2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Wayan Martino by Wayan Martino
April 1, 2020
in Cerpen
Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua -- Cerpen/Foto Wayan Martino

Cerpen Wayan Martino


Di sebuah desa kecil di balik Gunung A, tinggalah seorang pemuda tanggung, belia dalam usia, dewasa dalam sikap hidup. Ia seorang pengumpul kayu bakar, saban hari masuk – keluar hutan, pergi saat pagi dan pulang menjelang malam. Di antara orang-orang desa, dia dikenal dengan kepolosannya. Hampir semua orang mengenal dirinya, entah karena keramahannya atau karena selalu terlihat tersenyum. Namun ia punya satu rahasia, yang tak sembarang orang tahu dan memahaminya, Ia bisa berbicara dengan pohon. Juga baginya pohon seperti seorang ayah, sekaligus ibunya. Sejak lahir ia tak mengenal orang tua, Ia tumbuh dan besar bersama sang nenek.

Suatu hari sebelum matahari terbenam, saat jingga mewarnai langit, usai mengumpulkan dua ikat kayu bakar, Ia duduk seorang diri di sudut desa. Di sebuah tanah lapang yang serupa bukit kecil, tempat yang dikelilingi oleh pertemuan dua sungai. Tempat dimana ia bisa melihat desanya secara menyeluruh dari ketinggian.

Di hadapannya berdiri satu pohon besar, kokoh dan berdaun lebat, menurut orang-orang usianya lebih dari seratus tahun. Di bawah tarian ranting yang dihembuskan angin, dalam pikiran tenang yang tak pernah terusik oleh lelah fisik, Ia menundukkan kepala pada Sang Pohon.

“Ayah, Kau begitu mulia, tenang dan sempurna. Seandainya saja aku bisa membalas kebaikan-Mu, belasan tahun telah menjadi teman berkeluh kesah, menjadi sandaran bagi tubuh yang rentan ini. Bolehkah aku sekali ini menginap, tidur dalam pelukanmu, Ayah? Menemani kesendirianmu saat bulan mati, menatapmu bersama pijar-pijar bintang di malam terakhir Sasih Kesana,” gumamnya pada pohon.

“Anakku, tidak ada yang harus kamu balas. Tak pernah kuharapkan hal seperti itu, padamu atau pada siapapun. Aku tak mengenal kebaikan begitu juga keburukan dalam bahasa mu. Karena aku tercipta sebagai pohon, maka sudah semestinya menjalankan kehidupan sebagai pohon. Pohon tua ini atau pohon lainnya yang berjejer di atas bukit sana mungkin telah menyaring udara kotor dan membuat kamu teduh, namun bisa saja suatu saat kami tumbang disapu angin dan digerus air hujan, tak mampu lagi menyangga tanah sehingga terperosok sampai ke desa dan melukai orang-orang. Apakah di saat seperti itu kau akan menyebut kami buruk?

Demikian kaummu telah mengajarkan pikiran dan tubuh menilai hal baik dan buruk, tapi ketahuilah jiwa yang bersembunyi di dalamnya, telah melampaui keduanya. Belajarlah pada yang di dalam.

Anakku, lihatlah langit, gelap segera tiba. Seperti yang kau tahu saat matahari terbenam, aku tak lagi baik untuk napasmu. Kau akan jatuh dan lemas jika bermalam di dekatku.”

Pemuda tanggung itu menegakkan punggungnya, berdiri menatap salah satu ranting yang paling besar dan tua, Ia kembali mengungkapkan isi pikirannya.

“Hidup manusia begitu pendek dan rapuh, rentan akan sakit dan tak luput dimakan usia. Kematian tak mampu diduga, bisa saja besok, lusa, tiga hari lagi, atau selesai percakapan ini kematian datang pada anak mu ini. Aku khawatir hari esok tak ada lagi, dan niatku untuk membalas kemuliaan mu tak pernah tersampaikan.”

Ia diam sejenak, memikirkan kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya pada Sang Pohon. “Esok adalah hari pergantian tahun, aku berharap bisa menyambutnya terjaga seperti dirimu, tenang tanpa keluhan dan sempurna tanpa cela. Bisakah engkau ajarkan cara menjadi seperti dirimu, Ayah, Pohon Tua yang tiada henti memberi dan menjaga bumi?”

“Kamu tidak perlu belajar menjadi Aku dalam fisik pohon seperti ini, bukankah sejak beratus-ratus tahun yang lampau leluhur mu telah menuturkan secara terus menerus bahwa sesungguhnya Kamu adalah Aku dalam fisik manusia.”

Pemuda tanggung mendekati Sang Pohon, menyentuh akar yang paling besar dengan tangannya yang kasar dan hangat. Sentuhan lembut dari telapak tangan yang bergambarkan guratan-guratan pengalaman, bekas goresan tanggung jawab, yang menemaninya berkembang sampai saat ini.

“Ayah, aku tidak paham dengan maksudmu.”

Sejenak hening, udara sudah mulai berubah dan menipis. Hembusan dingin angin gunung perlahan menyentuh kulit Si Pemuda Tanggung.

Sang Pohon kembali melanjutkan. “Anakku, sejenak kamu bayangkan isi dapur di rumah mu, lihatlah satu demi satu perkakas yang terbuat dari tanah liat, meski semua dibentuk dari tanah namun setiap perkakas memiliki fisik, warna dan fungsi yang berbeda. Kala tak lagi terpakai, usang dan rusak, mereka kan kembali, melebur pada asalnya. Kita semua, sampai saat ini dengan berbagai macam kesadaran telah terbentuk dari entitas yang sama, suatu saat cepat atau lambat kan kembali pada asalnya, tanah, Ibu kita semua.”

Nampak Si Pemuda tanggung mencoba mencermati yang disampaikan pohon. Lalu ia masuk celah di antara dua akar besar, duduk menyandarkan kepala dan punggungnya.

Sang Pohon melanjutkan. “Besok, saat matahari terbit kamu bisa mulai mencoba sesuatu yang sederhana.”

Jagalah udara di sekitar mu agar ia berhembus apa adanya, tanpa asap, tanpa nyala api. Sehingga paru-parumu dapat menghirup napas semesta yang murni, hidungmu belajar memahami aroma hidup yang mengaliri pohon-pohon, binatang, serangga dan benda mati di sekitarmu. Saat malam tiba, bintang-bintang kan terlihat jelas, mereka tidak dikaburkan oleh pijar lampu di sekitarmu. Biarlah mata belajar dari dalam, melihat dalam kegelapan.

Cahaya dan mata membantumu untuk membedakan segala sesuatunya, tapi mata yang rapuh membuat mu jatuh pada gemerlapa, keindahan yang sementara. Kupu-kupu yang bertengger di atas bunga mawar kau puji dengan kata-kata indah, tapi pada hari sebelumnya saat ulat menempel di salah satu daun kau malah menghindar. Bukankah ulat dan kupu-kupu adalah sentitas yang sama, hanya karena periode waktu yang sementara itu kamu melihatnya dengan cara yang berbeda.

Berhenti sejenak dari rutinitas, biarlah tubuh beristirahat. Seluruh bagian tubuh dan semua organ bergerak tanpa tekanan. Pahami setiap aliran darah pada nadi, rasakan bagaimana jantung berdetak dan usaha paru-paru membuat mu tetap bisa bernapas sampai saat ini.

Lakukan segala sesuatunya tanpa harus bersuara. Ijinkan kedua telinga mendengar apa yang seharusnya mereka dengar, bukan apa yang pikiran inginkan. Kau tahu, segala sesuatu di dunia ini, baik yang hidup dan yang mati, semuanya menghasilkan suara dan tanda. Mereka selalu berkomunikasi satu sama lain. Hanya saja telinga manusia tak mampu menjangkau semua bahasa dan semua tanda.

Terakhir, menyepilah untuk menjadi diri sendiri, untuk tubuh dan pikiran, meski tak bisa kau hindari dalam keramaian. Ku tahu ini sulit, namun hal itu satu cara untuk bisa menjadi Aku, seperti yang kau niatkan. Dan saat udara telah murni, kau kan mencium aroma mahluk hidup, tidak hanya aroma tubuhnya tapu juga aroma di luar dari tubuhnya. Melihat wujud dalam gelap dan membedakan segala sesuatunya tanpa cahaya. Mendengar segala hal kemudian memahami tandanya, meski dirimu dan mereka tak saling berdekatan serta bersentuhan.

Menjadi pengendali penuh atas diri, seperti pohon-pohon tua yang selama ini kau datangi dan kau sentuh dengan tangan mu itu. Tiada bahagia yang meluap dari mereka, tiada kesedihan yang pernah mengendap. Saat angin datang, mereka membiarkan ranting-ranting menari mengikuti arahnya, lalu benih beterbangan, menumbuhkan tunas baru di tanah seberang. Ketika musim kemarau, daun-daun lama dan kering berguguran, menyiapkan daun-daun kecil tumbuh hijau, berkembang di musim berikutnya.”

Si Pemuda tanggung membuka matanya, seolah ia baru terbangun dari mimpinya yang panjang. Di antara udara dingin Ia merasakan kehangatan, dipeluk oleh ayahnya.

Langit jingga telah menghilang, pemandangan mulai terlihat samar. Binar-binar lampu di jalanan dan rumah-rumah telah menyala. Orang-orang bersiap menyambut malam pergantian tahun. Sang Pemuda bangkit dari duduknya, memasang kayu diantara ikatan dua kayu bakar, kemudian menaruhnya pada bahu. Ia memandang kejauhan, wajahnya berseri usai mengusap pipinya yang dibasahi kebahagiaan. Ia berpamitan pada Sang Pohon, menerobos kabut, menuju desa.

__

Lima puluh tahun setelah percakapan itu, tepatnya dua belas tahun yang lalu, saya bertemu dengan Si Pemuda Tanggung. Dalam tubuh yang tak lagi semuda kisahnya di atas, Ia menyeduhkan saya kopi dan menawari pisang dari kebunnya. Suasana Nyepi ini selalu mengingatkan saya pada raut wajah dan senyumnya, yang bercerita lebih banyak dari apa yang ia sampaikan. [T]

Badung, 25 Maret 2020

Tags: Cerpen
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Next Post

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Wayan Martino

Wayan Martino

Fotografer

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co