23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

Putri Wulan by Putri Wulan
June 19, 2020
in Esai
Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

ilustrasi diolah dari sumber Google

Memasuki umur 20 tahunan adalah masa-masa paling rentan. Rentan akan permasalahan kehidupan, target menyelesaikan sekolah serta mulai tahu betapa susahnya mencari pekerjaan. Intinya ialah bagaimana membangun suatu rasa tanggung jawab pada diri sendiri. Menjadi sedikit menyebalkan, ketika ke-kepo-an orang-orang sekitar dan sanak saudara mulai memberi pertanyaan-pertanyaan berkelanjutan tiada akhir.

Pertanyaan iseng sih, tapi tidak semua bisa dengan santai tanpa beban menjawabnya.

Tak sedikit yang merasa tidak nyaman dan bahkan malah marah sampai buat status di social media, dan ternyata dilihat oleh orang yang memberi pertanyaan tersebut, lalu orang itu marah dan balik ‘ngegas’ dan terjadilah suatu perdebatan. Karena sejatinya tidak afdol kalau emosi tidak buat staus dimana-mana, bukankah begitu, sobat baper?

Pertanyaan level 1 biasanya dimulai dari “Kapan skripsi-an?” dan menjalar menjadi “wah Kapan nih wisuda?”. Ketahuilah, para mahasiswa, memiliki bebannya sendiri dalam menyelesaikan study mereka. Beberapa mungkin mulus-mulus saja, tapi untuk yang mengalami kesulitan dalam mengambil mata kuliah atau yang harus mengulang beberapa mata kuliah karena nilai yang dicapai kurang memuaskan, tentu akan memakan waktu lebih lama untuk mencapai tugas akhir. Dan apabila diantara mereka sedang membuat tugas akhir, apakah mereka mudah membuat suatu topic bahasan yang mereka pilih sebagao tugas akhir?

Tidak semudah itu. Mereka harus bulak-balik ke perpustakaan, mencari bahan kesana-kemari, bertemu dosen untuk review saja tidak mudah. Dari pengalaman saya dan teman-teman seperjuangan membuat tugas akhir, bertemu dosen seperti bertemu artis. Apabila dosennya memang mengayomi dan pengasih, pasti akan membimbing mahasiswanya dengan mempermudah pertemuan dan memberikan revisi dengan cara yang mudah ditangkap oleh mahasiswa.

Nah, seandainya mendapat dosen yang kiranya “mengospek” mahasiswanya. Menjadi PHP (Pemberi Harapan Palsu) ketika janji untuk bertemu, marah-marah dulu karena moody, atau memberi revisi yang gamang, susah di mengerti dan memberi bahan bacaan yang sangat susah dicari. Mencari bahannya sudah sepeti mencari kitab suci, Ya Gusti, tugas akhir bebannya sangatlah berat, belum lagi didera pertanyaan “kapan lulus”.

Rasanya batin menjerit dan meronta-ronta ingin menjelaskan tapi dirasa sia-sia saja, malah akan membuang-buang tenaga. Kebanyakan mahasiswa berubah perasaannya dan menjadi bad mood ketika ditanya, merasa ke-trigger berubah menjadi rasa cemas karena tugas akhir yang tak kunjung selesai karena berbagai kendala seperti yang dijelaskan di atas.

Naik satu level, ke level selanjutnya ialah pertanyaan “Sudah punya pacar belum?” baik, ini bisa diatasi dengan jawaban singkat padat jelas, dan kebawa perasaan seperti “belum, hehe” tambahkan ‘hehe’ untuk terlihat lebih tegar. Selesai sampai disitu, karena orang-orang biasanya akan melanjutkan pertanyaan mereka ke level 2A, yaitu “Kapan Menikah?” apabila jawabanmu adalah “Ya, saya sudah punya pacar” atau mereka tau kalian sudah punya pacar dan sudah berhubungan sejak lama. Tipe pertanyaan ini seperti ombak, akan terus ada dan mungkin saja semakin intens dan dalam skala besar apabila sedang berkumpul dengan keluarga besar.

Untuk yang sudah memiliki pacar mungkin akan gampang saja menjawab, karena memang sudah ada planning atau yah santai lah tinggal jawab yang ada, tapi tetap mereka akan merasa sedikit terganggu bagaimana pun ketika orang-orang sudah mulai memaksa dan memberi pertanyaan macam it uterus menerus kita akan merasa risih. Apalagi untuk yang belum memiliki pacar, yang sebenarnya mereka belum focus ke arah memiliki hubungan dengan seseorang, bisa jadi masih focus meniti karir atau memiliki kesibukan lain yang penting dibandingkan dengan mencari pacar, bahkan ada yang enjoy dengan kesendiriannya.

Kembali lagi pada pengalaman pribadi, di umur saya sekarang yang memasuki angka 28 tahun, pertanyaan seperti itu pasti ada setiap saya pulang kampung. Apalagi di saat saudara-saudara seumuran sudah habis karena sudah lebih dahulu menikah. Bagi mereka, umur saya sudah layak untuk menikah, tetapi bagi saya, tidak usah dijawab cukup senyum atau tertawa lebay dan pergi dari kerumunan. Menurut saya pribadi, saya tidak akan pernah buru-buru dan terpaksa menikah hanya karena umur.

Tapi teman-teman saya kebanyakan merasa sangat terganggu dan tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Bahkan ada yang menargetkan dirinya, harus memiliki pacar, siapa pun itu dan segera menikah, akhirnya apa? Setelah sebulan menikah, merasa kurang cocok. Salah pilih pasangan katanya.

Sampailah kita pada pertanyaan level atas disaat seorang sudah meraih semuanya, lulus sekolah, mendapatkan pacar, dan sudah menikah. Ya, “Kapan punya momongan?”. Ini menjadi beban tersendiri bagi sepasang suami istri, bahkan bisa menjadi pemicu mereka untuk memulai perdebatan. Saya mengutip dari halaman web hellosehat.com ada beberapa faktor pasangan belum memutuskan untuk memiliki anak, diantaranya setiap pasangan memiliki rencana sendiri dan pilihan setiap orang berbeda, dalam hal ini beberapa pasangan memilih untuk tidak memiliki anak

Selain itu menurut saya ada faktor lain lagi seperti salah satu pasangan mungkin sulit untuk memiliki anak. Masih saya kutip dari website yang samapertanyaan macam ini akan menambah beban mereka dan bisa memicu stress dan trauma. Stres di sebabkan karena pertanyaan yang bertubi-tubi. Bahkan stress itu sendiri memiliki pengaruh cukup besar bagi seorang istri yang memang ingin memiliki anak. Sedangkan trauma, bisa disebabkan dari seorang istri yang baru saja mengalami keguguran dan mendapatkan pertanyaan serupa bahkan lebih kejam seperti “kok belum hamil lagi?”, memberikan pertanyaan tersebut seperti menorehkan luka pada pasangan tersebut. Mereka pastinya membutuhkan waktu yang cukup untuk memulihkan duka dan trauma dan sehingga belum siap memiliki anak dulu.

Ketahuilah tidak bijak rasanya menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat privasi kepada orang-orang yang kita temui. Bahkan untuk seorang saudara sekalipun. Namun bagaikan sebuah ironi, pertanyaan tiada akhir seperti diatas susah untuk tidak menjadi kebiasaan di masyarakat. Bijaklah dalam perkataan, berpikir dan pertimbangkan sebelum bertanya demikian. Tidak akan ada yang tahu bagaimana situasi dan kondisi mood dan mental seseorang dan bagaimana mereka meresponnya. [T]

Tags: Keluargamahasiswamenikahpacarpacaran
Share99TweetSendShareSend
Previous Post

Teori Konspirasi, Selalu Asyik & Mendebarkan

Next Post

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Putri Wulan

Putri Wulan

Lahir di Denpasar, 25 Maret 1992. Seorang Mental Health Survivor, yang menjadikan menulis sebagai alat yang membantunya untuk bangkit dan kembali memiliki tujuan hidup. Menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana dan lulus di tahun 2015. Suka menulis, menonton, mendengarkan musik, dan jalan-jalan.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co