22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Wayan Martino by Wayan Martino
April 1, 2020
in Cerpen
Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua -- Cerpen/Foto Wayan Martino

Cerpen Wayan Martino


Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, saban hari masuk – keluar hutan, pergi saat pagi dan pulang menjelang malam. Di antara orang-orang desa, dia dikenal dengan kepolosannya. Hampir semua orang mengenal dirinya, entah karena keramahannya atau karena selalu terlihat tersenyum. Namun ia punya satu rahasia, yang tak sembarang orang tahu dan memahaminya, Ia bisa berbicara dengan pohon. Juga baginya pohon seperti seorang ayah, sekaligus ibunya. Sejak lahir ia tak mengenal orang tua, Ia tumbuh dan besar bersama sang nenek.

Suatu hari sebelum matahari terbenam, saat jingga mewarnai langit, usai mengumpulkan dua ikat kayu bakar, Ia duduk seorang diri di sudut desa. Di sebuah tanah lapang yang serupa bukit kecil, tempat yang dikelilingi oleh pertemuan dua sungai. Tempat dimana ia bisa melihat desanya secara menyeluruh dari ketinggian.

Di hadapannya berdiri satu pohon besar, kokoh dan berdaun lebat, menurut orang-orang usianya lebih dari seratus tahun. Di bawah tarian ranting yang dihembuskan angin, dalam pikiran tenang yang tak pernah terusik oleh lelah fisik, Ia menundukkan kepala pada Sang Pohon.

“Ayah, Kau begitu mulia, tenang dan sempurna. Seandainya saja aku bisa membalas kebaikan-Mu, belasan tahun telah menjadi teman berkeluh kesah, menjadi sandaran bagi tubuh yang rentan ini. Bolehkah aku sekali ini menginap, tidur dalam pelukanmu, Ayah? Menemani kesendirianmu saat bulan mati, menatapmu bersama pijar-pijar bintang di malam terakhir Sasih Kesana,” gumamnya pada pohon.

“Anakku, tidak ada yang harus kamu balas. Tak pernah kuharapkan hal seperti itu, padamu atau pada siapapun. Aku tak mengenal kebaikan begitu juga keburukan dalam bahasa mu. Karena aku tercipta sebagai pohon, maka sudah semestinya menjalankan kehidupan sebagai pohon. Pohon tua ini atau pohon lainnya yang berjejer di atas bukit sana mungkin telah menyaring udara kotor dan membuat kamu teduh, namun bisa saja suatu saat kami tumbang disapu angin dan digerus air hujan, tak mampu lagi menyangga tanah sehingga terperosok sampai ke desa dan melukai orang-orang. Apakah di saat seperti itu kau akan menyebut kami buruk?

Demikian kaummu telah mengajarkan pikiran dan tubuh menilai hal baik dan buruk, tapi ketahuilah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, telah melampaui keduanya. Belajarlah pada yang di dalam.

Anakku, lihatlah langit, gelap segera tiba. Seperti yang kau tahu saat matahari terbenam, aku tak lagi baik untuk napasmu. Kau akan jatuh dan lemas jika bermalam di dekatku.”

Pemuda tanggung itu menegakkan punggungnya, berdiri menatap salah satu ranting yang paling besar dan tua, Ia kembali mengungkapkan isi pikirannya.

“Hidup manusia begitu pendek dan rapuh, rentan akan sakit dan tak luput dimakan usia. Kematian tak mampu diduga, bisa saja besok, lusa, tiga hari lagi, atau selesai percakapan ini kematian datang pada anak mu ini. Aku khawatir hari esok tak ada lagi, dan niatku untuk membalas kemuliaan mu tak pernah tersampaikan.”

Ia diam sejenak, memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sang Pohon. “Esok adalah hari pergantian tahun, aku berharap bisa menyambutnya terjaga seperti dirimu, tenang tanpa keluhan dan sempurna tanpa cela. Bisakah engkau ajarkan cara menjadi seperti dirimu, Ayah, Pohon Tua yang tiada henti memberi dan menjaga bumi?”

“Kamu tidak perlu belajar menjadi Aku dalam fisik pohon seperti ini, bukankah sejak beratus-ratus tahun yang lampau leluhur mu telah menuturkan secara terus menerus bahwa sesungguhnya Kamu adalah Aku dalam fisik manusia.”

Pemuda tanggung mendekati Sang Pohon, menyentuh akar yang paling besar dengan tangannya yang kasar dan hangat. Sentuhan lembut dari telapak tangan yang bergambarkan guratan-guratan pengalaman, bekas goresan tanggung jawab, yang menemaninya berkembang sampai saat ini.

“Ayah, aku tidak paham dengan maksudmu.”

Sejenak hening, udara sudah mulai berubah dan menipis. Hembusan dingin angin gunung perlahan menyentuh kulit Si Pemuda Tanggung.

Sang Pohon kembali melanjutkan. “Anakku, sejenak kamu bayangkan isi dapur di rumah mu, lihatlah satu demi satu perkakas yang terbuat dari tanah liat, meski semua dibentuk dari tanah namun setiap perkakas memiliki fisik, warna dan fungsi yang berbeda. Kala tak lagi terpakai, usang dan rusak, mereka kan kembali, melebur pada asalnya. Kita semua, sampai saat ini dengan berbagai macam kesadaran telah terbentuk dari entitas yang sama, suatu saat cepat atau lambat kan kembali pada asalnya, tanah, Ibu kita semua.”

Nampak Si Pemuda tanggung mencoba mencermati yang disampaikan pohon. Lalu ia masuk celah di antara dua akar besar, duduk menyandarkan kepala dan punggungnya.

Sang Pohon melanjutkan. “Besok, saat matahari terbit kamu bisa mulai mencoba sesuatu yang sederhana.”

Jagalah udara di sekitar mu agar ia berhembus apa adanya, tanpa asap, tanpa nyala api. Sehingga paru-parumu dapat menghirup napas semesta yang murni, hidungmu belajar memahami aroma hidup yang mengaliri pohon-pohon, binatang, serangga dan benda mati di sekitarmu. Saat malam tiba, bintang-bintang kan terlihat jelas, mereka tidak dikaburkan oleh pijar lampu di sekitarmu. Biarlah mata belajar dari dalam, melihat dalam kegelapan.

Cahaya dan mata membantumu untuk membedakan segala sesuatunya, tapi mata yang rapuh membuat mu jatuh pada gemerlapa, keindahan yang sementara. Kupu-kupu yang bertengger di atas bunga mawar kau puji dengan kata-kata indah, tapi pada hari sebelumnya saat ulat menempel di salah satu daun kau malah menghindar. Bukankah ulat dan kupu-kupu adalah sentitas yang sama, hanya karena periode waktu yang sementara itu kamu melihatnya dengan cara yang berbeda.

Berhenti sejenak dari rutinitas, biarlah tubuh beristirahat. Seluruh bagian tubuh dan semua organ bergerak tanpa tekanan. Pahami setiap aliran darah pada nadi, rasakan bagaimana jantung berdetak dan usaha paru-paru membuat mu tetap bisa bernapas sampai saat ini.

Lakukan segala sesuatunya tanpa harus bersuara. Ijinkan kedua telinga mendengar apa yang seharusnya mereka dengar, bukan apa yang pikiran inginkan. Kau tahu, segala sesuatu di dunia ini, baik yang hidup dan yang mati, semuanya menghasilkan suara dan tanda. Mereka selalu berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja telinga manusia tak mampu menjangkau semua bahasa dan semua tanda.

Terakhir, menyepilah untuk menjadi diri sendiri, untuk tubuh dan pikiran, meski tak bisa kau hindari dalam keramaian. Ku tahu ini sulit, namun hal itu satu cara untuk bisa menjadi Aku, seperti yang kau niatkan. Dan saat udara telah murni, kau kan mencium aroma mahluk hidup, tidak hanya aroma tubuhnya tapu juga aroma di luar dari tubuhnya. Melihat wujud dalam gelap dan membedakan segala sesuatunya tanpa cahaya. Mendengar segala hal kemudian memahami tandanya, meski dirimu dan mereka tak saling berdekatan serta bersentuhan.

Menjadi pengendali penuh atas diri, seperti pohon-pohon tua yang selama ini kau datangi dan kau sentuh dengan tangan mu itu. Tiada bahagia yang meluap dari mereka, tiada kesedihan yang pernah mengendap. Saat angin datang, mereka membiarkan ranting-ranting menari mengikuti arahnya, lalu benih beterbangan, menumbuhkan tunas baru di tanah seberang. Ketika musim kemarau, daun-daun lama dan kering berguguran, menyiapkan daun-daun kecil tumbuh hijau, berkembang di musim berikutnya.”

Si Pemuda tanggung membuka matanya, seolah ia baru terbangun dari mimpinya yang panjang. Di antara udara dingin Ia merasakan kehangatan, dipeluk oleh ayahnya.

Langit jingga telah menghilang, pemandangan mulai terlihat samar. Binar-binar lampu di jalanan dan rumah-rumah telah menyala. Orang-orang bersiap menyambut malam pergantian tahun. Sang Pemuda bangkit dari duduknya, memasang kayu diantara ikatan dua kayu bakar, kemudian menaruhnya pada bahu. Ia memandang kejauhan, wajahnya berseri usai mengusap pipinya yang dibasahi kebahagiaan. Ia berpamitan pada Sang Pohon, menerobos kabut, menuju desa.

__

Lima puluh tahun setelah percakapan itu, tepatnya dua belas tahun yang lalu, saya bertemu dengan Si Pemuda Tanggung. Dalam tubuh yang tak lagi semuda kisahnya di atas, Ia menyeduhkan saya kopi dan menawari pisang dari kebunnya. Suasana Nyepi ini selalu mengingatkan saya pada raut wajah dan senyumnya, yang bercerita lebih banyak dari apa yang ia sampaikan. [T]

Badung, 25 Maret 2020

Tags: Cerpen
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Next Post

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Wayan Martino

Wayan Martino

Fotografer

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Khas

Eka Kurniawan Kupas Makna Kemanusiaan dalam Novel “O” di Festival Seni Bali Jani VIII 2026

AGENDA Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 semakin semarak dengan hadirnya diskusi buku bertajuk "Hasrat Menjadi Manusia dalam...

by Nyoman Budarsana
July 22, 2026
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co