22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

I Komang Alit Juliartha by I Komang Alit Juliartha
April 1, 2020
in Esai
Superman is Dead & Bangli Sastra Komala

Kami bertiga ketika audensi dengan Bupati Bangli tentang Komunitas Bangli Sastra Komala

Siapa yang tidak mengenal Superman is Dead alias SID. Band punk rock asal Bali yang sudah mendunia. Karya-karyanya banyak yang hits dan selalu didengarkan di seluruh tanah air. Fans base merekapun tersebar dimana-mana. Mereka adalah salah satu icon musik di Bali, mungkin juga di Indonesia.

Saya teringat album mereka yang terbaru. Tiga perompak senja. Di album ini yang saya rasakan mereka seakan kembali bernostalgia dengan “kenakalan-kenakalan” mereka di masa remaja. Saat mereka masih indie band. Saya mengikuti band ini sejak mengenal lagu yang berjudul Mengintip. Hingga akhirnya semakin suka ketika keluar lagu Punk Hari Ini di album Kuta Rock City yang merupakan album pertama mereka di mayor label Sony Musik Indonesia.

Kembali ke lagu Tiga Perompak Senja. Semua pasti tahu bahwa tiga perompak itu adalah ketiga orang personil dari SID tersebut yang telah berumur (senja). Bobby Cool pada gitar dan lead vokal, Eka Rock pada bass dan backing vokal, terakhir Jerinx sebagai drummer. Ketiga personil SID ini memiliki karakter yang berbeda. Bobby lebih cool, kalem. Eka lebih lucu. Jerinx lebih ke yang urak-urakan, emosi, sering pula cuitan-cuitannya bikin geger di media sosial. Namun itulah SID. Selama hampir 25 tahun mereka tetap seperti itu. Konsisten. Dan karya-karya mereka masih diterima oleh masyarakat. Saat ini karya mereka terlihat lebih dewasa dibandingkan dengan yang terdahulu.

Lalu, apa hubungan SID dengan Bangli Sastra Komala? Mungkin terlihat terlalu memaksakan ya bila saya menghubung-hubungkan antara mereka yang tahun ini hampir 25 tahun berkarir dengan komunitas yang baru seumur jagung. Tapi kalau dipikir-pikir lebih jauh lagi, memang nampak sedikit kesamaan. Apa itu?

Bangli Sastra Komala dibangun murni bertujuan untuk mengajak masyarakat terutama pemuda Bangli untuk menulis sastra Bali modern sebagi fokus kami. Karena setelah saya bertanya kepada beberapa penglingsir Sastra Bali modern (SBM) seperti IDK Raka Kusuma, I Nyoman Manda, IGG Djelantik Santha, Ngakan Kasub Sidan, di Bangli belum ada penulis sastra Bali modern yang intens menelurkan karya apalagi menjadi sebuah buku. Tetapi setiap event PKB selalu Bangli ada yang mewakili lomba menulis cerpen berbahasa Bali. Apa mungkin mereka menulis hanya bertujuan untuk lomba saja?

Ada perasaan miris dalam hati, meskipun saya baru belajar menulis SBM pada waktu itu, melihat hanya Bangli yang penulis-penulismya tidak muncul di Bali. Apa karena Bangli kota sepi? Atau karena suasananya yang dingin? Bukankan itu seharusnya menjadi sebuah keunggulan dan keuntungan karena bagi penulis suasana sepi dan sejuk sangat tepat untuk mendapatkan ilham dan menuliskannya ke dalam sebuah karya sastra. Sutan Takdir Alisjahbana saja membuat sebuah pedepokan sastra di tepi Danau Batur. Begitupula cerita IGG Djelantik Santha yang melegenda “Tresnane Lebur Ajur Satonden Kembang” dimana setting tempatnya juga ada di Bangli. Kisah-kisah purba lainnya pula turut menjadikan Bangli sebagai tempat ideal untuk menulis.

Lalu kemana para sastrawan Bangli? Saya tidak tahu. Banyak kepingan cerita yang harus dikumpulkan dan dijadikan satu kembali. Itulah mengapa saya mengajak Darma Putra dan Pande Jati waktu itu untuk membentuk Bangli Sastra Komala. Kami sepakat untuk membentuk komunitas ini. Akhirnya kami datang ke rumah Pak Wayan Supertama seorang penekun lontar sebagai orang yang kami tuakan, beliau memberikan sebuah nama cantik plus singkatannya, Bangli Sastra Komala (Baskom).

Kami bertiga seakan-akan seperti Superman is Dead. Tiga perompak tapi masih muda. Setelah sekian tahun berjalan dengan beberapa kegiatan diiringi semakin banyaknya memiliki sahabat di Bangli yang masuk menjadi bagian dari komunitas sebut saja Eka Guna Yasa, Renes Muliani, Agus Mahardika, Lilis Prismayanti, Angga Paradarma, Dewa Adnyana, Intan, dan yang lainnya. Begitu juga penulis-penulis luar Bangli yang selalu mensupport kami yang baru belajar menulis. Seiring perjalanan waktu , saya merasa betapa berbedanya karakter kami bertiga. Ya. Seperti ketiga personil SID tersebut.

Darma Putra adalah sosok yang cool, kalem dan menawan seperti Bobby Cool. Dia selalu menjadi idola dalam komunitas. Diapun memiliki kemampuan lebih di aksara dan filosofi Bali. Makannya tak heran, tulisan-tulisannya sangatlah dalam. Penuh filosofi. Kalau saya membaca harus dalam suasana yang tenang dan sunyi untuk mencari intisari dari tulisan tersebut. Tapi keseringan tidak dapat karena saking dalamnya.

Pande Jati merupakan sosok yang legowo, selalu menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya. Dia lucu. Selalu ada untuk kawan-kawannya. Saya merasa Pande Jati seperti Eka Rock yang selalu ceria dengan kelucuannya. Pande Jatipun memiliki kemampuan yang berbeda dengan Darma Putra. Dia lebih cenderung larinya ke sastra Bali tradisional, Geguritan. Sering dia ngayah di pura. Berkat kemampunnya tersebut dia bisa mendapatkan kosakata-kosakata yang jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Baca saja kumpulan puisi perdananya yang berjudul Silunglung. Apa arti dari silunglung? Pernahkah mendengar kata silunglung?

Nah, yang terakhir adalah Alit Joule alias saya sendiri. Terlalu naif sepertinya ya jika ngomongin diri sendiri. Tapi karna tuntunan tulisan, saya harus menuliskan tentang diri saya sendiri. Saya tidak mau membicarakan yang baik-baiknya saja. Saya ingin netral. Dan berdasarkan dari kacamata sahabat-sahabat yang lain juga. Agar seimbang.

Seperti karakter Jerinx yang idealis,emosional, ngomongnya juga kadang kasar, tapi aslinya dia supel, dan di interview terakhir yang saya tonton Jerinx adalah orang yang sopan dan attitudnya bagus, meskipun terlihat urak-urakan. Ya, saya merasa seperti itu. Yang paling sering emosi dan buat masalah adalah saya. Yang paling egois adalah saya. Yang paling banyak bicara adalag saya. Yang terlalu kaku terhadap pendiriannya adalah saya. kedua sahabat saya itu memiliki pendirian, tapi yang saya lihat mereka tidak kaku. Mereka lebih bisa diajak berdamai. Lebih kompromis. Teman-teman yang lainpun berkata begitu.

Mereka juga mengatakan bahwa salah satu kelebihan saya dari yang lain adalah pada penulisan cerita-cerita. Puluhan cerpen lahir. Novel Satyaning Atipun tercipta ketika usia saya 24 tahun. Dan Bayu Purnama waktu peluncuran buku Ngantiang Ujan dan Satyaning Ati di STKIP di Karangasem menyatakan bahwa saya penulis novel berbahasa Bali termuda di Bali.

Sempat beberapa kejadian membuat suasana yang dulu hangat menjadi dingin. Ya, seperti perang dingin antara US dan Uni Sovyet. Entah apa yang menyebabkan, saya tidak tahu. Apa mungkin karna ego saya yang terlalu tinggi? Idealisme saya yang menyebabkan saya terlalu kaku? Atau ocehan-ocehan saya yang terkadang bikin orang sakit hati? Yang pasti saya merasa ada yang berbeda. Saya lihat semuanya berjalan sendiri-sendiri di jalurnya sendiri. Tapi itulah organisasi. Ada saatnya jaya ada saatnya vacum dan berjalan sendiri-sendiri.

Dan kini, ketika saya sudah jauh dari rumah, bekerja jadi buruh di kapal pesiar, tidak bisa dipungkiri saya sangat merindukan mereka berdua. Apakah mereka merindukan saya? Saya tidak tahu. Tapi feeling saya, ada satu waktu mereka mengingat diri saya. Mengingat Bangli Sastra Komala yang kita bangun dengan ketulusan hati bersama dengan sahabat lainnya.

Seperti layaknya Superman is Dead yang masih bertahan dengan perbedaan karakter mereka dan masih menghasilkan karya adalah sesuatu yang tidak mudah. Mereka pasti merasakan kepedihan, perselisihan, pertengkaran dan perjuangan yang amat berat untuk bisa menjadi seperti sekarang ini. Saya berharap kami bertiga bersama sahabat-sahabat yang lain bisa menjadi palang pintu terakhir untuk Bangli Sastra Komala. Semakin dewasa baik dalam sikap maupun karya. Bisa memberi pengaruh kepada kaum muda Bangli untuk menulis. Dan bisa terus melahirkan tulisan-tulisan berbahasa Bali maupun berbahasa Indonesia.

Sekali lagi, saya sangat merindukan sahabat baik saya Darma Putra dan Pande Jati. Meskipun saya dan Pande Jati sudah berkeluarga dan semoga Darma Putra lekas menyusul, begitu juga jarak yang memisahkan serta kesibukan-kesibukan lainnya, asa untuk berkumpul selalu membara dalam kalbu. Melupakan segala perselisihan dan ego dalam diri. Bercerita tentang nostalgia penuh canda tawa ditemani secangkir kopi hitam dan buah lisah yang dipetik langsung dari halaman rumah. Sungguh membahagiakan. Dan benar, ternyata bahagia itu sederhana.

Salam dari samudra. [T]

Tags: BangliBangli Sastra Komalasastra bali modern
Share221TweetSendShareSend
Previous Post

Ia Menyepi Seperti Pohon Tua

Next Post

Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng – [Bisa Ditiru]

I Komang Alit Juliartha

I Komang Alit Juliartha

Tinggal di Bangli. Peraih hadiah Sastera Rancage tahun 2014. Bergiat di Komunitas Bangli Sastra Komala. Ia berpulang Jumat, 29 Januari 2021 di RSU BMC Bangli. Ia pergi saat beberapa impiannya belum terwujud untuk Sastra Bali Modern

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng – [Bisa Ditiru]

Protokol Penanganan Covid-19 Desa Munduk, Buleleng - [Bisa Ditiru]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co