2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Candra Puspita Dewi by Candra Puspita Dewi
May 30, 2020
in Esai
Kakek-Nenek Sayang Cucu Boleh Saja, Tapi… Yuk Belajar Parenting, Biar Tak Sesat Pikir

Penulis dan anaknya

Memiliki anak dan kemudian menjadi orang tua, tentu jadi hal yang diidam-idamkan bagi siapa pun pasangan yang sudah menikah. Biasanya ada beberapa usaha yang dilakukan oleh sepasang suami istri untuk bisa cepat dapat momongan. Dimulai dari cara sederhana, semisal makan makanan sehat, mengubah gaya hidup, ikut program hamil, hingga ikut program bayi tabung yang tentu membutuhkan segudang uang.

Nah, sebelum menjadi orang tua, kita sering kali mendengar nasihat dari orang-orang bijak. Bahwa menjadi orang tua mesti siap lahir batin. Ya semua orang tau itu. Sebab butuh kesiapan fisik, mental, hingga materi. Ya semua orang juga tau itu. Tapi selain itu, ada satu hal lagi yang mesti diingat. 

Bahwa menjadi orang tua bukan hanya mesti siap fisik, punya mental yang bagus, dan punya uang, tapi juga mesti cukup ilmu . Ilmu apa? Ilmu parenting. Jadi perlu belajar lagi. Seperti membaca buku-buku parenting atau ikut kelas-kelas parenting, saya rasa menjadi wajib dilakukan oleh para orang tua atau calon orang tua.

Yang dibahas dalam buku atau kelas parenting biasanya seputaran pemberian ASI, MPASI paling tepat, alasan pentingnya bermain bagi anak, sampai membahas pola asuh terbaik. Pokoknya bahasan-bahasan ilmu parenting yang aktuallah. Supaya ga tersesat saat nanti punya anak.

Tapi tapi tapi, ada satu lagi yang dilupakan. Bahwa belajar parenting bukan hanya penting untuk orang tua dan calon orang tua. Namun juga penting untuk calon kakek nenek atau yang sudah sah jadi kakek nenek. Kenapa penting, ya itu untuk menyamakan sikap saja saat menghadapi, merawat, dan mengasuh seorang anak. Lebih-lebih pada orang tua yang butuh bantuan kakek nenek untuk membantu menjaga anak mereka nanti.

Bayangin deh tu ya, uda berapa generasi coba? Pola-pola pengasuhan anak yang dulu-dulu apa masih bisa diterapin? Kalau kaya bahasa sekarang kan, mesti diupgretlah itu kan ya.

Sering saya melihat, antara orang tua dan kakek nenek berjalan dengan pintarnya sendiri-sendiri. Seperti tidak mau mengalah. Si ibu bapak, pintar bersama ilmu-ilmu barunya. Si kakek nenek, pintar bersama ilmu-ilmu lama mereka yang belum tentu semuanya bisa terpakai atau diterapkan di saat sekarang. Yang sebenarnya lebih tidak baik lagi adalah, kakek nenek biasanya menggunakan pengalaman mereka saat merawat anaknya dulu sebagai senjata untuk membenarkan cara mereka dalam merawat dan mengasuh cucunya yang jelas-jelas hidup di zaman yang berbeda.

Padahal, ada beberapa pengalaman yang tidak sesuai lagi, jika diterapkan pada saat ini. Semisal, memberi makan anak di bawah usia enam bulan. Kalau dulu-dulu sih, banyak yang biasa anaknya dikasi makan sebelum usia enam bulan ya. Padahal belum boleh sebenarnya. Sebab usus anak di bawah usia enam bulan belum dapat mengolah makanan padat.

Ah, harusnya ga usah saya jelasin, ibu-ibu baru pasti paham betul tentang itu. “Tapi buktinya si ini dan si anu dulu saya kasih makan umur empat bulan, buktinya sampai sekarang umurnya tiga puluh, masih hidup.

“Oh iya Nek, syukur masih hidup. Itu namanya Nenek lagi beruntung. Ya bagus kalau beruntung. Kalau pas ga beruntung, gimana? Nanti paling-paling alasannya tidak tahu. Tapi kalau dikasih tahu apa percaya? Nah itu maksudnya, belajar parenting jadi bisa dimanfaatkan untuk mengonfirmasi, apakah pola asuh yang dulu-dulu masih bisa dipakai atau tidak di zaman sekarang ini. Ya kalau ga percaya sama ibu bapak dari cucu kalian, setidaknya kalau dokter yang kasih tahu, yang jelasin, yang ngajarin, kakek nenek pasti lebih percayalah ya.

Ada salah satu sanak saudara yang pernah curhat pada saya. Ia punya anak. Anaknya bernama Naumi. Naumi adalah cucu yang lama sekali dinanti-nanti. sehingga saat lahir, Ia disayang sekali oleh seisi rumah. Terutama oleh  kakek neneknya. Hari-hari Naumi dipenuhi kasih sayang dari kakek dan nenek. Seluruh fasilitas, lengkap tersedia untuk Naumi. Tak pernah lepas perhatian mereka untuk naumi. Sepanjang hari Naumi selalu dipangku, ditimang-timang, dan digendong. Tenaga dan napas mereka, direlakan demi Naumi. Naumi bak tuan puteri. Ia harus selalu bersih. Tidak boleh ada kotor apalagi terluka tubuhnya.

Saat Naumi berumur satu bulan atau dua bulan, mungkin sah saja jika Naumi tak pernah lepas dari gendongan orang tua atau  kakek nenek. Tapi ketika usianya lebih dari itu, menggendong tidak boleh terus-terusan dilakukan. Itu bisa menghambat kamampuan motorik anak. Itulah yang terjadi pada Naumi. Naumi tak dibiasakan bebas bergerak melatih otot-ototnya. Sehingga Naumi belum bisa tengkurap. Naumi juga belum bisa duduk. Padahal anak-anak seusianya sudah mulai belajar duduk. Bahkan ada yang sudah mulai belajar merangkak. Ibu dan ayah Naumi sudah memberi tahu kakek nenek untuk sesekali memberi kesempatan pada Naumi bergerak bebas. Tapi kata kakek nenek, “Nanti kalau sudah waktunya juga pasti bisa”. Jadi, karena kakek nenek tak bisa diberitahu, akhirnya ibu Naumi melatih Naumi secara diam-diam.

Saat Kakek Nenek sedang tidur, ibu Naumi akan membiarkan Naumi bergerak bebas sesuka hati Naumi. Naumi bergelinding ke sana dan ke mari. hingga akhirnya ia bisa tengkurap dan duduk tanpa ada luka dan tanpa ada tulangnya yang patah. Bagi ibunya, kalau berlatih, pasti terbiasa dan jadi bisa. Yang penting sudah cukup umur untuk boleh dilatih.

Ada lagi cerita dari teman kuliah saya yang katanya anaknya selalu disuruh tidur oleh kakek dan neneknya. Bahkan saat anaknya sedang senang-senangnya bermain. Ayah si anak sudah memberi tahu kakek nenek bahwa tidur memang penting. Tapi mengajak anak bermain juga tak kalah pentingnya. Lebih-lebih saat si anak berusia sepuluh bulan. Bermain bisa melatih akal anak, kata ayahnya.

Tapi kakek nenek tak mau percaya. Kasian kata mereka kalau cucunya capai. Padahal bayi akan memberi sinyal pada pengasuhnya kalau dia sudah capai. Semisal, nangis atau rewel. Semula, kakek nenek ini akan diajak ke acara seminar parenting. Tapi mereka tak mau ikut. Karena tak mau, ayah dari si anak punya akal.

Di rumah, ia memutar video-video seminar yang membahas ilmu-ilmu parenting. Itu dilakukannya setiap hari. Supaya kakek nenek menonton. Atau jika tak mau menonton, setidaknya mereka mendengar informasi-informasi terbarulah tentang cara mengasuh anak dari video-video itu. Dengan harapan, meluruskan kekeliruan tentang pengasuhan anak.

Belum selesai sampai di sana. Ada juga tetangga sebelah rumah yang bersedih cerita pada saya  perihal anaknya yang tak kunjung bisa berjalan. Yang kakinya selalu terbungkus kaos. Sebab kakek neneknya takut kalau-kalau nanti ia kedinginan dan sakit. Diumurnya yang sudah satu tahun delapan bulan, si anak belum juga bisa berjalan. Padahal itu adalah batas usia seorang anak bisa berjalan. Kalau belum bisa, berarti ada masalah.

Orang tua si anak juga sudah sering memberi tahu kakek nenek. Karena merasa tak pernah dipercaya dan didengar. Akhirnya ibu dan ayah si anak memutuskan membawa anaknya sekaligus kakek neneknya ke dokter anak langganan. Jadi semuanya diboyong ke sana. Setelah ditanya ke dokter, kenapa si anak belum bisa berjalan, ternyata salah satunya mungkin dikarenakan kaki yang selalu terbungkus kaos. Membungkus kaki anak dengan kaos tidak selalu baik rupanya. Sebab jari-jari kakinya tak terlatih untuk mencengkram tanah. Sehingga ia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya saat berdiri.

Siapa lagi ya?? Oh iya seorang ibu yang saya kenal di puskemas. Waktu itu kami sama-sama mau berobat. Tapi yang sakit bukan dia, tetapi anaknya yang balita. Saya tanyakan sakit apa. Dia bilang sakit batuk pilek. Setelah itu dia curcol. Katanya, batu pilek itu berasal dari kakek nenek si anak. Kebetulan hari-hari si anak yang asuh kakek neneknya. Sebab ibu ini mesti kerja. Ayah si anak sudah meninggal. Jadi dia mesti tekun cari uang. Sebelum tertular batuk pilek, ibu ini udah bilang ke kakek nenek menyarankan pakai masker.

Tapi, bukannya mengiyakan malah ibu ini dikatai terlalu berlebihan. Malahan, si nenek mengatakan bahwa kalau anak batuk itu karena si ibu yang makan makanan manis. Kebetulan ibu ini masih memberi ASI selepas kerja. Jadi, yang di salahkan malah si ibu. Padahal, ya jelas batuk pilek berasal dari virus kan? Mungkin waktu itu imun si anak sedang kurang bagus jadi gampang tertular virus.

Nah, penularannya dari mana? Ya dari orang yang kena batuk pilek juga bukannya? Kalau yang kena batuk pilek ga pakai masker, jelas virus mudah menyebar. Nah, sesat pikir kan jadinya kalau kakek nenek ga mau perbarui pengetahuannya.

Sudah selesai. oh tunggu-tunggu saya baru ingat obrolan tahun lalu bersama kawan sekantor saya tentang anaknya yang mesti harus kudu wajib makaaaaannn mulu. Makan terooss. Kakek neneknya takut kalau telat makan, cucunya jadi sakit lambung. Alhasil, anak teman saya tak mau makan. Padahal, bukan begitu sebenarnya. Kita perlu juga membuat bayi merasa lapar. Coba deh orang dewasa kalau lapar, pasti kita akan makan kan? Sama juga dengan bayi. Yang penting jangan kelamaan ga dikasi-kasi makannya.

Nah, kalau baru lima menit lalu menyusu, habis 100 ml, ya mana mungkin bayi merasa  lapar. Jelaslah ia bukan tak mau makan. Tapi  sudah kenyang. Jadi, Perihal makan, bayi butuh jeda. Si ibu cuma butuh waktu  ngatur jam makan saja kok. Bukan malas. Nah, kalau yang ini, untung kakek neneknya cepat bisa beradaptasi dengan hal-hal baru tentang pemberian MPASI. Jadi tak pusing-pusing lagilah nyari cara untuk meyamakan pandangan dan sikap dalam mengahadapi dan merawat anak.

Nah begitulah jadinya kalau yang belajar parenting cuma orang tua dan calon orang tua. Supaya tidak terus bertentangan, supaya punya cara yang sejalan dalam meyikapi anak, alangkah baiknya kalau kakek nenek dilibatkan juga belajar parenting. Yuk belajar bareng-bareng! [T]

Tags: anak-anakibuKeluargaparenting
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Balada “Gelebeg” – [dengan rasa hormat kepada almarhum bapa]

Next Post

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Candra Puspita Dewi

Candra Puspita Dewi

Lulusan Undiksha Singaraja, kini jadi guru di Denpasar. Di sela mengajar, ia juga main teater di Komunitas Mahima dan Teater Kalangan

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Dendam Seorang Arwah Gentayangan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co