3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
May 30, 2020
in Cerpen
Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Salah satu karya lukisan yang dipamerkan dalam Pameran Seni Rupa di Undiksha Singaraja, 29 November 2019. [Foto Mursal Buyung]

Menerima kematian tidak semudah menerima surat cinta. Seperti yang tiga bulan terakhir ini kurasakan. Aku tidak bisa menerima sepenuhnya kematianku sendiri. Aku gentayangan, terbang melenggang di atas jalan gang di mana jasadku masih belum dikuburkan oleh orang-orang.

Pencopet yang waktu itu memperkosaku bersama dua orang temannya entah lari ke mana. Mungkin dia masih belum tertangkap oleh warga. Ya, aku yakin itu. Dan sampai sekarang aku masih menaruh dendam kesumat pada mereka bertiga. Beminggu-minggu aku menunggu waktu yang tepat untuk menarik nyawanya keluar dari tubuhnya. Menemaniku gentayangan di sela-sela perkampungan ini.

Pagi hari, setelah tiga bulan lebih seminggu kebergentayanganku di gang ini, aku mencoba memberanikan diri untuk jalan-jalan setidaknya untuk tidak terlalu meratapi kematian di depan tubuhku sendiri yang mulai membusuk. Aku mencoba menelurusi jalanan sempit, mungkin saja ada kucing sekarat yang bisa kuhantui. Setidaknya, latihan menakut-nakuti binatang sebelum menakuti manusia.

Ah, kebetulan, ada anak kucing sedang berjalan terseok-seok. Terlihat di kakinya ada luka parah, parah sekali. Aku menghampirinya, tapi bukan untuk menakut-nakuti.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Ucap kucing itu sambil menoleh.

Ku kira dia tidak merasakan keberadanku, ternyata dia sudah tahu.

“Eee, tidak apa-apa, aku hanya bosan tak ada kerjaan, daripada diam ya jalan-jalan saja.”

“Oh ya sudah.” Lalu kucing itu lanjut berjalan.

Kucing tadi sepertinya cuwek sekali. Dia langsung pergi begitu saja tanpa mau ngobrol walau sekejap. Semakin jauh saja aku melihatnya tertatih-tatih berjalan dengan baban luka parah di kakinya.

Aduh, kasihan sekali kucing itu. Aku jadi menyangka kalau itu pasti ulah manusia. Yap, meski dulunya aku juga manusia tapi sekarang aku hanyalah arwah gentayangan dari seorang manusia yang dibunuh oleh sesama manusia. Aku jadi semakin benci pada manusia.

“Tunggu dulu, kau menyesal karena menjadi manusia?”

Tiba-tiba ada suara dari belakang, aku terperanjat. Ah, tunggu dulu, mengapa aku takut, kan aku arwah gentayangan. Ok, aku mencoba menolehkan kepalaku ke asal suara yang barusan itu.

Ternyata itu seekor tikus. Eh, lebih tepatnya tikus yang besar. Matanya picik sebelah seperti terkena sayatan benda tajam. Pandangannya, ya pandangan yang penuh amarah dan dendam tertuju ke arahku seperti ingin menerkam.

“Enggak juga sih. Menjadi manusia ada asyiknya juga. Tapi setelah kematianku beberapa bulan lalu, aku jadi sedikit menyesal kenapa dulu harus menjadi manusia,” ucapku pada tikus besar bermata picik itu.

“Bertahun-tahun lalu aku juga adalah manusia,” ucap tikut itu sedikit garang.

Aku agak terkejut, ada seekor tikus yang mangaku bahwa dulunya dia adalah seorang manusia. Kok bisa ya?

“Maksudmu kau menjelma menjadi tikus gitu?” tanyaku padanya.

“Tidak, aku mati ketika dua orang sedang mencoba memperkosaku. Aku melawan dan meronta, tapi pada akhirnya aku tertusuk golok yang dibawa oleh salah satu dari mereka berdua.”

Entahlah, apa yang dimaksud tikus bermata picek itu nyata atau hanya menakut-nakutiku saja. Tapi mendengar ceritanya, aku jadi kembali teringat kematianku setelah diperkosa oleh tiga orang lelaki bejat. Ah, aku jadi seperti mengingat masa lalu kelam meski kini aku sudah menjadi arwah gentayangan.

***

Lama sekali aku berbincang dengan tikus itu. Berbagai macam hal dia ceritakan. Mulai dari pertemuannya dengan bangsa binatang-binatang kolong jembatan yang bergerombol di tempat jorok sampai pada cerita di mana dia memilih berubah wujud menjadi seekor tikus got.

Sebenarnya aku tak tertarik berbincang dengannya. Tapi meski raut wajahnya yang sangat menakutkan itu, aku merasa ketika dia bercerita seperti ada yang sangat ingin dia luapkan. Mungkin berupa emosi atau juga kekecewaannya menjadi manusia, aku tak tahu. Yang jelas dia tikus yang sangat ekspresif kukira.

Dan matanya itu, ya matanya yang picek sebelah tersayat sesuatu. Katanya, mata itu picek karena tindakan balas dendamnya pada orang yang telah memperkosanya. Bertahun-tahun dia mencari orang itu sampai kemudian dia menemukannya. Dia membawa gerombolan. Ya, gerombolan tikus yang sudah dia kumpulkan untuk membunuh orang yang selama ini dia cari. Dia dan pasukan tikusnya itu menyerbu dan mengerubung orang yang ingin dibunuhnya. Orang itu meronta, sesekali melawan dan mengibas-ngibaskan pisau yang selalu dibawanya. Kau tahu, aku membayangkan tikus-tikus itu seperti rombongan semut-semut pada sebuah remahan roti. Mereka menerjang, berhamburan, menggerogoti orang yang diincar.

Sebelum akhirnya orang itu benar-benar tewas dan dagingnya terkoyak-kotak gerombolan tikus, sebilah pisau tanpa sengaja mengenai seekor tikus yang aku temui tadi sehingga matanya jadi picik. Begitulah dendam, pasti menyisakan sesuatu. Tapi kini tikus itu seperti sudah tidak menyimpan amarah sama sekali. Orang yang dulu memperkosanya sudah mati di tangannya sendiri. Demdam sudah terlaksanakan.

Mendengar cerita dari tikus itu, hasrat untuk membalaskan dendamku kepada tiga orang yang sudah memperkosa dan membunuhku semakin membara. Aku semakin geram dan makin bersemangat untuk dapat menemukan mereka bertiga. Dan ketika aku menemukannya, aku akan dengan senang hati membunuhnya sebagai ganti kematianku. Bagaimanapun caranya meski kini aku hanya seorang arwah gentayangan. Nyawa harus dibayar dengan nyawa, bukan begitu!?

***

Malam-malam, aku keliling terminal yang ada di kotaku, masih dalam wujud arwah. Ketika itu hujan deras. Aku berharap bisa menemukan dan memergoki ketiga orang yang sudah merenggut kehormatan dan kehidupanku di sekitar gang-gang sempit di sana.

Hujan terus menerjang tubuhku. Kau tahu, air hujan itu menembus tubuhku. Ya, seperti cerita-cerita mistis yang berkembang di masyarakat, arwah atau makhluk halus bisa menembus apa saja, begitu pula air hujan yang menembus dan lewat begitu saja di tubuhku. Aku tak perlu khawatir masuk angin, aku tak akan basah oleh air, tak akan pula akan tertimpa pohon tumbang. Tapi aku tak kebal perasaan dendam, aku tetap bisa merasakan dendam, bahkan lebih membara, meski dalam wujud tak kasat mata ini.

Kala itu terminal lumayan sepi. Maklum, sudah tengah malam dan hujan turun deras sekali. Tenda-tenda warung makan pun tak ada orang. Si sana hanya ada seorang satpam dan petugas kebersihan yang sedang tidur berdua di musholla pojok terminal. Fix, di sini sepi. Biasanya dalam kesepian seperti ini tiga orang itu beraksi. Membawa seorang wanita muda ke lokasi yang tak biasa didatangi orang untuk mereka gerayangi bersama.

Aku terus mengitari terminal dan menghampiri lokasi-lakasi yang menurutku biasa digunakan oleh mereka bertiga. Di belakang gedung, di sekitar tempat pembuangan sampah, sampai di kamar mandi aku menelusuri semuanya. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Aku hanya melihat beberapa ekor tikus yang berlari hilir mudik di sela-sela selokan. Aku tak menemukan siapa-siapa. Hasrat dendamku semakin membara karena kejengkelan. Aku berjalan, ah tidak sebenarnya aku melayang dan tak menyentuh tanah. Mencari-cari di segala tempat sampai ketemu, ya sampai aku bisa melihat ketiga orang itu.

Sampai akhirnya kehabisan akal, aku kembali ke gang di mana dulu jasadku berada. Kini jasadku sudah hilang ditelan bumi. Tapi aku sudah menganggap gang itu sebagai rumahku, lebih tepatnya sebagai kuburanku. Kau tahu, arwah gentayangan pasti akan pulang ke kuburannya setelah capek menghantui orang-orang.

Sesampainya di sana, di gang itu, aku terkejut, ternyata ketiga orang yang aku cari selama ini sudah ada di sana dengan sesosok perempuan yang sudah lemas sebab mereka gerayangi. Nafasnya berat ngos-ngosan. Aku kasihan melihatnya demikian. Mukanya lusuh dan rambutnya berantakan. Dia mencoba merangkak menjauhi ketiga lelaki yang sudah memperkosanya. Dia ngesot sekuat tenaga dengan sehelai kain yang dia apit ke dadanya mencoba sebisa mungkin menutupi auratnya. Ketiga lelaki yang memperkosanya juga terkapar lunglai, tak punya tenaga sehabis meluapkan birahi. Setan, mereka sudah memakan korban lagi.

Amarahku makin membara, aku jadi ingin cepat-cepat mengakhiri hidup ketiga lelaki bejat itu. Aku menuju mereka, dan aku tahu mereka tak akan menyadari keberadaanku karena aku adalah arwah yang tak kasat mata. Aku melihat ada pisau tergeletak di samping salah satu dari ketiganya. Ya, akan kugunakan pisau itu untuk mengakhiri nyawa mereka. Ah tidak, aku akan menyiksanya terlebih dahulu. Memotong jari-jarinya, telinganya, atau bahkan juga kemaluannya sebelum akhirnya akan kutikam jantung mereka.

Cepat-cepat aku menuju pisau yang tergeletak itu. Aku merunduk dan tak menghiraukan perempuan yang sudah diperkosa tadi. Tujuanku bukan dia, tapi ketiga lelaki itu. Pisau yang kulihat sudah ada di depan mata. Ya, inilah saatnya dendamku terbalaskan dan aku berjanji tak akan gentayangan lagi setelah ini.

Aku mencoba meraih pisau itu. Semakin dekat tanganku semakin kencang dan membara pula hasrat balas dendam di dadaku. Ketika aku mencoba meraih pisau itu, ah, tanganku menembus benda itu. Sekali lagi mencobanya, tetap, benda itu menembus tanganku. Sial, Seperti melewati asap saja, pisau itu tak bisa kugenggam. Sekali lagi kucuba, ah sial, aku malah menembus pisau itu. Aku tak bisa menyentuhnya apalagi menggenggamnya. Aku tersadar, aku adalah arwah yang bisa menembus segalanya. Aku tak kasat mata dan semua benda bisa kutembus begitu saja, termasuk pisau itu.

Aku tak bisa membalaskan dendamku sekarang. Padahal ini adalah waktu yang tepat. Aku kesal, kesal sekali. Aku mencoba memukul-mukul mereka bertiga, tapi apalah daya, tanganku malah menembus tubuh mereka. Seperti udara saja. Berkali-kali kucoba, tetap. Aku tak bisa menyentuh mereka apalagi memukul-mukulnya.

Ya, wujud arwahku memang tak bisa membalaskan dendam dan membunuh siapapun. Aku harus menjelma menjadi sesuatu agar tubuhku bisa mengenai mereka, atau menjadi tikus, atau menjelma anjing jadi-jadian, atau, kembali menjelma jadi manusia. [T]

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Next Post

Filosofi Layang-layang: Tiga Ribu Rupiah Yang Sangat Berharga

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Filosofi Layang-layang: Tiga Ribu Rupiah Yang Sangat Berharga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co