14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 28, 2020
in Esai
Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Tahun 2020 ini, adalah tahun yang penuh dengan cobaan. Cobaan ini membuat masyarakat kalang kabut. Saat kondisi normal, beban hidup yang dirasakan masyarakat terutama yang tinggal di kota sudah berat. Beban berupa bayar angsuran bank, bayar kontrakan, cicilan motor, cicilan mobil, cicilan kartu kredit dan sejenisnya. Pembayaran biaya-biaya tersebut bersumber dari upah/gaji bulan saat itu.

Saat tanggal 25 atau tanggal 1 menerima gaji, maka sesaat setelah itu sudah langsung digunakan membayar cicilan. Bahkan ada jenis kredit yang mewajibkan dibayar lebih dahulu, yakni kredit dengan sistem potong gaji. Saat menerima gaji akan didahulukan dipakai membayar angsuran kredit. Sisa gaji baru akan masuk ke rekening tabungan yang kemudian digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Semua orang berusaha mendapatkan pekerjaan dengan tujuan memperoleh pendapatan. Pendapatan identik dengan kepemilikan uang.

Menurut Keynes (ahli ekonomi), sebenarnya ada tiga alasan masyarakat memiliki uang; 1) untuk keperluan transaksi (konsumsi), 2) untuk tujuan berjaga-jaga (tabungan) dan 3) untuk tujuan spekulasi (investasi). Ketiga tujuan ini diurutkan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tujuan spekulasi bisa dilakukan jika tujuan transaksi dan tujuan berjaga-berjaga sudah bisa dilakukan. Tidak mungkin melakukan spekulasi jika tidak memiliki tabungan.

Begitu pula, masyarakat tidak akan bisa menabung jika uang yang dimiliki habis digunakan untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari. Tujuan spekulasi lebih banyak untuk menghasilkan uang. Artinya spekulasi ini lebih dekat dengan kegiatan investasi. Pengeluaran yang dilakukan hari ini dengan jumlah tertentu, diharapkan di kemudian hari kembali dengan jumlah yang lebih besar. Jika hal itu terjadi maka itulah yang dinamakan dengan keuntungan.

Sahabat yang pernah belajar ekonomi pasti mengenal teori konsumsi. Teori tersebut menjelaskan bahwa pendapatan digunakan untuk konsumsi dan tabungan. Jika diformulakan maka Y = C + S. Formula tersebut mengatakan bahwa, pendapatan (Y) wajib dialokasikan untuk konsumsi (C) dan untuk tabungan (S). Berapapun pendapatan yang diterima wajib mengikuti formula tersebut.

Yang membedakan masing-masing orang adalah komposisi jumlah antara konsumsi dan tabungan. Ada yang menentukan jumlah untuk konsumsi lebih tinggi atau sebaliknya. Dan umumnya, jumlah konsumsi jauh lebih besar daripada jumlah untuk tabungan. Jika melihat formula tersebut, harusnya semua orang yang bekerja memiliki tabungan. Karena setiap yang bekerja memiliki pendapatan. Pendapatan dialokasikan salah satunya untuk tabungan.

Konsumsi adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan konsumsi adalah untuk memaksimumkan utiliti (kepuasan). Pada dasarnya, faktor utama yang memengaruhi tingkat konsumsi adalah pendapatan. Hubungan kedua variabel tersebut adalah berkorelasi positif. Artinya semakin tinggi tingkat pendapatan maka konsumsinya juga makin tinggi. Atau bisa juga dijelaskan bahwa kepuasan konsumen berbanding lurus dengan alokasi pendapatan. Artinya, jika ingin mendapatkan kepuasan yang lebih/meningkat maka alokasi pendapatan untuk konsumsi juga meningkat.

Salah satu sifat abadi konsumen adalah ingin merasakan kepuasan yang maksimal (kepuasan tak terbatas). Sifat konsumen tersebut membuat teori ini relatif susah dilaksanakan. Dalam kehidupan masyarakat, teori konsumsi di modifikasi menjadi Y = C. Semua pendapatan dialokasikan untuk konsumsi saja. Ini modifikasi yang pertama, modifikasi kedua adalah Y = Utang + Konsumsi.

Artinya, pendapatan yang diperoleh didahulukan untuk membayar utang, sisanya baru digunakan untuk konsumsi. Terkait kompisisi juga berbeda-beda untuk setiap individu. Idelanya adalah pendapatan lebih banyak dialokasikan untuk konsumsi daripada dialokasikan untuk bayar utang. Tetapi tidak sedikit ditemui di lapangan, bahwa kondisinya terbalik. Jumlah yang digunakan untuk membayar utang jauh lebih banyak daripada digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Inilah titik awal ketidakseimbangan dalam rumah tangga.

Menengok formula tadi, selain untuk konsumsi, pendapatan harusnya dialokasikan untuk tabungan. Tabungan adalah aktivitas untuk menunda kesenangan atau menunda konsumsi. Tabungan berfungsi sebagai alat untuk menghadapi kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang. Kesusahan seperti sakit, kecelakaan, atau  adanya Covid-19. Saat ini, banyak masyarakat yang galau bahkan stres menghadapi virus ini.

Himbauan pemerintah sangat jelas dan simpel yakni diam di rumah. Kalimatnya sangat simpel. Diam di rumah juga sebenarnya hal yang sangat gampang dilakukan. Sekali lagi sangat gampang dilakukan jika masyarakat memiliki pendapatan. Lebih gampang lagi dilakukan jika pendapatan masyarakat cukup untuk konsumsi dan memiliki tabungan. Jika demikian kondisinya, maka diam di rumah bisa digunakan untuk istirahat, digunakan untuk berkumpul dengan anak dan istri, digunakan untuk menonton tv dan sejenisnya.

Tetapi, jika masyarakat tidak memiliki tabungan bahkan tidak memiliki pekerjaan maka himbauan yang simpel menjadi masalah yang berat. Pekerja harian, pekerja jalanan paling merasakan beratnya himbauan pemerintah. Mereka mengalami dilema yang sangat mendalam, seperti buah simalakama. Jika bekerja di jalanan bisa terkena virus corona. Jika tidak bekerja maka anak dan istri di rumah akan kelaparan. Karyawan swasta atau pekerja yang bekerja di sektor pariwisata juga mengalami nasib yang sama. Bahkan lebih tragis. Mereka diam di rumah sambil gelisah karena diam di rumah membuat aliran gaji juga terdiam karena dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Diam di rumah adalah hal yang dihindari dan cenderung mengerikan.

Dalam konteks ini, penting untuk merenungkan kembali makna dari teori konsumsi. Bahwa berapapun pendapatan yang diterima harus dialokasikan untuk konsumsi dan untuk tabungan. Pendapatan yang diterima tidak hanya digunakan untuk kepuasan hidup. Lebih bijak jika ada dialokasikan sebagai tabungan. Memiliki tabungan adalah salah satu cara untuk mempertahankan hidup dalam kondisi saat ini.

Tabungan membuat pikiran dan nafas makin panjang serta mampu menghadirkan senyum anak istri. Saatnya belajar financial management yaitu kemampuan untuk mengatur keuangan terutama mengatur alokasi uang. Saatnya kembali mengingat pelajaran ekonomi saat masih SMP, bahwa keinginan manusia tidak terbatas sedangkan alat pemuasnya terbatas. Ngiring lebih bijak dalam mengidentifikasi antara kebutuhan dengan keinginan.

Mari belajar lagi menghitung dengan cermat, berapa pendapatan untuk konsumsi dan berapa untuk tabungan. Di masa sulit mungkin sulit juga menghitungnya, tapi tetap harus diperhitungkan. Apalagi di saat adanya virus corona. [T]

Tags: ekonomikrisis ekonomitabungan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah, Sumur dan Mata Air

Next Post

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co