2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Rumah Saja, Lima Menit Dalam Perburuan Magis

Penulis Cerita Katagori Umum by Penulis Cerita Katagori Umum
March 28, 2020
in Esai
Di Rumah Saja, Lima Menit Dalam Perburuan Magis

Lima Menit Dalam Perburuan Magis/ Oleh: Nyoman Sukaya Sukawati -- Denpasar

Oleh: Nyoman Sukaya Sukawati — Denpasar

Saya melihat jam di tembok. Malam menunjuk pukul dua dini hari. 

Saya sedang menyendiri di kursi panjang dekat jendela, di ruang keluarga yang redup di bawah lampu downlight. Ada sesuatu yang agak aneh dengan rumah saya malam ini. Suasananya terasa sangat sepi, berbeda dari biasanya.

Istri dan anak-anak saya sedang tidur lelap di kamarnya masing-masing. Hanya saya yang masih terjaga, sendirian di ruang keluarga.

Saya sedang tak ingin tidur. Saya melewati malam hanya dengan duduk, sendirian,  seakan berjaga-jaga, menjaga rumah ini dan penghuninya.

Dari sini saya lihat pintu utama yg tertutup. Lampu penerangan masih menyala di luar. Cahayanya terungkap di ventilasi. 

Di atas meja, tiga laptop masih terbuka tapi layarnya mati, di sampingnya berserakan sejumlah buku dan kertas. Saya tak ingin menyentuhnya. Tak hendak melakukan apapun dengan benda itu.  

Tak ada yang saya pikirkan, juga tak ingin tidur. Hanya saja suasana malam ini agak aneh. Saya seolah berada di tempat asing oleh rasa sunyi. Apalagi saya di lantai dua, keheningan ini seakan menggaung memenuhi ruangan.

Jalan di depan rumah yang biasanya ramai oleh kendaraan dan orang lewat, malam ini sangat sepi. Saya tengok dari jendela. Di bawah sana tidak ada pergerakan. Sungguh aneh rasanya. Ini suasana yang  ganjil, pikir saya. Sesuatu yang tak mudah diceritakan. 

Untuk mengalihkan perhatian dari suasana sunyi ini, saya mengambil ponsel. Ada sejumlah notification di grup WA Banjar, namun saya tak membukanya. 

Sambil berdiam diri saya sentuh-sentuh layar HP tetapi pikiran saya melayang jauh. Sesaat, di benak saya melintas muka teman-teman di desa. Saya jadi merindukan mereka, para sahabat sepermainan dulu. Saya teringat mereka semua. Orang-orang baik, bersahaja, tapi banyak humor dan selalu riang. 

Ketika saya mulai hanyut di dalam ingatan yang penuh kenangan dengan sahabat-sahabat di masa silam itu, tiba-tiba angin datang berhembus dari jendela yg setengah terbuka. Angin dingin seperti es menyentuh tengkuk saya. Membuat saya sedikit menggigil. 

Tak lama berselang, angin yang lebih keras datang menyusul secara mengejutkan. Seakan ada mulut besar yg menghembuskannya secara seketika dari luar sana. Suaranya meraung keras dan mengguncang-guncang daun jendela sampai mengeluarkan bunyi berderak-derak. 

Angin apa gerangan ini? Saya bertanya-tanya dalam hati. Saya ingat, ternyata sekarang malam mapag Kajeng Kliwon. Pantas saja atmosfernya terasa beda. Ini malam keramat penuh aura magis. Malam menjelang Kajeng Kliwon adalah malamnya para gamang, unen-unen, dan segala macam makhluk halus untuk keluar ramai-ramai dari sarangnya dan berkeliaran berburu mangsa. Saat ini mereka pasti sedang berkumpul di mana-mana, di perempatan, karang suwung, bawah pohon besar, di lebuh-lebuh pekarangan.

Para penekun ilmu hitam juga sedang pergi ke kuburan dan tempat berhantu lainnya. Dengan ritual sanggah cucuk, mereka belajar ngelekas, menyerap energi kegelapan, menghirup wangi darah, mematangkan kekuatan sihir magisnya.

Saya jadi ingat kata orang-orang kalau di sekitar rumah tempat tinggal saya ini merupakan kawasan angker, tempat pertemuan makhluk gaib dari berbagai penjuru desa. Dulu, katanya, bahkan masih sandikala saja tidak ada orang yang mau lewat di jalan depan rumah saya ini karena sering ada kejadian menyeramkan. 

“Nyoman, hati-hati kalau tinggal di sana. Inget selalu nunas ica, memohon keselamatan,” demikian Bli Kacut pernah mengingatkan saya ketika baru pindah ke sini sekian tahun yang lalu. 

Bli Kacut adalah seorang panglingsir banjar, dikenal akrab dengan hal-hal mistis. 

Teringat akan hal itu membuat perasaan saya sedikit tercekam di tengah malam yang semakin senyap ini. Bli Kacut juga mengatakan, saat mapag Kajeng Kliwon, yang gaib-gaib itu akan keluar semua dan berkumpul di sekitar rumah saya ini. Konon energi mistis mereka bisa dirasakan lewat suasana yang tiba-tiba mencekam. Gumatat-gumitit terdiam, tidak berani bersuara. Suasana malam akan tiba-tiba hening dan muram. Alam seakan terperangkap dalam pengaruh magis.

Mungkinkah malam ini gaib itu tengah berkumpul sekitar sini, menyatroni rumah saya dan warga sekitar, menebarkan gangguan magis, sehingga saya tidak bisa tidur?

Terbayang istri dan anak-anak saya yang sedang tidur. Adakah mereka merasakan sesuatu? Apakah tidurnya gelisah? Apakah bermimpi buruk? Atau mungkin kaki mereka ditarik-tarik oleh makhluk gaib? Saya bertanya-tanya dalam hati.

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu, saya kemudian memilih melakukan sesuatu. Saya segera memperbaiki posisi duduk, memejamkan mata dan mulai mengonsentrasikan mata ketiga atau mata batin. Saya ambil posisi meditasi dan berniat menangkap getaran-getaran gaib yang ada di lingkungan rumah saya yang mungkin ingin mengacau secara niskala. 

Saya duduk rileks, mengatur nafas dengan mata terpejam. Malam semakin hening dicekam angin yang menyelinap di sela-sela jendela. 

Baru saja saya memejamkan mata hendak bermeditasi tiba-tiba ada suara mendesis datang dari arah samping. Suaranya halus, berupa desisan panjang. Saya berusaha melupakan suara itu karena tidak merasakan ada energi magis. Itu hanya desisan biasa. Namun suara itu tidak mau berhenti. Ia terus mendesis. 

Saya tetap menjaga konsentrasi, masuk ke alam gaib, menggunakan mata batin untuk menemukan sesuatu yang mencurigakan yang berkeliaran di sekeliling rumah. Saya berketetapan akan meringkusnya kalau ketemu.

Sejurus kemudian, saya merasakan roh saya keluar dari badan kasar saya, meninggalkan tubuh saya yang sedang duduk dalam remang-remang dekat jendela. Sekarang saya terbang secara gaib mengelilingi rumah, memeriksa keadaan lingkungan, mengitari tembok pekarangan di tengah kesunyian malam.

Saya menemui diri saya berdiri di depan pintu gerbang, melihat situasi sekitar lebuh, lalu secepat cahaya saya bergerak ke gang samping, dan saat bersamaan saya melesat ke atap rumah. Saya mencari-cari ke seluruh sudut pekarangan dan bertekad memburu apa yang disebut gaib itu. 

Dari atap rumah, saya meluncur terbang menuju pojok pekarangan kaja-kauh, di sekitar palinggih Penunggun Karang. Di sini, mata batin saya tiba-tiba melihat wujud api yang menyala nyebleng. Bentuknya bulat lonjong. Api apa itu? Saya tak akan menceritakannya di sini. Yang jelas menurut penglihatan mata batin saya, itu bukan api biasa. Sungguh, itu bukan api sembarangan.

Inilah saatnya, kata saya dalam hati. Saya pasang ancang-ancang hendak meringkus api itu. Saya belum tahu seberapa kekuatannya, secepat apa pula gerakannya. Diam-diam saya mulai memampatkan tenaga kundalini dalam satu tarikan energi. Saya mengintai, mengendap-endap setenang kucing di atas  cakar yang siap menerkam.

Api tersebut seperti tak melihat kehadiran saya. Dia masih saja nyebleng di sana.  Tapi getaran magisnya sangat terasa. Mungkin dia sedang berkonsentrasi menyebarkan energi gaibnya. Entahlah. Tetapi justru itu menguntungkan karena akan jadi lebih mudah buat saya menyergapnya lewat serangan mendadak dan dia tidak akan punya cukup waktu untuk melepaskan diri.

Mengetahui dia tidak menyadari kehadiran saya, saya tidak buang-buang waktu. Dengan segera saya melesat ke arahnya secepat gerakan kilat merobek awan. Ketika api itu hendak saya tangkap, tiba-tiba suara desisan di sebelah saya terdengar semakin kencang. Bahkan, kali ini bukan hanya desisan tapi diikuti suara bergemuruh seperti ada gelembung pecah dan bergolak, mengganggu gendang telinga.

Suara ini membuyarkan meditasi saya. Mau tak mau, terpaksa saya membuka mata dan menoleh ke asal suara itu.

Saya berdiri dan beringsut ke samping, lalu dengan 3-4 langkah ke arah dapur sampailah saya pada sumber suara tersebut. Itu adalah bunyi air gemulak di atas kompor yang menyala. Saya kira air teko itu telah mencapai 100 derajat panasnya dan itu sebabnya dia bersuara ribut sebagai tanda sudah waktunya digunakan. Saya harus selekasnya menuangkannya ke cangkir yang telah siap sedari tadi dengan campuran Kopi Bali dan sedikit gula.

Ya, tadi sebelum duduk di dekat jendela, saya memang menjerang air di dapur untuk bikin kopi. Kebetulan posisi dapur saya menyatu dengan ruang keluarga dan terbuka tanpa sekat. Saat ini saya sedang sangat kepengin ngopi. Bagi pecinta kopi, waktu bukanlah halangan. Hasrat minum kopi bisa terbit kapan saja dan jam berapa saja. Tidak peduli siang atau tengah malam seperti saat ini.

Saya tengok jam di tembok. Sekarang jarumnya telah menunjuk pukul dua lewat lima menit dini hari. Waktu lima menit cukup untuk mendidihkan segelas air.

Kini secangkir kopi panas sudah ada di tangan saya. Saya sedang tak ingin tidur. Saya akan turun ke garasi, merasakan udara malam di luar kamar sambil menikmati kopi.

Pintu pagar garasi saya buka setengah. Saya duduk bersila di pintu masuk dengan menghadap jalan. Rumah-rumah dan warung sekitar masih gelap. Jalan juga sepi, tapi sesekali mulai ada kendaraan lewat. Mereka adalah bule yang pulang dari diskotek dan para pedagang yang sudah harus ke pasar menyiapkan dagangannya meski hari masih dini. Pelan-pelan saya hirup kopi hangat ini. Dan di sini, di antara aroma kopi serta keheningan pagi ini, saya menulis catatan ini. [T]

Tags: Lomba Menulis Cerita Dari Rumah Tentang Rumah
Share51TweetSendShareSend
Previous Post

Virus, Dadong Anu, Petugas Medis dan Logika Leak – Yang Mengobati Yang Dijauhi

Next Post

Rumah, Sumur dan Mata Air

Penulis Cerita Katagori Umum

Penulis Cerita Katagori Umum

Cerita-cerita ini ditulis para peserta lomba menulis cerita Dari Rumah Tentang Rumah yang diselenggarakan tatkala.co untuk katagori umum

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Rumah, Sumur dan Mata Air

Rumah, Sumur dan Mata Air

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co