23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

tatkala by tatkala
March 28, 2020
in Khas
Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sudah lebih satu bulan jenis virus corona baru (Covid-29) menyebar sampai diputuskan sebagai pandemi global. Pengusaha wisata dan pekerjanya di Nusa Penida pun terdampak. Usaha speedboat tak seramai sebelumnya, penyewaan kendaraan berkurang, dan banyak hal lainnya karena kepulauan ini makin fokus menarik kunjungan turis.

Di tengah masa menegangkan ini, sejumlah kelompok warga belajar dan mempraktikkan cara hidup ekologis melalui berbagai cara. Salah satunya untuk mengenalkan kembali potensi pertanian dan cara hidup selaras alam di Pulau Nusa Penida.

Gede Agustinus Darmawan atau yang akrab dipanggil Timbool adalah salah satu anak muda penekun pewarna alami yang sedang berkegiatan di Dusun Tanglad bersama warga penenun. Mereka mendukung produksi pewarna alami dari aneka tumbuhan untuk kain tenun dan kini berusaha menanam kembali sejumlah tanaman bahan baku pewarna yang makin hilang. Kegiatan ini bagian dari program Ekologis Nusa Penida GEF-SGP yang dikoordinir Yayasan Wisnu.

Selain menanam bibit secara konvensional di lahan-lahan milik penenun, kelompok tenun Alam Mesari ini juga mencoba menanam dengan model seeds bomb atau seeds bombing. Melempar “bom” benih untuk menjangkau area yang sulit dijangkau seperti tebing dan perbukitan di sekitar dusun mereka.

Nusa Penida adalah wilayah kepulauan yang masuk Kabupaten Klungkung. Tiga pulau ini, terbesar Nusa Penida, kemudian Lembongan, dan Ceningan, makin terkenal sebagai tujuan wisata di Bali. Untuk menyeberang ke ketiga pulau itu, perlu waktu sekitar 20-45 menit tergantung lokasi penyeberangan speedboat. Misal dari Pantai Sanur, Denpasar, sekitar 45 menit speedboat menuju Pulau Nusa Penida. Sedangkan menuju Lembongan dan Ceningan lebih cepat.

Benih-benih dalam bentuk “bom” ini pada 14 Februari 2020 lalu sudah terlihat tumbuh seperti tunas kacang ijo, dibuat pada  hari berbeda. Ada yang sudah berusia satu bulan dan satu minggu.

Ratusan telur tanah itu memang tak sama, ada yang sudah bertunas, ada yang belum. Ada juga yang lebih cepat tubuh tunasnya karena tersiram air hujan setelah dibuat bulatan-bulatan.

“Saat musim penghujan baru disebar. Kemungkin hidup 50%,” kata Timbool. Metode bom benih ini digunakan untuk menghijaukan lahan yang sulit dijangkau, sehingga lebih spekulatif. Sudah 8000 benih yang dimasukkan bom benih. Dalam satu “bom” diisi 10-15 biji benih dan isinya benih tanaman perintis seperti turi, orok-orok, dan gereng-gereng. Sementara untuk bibit tanaman pewarna adalah tarum. Benih-benih dalam “bom” ini difokuskan terlebih dulu untuk menyuburkan tanah. “Pohon-pohon itu pembuat lapisan tanah, daunnya cepat gugur,” ujarnya.

Dalam satu “bom” yang dilempar diharapkan akan ada beberapa benih yang berhasil bertahan dan mengisi lahan pulau Nusa Penida yang kurang produktif. Karena dominan bebatuan karang, “bom” benih ini diperkirakan akan terpecah setelah dilempar. Karena itu satu bulatan diisi belasan benih agar menyebar.

Lahan-lahan kelompok penenun kain menjadi prioritas di antaranya tebing yang sulit dijangkau, daerah terjal, dan area dengan banyak hama monyet. Selain metode “seeds bombing”, penghijauan juga dilakukan dengan menanam bibit terutama tanaman bahan baku pewarna alami seperti  mengkudu, secang, indigo, dan tarum.

Cara pembuatan “bom” benih ada beragam, Timbool dan rekannya melakukannya dengan membasahkan adonan tanah subur, dicampur pupuk kompos, dan sedikit tanah liat untuk pengikat.  Komposisinya sekitar 5:1 antara tanah subur-kompos dengan tanah liat.

Di Desa Batumadeg, Yayasan Idep mengembangkan permakultur pekarangan rumah tangga, dengan menanam aneka jenis sayuran seperti timun dan sawi hijau. Yayasan Idep memperkenalkan juga banana pit, yaitu lubang dengan diameter sekitar 1 meter dengan kedalaman 1 meter.

Lubang berfungsi sebagai tempat pengolahan limbah, pembuatan kompos, dan kebun. Lubang diberi kerikil/batu sedalam 50 cm, bagian bawah untuk tempat pengolahan air limbah, di atasnya untuk sampah organik. Di sekitar lubang ditanam pohon pisang, dan di antara pohon pisang bisa ditanam sayuran. Fungsi pohon pisang adalah untuk menyimpan air ketika musim hujan dan melepas air di musim kering.

Sementara itu Yayasan Taksu Tridatu memperkenalkan pembuatan pakan kering untuk ternak sapi. Pakan kering dibuat dari rerumputan dan daun-daun yang sudah kering, kemudian difermentasi, dan ditambahkan untuk memberikan nutrisi. Salah satu tempat pengembangan ternak sapi dengan pakan kering bisa dilihat di Rumah Belajar Bukit Keker, Banjar Nyuh Kukuh, Ped. Di area ini bisa dilihat juga teknik pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pemanfaatan cahaya matahari jadi listrik dengan panel surya.

Ada juga model kebun untuk memasok kebutuhan sebuah komplek pura Khayangan Jagat, Pura Puser Sahab di Desa Batumadeg. Kelompok Wisanggeni mengajak warga pengempon (pengelola) pura untuk kembali menghijaukan lahan sekitarnya dengan aneka pohon umur panjang sebagai peneduh dan juga memasok kebutuhan ritual upacara.

Meningkatnya turis artinya beban limbah pun bertambah. Bagaimana strategi pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil?

Program pemilahan sampah sudah dilakukan sekitar setahun oleh Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, salah satu mitra program kerja  Program Ekologis Nusa Penida. Bahkan Desa Adat Nyuh Kukuh Ped mendapat penghargaan dari Bupati Klungkung sebagai penggagas TPST/Bank Sampah.

Selain mengajak rumah tangga memilah sampah, juga menyediakan tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang berlokasi di Rumah Belajar (learning center) Bukit Keker di Banjar Nyuh Kukuh. Sebuah moci, kendaraan roda tiga dengan bak terparkir di sana.

Hasil survey timbulan sampah rumah tangga di Banjar Nyuh oleh PPLH sekitar 550 kg per hari, ini bisa memenuhi 5 moci. Sebagian besar berupa sampah organik sekitar 60%. PPLH juga membentuk tim relawan Nyuh Kedas dalam mengelola sampah. Diawali dengan pelatihan pengelolaan sampah (kompos, mol, daur ulang kertas). Saat ini ada 7 orang anak yang aktif mengelola sampah di Banjar Nyuh, terutama untuk mengajak warga memilah sampahnya.

Hal objek wisata di Pulau Bali yang mengandalkan alam dan budaya, demikian pula Nusa Penida. Bagaimana menyinergikan wisata dan pertanian sebagai bagian kehidupan sehari-hari warga?

Jaringan Ekowisata Desa (JED), sebuah kerjasama antara Yayasan Wisnu dan sejumlah desa menawarkan dan mengembangkan wisata alternatif. Jaringan yang sudah berjalan saat ini adalah Desa Kiadan, Plaga (Badung), Dukuh, Sibetan (Karangasem), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), Perancak (Jembrana), dan Nyambu (Tabanan).

Saat ini sedang dirintis di Nusa Penida melalui Program Ekologis Nusa Penida. Konsepnya adalah pariwisata berbasis potensi diri (alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur) yang dikelola oleh masyarakat setempat. Prinsipnya kepemilikan (masyarakat sebagai pemilik mengetahui dan mengenal potensi yang dimiliki), pengelolaan (pengelolaan sumber daya berdasar pada prinsip kebersamaan dan keadilan), dan keberlanjutan (dengan menjaga kesakralan melalui dokumentasi dan media pembelajaran),

Paket wisata yang sedang dirancang berfokus pada pola hidup masyarakat Nusa Penida yang meliputi sistem pertanian lahan kering dan olahan pangan, sumber ekonomi (rumput laut dan tenun), serta seni dan budaya. Rumah Belajar Bukit Keker di Desa Ped, akan dijadikan sebagai tempat penerimaan tamu sekaligus percontohan adaptasi lingkungan melalui praktik produksi biogas, kebun permakultur, dan pemanfaatan panel surya sebagai sumber energi.

Gede Sugiarta, Koordinator Program Ekologis ini mengatakan Nusa Penida bisa menjadi contoh pengelolaan wisata alam dan pulau kecil yang berkelanjutan jika warga kembali menyadari kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal seperti pertanian lahan kering.

“Melalui Program Ekologis Nusa Penida kami berharap secara perlahan pulau kecil ini mampu mengembalikan dan meningkatkan ketahanan sosial budaya-ekologis sebagai upaya menghadapi desakan globalisasi,” ujarnya. [T] [*/Rilis]

Tags: ekologilingkunganNusa PenidaPariwisata
Share121TweetSendShareSend
Previous Post

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Next Post

“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

“Work from Home”, Antara Harapan dan Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co