2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

Putri Wulan by Putri Wulan
June 19, 2020
in Esai
Kapan Nikah, Kapan Punya Momongan, dan Pertanyaan Tiada Akhir

ilustrasi diolah dari sumber Google

Memasuki umur 20 tahunan adalah masa-masa paling rentan. Rentan akan permasalahan kehidupan, target menyelesaikan sekolah serta mulai tahu betapa susahnya mencari pekerjaan. Intinya ialah bagaimana membangun suatu rasa tanggung jawab pada diri sendiri. Menjadi sedikit menyebalkan, ketika ke-kepo-an orang-orang sekitar dan sanak saudara mulai memberi pertanyaan-pertanyaan berkelanjutan tiada akhir.

Pertanyaan iseng sih, tapi tidak semua bisa dengan santai tanpa beban menjawabnya.

Tak sedikit yang merasa tidak nyaman dan bahkan malah marah sampai buat status di social media, dan ternyata dilihat oleh orang yang memberi pertanyaan tersebut, lalu orang itu marah dan balik ‘ngegas’ dan terjadilah suatu perdebatan. Karena sejatinya tidak afdol kalau emosi tidak buat staus dimana-mana, bukankah begitu, sobat baper?

Pertanyaan level 1 biasanya dimulai dari “Kapan skripsi-an?” dan menjalar menjadi “wah Kapan nih wisuda?”. Ketahuilah, para mahasiswa, memiliki bebannya sendiri dalam menyelesaikan study mereka. Beberapa mungkin mulus-mulus saja, tapi untuk yang mengalami kesulitan dalam mengambil mata kuliah atau yang harus mengulang beberapa mata kuliah karena nilai yang dicapai kurang memuaskan, tentu akan memakan waktu lebih lama untuk mencapai tugas akhir. Dan apabila diantara mereka sedang membuat tugas akhir, apakah mereka mudah membuat suatu topic bahasan yang mereka pilih sebagao tugas akhir?

Tidak semudah itu. Mereka harus bulak-balik ke perpustakaan, mencari bahan kesana-kemari, bertemu dosen untuk review saja tidak mudah. Dari pengalaman saya dan teman-teman seperjuangan membuat tugas akhir, bertemu dosen seperti bertemu artis. Apabila dosennya memang mengayomi dan pengasih, pasti akan membimbing mahasiswanya dengan mempermudah pertemuan dan memberikan revisi dengan cara yang mudah ditangkap oleh mahasiswa.

Nah, seandainya mendapat dosen yang kiranya “mengospek” mahasiswanya. Menjadi PHP (Pemberi Harapan Palsu) ketika janji untuk bertemu, marah-marah dulu karena moody, atau memberi revisi yang gamang, susah di mengerti dan memberi bahan bacaan yang sangat susah dicari. Mencari bahannya sudah sepeti mencari kitab suci, Ya Gusti, tugas akhir bebannya sangatlah berat, belum lagi didera pertanyaan “kapan lulus”.

Rasanya batin menjerit dan meronta-ronta ingin menjelaskan tapi dirasa sia-sia saja, malah akan membuang-buang tenaga. Kebanyakan mahasiswa berubah perasaannya dan menjadi bad mood ketika ditanya, merasa ke-trigger berubah menjadi rasa cemas karena tugas akhir yang tak kunjung selesai karena berbagai kendala seperti yang dijelaskan di atas.

Naik satu level, ke level selanjutnya ialah pertanyaan “Sudah punya pacar belum?” baik, ini bisa diatasi dengan jawaban singkat padat jelas, dan kebawa perasaan seperti “belum, hehe” tambahkan ‘hehe’ untuk terlihat lebih tegar. Selesai sampai disitu, karena orang-orang biasanya akan melanjutkan pertanyaan mereka ke level 2A, yaitu “Kapan Menikah?” apabila jawabanmu adalah “Ya, saya sudah punya pacar” atau mereka tau kalian sudah punya pacar dan sudah berhubungan sejak lama. Tipe pertanyaan ini seperti ombak, akan terus ada dan mungkin saja semakin intens dan dalam skala besar apabila sedang berkumpul dengan keluarga besar.

Untuk yang sudah memiliki pacar mungkin akan gampang saja menjawab, karena memang sudah ada planning atau yah santai lah tinggal jawab yang ada, tapi tetap mereka akan merasa sedikit terganggu bagaimana pun ketika orang-orang sudah mulai memaksa dan memberi pertanyaan macam it uterus menerus kita akan merasa risih. Apalagi untuk yang belum memiliki pacar, yang sebenarnya mereka belum focus ke arah memiliki hubungan dengan seseorang, bisa jadi masih focus meniti karir atau memiliki kesibukan lain yang penting dibandingkan dengan mencari pacar, bahkan ada yang enjoy dengan kesendiriannya.

Kembali lagi pada pengalaman pribadi, di umur saya sekarang yang memasuki angka 28 tahun, pertanyaan seperti itu pasti ada setiap saya pulang kampung. Apalagi di saat saudara-saudara seumuran sudah habis karena sudah lebih dahulu menikah. Bagi mereka, umur saya sudah layak untuk menikah, tetapi bagi saya, tidak usah dijawab cukup senyum atau tertawa lebay dan pergi dari kerumunan. Menurut saya pribadi, saya tidak akan pernah buru-buru dan terpaksa menikah hanya karena umur.

Tapi teman-teman saya kebanyakan merasa sangat terganggu dan tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Bahkan ada yang menargetkan dirinya, harus memiliki pacar, siapa pun itu dan segera menikah, akhirnya apa? Setelah sebulan menikah, merasa kurang cocok. Salah pilih pasangan katanya.

Sampailah kita pada pertanyaan level atas disaat seorang sudah meraih semuanya, lulus sekolah, mendapatkan pacar, dan sudah menikah. Ya, “Kapan punya momongan?”. Ini menjadi beban tersendiri bagi sepasang suami istri, bahkan bisa menjadi pemicu mereka untuk memulai perdebatan. Saya mengutip dari halaman web hellosehat.com ada beberapa faktor pasangan belum memutuskan untuk memiliki anak, diantaranya setiap pasangan memiliki rencana sendiri dan pilihan setiap orang berbeda, dalam hal ini beberapa pasangan memilih untuk tidak memiliki anak

Selain itu menurut saya ada faktor lain lagi seperti salah satu pasangan mungkin sulit untuk memiliki anak. Masih saya kutip dari website yang samapertanyaan macam ini akan menambah beban mereka dan bisa memicu stress dan trauma. Stres di sebabkan karena pertanyaan yang bertubi-tubi. Bahkan stress itu sendiri memiliki pengaruh cukup besar bagi seorang istri yang memang ingin memiliki anak. Sedangkan trauma, bisa disebabkan dari seorang istri yang baru saja mengalami keguguran dan mendapatkan pertanyaan serupa bahkan lebih kejam seperti “kok belum hamil lagi?”, memberikan pertanyaan tersebut seperti menorehkan luka pada pasangan tersebut. Mereka pastinya membutuhkan waktu yang cukup untuk memulihkan duka dan trauma dan sehingga belum siap memiliki anak dulu.

Ketahuilah tidak bijak rasanya menanyakan sesuatu yang sifatnya sangat privasi kepada orang-orang yang kita temui. Bahkan untuk seorang saudara sekalipun. Namun bagaikan sebuah ironi, pertanyaan tiada akhir seperti diatas susah untuk tidak menjadi kebiasaan di masyarakat. Bijaklah dalam perkataan, berpikir dan pertimbangkan sebelum bertanya demikian. Tidak akan ada yang tahu bagaimana situasi dan kondisi mood dan mental seseorang dan bagaimana mereka meresponnya. [T]

Tags: Keluargamahasiswamenikahpacarpacaran
Share99TweetSendShareSend
Previous Post

Teori Konspirasi, Selalu Asyik & Mendebarkan

Next Post

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Putri Wulan

Putri Wulan

Lahir di Denpasar, 25 Maret 1992. Seorang Mental Health Survivor, yang menjadikan menulis sebagai alat yang membantunya untuk bangkit dan kembali memiliki tujuan hidup. Menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana dan lulus di tahun 2015. Suka menulis, menonton, mendengarkan musik, dan jalan-jalan.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Tubuh Ulang Alik Jong Menuju Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co