2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
March 28, 2020
in Esai
Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

Tahun 2020 ini, adalah tahun yang penuh dengan cobaan. Cobaan ini membuat masyarakat kalang kabut. Saat kondisi normal, beban hidup yang dirasakan masyarakat terutama yang tinggal di kota sudah berat. Beban berupa bayar angsuran bank, bayar kontrakan, cicilan motor, cicilan mobil, cicilan kartu kredit dan sejenisnya. Pembayaran biaya-biaya tersebut bersumber dari upah/gaji bulan saat itu.

Saat tanggal 25 atau tanggal 1 menerima gaji, maka sesaat setelah itu sudah langsung digunakan membayar cicilan. Bahkan ada jenis kredit yang mewajibkan dibayar lebih dahulu, yakni kredit dengan sistem potong gaji. Saat menerima gaji akan didahulukan dipakai membayar angsuran kredit. Sisa gaji baru akan masuk ke rekening tabungan yang kemudian digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Semua orang berusaha mendapatkan pekerjaan dengan tujuan memperoleh pendapatan. Pendapatan identik dengan kepemilikan uang.

Menurut Keynes (ahli ekonomi), sebenarnya ada tiga alasan masyarakat memiliki uang; 1) untuk keperluan transaksi (konsumsi), 2) untuk tujuan berjaga-jaga (tabungan) dan 3) untuk tujuan spekulasi (investasi). Ketiga tujuan ini diurutkan sesuai dengan tingkat kepentingannya. Tujuan spekulasi bisa dilakukan jika tujuan transaksi dan tujuan berjaga-berjaga sudah bisa dilakukan. Tidak mungkin melakukan spekulasi jika tidak memiliki tabungan.

Begitu pula, masyarakat tidak akan bisa menabung jika uang yang dimiliki habis digunakan untuk konsumsi kebutuhan sehari-hari. Tujuan spekulasi lebih banyak untuk menghasilkan uang. Artinya spekulasi ini lebih dekat dengan kegiatan investasi. Pengeluaran yang dilakukan hari ini dengan jumlah tertentu, diharapkan di kemudian hari kembali dengan jumlah yang lebih besar. Jika hal itu terjadi maka itulah yang dinamakan dengan keuntungan.

Sahabat yang pernah belajar ekonomi pasti mengenal teori konsumsi. Teori tersebut menjelaskan bahwa pendapatan digunakan untuk konsumsi dan tabungan. Jika diformulakan maka Y = C + S. Formula tersebut mengatakan bahwa, pendapatan (Y) wajib dialokasikan untuk konsumsi (C) dan untuk tabungan (S). Berapapun pendapatan yang diterima wajib mengikuti formula tersebut.

Yang membedakan masing-masing orang adalah komposisi jumlah antara konsumsi dan tabungan. Ada yang menentukan jumlah untuk konsumsi lebih tinggi atau sebaliknya. Dan umumnya, jumlah konsumsi jauh lebih besar daripada jumlah untuk tabungan. Jika melihat formula tersebut, harusnya semua orang yang bekerja memiliki tabungan. Karena setiap yang bekerja memiliki pendapatan. Pendapatan dialokasikan salah satunya untuk tabungan.

Konsumsi adalah kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tujuan konsumsi adalah untuk memaksimumkan utiliti (kepuasan). Pada dasarnya, faktor utama yang memengaruhi tingkat konsumsi adalah pendapatan. Hubungan kedua variabel tersebut adalah berkorelasi positif. Artinya semakin tinggi tingkat pendapatan maka konsumsinya juga makin tinggi. Atau bisa juga dijelaskan bahwa kepuasan konsumen berbanding lurus dengan alokasi pendapatan. Artinya, jika ingin mendapatkan kepuasan yang lebih/meningkat maka alokasi pendapatan untuk konsumsi juga meningkat.

Salah satu sifat abadi konsumen adalah ingin merasakan kepuasan yang maksimal (kepuasan tak terbatas). Sifat konsumen tersebut membuat teori ini relatif susah dilaksanakan. Dalam kehidupan masyarakat, teori konsumsi di modifikasi menjadi Y = C. Semua pendapatan dialokasikan untuk konsumsi saja. Ini modifikasi yang pertama, modifikasi kedua adalah Y = Utang + Konsumsi.

Artinya, pendapatan yang diperoleh didahulukan untuk membayar utang, sisanya baru digunakan untuk konsumsi. Terkait kompisisi juga berbeda-beda untuk setiap individu. Idelanya adalah pendapatan lebih banyak dialokasikan untuk konsumsi daripada dialokasikan untuk bayar utang. Tetapi tidak sedikit ditemui di lapangan, bahwa kondisinya terbalik. Jumlah yang digunakan untuk membayar utang jauh lebih banyak daripada digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Inilah titik awal ketidakseimbangan dalam rumah tangga.

Menengok formula tadi, selain untuk konsumsi, pendapatan harusnya dialokasikan untuk tabungan. Tabungan adalah aktivitas untuk menunda kesenangan atau menunda konsumsi. Tabungan berfungsi sebagai alat untuk menghadapi kesusahan yang mungkin timbul di masa yang akan datang. Kesusahan seperti sakit, kecelakaan, atau  adanya Covid-19. Saat ini, banyak masyarakat yang galau bahkan stres menghadapi virus ini.

Himbauan pemerintah sangat jelas dan simpel yakni diam di rumah. Kalimatnya sangat simpel. Diam di rumah juga sebenarnya hal yang sangat gampang dilakukan. Sekali lagi sangat gampang dilakukan jika masyarakat memiliki pendapatan. Lebih gampang lagi dilakukan jika pendapatan masyarakat cukup untuk konsumsi dan memiliki tabungan. Jika demikian kondisinya, maka diam di rumah bisa digunakan untuk istirahat, digunakan untuk berkumpul dengan anak dan istri, digunakan untuk menonton tv dan sejenisnya.

Tetapi, jika masyarakat tidak memiliki tabungan bahkan tidak memiliki pekerjaan maka himbauan yang simpel menjadi masalah yang berat. Pekerja harian, pekerja jalanan paling merasakan beratnya himbauan pemerintah. Mereka mengalami dilema yang sangat mendalam, seperti buah simalakama. Jika bekerja di jalanan bisa terkena virus corona. Jika tidak bekerja maka anak dan istri di rumah akan kelaparan. Karyawan swasta atau pekerja yang bekerja di sektor pariwisata juga mengalami nasib yang sama. Bahkan lebih tragis. Mereka diam di rumah sambil gelisah karena diam di rumah membuat aliran gaji juga terdiam karena dirumahkan oleh tempatnya bekerja. Diam di rumah adalah hal yang dihindari dan cenderung mengerikan.

Dalam konteks ini, penting untuk merenungkan kembali makna dari teori konsumsi. Bahwa berapapun pendapatan yang diterima harus dialokasikan untuk konsumsi dan untuk tabungan. Pendapatan yang diterima tidak hanya digunakan untuk kepuasan hidup. Lebih bijak jika ada dialokasikan sebagai tabungan. Memiliki tabungan adalah salah satu cara untuk mempertahankan hidup dalam kondisi saat ini.

Tabungan membuat pikiran dan nafas makin panjang serta mampu menghadirkan senyum anak istri. Saatnya belajar financial management yaitu kemampuan untuk mengatur keuangan terutama mengatur alokasi uang. Saatnya kembali mengingat pelajaran ekonomi saat masih SMP, bahwa keinginan manusia tidak terbatas sedangkan alat pemuasnya terbatas. Ngiring lebih bijak dalam mengidentifikasi antara kebutuhan dengan keinginan.

Mari belajar lagi menghitung dengan cermat, berapa pendapatan untuk konsumsi dan berapa untuk tabungan. Di masa sulit mungkin sulit juga menghitungnya, tapi tetap harus diperhitungkan. Apalagi di saat adanya virus corona. [T]

Tags: ekonomikrisis ekonomitabungan
Share53TweetSendShareSend
Previous Post

Rumah, Sumur dan Mata Air

Next Post

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Lempar “Bom” Benih, Mempraktikkan Cara Hidup Ekologis di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co