31 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

I Komang Alit Juliartha by I Komang Alit Juliartha
April 1, 2020
in Esai
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Kami bertiga ketika audensi dengan Bupati Bangli tentang Komunitas Bangli Sastra Komala

Siapa yang tidak mengenal Superman is Dead alias SID. Band punk rock asal Bali yang sudah mendunia. Karya-karyanya banyak yang hits dan selalu didengarkan di seluruh tanah air. Fans base merekapun tersebar dimana-mana. Mereka adalah salah satu icon musik di Bali, mungkin juga di Indonesia.

Saya teringat album mereka yang terbaru. Tiga perompak senja. Di album ini yang saya rasakan mereka seakan kembali bernostalgia dengan “kenakalan-kenakalan” mereka di masa remaja. Saat mereka masih indie band. Saya mengikuti band ini sejak mengenal lagu yang berjudul Mengintip. Hingga akhirnya semakin suka ketika keluar lagu Punk Hari Ini di album Kuta Rock City yang merupakan album pertama mereka di mayor label Sony Musik Indonesia.

Kembali ke lagu Tiga Perompak Senja. Semua pasti tahu bahwa tiga perompak itu adalah ketiga orang personil dari SID tersebut yang telah berumur (senja). Bobby Cool pada gitar dan lead vokal, Eka Rock pada bass dan backing vokal, terakhir Jerinx sebagai drummer. Ketiga personil SID ini memiliki karakter yang berbeda. Bobby lebih cool, kalem. Eka lebih lucu. Jerinx lebih ke yang urak-urakan, emosi, sering pula cuitan-cuitannya bikin geger di media sosial. Namun itulah SID. Selama hampir 25 tahun mereka tetap seperti itu. Konsisten. Dan karya-karya mereka masih diterima oleh masyarakat. Saat ini karya mereka terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan yang terdahulu.

Lalu, apa hubungan SID dengan Bangli Sastra Komala? Mungkin terlihat terlalu memaksakan ya bila saya menghubung-hubungkan antara mereka yang tahun ini hampir 25 tahun berkarir dengan komunitas yang baru seumur jagung. Tapi kalau dipikir-pikir lebih jauh lagi, memang nampak sedikit kesamaan. Apa itu?

Bangli Sastra Komala dibangun murni bertujuan untuk mengajak masyarakat terutama pemuda Bangli untuk menulis sastra Bali modern sebagi fokus kami. Karena setelah saya bertanya kepada beberapa penglingsir Sastra Bali modern (SBM) seperti IDK Raka Kusuma, I Nyoman Manda, IGG Djelantik Santha, Ngakan Kasub Sidan, di Bangli belum ada penulis sastra Bali modern yang intens menelurkan karya apalagi menjadi sebuah buku. Tetapi setiap event PKB selalu Bangli ada yang mewakili lomba menulis cerpen berbahasa Bali. Apa mungkin mereka menulis hanya bertujuan untuk lomba saja?

Ada perasaan miris dalam hati, meskipun saya baru belajar menulis SBM pada waktu itu, melihat hanya Bangli yang penulis-penulismya tidak muncul di Bali. Apa karena Bangli kota sepi? Atau karena suasananya yang dingin? Bukankan itu seharusnya menjadi sebuah keunggulan dan keuntungan karena bagi penulis suasana sepi dan sejuk sangat tepat untuk mendapatkan ilham dan menuliskannya ke dalam sebuah karya sastra. Sutan Takdir Alisjahbana saja membuat sebuah pedepokan sastra di tepi Danau Batur. Begitupula cerita IGG Djelantik Santha yang melegenda “Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang” dimana setting tempatnya juga ada di Bangli. Kisah-kisah purba lainnya pula turut menjadikan Bangli sebagai tempat ideal untuk menulis.

Lalu kemana para sastrawan Bangli? Saya tidak tahu. Banyak kepingan cerita yang harus dikumpulkan dan dijadikan satu kembali. Itulah mengapa saya mengajak Darma Putra dan Pande Jati waktu itu untuk membentuk Bangli Sastra Komala. Kami sepakat untuk membentuk komunitas ini. Akhirnya kami datang ke rumah Pak Wayan Supertama seorang penekun lontar sebagai orang yang kami tuakan, beliau memberikan sebuah nama cantik plus singkatannya, Bangli Sastra Komala (Baskom).

Kami bertiga seakan-akan seperti Superman is Dead. Tiga perompak tapi masih muda. Setelah sekian tahun berjalan dengan beberapa kegiatan diiringi semakin banyaknya memiliki sahabat di Bangli yang masuk menjadi bagian dari komunitas sebut saja Eka Guna Yasa, Renes Muliani, Agus Mahardika, Lilis Prismayanti, Angga Paradarma, Dewa Adnyana, Intan, dan yang lainnya. Begitu juga penulis-penulis luar Bangli yang selalu mensupport kami yang baru belajar menulis. Seiring perjalanan waktu , saya merasa betapa berbedanya karakter kami bertiga. Ya. Seperti ketiga personil SID tersebut.

Darma Putra adalah sosok yang cool, kalem dan menawan seperti Bobby Cool. Dia selalu menjadi idola dalam komunitas. Diapun memiliki kemampuan lebih di aksara dan filosofi Bali. Makannya tak heran, tulisan-tulisannya sangatlah dalam. Penuh filosofi. Kalau saya membaca harus dalam suasana yang tenang dan sunyi untuk mencari intisari dari tulisan tersebut. Tapi keseringan tidak dapat karena saking dalamnya.

Pande Jati merupakan sosok yang legowo, selalu menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya. Dia lucu. Selalu ada untuk kawan-kawannya. Saya merasa Pande Jati seperti Eka Rock yang selalu ceria dengan kelucuannya. Pande Jatipun memiliki kemampuan yang berbeda dengan Darma Putra. Dia lebih cenderung larinya ke sastra Bali tradisional, Geguritan. Sering dia ngayah di pura. Berkat kemampunnya tersebut dia bisa mendapatkan kosakata-kosakata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Baca saja kumpulan puisi perdananya yang berjudul Silunglung. Apa arti dari silunglung? Pernahkah mendengar kata silunglung?

Nah, yang terakhir adalah Alit Joule alias saya sendiri. Terlalu naif sepertinya ya jika ngomongin diri sendiri. Tapi karna tuntunan tulisan, saya harus menuliskan tentang diri saya sendiri. Saya tidak mau membicarakan yang baik-baiknya saja. Saya ingin netral. Dan berdasarkan dari kacamata sahabat-sahabat yang lain juga. Agar seimbang.

Seperti karakter Jerinx yang idealis,emosional, ngomongnya juga kadang kasar, tapi aslinya dia supel, dan di interview terakhir yang saya tonton Jerinx adalah orang yang sopan dan attitudnya bagus, meskipun terlihat urak-urakan. Ya, saya merasa seperti itu. Yang paling sering emosi dan buat masalah adalah saya. Yang paling egois adalah saya. Yang paling banyak bicara adalag saya. Yang terlalu kaku terhadap pendiriannya adalah saya. kedua sahabat saya itu memiliki pendirian, tapi yang saya lihat mereka tidak kaku. Mereka lebih bisa diajak berdamai. Lebih kompromis. Teman-teman yang lainpun berkata begitu.

Mereka juga mengatakan bahwa salah satu kelebihan saya dari yang lain adalah pada penulisan cerita-cerita. Puluhan cerpen lahir. Novel Satyaning Atipun tercipta ketika usia saya 24 tahun. Dan Bayu Purnama waktu peluncuran buku Ngantiang Ujan dan Satyaning Ati di STKIP di Karangasem menyatakan bahwa saya penulis novel berbahasa Bali termuda di Bali.

Sempat beberapa kejadian membuat suasana yang dulu hangat menjadi dingin. Ya, seperti perang dingin antara US dan Uni Sovyet. Entah apa yang menyebabkan, saya tidak tahu. Apa mungkin karna ego saya yang terlalu tinggi? Idealisme saya yang menyebabkan saya terlalu kaku? Atau ocehan-ocehan saya yang terkadang bikin orang sakit hati? Yang pasti saya merasa ada yang berbeda. Saya lihat semuanya berjalan sendiri-sendiri di jalurnya sendiri. Tapi itulah organisasi. Ada saatnya jaya ada saatnya vacum dan berjalan sendiri-sendiri.

Dan kini, ketika saya sudah jauh dari rumah, bekerja jadi buruh di kapal pesiar, tidak bisa dipungkiri saya sangat merindukan mereka berdua. Apakah mereka merindukan saya? Saya tidak tahu. Tapi feeling saya, ada satu waktu mereka mengingat diri saya. Mengingat Bangli Sastra Komala yang kita bangun dengan ketulusan hati bersama dengan sahabat lainnya.

Seperti layaknya Superman is Dead yang masih bertahan dengan perbedaan karakter mereka dan masih menghasilkan karya adalah sesuatu yang tidak mudah. Mereka pasti merasakan kepedihan, perselisihan, pertengkaran dan perjuangan yang amat berat untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Saya berharap kami bertiga bersama sahabat-sahabat yang lain bisa menjadi palang pintu terakhir untuk Bangli Sastra Komala. Semakin dewasa baik dalam sikap maupun karya. Bisa memberi pengaruh kepada kaum muda Bangli untuk menulis. Dan bisa terus melahirkan tulisan-tulisan berbahasa Bali maupun berbahasa Indonesia.

Sekali lagi, saya sangat merindukan sahabat baik saya Darma Putra dan Pande Jati. Meskipun saya dan Pande Jati sudah berkeluarga dan semoga Darma Putra lekas menyusul, begitu juga jarak yang memisahkan serta kesibukan-kesibukan lainnya, asa untuk berkumpul selalu membara dalam kalbu. Melupakan segala perselisihan dan ego dalam diri. Bercerita tentang nostalgia penuh canda tawa ditemani secangkir kopi hitam dan buah lisah yang dipetik langsung dari halaman rumah. Sungguh membahagiakan. Dan benar, ternyata bahagia itu sederhana.

Salam dari samudra. [T]

Tags: BangliBangli Sastra Komalasastra bali modern
Share221TweetSendShareSend
Previous Post

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Next Post

Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng – [Bisa Ditiru]

I Komang Alit Juliartha

I Komang Alit Juliartha

Tinggal di Bangli. Peraih hadiah Sastera Rancage tahun 2014. Bergiat di Komunitas Bangli Sastra Komala. Ia berpulang Jumat, 29 Januari 2021 di RSU BMC Bangli. Ia pergi saat beberapa impiannya belum terwujud untuk Sastra Bali Modern

Related Posts

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails
Next Post
Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng – [Bisa Ditiru]

Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng - [Bisa Ditiru]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita
Cerpen

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya
Puisi

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha
Esai

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co