3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
May 30, 2020
in Cerpen
Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Salah satu karya lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, 29 November 2019. [Foto Mursal Buyung]

Menerima kematian tidak semudah menerima surat cinta. Seperti yang tiga bulan terakhir ini kurasakan. Aku tidak bisa menerima sepenuhnya kematianku sendiri. Aku gentayangan, terbang melenggang di atas jalan gang di mana jasadku masih belum dikuburkan oleh orang-orang.

Pencopet yang waktu itu memperkosaku bersama dua orang temannya entah lari ke mana. Mungkin dia masih belum tertangkap oleh warga. Ya, aku yakin itu. Dan sampai sekarang aku masih menaruh dendam kesumat pada mereka bertiga. Beminggu-minggu aku menunggu waktu yang tepat untuk menarik nyawanya keluar dari tubuhnya. Menemaniku gentayangan di sela-sela perkampungan ini.

Pagi hari, setelah tiga bulan lebih seminggu kebergentayanganku di gang ini, aku mencoba memberanikan diri untuk jalan-jalan setidaknya untuk tidak terlalu meratapi kematian di depan tubuhku sendiri yang mulai membusuk. Aku mencoba menelurusi jalanan sempit, mungkin saja ada kucing sekarat yang bisa kuhantui. Setidaknya, latihan menakut-nakuti binatang sebelum menakuti manusia.

Ah, kebetulan, ada anak kucing sedang berjalan terseok-seok. Terlihat di kakinya ada luka parah, parah sekali. Aku menghampirinya, tapi bukan untuk menakut-nakuti.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ucap kucing itu sambil menoleh.

Ku kira dia tidak merasakan keberadanku, ternyata dia sudah tahu.

“Eee, tidak apa-apa, aku hanya bosan tak ada kerjaan, daripada diam ya jalan-jalan saja.”

“Oh ya sudah.” Lalu kucing itu lanjut berjalan.

Kucing tadi sepertinya cuwek sekali. Dia langsung pergi begitu saja tanpa mau ngobrol walau sekejap. Semakin jauh saja aku melihatnya tertatih-tatih berjalan dengan baban luka parah di kakinya.

Aduh, kasihan sekali kucing itu. Aku jadi menyangka kalau itu pasti ulah manusia. Yap, meski dulunya aku juga manusia tapi sekarang aku hanyalah arwah gentayangan dari seorang manusia yang dibunuh oleh sesama manusia. Aku jadi semakin benci pada manusia.

“Tunggu dulu, kau menyesal karena menjadi manusia?”

Tiba-tiba ada suara dari belakang, aku terperanjat. Ah, tunggu dulu, mengapa aku takut, kan aku arwah gentayangan. Ok, aku mencoba menolehkan kepalaku ke asal suara yang barusan itu.

Ternyata itu seekor tikus. Eh, lebih tepatnya tikus yang besar. Matanya picik sebelah seperti terkena sayatan benda tajam. Pandangannya, ya pandangan yang penuh amarah dan dendam tertuju ke arahku seperti ingin menerkam.

“Enggak juga sih. Menjadi manusia ada asyiknya juga. Tapi setelah kematianku beberapa bulan lalu, aku jadi sedikit menyesal kenapa dulu harus menjadi manusia,” ucapku pada tikus besar bermata picik itu.

“Bertahun-tahun lalu aku juga adalah manusia,” ucap tikut itu sedikit garang.

Aku agak terkejut, ada seekor tikus yang mangaku bahwa dulunya dia adalah seorang manusia. Kok bisa ya?

“Maksudmu kau menjelma menjadi tikus gitu?” tanyaku padanya.

“Tidak, aku mati ketika dua orang sedang mencoba memperkosaku. Aku melawan dan meronta, tapi pada akhirnya aku tertusuk golok yang dibawa oleh salah satu dari mereka berdua.”

Entahlah, apa yang dimaksud tikus bermata picek itu nyata atau hanya menakut-nakutiku saja. Tapi mendengar ceritanya, aku jadi kembali teringat kematianku setelah diperkosa oleh tiga orang lelaki bejat. Ah, aku jadi seperti mengingat masa lalu kelam meski kini aku sudah menjadi arwah gentayangan.

***

Lama sekali aku berbincang dengan tikus itu. Berbagai macam hal dia ceritakan. Mulai dari pertemuannya dengan bangsa binatang-binatang kolong jembatan yang bergerombol di tempat jorok sampai pada cerita di mana dia memilih berubah wujud menjadi seekor tikus got.

Sebenarnya aku tak tertarik berbincang dengannya. Tapi meski raut wajahnya yang sangat menakutkan itu, aku merasa ketika dia bercerita seperti ada yang sangat ingin dia luapkan. Mungkin berupa emosi atau juga kekecewaannya menjadi manusia, aku tak tahu. Yang jelas dia tikus yang sangat ekspresif kukira.

Dan matanya itu, ya matanya yang picek sebelah tersayat sesuatu. Katanya, mata itu picek karena tindakan balas dendamnya pada orang yang telah memperkosanya. Bertahun-tahun dia mencari orang itu sampai kemudian dia menemukannya. Dia membawa gerombolan. Ya, gerombolan tikus yang sudah dia kumpulkan untuk membunuh orang yang selama ini dia cari. Dia dan pasukan tikusnya itu menyerbu dan mengerubung orang yang ingin dibunuhnya. Orang itu meronta, sesekali melawan dan mengibas-ngibaskan pisau yang selalu dibawanya. Kau tahu, aku membayangkan tikus-tikus itu seperti rombongan semut-semut pada sebuah remahan roti. Mereka menerjang, berhamburan, menggerogoti orang yang diincar.

Sebelum akhirnya orang itu benar-benar tewas dan dagingnya terkoyak-kotak gerombolan tikus, sebilah pisau tanpa sengaja mengenai seekor tikus yang aku temui tadi sehingga matanya jadi picik. Begitulah dendam, pasti menyisakan sesuatu. Tapi kini tikus itu seperti sudah tidak menyimpan amarah sama sekali. Orang yang dulu memperkosanya sudah mati di tangannya sendiri. Demdam sudah terlaksanakan.

Mendengar cerita dari tikus itu, hasrat untuk membalaskan dendamku kepada tiga orang yang sudah memperkosa dan membunuhku semakin membara. Aku semakin geram dan makin bersemangat untuk dapat menemukan mereka bertiga. Dan ketika aku menemukannya, aku akan dengan senang hati membunuhnya sebagai ganti kematianku. Bagaimanapun caranya meski kini aku hanya seorang arwah gentayangan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, bukan begitu!?

***

Malam-malam, aku keliling terminal yang ada di kotaku, masih dalam wujud arwah. Ketika itu hujan deras. Aku berharap bisa menemukan dan memergoki ketiga orang yang sudah merenggut kehormatan dan kehidupanku di sekitar gang-gang sempit di sana.

Hujan terus menerjang tubuhku. Kau tahu, air hujan itu menembus tubuhku. Ya, seperti cerita-cerita mistis yang berkembang di masyarakat, arwah atau makhluk halus bisa menembus apa saja, begitu pula air hujan yang menembus dan lewat begitu saja di tubuhku. Aku tak perlu khawatir masuk angin, aku tak akan basah oleh air, tak akan pula akan tertimpa pohon tumbang. Tapi aku tak kebal perasaan dendam, aku tetap bisa merasakan dendam, bahkan lebih membara, meski dalam wujud tak kasat mata ini.

Kala itu terminal lumayan sepi. Maklum, sudah tengah malam dan hujan turun deras sekali. Tenda-tenda warung makan pun tak ada orang. Si sana hanya ada seorang satpam dan petugas kebersihan yang sedang tidur berdua di musholla pojok terminal. Fix, di sini sepi. Biasanya dalam kesepian seperti ini tiga orang itu beraksi. Membawa seorang wanita muda ke lokasi yang tak biasa didatangi orang untuk mereka gerayangi bersama.

Aku terus mengitari terminal dan menghampiri lokasi-lakasi yang menurutku biasa digunakan oleh mereka bertiga. Di belakang gedung, di sekitar tempat pembuangan sampah, sampai di kamar mandi aku menelusuri semuanya. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Aku hanya melihat beberapa ekor tikus yang berlari hilir mudik di sela-sela selokan. Aku tak menemukan siapa-siapa. Hasrat dendamku semakin membara karena kejengkelan. Aku berjalan, ah tidak sebenarnya aku melayang dan tak menyentuh tanah. Mencari-cari di segala tempat sampai ketemu, ya sampai aku bisa melihat ketiga orang itu.

Sampai akhirnya kehabisan akal, aku kembali ke gang di mana dulu jasadku berada. Kini jasadku sudah hilang ditelan bumi. Tapi aku sudah menganggap gang itu sebagai rumahku, lebih tepatnya sebagai kuburanku. Kau tahu, arwah gentayangan pasti akan pulang ke kuburannya setelah capek menghantui orang-orang.

Sesampainya di sana, di gang itu, aku terkejut, ternyata ketiga orang yang aku cari selama ini sudah ada di sana dengan sesosok perempuan yang sudah lemas sebab mereka gerayangi. Nafasnya berat ngos-ngosan. Aku kasihan melihatnya demikian. Mukanya lusuh dan rambutnya berantakan. Dia mencoba merangkak menjauhi ketiga lelaki yang sudah memperkosanya. Dia ngesot sekuat tenaga dengan sehelai kain yang dia apit ke dadanya mencoba sebisa mungkin menutupi auratnya. Ketiga lelaki yang memperkosanya juga terkapar lunglai, tak punya tenaga sehabis meluapkan birahi. Setan, mereka sudah memakan korban lagi.

Amarahku makin membara, aku jadi ingin cepat-cepat mengakhiri hidup ketiga lelaki bejat itu. Aku menuju mereka, dan aku tahu mereka tak akan menyadari keberadaanku karena aku adalah arwah yang tak kasat mata. Aku melihat ada pisau tergeletak di samping salah satu dari ketiganya. Ya, akan kugunakan pisau itu untuk mengakhiri nyawa mereka. Ah tidak, aku akan menyiksanya terlebih dahulu. Memotong jari-jarinya, telinganya, atau bahkan juga kemaluannya sebelum akhirnya akan kutikam jantung mereka.

Cepat-cepat aku menuju pisau yang tergeletak itu. Aku merunduk dan tak menghiraukan perempuan yang sudah diperkosa tadi. Tujuanku bukan dia, tapi ketiga lelaki itu. Pisau yang kulihat sudah ada di depan mata. Ya, inilah saatnya dendamku terbalaskan dan aku berjanji tak akan gentayangan lagi setelah ini.

Aku mencoba meraih pisau itu. Semakin dekat tanganku semakin kencang dan membara pula hasrat balas dendam di dadaku. Ketika aku mencoba meraih pisau itu, ah, tanganku menembus benda itu. Sekali lagi mencobanya, tetap, benda itu menembus tanganku. Sial, Seperti melewati asap saja, pisau itu tak bisa kugenggam. Sekali lagi kucuba, ah sial, aku malah menembus pisau itu. Aku tak bisa menyentuhnya apalagi menggenggamnya. Aku tersadar, aku adalah arwah yang bisa menembus segalanya. Aku tak kasat mata dan semua benda bisa kutembus begitu saja, termasuk pisau itu.

Aku tak bisa membalaskan dendamku sekarang. Padahal ini adalah waktu yang tepat. Aku kesal, kesal sekali. Aku mencoba memukul-mukul mereka bertiga, tapi apalah daya, tanganku malah menembus tubuh mereka. Seperti udara saja. Berkali-kali kucoba, tetap. Aku tak bisa menyentuh mereka apalagi memukul-mukulnya.

Ya, wujud arwahku memang tak bisa membalaskan dendam dan membunuh siapapun. Aku harus menjelma menjadi sesuatu agar tubuhku bisa mengenai mereka, atau menjadi tikus, atau menjelma anjing jadi-jadian, atau, kembali menjelma jadi manusia. [T]

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Next Post

Filosofi Layang-layang: Tiga Ribu Rupiah Yang Sangat Berharga

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Filosofi Layang-layang: Tiga Ribu Rupiah Yang Sangat Berharga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co