2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Pandu Kalam by Pandu Kalam
March 17, 2020
in Cerpen
Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Cerpen: Pandu Kalam

Lima menit menjelang adzan, Marbot Li belum juga tiba di masjid. Jika ia mengulur waktu adzan hanya untuk menunggu datangnya Marbot Li yang tidak diketahui di mana rimbanya, maka dosa seluruh warga kampung yang tidak menunaikan sholat tepat waktu akan ditimpakan kepadanya. Karena hanya ia yang ada di masjid,  tak ada yang bisa diandalkan. Dikumandangkanlah adzan dengan nada yang datar saja. Suara penuh serak hingga tak jarang membuatnya batuk-batuk di tengah melafadzkan kalimat  adzan. Semua itu mewakili usianya yang renta.

Rupanya tak ada satu pun jama’ah yang datang setelah ia mengumandangkan adzan, bahkan selang beberapa menit setelah itu pun masih tak ada juga. Pada akhirnya ia juga yang melafadzkan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri pada satu-satunya masjid yang ada di kampung itu.

Sang takmir kalap karena pengalaman sholat shubuh tadi. Apa sebab warga kampung tak ada yang mau sholat di masjid? Pikirnya. Hal ini menjadi beban pikiran terbesar dan tentu memberi isyarat bahwa ada tanda-tanda ketidakbecusannya sebagai takmir masjid. Empat bulan berjalan dipercaya menjadi takmir, apa kiat yang dilakukan sebagai langkah untuk memakmurkan masjid? Saat ini makin tak masuk akal saja. Bukannya jama’ah bertambah malah sekarang tak ada sama sekali jama’ah? Ia membayangkan apa yang akan dilaporkannya ke hadapan Tuhan saat di Padang Mahsyar kelak. Di sana akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan atas segala yang dilakukan oleh ummat manusia selama hidup di dunia. Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, dan ketua-ketua yang lain tak luput dari persaksian Tuhan. Bukan main, bisa-bisa saya tenggelam dengan keringatku sendiri!!, pikirnya lagi.

Dan, Marbot Li? Ke mana perginya ia sekarang? Tak ada yang tahu.

***

Di rumah, Bapak akhir-akhir ini lebih suka menyendiri. Duduk diam di muka pintu dengan tatapan mata yang jauh dan kosong. Kata Mamak, Bapak sedang dilanda gelisah. Marbot Li yang bertugas membersihkan masjid dan mengumandangkan adzan itu belum diketahui di mana rimbanya. Tujuh hari sudah warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid. Dan akhirnya, Bapak yang mengumandangkan adzan, melafadzakan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri.

Tentang ketiadaan Marbot Li, Bapak sudah melaporkannya ke pihak kepolisian namun tampaknya polisi tak mempunyai minat mengurusnya. Polisi hanya datang melakukan pemeriksaan di hari itu saja. Selebihnya tidak lagi. Warga kampung juga sama sekali tak ada yang mau membantu mencari. Bapak saja yang mencari.

Mungkin karena jengkel dengan sikap warga kampung yang tak mau sholat berjama’ah di masjid, suatu kali Bapak mengumandangkan adzan tidak pada waktunnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 08:00, waktu ketika Bapak sering melaksanakan sholat Dhuha’ di masjid, sendirian. Gemparlah warga seisi kampung mendengar adzan yang dikumandangkan oleh Bapak. Reaksinya beragam, anak kecil awalnya heran kemudian ketawa terbahak-bahak. Orang dewasa hingga orang tua menganggap Bapak sudah gila dan kemudian tertawa pula.

Bapak melakukan itu karena ingin menyadarkan warga kampung agar kembali melakukan sholat berjama’ah di masjid. Pikirnya setelah ia membikin gempar warga kampung dengan adzan pukul 08:00 itu, bisa membuat warga datang ke masjid dan menanyakan apa yang dia lakukan. Nyatanya tak sesuai dengan dugaan, apa yang Bapak lakukan itu tak berpengaruh sama sekali, warga kampung tak satu pun datang ke masjid. Saya kasihan melihat Bapak kepayahan. Apa pula sebab warga kampung tak mau sholat di masjid? Heran saya. Inikah tanda-tanda akhir dari umur dunia?

Saya kemarin membaca buku berjudul Huru-Hara Hari Kiamat, memang sempat kuingat salah satu tanda-tanda kiamat yang dijelaskan oleh penulis di dalam buku itu; Orang-orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing. Maka bertambah yakinlah saya dengan kejadian yang terjadi di kampungku ini. Untuk urusan sholat berjam’ah di masjid, bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas. Susah-payah Bapakku melakukan berbagai cara dan menyeru warga kampung untuk memakmurkan masjid. Karpet-karpet yang usang diganti dengan yang baru. Sebelum Marbot Li hilang, ia selalu menyemprotkan karpet itu dengan wewangian. Tapi jama’ah makin berkurang saja. Sudah keterlaluan! Benar-benar kiamat akan tiba dalam waktu dekat. Dan saya harus segera menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi, tentu saja.

Bapak masih saja seorang diri yang sholat di masjid. Adzan yang dikumandangkan tidak pada waktunya kini sudah sering Bapak lakukan. Hari ini terhitung sudah sepuluh kali adzan dikumandangkan. Warga kampung tak satu pun yang menyahut. Benar-benar gila! Sedangkan kabar Marbot Li masih belum jelas. Keadaan ini cukup membuat Bapakku hilang akal. Bisa-bisa ia dicap sebagai takmir sekaligus imam masjid yang gagal, dan gila.

Di kampungku takmir merangkap jabatan sekaligus sebagai imam masjid. Bapak dipilih oleh warga sebagai takmir. Tapi kenapa Bapak malah dicampakkan oleh warga kampung pula? Apa sebab? Ah, saya benar-benar bingung.

Kini makan pun Bapak tak mau. Kalau pun makan, itu Mamak yang paksa. Bapak tak mau makan kalau tidak dipaksa. Bapak benar-benar berubah. Tak ada yang dipedulikan. Saya bingung harus berbuat apa. Bapak lebih sering duduk diam termenung dengan mata memandang jauh dan kosong. Saya khawatir Bapak benar-benar akan menjadi gila seperti yang kemarin Pak Koce katakan.

“Eh, Ati! Apa Bapakmu sudah gila? Hari ini adzan sudah sepuluh kali dikumandangkan olehnya. Siapa yang mau sholat di masjid kalau begitu jadinya?”

Untuk mengobati perasaan Bapak, saya diajak Mamak sholat ke masjid. Kami bertiga berjalan beriringan, tanpa sepatah kata keluar dari mulut. Bapak berjalan paling depan. Sepanjang jalan Bapak mengajak anak-anak yang main di pinggir jalan untuk sholat di masjid, tapi anak-anak pada lari ketakuatan seperti dikejar maling.

Saya bergidik ketika Bapak mengumandangkan adzan maghrib. Suara Bapak memang tak pantas untuk mengumandangkan adzan, jelek. Apa mungkin karena suara Bapak yang tak sedap didengar sehingga membuat warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid? Ah tak masuk akal. Sebelum hilang, Marbot Li  yang selalu mengumandangkan adzan, walau dengan suara yang sama tak sedapnya dengan suara Bapak. Mungkin warga kampung juga jengkel dengan suara adzan Marbot Li. Tapi tidak dengan Bapak. Bapaklah yang menunjuk Li untuk menjadi Marbot. Kini belum sampai dua bulan menjadi marbot, ia sudah hilang bagai ditelan bumi.

Apa yang terjadi kemudian cukup membuat Bapak terkejut. Saya dan Mamak juga ikut terkejut melihat Bapak. Bapak kemudian menangis. Tapi saya dan Mamak tak ikut menangis. Ada pengumuman mengejutkan menggunakan toa balai desa. Dari suaranya yang penuh wibawa, dapatlah saya mengenali orang yang berbicara itu. Kepala Desa, ya betul Kepala Desa.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa!!” Suaranya lantang.

“Sekali lagi! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa. Pengumuman ini berlaku mulai besok pada waktu Sholat Shubuh!”

Maka mulai saat itu saya lihat Bapak sudah benar-benar seperti orang gila. Diam termenung dengan mata yang memandang jauh dan kosong. Makan tak mau. Minum tak mau. Istri dan anak tak dihiraukan. Bahkan ke masjid pun enggan. Mamak selalu menangis melihat Bapak. Seringkali Mamak membujuk Bapak untuk makan atau hanya sekadar mengajaknya ngobrol pun tak disahut. Saya juga ikut menangis melihat Mamak kewalahan membujuk Bapak. Mamak hari ini akan ke dokter; memanggil dokter untuk memeriksa—menyembuhkan Bapak. Namun setelah diperiksa, Bapak tidak memiliki suatu penyakit apapun.

“Bapak hanya perlu istirahat yang cukup saja,” kata dokter.

Belakangan ini kuketahui dari seorang sahabat penyebab warga kampung tak lagi mau sholat berjama’ah di masjid. Saya senang bukan main. Begini kata sahabat saya.

“Mereka tak suka seruan Tuhan itu diperantarai oleh Marbot Li. Masa bekas orang gila bisa mewakili seruan Tuhan Yang Maha Mulia untuk memanggil orang-orang waras? Apalagi dalam urusan agama? Sah-kah seruan Tuhan itu diperantarai oleh bekas orang gila? Urusan agama jangan dianggap main!” kata mereka.”

Dia berpikir sejenak, dan saya hanya manggut-manggut mendengar sahabat ini berbicara. Sahabat ini menelan ludah dan melanjutkan.

“Kata mereka, ini semua ulah Bapakmu. Mereka benci pada Marbot Li sekaligus kepada Bapakmu. Karena Bapakmu yang menunjuk Marbot Li untuk menjadi marbot. Kalau kamu menyaksikan beberapa hari lalu bagaimana Marbot Li dibikin resah oleh ulah warga kampung, saya bisa pastikan kamu akan ikut malu! Semua karena Bapakmu!”

Saya sedikit terkejut.

“Marbot Li dipermalukan di depan orang banyak oleh anak-anak kecil atas suruhan para orang tua. Sekali saya melihat, Marbot Li sedang meminta sumbangan beras dari rumah ke rumah untuk keperluan kas masjid dengan ember ukuran sedang diletakkan di atas pundaknya. Datanglah anak kecil dari belakang menarik sarung Marbot Li. Dan itu, kalau kamu lihat kamu akan malu!! Mana Marbot Li tak pakai celana dalam pula.”

“Orang yang melihat saja sudah malu, apalagi orang yang mengalami. Spontan ia melepaskan tangannya yang menopang ember di atas pundaknya itu untuk menaikkan sarungnya yang ditarik tadi. Dan itu, ember di atas pundaknya tadi, jatuh dan beras tumpah-ruah ke tanah!! Serentak orang-orang yang melihat menyoraki dengan tawaan sinis. Saya tak bisa membantunya, bisa-bisa saya dianggap cem-ceman Marbot Li.”

“Marbot Li dibully habis-habisan oleh warga kampung. Ia dikatai sebagai orang gila. Orang gila tak pantas menjadi marbot. Karena tugas marbot tak hanya membersihkan masjid dan meminta sumbangan untuk kas masjid, juga bertugas mengumandangkan adzan. Adzan adalah seruan Tuhan. Seruan Yang Maha Mulia. Dan seruan Tuhan tak boleh diwakilkan oleh bekas orang gila. Tidak sah!!, kata mereka.”

Saya asyik menyimak.

“Semua karena Bapakmu.”

Sebentar lagi masuk waktu Sholat Maghrib, Bapak tak kunjung mau dibujuk untuk sholat ke masjid lagi. Dan yang lebih menyayat hati, Bapak disoraki sebagai orang gila oleh anak-anak nakal yang berjalan di depan rumah kami setiap sore hari.

Tahu-tahu terdengar suara adzan di masjid. Sebelumnya suara adzan terdengar lantang di balai desa. Tapi kali ini suara adzan di balai desa tak terdengar. Suara itu nampaknya berpindah ke masjid. Suara adzan yang mengesankan kemenangan baru saja diraih. Tinggi melengking dengan nada yang elok didengar. Nada yang tak pernah dipakai oleh siapapun sebelumnya. Tentu Bapak kaget mendengar adzan itu.

“Marbot Li! Itukah Marbot Li?” katanya takjub. “Indah betul adzannya kini!”

Bapak bergegas memakai sarung dan mengambil peci hitam yang biasa digantung di tiang rumah. Ia segera menuju masjid, memenuhi panggilaan sholat dari Tuhan semesta alam yang diperantarai oleh marbot pilihannya, marbot kesayangannya, yang beberapa hari lalu pergi menghilang entah ke mana. Dengan sigap ia turun dari tangga rumah, posisi pecinya tampak belum terlalu bagus, miring. Mamak terharu melihat Bapak segirang itu. Dan saya juga ikut terharu melihat Mamak.

“Pak! Makan dulu!” teriak Mama

Tapi Bapak sudah hilang dari pemandangan.

Tak lama waktu berselang, Bapak kembali dengan wajah kuyu dan badan lunglai. Ia berjalan dengan pandangan mata yang tak lepas dari kedua kakinya. Mamak bertanya ada apa gerangan, namun sama sekali tak disahut oleh Bapak. Kini Bapak berbalik badan, berjalan mundur menaiki tangga rumah dan duduk pada anak tangga yang paling atas dengan padangan mata yang jauh dan kosong.

Bapak tak habis pikir, kenapa Ba Sedo, anak buah Kepala Desa yang dulu jadi tim sukses di Pilkades itu, bisa menirukan lengkingan adzan Marbot Li dengan begitu mirip.    [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Balas Dendam

Next Post

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Pandu Kalam

Pandu Kalam

Lahir di Kalampa, Woha, Bima-NTB pada tanggal 04 Juli 1999. Kini merantau ke Singaraja-Bali dan aktif di organisasi dalam maupun luar kampus.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co