4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Penulis Cerita Katagori Umum by Penulis Cerita Katagori Umum
April 1, 2020
in Esai
Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial

Rumah Tak Hanya Berfungsi Sosial / Oleh: I Wayan Artika – Batungsel, Pupuan, Tabanan

Oleh: I Wayan Artika – Batungsel, Pupuan, Tabanan

Jadi, kalau demikian adanya, apa makna rumah selama ini? Mengapa berdiam di rumah seakan penjara? Semua orang ingin memiliki rumah jika dimaknai hanya sebagai belenggu kebebasan, untuk apa? Rumah yang mahal didapat dengan berbagai kredit, menggunakan hampir semua penghasilan untuk membangunnya, namun pada akhirnya hanya tempat singgah dari hari-hari bermigrasi suatu keluarga. 

Revolusi hijau di desa mengubah pemahaman masyarakat terhadap rumah. Transformasi pemahaman semakin kuat ketika Orde Baru mengembangkan pembangunan desa, seperti “listrik masuk desa”, “ABRI masuk desa”, “koran masuk desa”. Berwujud nyata pada perubahan pembangunan rumah sehat dengan ideologi pembangunan bahwa rumah-rumah yang telah ada ratusan tahun di desa, harus dirobohkan dan diganti dengan rumah baru berbahan semen dengan tiang beton. Banyak rumah tradisional yang indah dan kuat dirobohkan dan berdiri rumah baru bergaya kantor.

Hal ini mengubah pandangan masyarakat terhadap rumah. Dekade-dekade awal ORBA di desaku ditandai dengan pembangunan rumah dengan material baru, yang sebelumnya rumah sangat sederhana, dari bambu atau kayu yang dibudidayakan sendiri di kebun kopi. Rumah bagi petani bukanlah pusat aktivitas ekonomi. Rumah murni sebagai tempat istirahat pada malam hari. Sepanjang siang semuanya pergi ke kebun dan subak karena di sinilah kehidupan desa yang sebenarnya berputar. Di kebun atau di subak tersedia berbagai sumber hidup yang melimpah, air yang bersih, sayuran, jamur, koloni lebah, ikan-ikan, umbi-umbian, atau hewan seperti landak, musang, terenggiling, bukal dll.

Pembangunan desa ORBA mengubah wajah desa, dengan menghadirkan rumah-rumah bata lengkap dengan pembagian kamar atau fungsi yang spesifik, seperti kamar tamu, teras, dapur, kamar mandi, dan kamar tidur. Natah luas yang dimiliki setiap rumah pun beralih fungsi untuk pembangunan rumah sehat ala ORBA. Maka desa semakin sumpek!

Sebelum era rumah sehat satu keluarga yang terdiri atas beberapa KK tinggal di satu rumah hidup rukun dan ramai. Tak ada kamar-kamar pribadi. Dalam satu rumah yang hanya ada satu ruangan dengan 4-5 tempat tidur kayu berkelambu atau terbuka, dapur dan segala perlengkapannya. Di rumah inilah kehidupan berlangsung!   

Bagi petani, rumah tidak penting karena pusat hidup ekonomi sepanjang tahun adalah kebun kopi dan subak. Semua waktu habis di kedua tempat itu. Sedikit lebih lama di rumah ketika ada peristiwa suka duka. Sepanjang hari desa memang sepi, hanya dihuni para orang tua, sebagaimana ditulis dalam novel Inses.

Karena sekolah SMP di Tabanan, harus indekos, harus tinggal bertahun-tahun terpisah dari rumah di desa. Kamar pribadi yang disewa di Tabanan mengubah persepsi terhadap rumah di desa, yang masih bergaya lama karena orang tua belum memiliki uang untuk mengganti dengan yang baru.

Terbersit keinginan yang kuat, memiliki rumah dengan kamar-kamar pribadi, sehingga jika ada teman-teman sekolah ingin main ke desa, tidak malu. Tapi semua keinginan ini tersimpan karena orang tua menggunakan semua daya ekonomi untuk biaya sekolah. Setiap ada teman yang ingin ikut ke desa, selalu ditolak. Malu, tidak ada kamar!

Pembangunan rumah sehat ala ORBA baru bisa dilaksanakan kelak ketika sudah jadi dosen. Biasa, untuk memenuhi “PNS dream” membeli tanah dengan luas dua are di pinggiran kota Singaraja. Dengan bantuan orang tua, rumah berdiri, walau belum rampung benar, yang penting bisa dtempati, sebelum nikah. Ini juga satu target, nikah setelah rumah.

Pergaulan dengan suami istri Belanda, membangun rumah di atas lahan 35 are di tepi pantai, selayaknya villa atau hotel, dan mengetahui bahwa mengapa rumah orang asing di Bali sangat luas, bersih, dan rimbun, menyadarkan bahwa mereka semua menikmati keindahan alam tanah Bali. Tapi, mengapa tidak demikian bagi orang Bali sendiri?

Dengan tanah kebun kopi seluas 17 are yang dibeli secara mencicil, akan semakin dekat dengan pendirian rumah seperti konsep orang Belanda tadi, menikmati keindahan alam desa sendiri. Tanah ini berbatasan jurang dengan aliran sungai di dasar, sawah membentang, pohon-pohon liar, semak, rumpun bamboo, dibangun rumah sederhana. Tiga unit bangunan yang total luasnya tiga are, dibangun di bawah pepohonan, semak, di tepi jurang dan sawah dengan telabah subak yang mengalirkan air sepanjang musim.

Jalan masuk selebar tiga meter, parkir untuk 10 kendaraan, halaman dengan rumput hijau, pandangan luas dari dapur atau kamar tidur menuju kaki Gunung Batukaru, perbatasan kebun kopi dan kayu alas tutupan, didedikasikan bagi pengembangan konsep bahwa rumah tidak hanya berfungsi sosiologis tetapi edukatif dan literat.

Rumah ini berbeda dengan pada umumnya rumah di desa, yang sempit atau berdesak-desakan, ada kesan kurang terawat, yang mana mengubur keindahan alam desa ini.

Maka tinggal di rumah adalah aktivitas ekspresif, petualangan, kontemplasi, kreativitas, mencercap keindahan alam, bermain dengan tanah dan lumput, menjaga halaman dari sekeping plastik, dan seterusnya.

Tags: Lomba Menulis Cerita Dari Rumah Tentang Rumah
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Ingatan Komunal Tentang Wabah

Next Post

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Penulis Cerita Katagori Umum

Penulis Cerita Katagori Umum

Cerita-cerita ini ditulis para peserta lomba menulis cerita Dari Rumah Tentang Rumah yang diselenggarakan tatkala.co untuk katagori umum

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co