12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Pandu Kalam by Pandu Kalam
March 17, 2020
in Cerpen
Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Cerpen: Pandu Kalam

Lima menit menjelang adzan, Marbot Li belum juga tiba di masjid. Jika ia mengulur waktu adzan hanya untuk menunggu datangnya Marbot Li yang tidak diketahui di mana rimbanya, maka dosa seluruh warga kampung yang tidak menunaikan sholat tepat waktu akan ditimpakan kepadanya. Karena hanya ia yang ada di masjid,  tak ada yang bisa diandalkan. Dikumandangkanlah adzan dengan nada yang datar saja. Suara penuh serak hingga tak jarang membuatnya batuk-batuk di tengah melafadzkan kalimat  adzan. Semua itu mewakili usianya yang renta.

Rupanya tak ada satu pun jama’ah yang datang setelah ia mengumandangkan adzan, bahkan selang beberapa menit setelah itu pun masih tak ada juga. Pada akhirnya ia juga yang melafadzkan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri pada satu-satunya masjid yang ada di kampung itu.

Sang takmir kalap karena pengalaman sholat shubuh tadi. Apa sebab warga kampung tak ada yang mau sholat di masjid? Pikirnya. Hal ini menjadi beban pikiran terbesar dan tentu memberi isyarat bahwa ada tanda-tanda ketidakbecusannya sebagai takmir masjid. Empat bulan berjalan dipercaya menjadi takmir, apa kiat yang dilakukan sebagai langkah untuk memakmurkan masjid? Saat ini makin tak masuk akal saja. Bukannya jama’ah bertambah malah sekarang tak ada sama sekali jama’ah? Ia membayangkan apa yang akan dilaporkannya ke hadapan Tuhan saat di Padang Mahsyar kelak. Di sana akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan atas segala yang dilakukan oleh ummat manusia selama hidup di dunia. Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, dan ketua-ketua yang lain tak luput dari persaksian Tuhan. Bukan main, bisa-bisa saya tenggelam dengan keringatku sendiri!!, pikirnya lagi.

Dan, Marbot Li? Ke mana perginya ia sekarang? Tak ada yang tahu.

***

Di rumah, Bapak akhir-akhir ini lebih suka menyendiri. Duduk diam di muka pintu dengan tatapan mata yang jauh dan kosong. Kata Mamak, Bapak sedang dilanda gelisah. Marbot Li yang bertugas membersihkan masjid dan mengumandangkan adzan itu belum diketahui di mana rimbanya. Tujuh hari sudah warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid. Dan akhirnya, Bapak yang mengumandangkan adzan, melafadzakan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri.

Tentang ketiadaan Marbot Li, Bapak sudah melaporkannya ke pihak kepolisian namun tampaknya polisi tak mempunyai minat mengurusnya. Polisi hanya datang melakukan pemeriksaan di hari itu saja. Selebihnya tidak lagi. Warga kampung juga sama sekali tak ada yang mau membantu mencari. Bapak saja yang mencari.

Mungkin karena jengkel dengan sikap warga kampung yang tak mau sholat berjama’ah di masjid, suatu kali Bapak mengumandangkan adzan tidak pada waktunnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 08:00, waktu ketika Bapak sering melaksanakan sholat Dhuha’ di masjid, sendirian. Gemparlah warga seisi kampung mendengar adzan yang dikumandangkan oleh Bapak. Reaksinya beragam, anak kecil awalnya heran kemudian ketawa terbahak-bahak. Orang dewasa hingga orang tua menganggap Bapak sudah gila dan kemudian tertawa pula.

Bapak melakukan itu karena ingin menyadarkan warga kampung agar kembali melakukan sholat berjama’ah di masjid. Pikirnya setelah ia membikin gempar warga kampung dengan adzan pukul 08:00 itu, bisa membuat warga datang ke masjid dan menanyakan apa yang dia lakukan. Nyatanya tak sesuai dengan dugaan, apa yang Bapak lakukan itu tak berpengaruh sama sekali, warga kampung tak satu pun datang ke masjid. Saya kasihan melihat Bapak kepayahan. Apa pula sebab warga kampung tak mau sholat di masjid? Heran saya. Inikah tanda-tanda akhir dari umur dunia?

Saya kemarin membaca buku berjudul Huru-Hara Hari Kiamat, memang sempat kuingat salah satu tanda-tanda kiamat yang dijelaskan oleh penulis di dalam buku itu; Orang-orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing. Maka bertambah yakinlah saya dengan kejadian yang terjadi di kampungku ini. Untuk urusan sholat berjam’ah di masjid, bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas. Susah-payah Bapakku melakukan berbagai cara dan menyeru warga kampung untuk memakmurkan masjid. Karpet-karpet yang usang diganti dengan yang baru. Sebelum Marbot Li hilang, ia selalu menyemprotkan karpet itu dengan wewangian. Tapi jama’ah makin berkurang saja. Sudah keterlaluan! Benar-benar kiamat akan tiba dalam waktu dekat. Dan saya harus segera menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi, tentu saja.

Bapak masih saja seorang diri yang sholat di masjid. Adzan yang dikumandangkan tidak pada waktunya kini sudah sering Bapak lakukan. Hari ini terhitung sudah sepuluh kali adzan dikumandangkan. Warga kampung tak satu pun yang menyahut. Benar-benar gila! Sedangkan kabar Marbot Li masih belum jelas. Keadaan ini cukup membuat Bapakku hilang akal. Bisa-bisa ia dicap sebagai takmir sekaligus imam masjid yang gagal, dan gila.

Di kampungku takmir merangkap jabatan sekaligus sebagai imam masjid. Bapak dipilih oleh warga sebagai takmir. Tapi kenapa Bapak malah dicampakkan oleh warga kampung pula? Apa sebab? Ah, saya benar-benar bingung.

Kini makan pun Bapak tak mau. Kalau pun makan, itu Mamak yang paksa. Bapak tak mau makan kalau tidak dipaksa. Bapak benar-benar berubah. Tak ada yang dipedulikan. Saya bingung harus berbuat apa. Bapak lebih sering duduk diam termenung dengan mata memandang jauh dan kosong. Saya khawatir Bapak benar-benar akan menjadi gila seperti yang kemarin Pak Koce katakan.

“Eh, Ati! Apa Bapakmu sudah gila? Hari ini adzan sudah sepuluh kali dikumandangkan olehnya. Siapa yang mau sholat di masjid kalau begitu jadinya?”

Untuk mengobati perasaan Bapak, saya diajak Mamak sholat ke masjid. Kami bertiga berjalan beriringan, tanpa sepatah kata keluar dari mulut. Bapak berjalan paling depan. Sepanjang jalan Bapak mengajak anak-anak yang main di pinggir jalan untuk sholat di masjid, tapi anak-anak pada lari ketakuatan seperti dikejar maling.

Saya bergidik ketika Bapak mengumandangkan adzan maghrib. Suara Bapak memang tak pantas untuk mengumandangkan adzan, jelek. Apa mungkin karena suara Bapak yang tak sedap didengar sehingga membuat warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid? Ah tak masuk akal. Sebelum hilang, Marbot Li  yang selalu mengumandangkan adzan, walau dengan suara yang sama tak sedapnya dengan suara Bapak. Mungkin warga kampung juga jengkel dengan suara adzan Marbot Li. Tapi tidak dengan Bapak. Bapaklah yang menunjuk Li untuk menjadi Marbot. Kini belum sampai dua bulan menjadi marbot, ia sudah hilang bagai ditelan bumi.

Apa yang terjadi kemudian cukup membuat Bapak terkejut. Saya dan Mamak juga ikut terkejut melihat Bapak. Bapak kemudian menangis. Tapi saya dan Mamak tak ikut menangis. Ada pengumuman mengejutkan menggunakan toa balai desa. Dari suaranya yang penuh wibawa, dapatlah saya mengenali orang yang berbicara itu. Kepala Desa, ya betul Kepala Desa.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa!!” Suaranya lantang.

“Sekali lagi! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa. Pengumuman ini berlaku mulai besok pada waktu Sholat Shubuh!”

Maka mulai saat itu saya lihat Bapak sudah benar-benar seperti orang gila. Diam termenung dengan mata yang memandang jauh dan kosong. Makan tak mau. Minum tak mau. Istri dan anak tak dihiraukan. Bahkan ke masjid pun enggan. Mamak selalu menangis melihat Bapak. Seringkali Mamak membujuk Bapak untuk makan atau hanya sekadar mengajaknya ngobrol pun tak disahut. Saya juga ikut menangis melihat Mamak kewalahan membujuk Bapak. Mamak hari ini akan ke dokter; memanggil dokter untuk memeriksa—menyembuhkan Bapak. Namun setelah diperiksa, Bapak tidak memiliki suatu penyakit apapun.

“Bapak hanya perlu istirahat yang cukup saja,” kata dokter.

Belakangan ini kuketahui dari seorang sahabat penyebab warga kampung tak lagi mau sholat berjama’ah di masjid. Saya senang bukan main. Begini kata sahabat saya.

“Mereka tak suka seruan Tuhan itu diperantarai oleh Marbot Li. Masa bekas orang gila bisa mewakili seruan Tuhan Yang Maha Mulia untuk memanggil orang-orang waras? Apalagi dalam urusan agama? Sah-kah seruan Tuhan itu diperantarai oleh bekas orang gila? Urusan agama jangan dianggap main!” kata mereka.”

Dia berpikir sejenak, dan saya hanya manggut-manggut mendengar sahabat ini berbicara. Sahabat ini menelan ludah dan melanjutkan.

“Kata mereka, ini semua ulah Bapakmu. Mereka benci pada Marbot Li sekaligus kepada Bapakmu. Karena Bapakmu yang menunjuk Marbot Li untuk menjadi marbot. Kalau kamu menyaksikan beberapa hari lalu bagaimana Marbot Li dibikin resah oleh ulah warga kampung, saya bisa pastikan kamu akan ikut malu! Semua karena Bapakmu!”

Saya sedikit terkejut.

“Marbot Li dipermalukan di depan orang banyak oleh anak-anak kecil atas suruhan para orang tua. Sekali saya melihat, Marbot Li sedang meminta sumbangan beras dari rumah ke rumah untuk keperluan kas masjid dengan ember ukuran sedang diletakkan di atas pundaknya. Datanglah anak kecil dari belakang menarik sarung Marbot Li. Dan itu, kalau kamu lihat kamu akan malu!! Mana Marbot Li tak pakai celana dalam pula.”

“Orang yang melihat saja sudah malu, apalagi orang yang mengalami. Spontan ia melepaskan tangannya yang menopang ember di atas pundaknya itu untuk menaikkan sarungnya yang ditarik tadi. Dan itu, ember di atas pundaknya tadi, jatuh dan beras tumpah-ruah ke tanah!! Serentak orang-orang yang melihat menyoraki dengan tawaan sinis. Saya tak bisa membantunya, bisa-bisa saya dianggap cem-ceman Marbot Li.”

“Marbot Li dibully habis-habisan oleh warga kampung. Ia dikatai sebagai orang gila. Orang gila tak pantas menjadi marbot. Karena tugas marbot tak hanya membersihkan masjid dan meminta sumbangan untuk kas masjid, juga bertugas mengumandangkan adzan. Adzan adalah seruan Tuhan. Seruan Yang Maha Mulia. Dan seruan Tuhan tak boleh diwakilkan oleh bekas orang gila. Tidak sah!!, kata mereka.”

Saya asyik menyimak.

“Semua karena Bapakmu.”

Sebentar lagi masuk waktu Sholat Maghrib, Bapak tak kunjung mau dibujuk untuk sholat ke masjid lagi. Dan yang lebih menyayat hati, Bapak disoraki sebagai orang gila oleh anak-anak nakal yang berjalan di depan rumah kami setiap sore hari.

Tahu-tahu terdengar suara adzan di masjid. Sebelumnya suara adzan terdengar lantang di balai desa. Tapi kali ini suara adzan di balai desa tak terdengar. Suara itu nampaknya berpindah ke masjid. Suara adzan yang mengesankan kemenangan baru saja diraih. Tinggi melengking dengan nada yang elok didengar. Nada yang tak pernah dipakai oleh siapapun sebelumnya. Tentu Bapak kaget mendengar adzan itu.

“Marbot Li! Itukah Marbot Li?” katanya takjub. “Indah betul adzannya kini!”

Bapak bergegas memakai sarung dan mengambil peci hitam yang biasa digantung di tiang rumah. Ia segera menuju masjid, memenuhi panggilaan sholat dari Tuhan semesta alam yang diperantarai oleh marbot pilihannya, marbot kesayangannya, yang beberapa hari lalu pergi menghilang entah ke mana. Dengan sigap ia turun dari tangga rumah, posisi pecinya tampak belum terlalu bagus, miring. Mamak terharu melihat Bapak segirang itu. Dan saya juga ikut terharu melihat Mamak.

“Pak! Makan dulu!” teriak Mama

Tapi Bapak sudah hilang dari pemandangan.

Tak lama waktu berselang, Bapak kembali dengan wajah kuyu dan badan lunglai. Ia berjalan dengan pandangan mata yang tak lepas dari kedua kakinya. Mamak bertanya ada apa gerangan, namun sama sekali tak disahut oleh Bapak. Kini Bapak berbalik badan, berjalan mundur menaiki tangga rumah dan duduk pada anak tangga yang paling atas dengan padangan mata yang jauh dan kosong.

Bapak tak habis pikir, kenapa Ba Sedo, anak buah Kepala Desa yang dulu jadi tim sukses di Pilkades itu, bisa menirukan lengkingan adzan Marbot Li dengan begitu mirip.    [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Balas Dendam

Next Post

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Pandu Kalam

Pandu Kalam

Lahir di Kalampa, Woha, Bima-NTB pada tanggal 04 Juli 1999. Kini merantau ke Singaraja-Bali dan aktif di organisasi dalam maupun luar kampus.

Related Posts

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co