14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Wayan Sumahardika by Wayan Sumahardika
June 19, 2020
in Ulasan
Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Datanglah ke warung makan Men Brayut, Denpasar pukul 10.00 wita. Masuklah. Cari lelaki tambun, baju kaos, celana pendek, dengan rambut klimis disisir rapi. Ia biasa nyempil di sudut utara ruang menghadap selatan, mengetik depan komputer, dengan wajah dingin seolah tak boleh ada mengganggu. Maka bisa dipastikan ialah Jong.

Di Canasta Creative Space, cermati lelaki yang kerap lalu lalang tergesa. Sesekali ia jalan sumbringah sembari menembang kidung Bali, kadang nyelonong lesu begitu saja seperti angin. Atau saat pentas Teater Kalangan, ada aktor dengan warna vokal nyaring, bicaranya tertata, sekali waktu meletup seperti gelak penari bondres membuat gerr para penonton, maka tak usah diragukan lagi, aktor itu tak lain tak bukan adalah Jong.

Jong Santiasa Putra. Bila dikorek muasalnya, ia anak Bali tulen dari keluarga menak (berkasta). Namun suka sekali ia tempatkan dirinya pada dua sisi realitas yang saling bertolak belakang. Di Bali, pada lingkungan masa kecilnya tentu kental akan adat tradisi, sor singgih, dan segala tetek bengek perihal tata titi ala puri. Beda dengan Surabaya, tempat ia mengenyam kuliah kemudian. Keras, kasar, macet, dan panas.

Di Bali pada masa remaja, ia aktif dalam kegiatan sastra dan teater, di Surabaya Universitas Airlangga ia sibuk bergelut dengan masa lalu, dalam kerja-kerja antropologi forensik yang lebih banyak mengidentifikasi profil biologis dan kerangka manusia. Maka dapat dibayangkan bagaimana sulit ia mengoreksi tubuh sehari-harinya. Dari Bali pindah ke Surabaya, lalu balik lagi ke Bali. Mengoreksi tubuh sastra dan teaternya menjadi tubuh antropolog, kemudian kembali pada tubuh sastra dan teater.

Sebab Jong bukan tipe orang yang manut-manut saja di suatu tempat. Saya mengenalnya pertama kali pada tahun 2007 di Teater Angin SMA N 1 Denpasar. Saya kelas 1, ia kelas 2. Sebagai senior, ia adalah salah satu yang paling ‘nyeniman’ kala itu. Tubuhnya selalu gelisah. Pada setiap pertemuan, selalu dibawakannya kami cerita, mulai dari pentas yang ditonton, sosok yang ditemui lengkap dengan kutipan, hingga kata-kata puitis yang diucapkan berkali-kali.

Berkali-kali ia datang membawa cerita, berkali-kali pula kami dibuat gelisah. Ada jarak lebar antara kami yang baru mengenal sastra dan teater dengan Jong yang berproses sejak di Teater Lingkar SMP N 2 Denpasar. Apalagi dengan segala kegiatannya di Komunitas Sahaja yang kala itu sedang giat menggembleng anak muda menulis sastra. Oleh karena itu, Jong bukanlah nama yang baru nyempil dalam lingkungan sastra dan teater di Bali. Di bawah ini saya kutipkan puisi berjudul ‘Penyair, Halaman Belakang’ yang ditulisnya tahun 2008, masa-masa awal ia menulis puisi.


Beginilah rasanya jadi penyair

saat kata-kata menjemukan

saat kata-kata tak memberi makna

andai kata bisa memilih

            aku akan bersembunyi

            dilubang cacing paling dalam

bertapa, menikmati kesendirian


Selain puisi, Jong juga menulis esai, cerpen, dan naskah drama. Di belakang panggung, ia jadi sutradara, pimpinan produksi.dan manajer program, sedang di panggung ia adalah aktor. Pada bidang musik, ia kerap diminta pertimbangan oleh kawan-kawan musisi sepantarannya dalam mengolah materi musik yang dimiliki. Sedang pada bidang rupa, diam-diam Jong suka membuat seni kolase. Kolase pada buku inipun ia garap sendiri di waktu senggang, yang biasa ia pajang sebagai pemanis warung tempat kerjanya.

Karena banyaknya kerja yang dilakukan Jong, dalam pergaulan sekitar kami ada istilah, ‘Jong lagi, Jong lagi’ atau ‘Lagi-lagi Jong’ atau ‘Happy dulu Jong’. Usai kegiatan ia biasa menghilang tanpa jejak. Kalau tak hilang, ya mengurung diri di Canasta kamar kerjanya. Setengah telanjang, mengaduh keenakan dipijit oleh siapapun yang bersedia memijatnya. Berselang tiga hari, jika ada dering HP berkali-kali memanggil, bisa dipastikan itu ‘Jong lagi, Jong lagi’. Sebab hanya Jonglah yang rajin menata jadwal kegiatan. Salah seorang kawan bernama Pepi sampai menulis kontak whatsapp Jong dengan nama, ‘Astaga Jong’. Karena apabila Jong menelponnya, pastilah itu soal pekerjaan.

Ketegangan semacam ini tertaut pula pada kesehariannya bekerja. Tubuh Jong seakan tak henti mencari mana ruang, mana situasi, mana kondisi paling nyaman dan pas atas dirinya. Pernah ia jadi wartawan di salah satu koran ternama di Bali. Keseharian menulis berita, rute yang itu-itu saja, membuatnya banting stir jadi pedagang nasi betutu. Ketika nasi betutunya mulai ramai, eh malah ditutup, lalu jadi manajer kreatif di Men Brayut. Alasannya, lagi-lagi soal kerja yang monoton.

Rumah makan yang vakum tersebut ia rombak sedemikian rupa, hingga jadi ramai seperti sekarang, plus dengan nasi betutu racikannya yang kini nyempil di daftar menu. Ia menang banyak. Betutu jalan, kerjaan lancar, dan yang paling penting, punya waktu luang untuk jadi seniman, katanya. Maka simak bagaimana ia meluangkan rutinias seharinya ke pasar badung membeli bahan betutu lewat puisi ‘Pasar Badung Sore itu’.


Penjagal daging berkulit merah

siaga mengayunkan belati

pada siapa yang  berpasrah

sebab penuh kerja sore ini


Demikianlah Jong menata rutinitas hari-harinya. Begitu gelisah. Begitu tegang. Begitu sembrawut. Hal ini menjadi penting untuk dicermati dalam rangka membaca puisi Jong. yang justru berkebalikan dengan apa yang dikerjakan biasanya.  Jika di panggung, Jong sangat eksploratif, di belakang panggung idenya menggebrak, di tatkala.co tulisannya begitu kritis, namun pada puisi ia begitu sunyi dan penyendiri. Dalam konteks ini, kumpulan puisinya dapat dimasuki lewat jalur depan ataupun jalur belakang. Lewat pandangan Jong sebagai penulis atau pandangan Jong sebagai seorang kawan.

Lewat pandangan sebagai penulis, tema-tema pada puisi Jong lebih banyak mengangkat tentang tempat-tempat yang ia singgahi, seperti puisi ‘Tersesat  Denpasar’, ‘Mola Mola di salah satu pemberhentian’, ‘Bayang di Kelir, Menuju Singaraja’ dan ‘Perjalanan Satu Menuju Rompyok Kopi  Jembrana’. Kita seolah  diajak menyelami perjalanan seorang antropolog menyusuri jalan satu ke jalan lainnya. Bedanya, jika antropolog merekam lewat catatan perjalanan, Jong justru mengantonginya jadi puisi. Meminjam laku petani, sampai penjaga villa. Meraciknya dalam diri kemudian dibentangkan jadi puisi. Sebagaimana puisi ‘Seandainya Kata-kata Pecah di Keningmu’, yang sekaligus menjadi judul buku kumpulan puisi ini.


Lihatlah di sana kawan,

tiga botol bir mengapung di permukaan

dua botol adalah doa petani garam

meminta kemarau lebih panjang

sebab jika panen gagal kali ini

ia hanya bertaruh pada ibu kota

atau mencoba nasib baik 

menjadi penjaga villa  


Sementara sebagai seorang kawan, membaca puisi Jong adalah membaca ruang pribadi yang jarang ditunjukan ke hadap publik. Jika dicari lebih dalam lagi, ternyata tak satupun ada nama Canasta, Men Brayut, atau  tempat semacamnya yang biasa ia datangi untuk menggelar pertunjukan. Jong seakan memberi jarak pada kerja panggung dan puisinya. Ia menjelma sebagai pribadi lain yang hanya dengan membaca puisinyalah kami bisa menemuinya. Seolah pada puisilah, tempatnya menundukan kepala, istirahat sejenak akan segala macam kerja yang melindas tubuhnya. Apakah ini yang dinamakan puisi sebagai ruang sunyi penyairnya? Yang tak ada satupun orang bisa memasuki?

Puisi-puisi Jong dalam buku ini ditulis pada rentang tahun 2008 sampai 2019, dari semasa Jong SMA sampai sekarang. Sayang, puisi-puisi yang ia tulis semasa SMP tak dapat ditemukan jejaknya. Namun, hal ini tentu tak mengurangi nilai pembaca untuk menikmati proses tumbuh dirinya dalam meracik puisi. Dalam jarak 11 tahun ini, kita dapat melihat usaha Jong menerjemahkan sejarah tubuhnya sendiri ke dalam tubuh puisi. Bagaimana tubuh ulang alik Bali-Surabaya, seniman-pedagang, sastra-antro saling tarik menarik sekaligus baur membaur jadi satu.

Tubuh Jong adalah satu dari sekian banyak tubuh pemuda Bali yang tengah berusaha merancang nasibnya sendiri, atas ketegangan anasir-anasir luar yang senantiasa melintasinya. Manakah sesungguhnya yang paling autentik dalam sejarah tubuh kita ini? Terkalah! Via kata paling jujur bernama puisi.


Petualang datang selalu sangsi

memilih nasib tangan

atau menyendiri jadi jalan puisi.

Selamat, Jong! Happy dulu, Jong!


Denpasar, 2019

Tags: Bukukumpulan puisiPuisiresensi buku
Share49TweetSendShareSend
Previous Post

Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

Next Post

Nyanyi Menggunakan Basa Nosa, Dapat Apa?

Wayan Sumahardika

Wayan Sumahardika

Sutradara Teater Kalangan (dulu bernama Teater Tebu Tuh). Bergaul dan mengikuti proses menulis di Komunitas Mahima dan kini tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Pasca Sarjana Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Nyanyi Menggunakan Basa Nosa, Dapat Apa?

Nyanyi Menggunakan Basa Nosa, Dapat Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co