2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rumah, Sumur dan Mata Air

Penulis Cerita Katagori Umum by Penulis Cerita Katagori Umum
March 28, 2020
in Esai
Rumah, Sumur dan Mata Air

Rumah, Sumur dan Mata Air / Oleh: Made Suarbawa

Oleh: Made Suarbawa — Jembrana


Orang tuaku pindah ke rumah kami yang sekarang saat umurku baru tiga tahun jalan, sehingga ingatan yang kupunya hanya potongan-potongan yang acak. Kelebat bayang aku kecil yang jatuh terpeleset di ruang tunggu bidan saat diajak Ibuku memeriksakan kandungan, kemeriahan pergi melasti dan mendapat hadiah gula kapas, jatuh ke dalam sungai saat melintas di jembatan bambu dan yang membuatku ingin menulis tentang rumah adalah ingatan tentang sumur.

Saat baru pindah, kami tidak memiliki sumur. Untuk pemenuhan kebutuhan air bersih konsumsi, kami mengambil air dari sumur milik tetangga. Ibuku memilih beberapa rumah tetangga yang dikunjungi secara bergiliran, dengan kriteria; terdekat, sumur tidak terlalu dalam dan tidak ada anjing galak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, kami memilih sumur yang ada di tengah sawah yang juga menjadi titik temu belasan orang tetangga, terutama saat waktu mandi sore.

Menurut cerita, sumur itu dibangun oleh orang proyek yang mengerjakan salurun irigasi bendungan Palasari yang melintasi desa kami. Saat sudah bersekolah, selain mandi sore di lokasi sumur itu, kami juga membawa masing-masing satu ember air untuk kebutuhan mandi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Tentu saja selain Ibuku, karena setelah selesai memasak setiap pagi, dia akan pergi ke sumur untuk mencuci dan mandi.

Pada musim kemarau panjang, seringkali semua sumur di sekitar rumah kami akan kekeringan sehingga kami akan meminta air ke sumur yang ada di Pura Taman, yang juga terletak di tengah persawahan. Menurutku sumur di pura itu ajaib, karena sepengetahuanku sumur itu tidak pernah kering dan ketinggian airnya sangat stabil seberapapun kemarau melanda. Tentu saja kami tidak mandi dan mencuci di sana, hanya mengambil air dan dibawa pulang.

Kira-kira di akhir tahun 80, kami memiliki sumur. Aku yakin Ayahku yang guru sekolah dasar kala itu, menabung cukup rajin untuk kemudian bisa membayar tukang gali sumur. Sumur milik kami termasuk paling dalam dibandingkan dengan sumur-sumur milik tetangga, apalagi dengan sumur yang ada di tengah sawah. Kedalaman sumur kami sebelas depa untuk mendapatkan air yang stabil. Proses penggalian yang memakan waktu dan begitu dalam, kelihatannya membuat Ibuku khawatir sehingga berkaul memotong ayam jago dan membuat cendol daluman kalau penggali sumur mulai menemukan air.

Sebagai anak kecil, aku lebih bahagia karena makan kuah ayam dan minum cendol daluman dibandingkan merayakan fakta bahwa sumur sudah ada airnya. Sumur kami yang begitu dalam, menjadi penyesalan kecil bagi Ayauhku karena memindahkan titik sumur beberapa meter ke arah barat daya dari yang seharusnya.

Menurut Ayah, sebelumnya dia sudah meminta petunjuk pada orang pintar yang memberi titik sumur persis di pohon belimbing, tapi Ayahku sayang pada pohon belimbing itu. Misterius, bagaimana kakek itu tau tentang pohon belimbing itu, padahal dia belum pernah ke rumah kami? Dan menurut para penggali sumur, sumber air di dalam sumur kami asalnya dari arah timur laut, persis arah pohon belimbing itu.

Bertahun-tahun kami bahagia memiliki sumur itu. Bergiliran menimba air untuk mengisi bak mandi dan gentong di dapur adalah rutinitas yang menyenangkan awalnya, tapi kemudian terasa menyebalkan. Setelah itu aku mulai menyadari kekhawatiran Ibuku saat penggalian sumur begitu dalam dan memilih mengambil air di sumur dangkal milik tetangga ketika itu.

Sumpah, bagiku yang waktu itu belum genap sepuluh tahun, menimba air dari kedalaman sebelas depa, sangat menguras tenaga dan emosi. Itu sebabnya, dimusim hujan, aku dan kakakku sering memilih mandi di saluran irigasi yang kami anggap lebih mudah dan menyenangkan, tapi menjadi tidak menyenangkan kalau kepergok Ayah kami karena kami tetap harus mandi lagi dan menimba lagi, karena dianggap mandi tidak bersih dan berenang dengan bebek. Ibuku juga sering mencuci di saluran irigasi, tentu untuk alasan menimba air yang melelahkan.

Pada awal tahun 2000, PAM (Perusahaan Air Minum) mulai memasang pipa di depan rumah kami dan tentu saja Ayahku mendapat tawaran untuk memasang air PAM. Aku senyum-senyum dalam hati mengingat pikiran masa kecilku yang menganggap punya keran itu keren, seperti yang sesekali aku nikmati saat berkunjung ke rumah paman yang tinggal di pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk.

Ayahku baru memasang air PAM dua tahun kemudian, sebagai hadiah bagi Ibuku yang telah tegar menghadapi proses operasi tumor yang menjangkiti kandungannya. Dengan mengucurnya air dari keran, sangat memudahkan aktivitas Ibuku pada tahun-tahun pertama paska operasi yang tentu tidak sanggup jika harus menimba air dari sumur, sementara kami anak-anaknya yang sudah keluar dari rumah untuk sekolah dan bekerja tidak bisa membantunya.

Sudah dua minggu aku tinggal di rumah ini lagi, untuk memenuhi anjuran pemerintah mengisolasi diri karena kasus virus covid-19 yang mewabah di penjuru dunia, termasuk Indonesia. Dua minggu, waktu tinggal terpanjang semenjak lepas sekolah dan mulai bekerja, waktu yang panjang untuk membuat otak terbengong-bengong dan mulai mengulik apa-apa yang selama ini tidak pernah terpikirkan, detail yang tidak penting mulai terasa penting, seperti halnya sumur dan air PAM.

Sejak sumur-sumur digali di setiap rumah, sumur ditengah sawah tidak lagi digunakan walau tetap setia menampung air. Sejak air disalurkan melalui pipa-pipa kemudian begitu mudah mengucur dari keran, sumur di rumah-rumah mulai dilupakan walau tetap setia dengan misteri dikedalamannya. Sejak air tinggal klecek di keran, rasanya mewah penuh kemanjaan. Tidak ada lagi air yang diangkut dengan ember, tidak ada lagi ember yang dikerek kepermukaan dari kegelapan perut bumi.

Setelah merasakan kemewahan dan kemanjaan, rasanya mulai muncul sikap kurang ajar. Makian ketika air keran mati beberapa jam, atau ketika mati beberapa hari maka sumpah serapah akan ditujuakan pada perusahana-perusahaan yang mengelola pipa-pipa itu.

Saya merasa mewah, merasa dimanjakan dan juga mulai kurang ajar, tanpa pernah peduli atau sekedar bertanya siapakah yang merawat sumber-sumber air yang diangkut dengan pipa-pipa itu ke rumah dan mengucur tiap saat ketika keran dibuka? Saya jadi ingat ungkapan seorang petani ketika pipa-pipa dipasang dari mata air di hulu sungai desa kami menuju rumah-rumah penduduk, “Gendok bek, pulu puyung”. Gentong air penuh, gentong beras kosong. [T]

Tags: Lomba Menulis Cerita Dari Rumah Tentang Rumah
Share90TweetSendShareSend
Previous Post

Di Rumah Saja, Lima Menit Dalam Perburuan Magis

Next Post

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Penulis Cerita Katagori Umum

Penulis Cerita Katagori Umum

Cerita-cerita ini ditulis para peserta lomba menulis cerita Dari Rumah Tentang Rumah yang diselenggarakan tatkala.co untuk katagori umum

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Hitungan Sulit di Masa Sulit: Berapa untuk Makan, Berapa untuk Tabungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co