NP. Penyelamat seandainya penutur basa Nosa kian terpinggirkan atau mungkin di ambang kepunahan misalnya. Di samping itu, tentu dapat membantu para peneliti/ pakar linguistik yang tertarik untuk meneliti basa Nosa.

Di luar guru sekolah dan arsip, Nanang dan Kalego juga merupakan duta gratis untuk NP. Duta untuk mempromosikan secara ikhlas budaya lokal dan pariwisata NP. Lewat tema-tema lagu garapannya, mereka ingin menyampaikan kepada publik bahwa NP memiliki budaya yang unik dan adiluhung. Budaya yang tidak kalah beradabnya dengan daerah-daerah lainnya di Bali. Budaya-budaya itulah yang mestinya terus diekspos dan dipromosikan untuk menimbulkan kesadaran apresiasi kepada publik.

Kalego dan terutama Nanang Mekaplar juga gencar mempromosikan pariwisata NP. Nanang mempromosikan objek-objek wisata dengan menjadikanya sebagai latar dalam setiap video klipnya. Bentuknya ada yang berupa foto-foto slide. Akan tetapi, lebih banyak menggunakan rekaman video langsung di objek-objek wisata di NP. Nanang sangat menyadari bahwa panggung bermusik (di medsos) merupakan media efektif untuk mempromosikan berbagai aspek sekaligus. Karena itulah, ia memasukan aspek budaya, bahasa, dan termasuk pariwisata dalam sekali tindakan.

Banyak hal yang didedikasikan seorang Nanang dan Kalego. Ia tidak hanya menghibur, tetapi “ngayah” membantu mempromosikan sosio-kultural dan pariwisata NP. Namun, endingnya mereka adalah alarm identitas bagi orang NP. Alarm agar orang NP tidak gampang tergerus identitas ke-nusa-annya. Sebaliknya, orang NP harus tetap eksis dengan identitasnya. Apalagi, mereka menyadari bahwa NP terdampak pariwisata yang siap mempengaruhi bahkan mungkin menggerus identitas orang NP.

Namun, bukan berarti orang NP menutup diri terhadap perubahan global. Orang NP tetap terbuka, tetapi jangan sampai tercerabut dari akar identitas ke-nusa-annya. Mereka (musisi Nosa) mendedikasikan dirinya terhadap hal itu. Sesungguhnya, mereka sudah memiliki “kesadaran awal” tentang identitas sebelum masyarakat umum NP menyadari hal tersebut. Karena itu, jangan lagi bertanya mereka mendapatkan apa? Akan tetapi, cobalah berhitung jumlah dedikasi yang disumbangkannya kepada pulau tercinta, NP. [T]

Tags: lagumusikNusa Penida
Share192TweetSendShareSend
Previous Post

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Next Post

Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

Pandemi, Momentum Menjaga Spirit Gotong Royong.

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co