23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Balas Dendam

tatkala by tatkala
March 17, 2020
in Cerpen
Balas Dendam

Cerpen: Kris Alexsandro

Menjelang SMP, aku selalu dipaksa ibu dan ayah harus masuk SMP negeri yang favorit dengan ancaman tidak akan disekolahkan jika tidak masuk, Jenjang SMA aku harus mengambil jurusan IPA yang awalnya aku lebih menyukai jurusan IPS untuk menghindari angka karena sejak SD aku selalu tidak bisa matematika, dan saat ingin berkuliah pun aku juga dipaksa mengambil program studi yang sebelumnya tidak aku pahami sama sekali.

Pada suatu peristiwa yang lain, aku heran dengan ibu dan ayah. Mereka senang jika aku aktif  dalam bermusik dan wajah mereka selalu memberi dukungan pada saat aku tampil nanti sama halnya pada saat aku pelayanan di gereja dalam bentuk bermusik mereka seperti mendukungku dan selalu menilai permainanku jika ada yang kurang bagus.

Detik-detik kelulusan SMA, aku telah memikirkan matang-matang masa depanku. Di silah terjadi beda pandangan antara ibu dan ayah.

Aku ingin melanjutkan dan terjun ke dunia seni tapi pandangan ibu mencegah niatku. Satu-satunya yang mendukung niatku hanyalah ayah. Ayah seorang lulusan seni musik, musisi, dan keahlian yang aku dapatkan itu dari ayah namun ayahku selalu berkata kepadaku

“Kalau niat jangan tanggung. Kalau basah jangan hanya basah setengah, ya mandi sekalian!”

Lambat laun, aku senang dan merasa nyaman dengan yang namanya seni, terutama seni musik. Sehingga aku memilih untuk melanjutkan kuliah seni musik, mencoba sendiri sehingga harus pergi dengan dendam dari rumah dan berhenti berkonsultasi dengan orang tua tentang masalah apa yang harus dilakukan atau jurusan apa yang harus kuambil.

Ibu ialah guru SD yang menolak dengan keras  keinginanku. Aku juga kaget ketika ibu bersikeras dan bilang kepadaku, “Kamu mau jadi apa dari jurusan itu?”

“Kamu gak bisa makan dari pekerjaan dan mau berapa lama waktu yang nanti kamu gunakan agar sukses seperti yang kamu impikan, hah?” kata ibu. “Liat bapakmu dia dari orang musik tapi nyatanya dia tidak menjadi seorang musisi yang dahulu bapakmu itu orang pintar sekali dalam bernada,” lanjutnya.

Setelah ibu berkata seperti itu, aku lalu menoleh ke arah wajah ayah. Ia terlihat malu dan sedih ketika ibu berbicara seperti itu ke diriku dan aku menyauti perkataan ibukku.

 “Itu kan kisah ayah. Aku berbeda dengan ayah. Yang membuat ayah gagal itu karena orang tuanya dulu juga  melarang keras ia bermusik. Apakah ibu juga mau membuat aku gagal dengan kejadian yang sama dengan ayah?”

 Dan apakah aku harus selalu nurut dengan orang tua? Hanya karena mereka selalu bilang bahwa alasannya itu baik untuk masa depan anaknya?

Aku iri dengan temanku yang di dukung oleh orang tuanya dengan kemampuan yang ia punya dan harus belajar dari awal yang tidak aku ketahui sama sekali

Setelah aku lama bertengkar dengan orang tuaku aku sudah memikirkan bagaimana di jenjang kuliah ini aku bisa mendapat dukungan dalam menjalani perkuliahan nanti tanpa ada permasalahan batin yang dirasakan, selama aku bekerja dan tidak tinggal di rumah orang tuaku akan tetapi aku kost di daerah Jakarta dan bekerja di salah toko baju.

Selama bekerja aku mendapat hal yang baru yaitu menyukai cara kerja dengan teknologi digital. Misalnya di toko itu aku sering belajar cara mendesain baju dengan teknologi digital, hingga melakukan penjualan melalui media digital. Dan selama 9 bulan aku menjalani pekerjaan tersebut aku mulai mengerti dan menyukai hal-hal berbau digital dan aku mencoba memutuskan bagaimana menggabungkan teknologi dengan pendidikan, sehingga aku mungkin bisa menjadi apa saja, misalnya menjadi PNS seperti yang ibuku mau.

Aku memang pendendam. Tapi aku selalu memikirkan bagaimana membuat ibu tidak marah dan mendukungku. Hingga kupilih untuk tidak menyakiti perasaan orang tua, sehingga aku memilih untuk melanjutkan kuliah bidang teknologi yang digabungkan dengan bidang pendidikan, dan memilih kampus yang jauh dari orang tua. Selain ingin mencari pengalaman, aku juga tetap masih dendam akibat dilarang ini-itu di masa lalu.

Aku mengembangkan diri dan membuktikan diri bisa berkembang di teknologi namun memikirkan juga agar tidak meninggalkan dunia musikku. Aku mulai dari mengikuti berbagai kegiatan kampus dari organisasi. Menambah pengalaman dan sampai pada akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk menyalurkan hobi yang awalnya tertunda yaitu tampil di depan umum bermain musik, sampai masuk komunitas seni, bertemu dengan orang yang memiliki pandangan bahkan latar belakang yang sama.

Semua pengalaman itu menjadikan aku bisa memahami kondisi di mana diriku yang sebelumnya selalu beranggapan guru itu bukan passion-ku,  kini benar-benar sadar akan keinginan dan tujuanku. Masa depanku akan kuraih tanpa menyakiti perasaan orang tuaku. Dan aku ingin membuktikan bahwa kuliah di bidang teknologi akan bisa digabungkan dengan kegiatan seni yang aku ikuti di luar kampus.

Banyak tampil dari kegiatan satu ke kegiatan lainnya dan dari pangggung ke panggung, sudah cukup membuatku meningkatkan rasa percaya diri namun aku sadar kalau bermusik sekarang bukan untuk menjadi terkenal dan banyak uang. Akan tetapi aku sudah mulai merasa bahwa ketika bermusik bisa membuat aku lebih tenang.

Melalui musik dan lagu yang sudah aku ciptakan bisa menjadi pelampiasan rasa resah, sama halnya aku melampiaskannya ke dalam permainan musik di atas panggung. Aku sadar bahwa aku akan lebih bebas lagi menciptakan lagu. Sesuai dengan karakter diriku, kebebasan itu kemudian membuatku bebas juga berpikir. Seiring berjalan waktu, kegiatanku di kampus berjalan normal dan aku juga bisa membuka sebuah bisnis toko baju di daerah Jakarta. Aku yang khusus mendesain baju itu.

Dendam kepada ibu justru membuatku jadi bebas, termasuk bebas memilih masa depanku. Mau jadi pemusik, guru, atau pebisnis. Setelah sekian lama aku menjalani bisnis sampai aku lulus S1, aku semakin punya banyak waktu untuk menjalani bisnisku, Lalu setelah aku lulus kuliah aku fokus untuk menjadi businessman. Bisnis yang kujalani sejak kuliah, kini sudah mulai besar. [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

____

Kris Alexsandro, mahasiswa Prodi Teknologi Pendidikan, Undiksha, Singaraja

Tags: Cerpen
Share13TweetSendShareSend
Previous Post

Tiada

Next Post

Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co