12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Wayan Martino by Wayan Martino
April 1, 2020
in Cerpen
Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua -- Cerpen/Foto Wayan Martino

Cerpen Wayan Martino


Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, saban hari masuk – keluar hutan, pergi saat pagi dan pulang menjelang malam. Di antara orang-orang desa, dia dikenal dengan kepolosannya. Hampir semua orang mengenal dirinya, entah karena keramahannya atau karena selalu terlihat tersenyum. Namun ia punya satu rahasia, yang tak sembarang orang tahu dan memahaminya, Ia bisa berbicara dengan pohon. Juga baginya pohon seperti seorang ayah, sekaligus ibunya. Sejak lahir ia tak mengenal orang tua, Ia tumbuh dan besar bersama sang nenek.

Suatu hari sebelum matahari terbenam, saat jingga mewarnai langit, usai mengumpulkan dua ikat kayu bakar, Ia duduk seorang diri di sudut desa. Di sebuah tanah lapang yang serupa bukit kecil, tempat yang dikelilingi oleh pertemuan dua sungai. Tempat dimana ia bisa melihat desanya secara menyeluruh dari ketinggian.

Di hadapannya berdiri satu pohon besar, kokoh dan berdaun lebat, menurut orang-orang usianya lebih dari seratus tahun. Di bawah tarian ranting yang dihembuskan angin, dalam pikiran tenang yang tak pernah terusik oleh lelah fisik, Ia menundukkan kepala pada Sang Pohon.

“Ayah, Kau begitu mulia, tenang dan sempurna. Seandainya saja aku bisa membalas kebaikan-Mu, belasan tahun telah menjadi teman berkeluh kesah, menjadi sandaran bagi tubuh yang rentan ini. Bolehkah aku sekali ini menginap, tidur dalam pelukanmu, Ayah? Menemani kesendirianmu saat bulan mati, menatapmu bersama pijar-pijar bintang di malam terakhir Sasih Kesana,” gumamnya pada pohon.

“Anakku, tidak ada yang harus kamu balas. Tak pernah kuharapkan hal seperti itu, padamu atau pada siapapun. Aku tak mengenal kebaikan begitu juga keburukan dalam bahasa mu. Karena aku tercipta sebagai pohon, maka sudah semestinya menjalankan kehidupan sebagai pohon. Pohon tua ini atau pohon lainnya yang berjejer di atas bukit sana mungkin telah menyaring udara kotor dan membuat kamu teduh, namun bisa saja suatu saat kami tumbang disapu angin dan digerus air hujan, tak mampu lagi menyangga tanah sehingga terperosok sampai ke desa dan melukai orang-orang. Apakah di saat seperti itu kau akan menyebut kami buruk?

Demikian kaummu telah mengajarkan pikiran dan tubuh menilai hal baik dan buruk, tapi ketahuilah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, telah melampaui keduanya. Belajarlah pada yang di dalam.

Anakku, lihatlah langit, gelap segera tiba. Seperti yang kau tahu saat matahari terbenam, aku tak lagi baik untuk napasmu. Kau akan jatuh dan lemas jika bermalam di dekatku.”

Pemuda tanggung itu menegakkan punggungnya, berdiri menatap salah satu ranting yang paling besar dan tua, Ia kembali mengungkapkan isi pikirannya.

“Hidup manusia begitu pendek dan rapuh, rentan akan sakit dan tak luput dimakan usia. Kematian tak mampu diduga, bisa saja besok, lusa, tiga hari lagi, atau selesai percakapan ini kematian datang pada anak mu ini. Aku khawatir hari esok tak ada lagi, dan niatku untuk membalas kemuliaan mu tak pernah tersampaikan.”

Ia diam sejenak, memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sang Pohon. “Esok adalah hari pergantian tahun, aku berharap bisa menyambutnya terjaga seperti dirimu, tenang tanpa keluhan dan sempurna tanpa cela. Bisakah engkau ajarkan cara menjadi seperti dirimu, Ayah, Pohon Tua yang tiada henti memberi dan menjaga bumi?”

“Kamu tidak perlu belajar menjadi Aku dalam fisik pohon seperti ini, bukankah sejak beratus-ratus tahun yang lampau leluhur mu telah menuturkan secara terus menerus bahwa sesungguhnya Kamu adalah Aku dalam fisik manusia.”

Pemuda tanggung mendekati Sang Pohon, menyentuh akar yang paling besar dengan tangannya yang kasar dan hangat. Sentuhan lembut dari telapak tangan yang bergambarkan guratan-guratan pengalaman, bekas goresan tanggung jawab, yang menemaninya berkembang sampai saat ini.

“Ayah, aku tidak paham dengan maksudmu.”

Sejenak hening, udara sudah mulai berubah dan menipis. Hembusan dingin angin gunung perlahan menyentuh kulit Si Pemuda Tanggung.

Sang Pohon kembali melanjutkan. “Anakku, sejenak kamu bayangkan isi dapur di rumah mu, lihatlah satu demi satu perkakas yang terbuat dari tanah liat, meski semua dibentuk dari tanah namun setiap perkakas memiliki fisik, warna dan fungsi yang berbeda. Kala tak lagi terpakai, usang dan rusak, mereka kan kembali, melebur pada asalnya. Kita semua, sampai saat ini dengan berbagai macam kesadaran telah terbentuk dari entitas yang sama, suatu saat cepat atau lambat kan kembali pada asalnya, tanah, Ibu kita semua.”

Nampak Si Pemuda tanggung mencoba mencermati yang disampaikan pohon. Lalu ia masuk celah di antara dua akar besar, duduk menyandarkan kepala dan punggungnya.

Sang Pohon melanjutkan. “Besok, saat matahari terbit kamu bisa mulai mencoba sesuatu yang sederhana.”

Jagalah udara di sekitar mu agar ia berhembus apa adanya, tanpa asap, tanpa nyala api. Sehingga paru-parumu dapat menghirup napas semesta yang murni, hidungmu belajar memahami aroma hidup yang mengaliri pohon-pohon, binatang, serangga dan benda mati di sekitarmu. Saat malam tiba, bintang-bintang kan terlihat jelas, mereka tidak dikaburkan oleh pijar lampu di sekitarmu. Biarlah mata belajar dari dalam, melihat dalam kegelapan.

Cahaya dan mata membantumu untuk membedakan segala sesuatunya, tapi mata yang rapuh membuat mu jatuh pada gemerlapa, keindahan yang sementara. Kupu-kupu yang bertengger di atas bunga mawar kau puji dengan kata-kata indah, tapi pada hari sebelumnya saat ulat menempel di salah satu daun kau malah menghindar. Bukankah ulat dan kupu-kupu adalah sentitas yang sama, hanya karena periode waktu yang sementara itu kamu melihatnya dengan cara yang berbeda.

Berhenti sejenak dari rutinitas, biarlah tubuh beristirahat. Seluruh bagian tubuh dan semua organ bergerak tanpa tekanan. Pahami setiap aliran darah pada nadi, rasakan bagaimana jantung berdetak dan usaha paru-paru membuat mu tetap bisa bernapas sampai saat ini.

Lakukan segala sesuatunya tanpa harus bersuara. Ijinkan kedua telinga mendengar apa yang seharusnya mereka dengar, bukan apa yang pikiran inginkan. Kau tahu, segala sesuatu di dunia ini, baik yang hidup dan yang mati, semuanya menghasilkan suara dan tanda. Mereka selalu berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja telinga manusia tak mampu menjangkau semua bahasa dan semua tanda.

Terakhir, menyepilah untuk menjadi diri sendiri, untuk tubuh dan pikiran, meski tak bisa kau hindari dalam keramaian. Ku tahu ini sulit, namun hal itu satu cara untuk bisa menjadi Aku, seperti yang kau niatkan. Dan saat udara telah murni, kau kan mencium aroma mahluk hidup, tidak hanya aroma tubuhnya tapu juga aroma di luar dari tubuhnya. Melihat wujud dalam gelap dan membedakan segala sesuatunya tanpa cahaya. Mendengar segala hal kemudian memahami tandanya, meski dirimu dan mereka tak saling berdekatan serta bersentuhan.

Menjadi pengendali penuh atas diri, seperti pohon-pohon tua yang selama ini kau datangi dan kau sentuh dengan tangan mu itu. Tiada bahagia yang meluap dari mereka, tiada kesedihan yang pernah mengendap. Saat angin datang, mereka membiarkan ranting-ranting menari mengikuti arahnya, lalu benih beterbangan, menumbuhkan tunas baru di tanah seberang. Ketika musim kemarau, daun-daun lama dan kering berguguran, menyiapkan daun-daun kecil tumbuh hijau, berkembang di musim berikutnya.”

Si Pemuda tanggung membuka matanya, seolah ia baru terbangun dari mimpinya yang panjang. Di antara udara dingin Ia merasakan kehangatan, dipeluk oleh ayahnya.

Langit jingga telah menghilang, pemandangan mulai terlihat samar. Binar-binar lampu di jalanan dan rumah-rumah telah menyala. Orang-orang bersiap menyambut malam pergantian tahun. Sang Pemuda bangkit dari duduknya, memasang kayu diantara ikatan dua kayu bakar, kemudian menaruhnya pada bahu. Ia memandang kejauhan, wajahnya berseri usai mengusap pipinya yang dibasahi kebahagiaan. Ia berpamitan pada Sang Pohon, menerobos kabut, menuju desa.

__

Lima puluh tahun setelah percakapan itu, tepatnya dua belas tahun yang lalu, saya bertemu dengan Si Pemuda Tanggung. Dalam tubuh yang tak lagi semuda kisahnya di atas, Ia menyeduhkan saya kopi dan menawari pisang dari kebunnya. Suasana Nyepi ini selalu mengingatkan saya pada raut wajah dan senyumnya, yang bercerita lebih banyak dari apa yang ia sampaikan. [T]

Badung, 25 Maret 2020

Tags: Cerpen
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Next Post

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Wayan Martino

Wayan Martino

Fotografer

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co