3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Pandu Kalam by Pandu Kalam
March 17, 2020
in Cerpen
Ketua Takmir dan Nasib Marbot Pilihannya

Cerpen: Pandu Kalam

Lima menit menjelang adzan, Marbot Li belum juga tiba di masjid. Jika ia mengulur waktu adzan hanya untuk menunggu datangnya Marbot Li yang tidak diketahui di mana rimbanya, maka dosa seluruh warga kampung yang tidak menunaikan sholat tepat waktu akan ditimpakan kepadanya. Karena hanya ia yang ada di masjid,  tak ada yang bisa diandalkan. Dikumandangkanlah adzan dengan nada yang datar saja. Suara penuh serak hingga tak jarang membuatnya batuk-batuk di tengah melafadzkan kalimat  adzan. Semua itu mewakili usianya yang renta.

Rupanya tak ada satu pun jama’ah yang datang setelah ia mengumandangkan adzan, bahkan selang beberapa menit setelah itu pun masih tak ada juga. Pada akhirnya ia juga yang melafadzkan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri pada satu-satunya masjid yang ada di kampung itu.

Sang takmir kalap karena pengalaman sholat shubuh tadi. Apa sebab warga kampung tak ada yang mau sholat di masjid? Pikirnya. Hal ini menjadi beban pikiran terbesar dan tentu memberi isyarat bahwa ada tanda-tanda ketidakbecusannya sebagai takmir masjid. Empat bulan berjalan dipercaya menjadi takmir, apa kiat yang dilakukan sebagai langkah untuk memakmurkan masjid? Saat ini makin tak masuk akal saja. Bukannya jama’ah bertambah malah sekarang tak ada sama sekali jama’ah? Ia membayangkan apa yang akan dilaporkannya ke hadapan Tuhan saat di Padang Mahsyar kelak. Di sana akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan atas segala yang dilakukan oleh ummat manusia selama hidup di dunia. Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Camat, Kepala Desa, Ketua RT, Ketua RW, dan ketua-ketua yang lain tak luput dari persaksian Tuhan. Bukan main, bisa-bisa saya tenggelam dengan keringatku sendiri!!, pikirnya lagi.

Dan, Marbot Li? Ke mana perginya ia sekarang? Tak ada yang tahu.

***

Di rumah, Bapak akhir-akhir ini lebih suka menyendiri. Duduk diam di muka pintu dengan tatapan mata yang jauh dan kosong. Kata Mamak, Bapak sedang dilanda gelisah. Marbot Li yang bertugas membersihkan masjid dan mengumandangkan adzan itu belum diketahui di mana rimbanya. Tujuh hari sudah warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid. Dan akhirnya, Bapak yang mengumandangkan adzan, melafadzakan iqomat, dan menjadi imam bagi dirinya sendiri.

Tentang ketiadaan Marbot Li, Bapak sudah melaporkannya ke pihak kepolisian namun tampaknya polisi tak mempunyai minat mengurusnya. Polisi hanya datang melakukan pemeriksaan di hari itu saja. Selebihnya tidak lagi. Warga kampung juga sama sekali tak ada yang mau membantu mencari. Bapak saja yang mencari.

Mungkin karena jengkel dengan sikap warga kampung yang tak mau sholat berjama’ah di masjid, suatu kali Bapak mengumandangkan adzan tidak pada waktunnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul 08:00, waktu ketika Bapak sering melaksanakan sholat Dhuha’ di masjid, sendirian. Gemparlah warga seisi kampung mendengar adzan yang dikumandangkan oleh Bapak. Reaksinya beragam, anak kecil awalnya heran kemudian ketawa terbahak-bahak. Orang dewasa hingga orang tua menganggap Bapak sudah gila dan kemudian tertawa pula.

Bapak melakukan itu karena ingin menyadarkan warga kampung agar kembali melakukan sholat berjama’ah di masjid. Pikirnya setelah ia membikin gempar warga kampung dengan adzan pukul 08:00 itu, bisa membuat warga datang ke masjid dan menanyakan apa yang dia lakukan. Nyatanya tak sesuai dengan dugaan, apa yang Bapak lakukan itu tak berpengaruh sama sekali, warga kampung tak satu pun datang ke masjid. Saya kasihan melihat Bapak kepayahan. Apa pula sebab warga kampung tak mau sholat di masjid? Heran saya. Inikah tanda-tanda akhir dari umur dunia?

Saya kemarin membaca buku berjudul Huru-Hara Hari Kiamat, memang sempat kuingat salah satu tanda-tanda kiamat yang dijelaskan oleh penulis di dalam buku itu; Orang-orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing. Maka bertambah yakinlah saya dengan kejadian yang terjadi di kampungku ini. Untuk urusan sholat berjam’ah di masjid, bukanlah sesuatu yang menjadi prioritas. Susah-payah Bapakku melakukan berbagai cara dan menyeru warga kampung untuk memakmurkan masjid. Karpet-karpet yang usang diganti dengan yang baru. Sebelum Marbot Li hilang, ia selalu menyemprotkan karpet itu dengan wewangian. Tapi jama’ah makin berkurang saja. Sudah keterlaluan! Benar-benar kiamat akan tiba dalam waktu dekat. Dan saya harus segera menghafal sepuluh ayat pertama Surah Al-Kahfi, tentu saja.

Bapak masih saja seorang diri yang sholat di masjid. Adzan yang dikumandangkan tidak pada waktunya kini sudah sering Bapak lakukan. Hari ini terhitung sudah sepuluh kali adzan dikumandangkan. Warga kampung tak satu pun yang menyahut. Benar-benar gila! Sedangkan kabar Marbot Li masih belum jelas. Keadaan ini cukup membuat Bapakku hilang akal. Bisa-bisa ia dicap sebagai takmir sekaligus imam masjid yang gagal, dan gila.

Di kampungku takmir merangkap jabatan sekaligus sebagai imam masjid. Bapak dipilih oleh warga sebagai takmir. Tapi kenapa Bapak malah dicampakkan oleh warga kampung pula? Apa sebab? Ah, saya benar-benar bingung.

Kini makan pun Bapak tak mau. Kalau pun makan, itu Mamak yang paksa. Bapak tak mau makan kalau tidak dipaksa. Bapak benar-benar berubah. Tak ada yang dipedulikan. Saya bingung harus berbuat apa. Bapak lebih sering duduk diam termenung dengan mata memandang jauh dan kosong. Saya khawatir Bapak benar-benar akan menjadi gila seperti yang kemarin Pak Koce katakan.

“Eh, Ati! Apa Bapakmu sudah gila? Hari ini adzan sudah sepuluh kali dikumandangkan olehnya. Siapa yang mau sholat di masjid kalau begitu jadinya?”

Untuk mengobati perasaan Bapak, saya diajak Mamak sholat ke masjid. Kami bertiga berjalan beriringan, tanpa sepatah kata keluar dari mulut. Bapak berjalan paling depan. Sepanjang jalan Bapak mengajak anak-anak yang main di pinggir jalan untuk sholat di masjid, tapi anak-anak pada lari ketakuatan seperti dikejar maling.

Saya bergidik ketika Bapak mengumandangkan adzan maghrib. Suara Bapak memang tak pantas untuk mengumandangkan adzan, jelek. Apa mungkin karena suara Bapak yang tak sedap didengar sehingga membuat warga kampung tak ada yang mau sholat berjama’ah di masjid? Ah tak masuk akal. Sebelum hilang, Marbot Li  yang selalu mengumandangkan adzan, walau dengan suara yang sama tak sedapnya dengan suara Bapak. Mungkin warga kampung juga jengkel dengan suara adzan Marbot Li. Tapi tidak dengan Bapak. Bapaklah yang menunjuk Li untuk menjadi Marbot. Kini belum sampai dua bulan menjadi marbot, ia sudah hilang bagai ditelan bumi.

Apa yang terjadi kemudian cukup membuat Bapak terkejut. Saya dan Mamak juga ikut terkejut melihat Bapak. Bapak kemudian menangis. Tapi saya dan Mamak tak ikut menangis. Ada pengumuman mengejutkan menggunakan toa balai desa. Dari suaranya yang penuh wibawa, dapatlah saya mengenali orang yang berbicara itu. Kepala Desa, ya betul Kepala Desa.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa!!” Suaranya lantang.

“Sekali lagi! Untuk sementara waktu, tempat untuk melaksanakan sholat berjama’ah dialihkan dari masjid ke aula balai desa. Pengumuman ini berlaku mulai besok pada waktu Sholat Shubuh!”

Maka mulai saat itu saya lihat Bapak sudah benar-benar seperti orang gila. Diam termenung dengan mata yang memandang jauh dan kosong. Makan tak mau. Minum tak mau. Istri dan anak tak dihiraukan. Bahkan ke masjid pun enggan. Mamak selalu menangis melihat Bapak. Seringkali Mamak membujuk Bapak untuk makan atau hanya sekadar mengajaknya ngobrol pun tak disahut. Saya juga ikut menangis melihat Mamak kewalahan membujuk Bapak. Mamak hari ini akan ke dokter; memanggil dokter untuk memeriksa—menyembuhkan Bapak. Namun setelah diperiksa, Bapak tidak memiliki suatu penyakit apapun.

“Bapak hanya perlu istirahat yang cukup saja,” kata dokter.

Belakangan ini kuketahui dari seorang sahabat penyebab warga kampung tak lagi mau sholat berjama’ah di masjid. Saya senang bukan main. Begini kata sahabat saya.

“Mereka tak suka seruan Tuhan itu diperantarai oleh Marbot Li. Masa bekas orang gila bisa mewakili seruan Tuhan Yang Maha Mulia untuk memanggil orang-orang waras? Apalagi dalam urusan agama? Sah-kah seruan Tuhan itu diperantarai oleh bekas orang gila? Urusan agama jangan dianggap main!” kata mereka.”

Dia berpikir sejenak, dan saya hanya manggut-manggut mendengar sahabat ini berbicara. Sahabat ini menelan ludah dan melanjutkan.

“Kata mereka, ini semua ulah Bapakmu. Mereka benci pada Marbot Li sekaligus kepada Bapakmu. Karena Bapakmu yang menunjuk Marbot Li untuk menjadi marbot. Kalau kamu menyaksikan beberapa hari lalu bagaimana Marbot Li dibikin resah oleh ulah warga kampung, saya bisa pastikan kamu akan ikut malu! Semua karena Bapakmu!”

Saya sedikit terkejut.

“Marbot Li dipermalukan di depan orang banyak oleh anak-anak kecil atas suruhan para orang tua. Sekali saya melihat, Marbot Li sedang meminta sumbangan beras dari rumah ke rumah untuk keperluan kas masjid dengan ember ukuran sedang diletakkan di atas pundaknya. Datanglah anak kecil dari belakang menarik sarung Marbot Li. Dan itu, kalau kamu lihat kamu akan malu!! Mana Marbot Li tak pakai celana dalam pula.”

“Orang yang melihat saja sudah malu, apalagi orang yang mengalami. Spontan ia melepaskan tangannya yang menopang ember di atas pundaknya itu untuk menaikkan sarungnya yang ditarik tadi. Dan itu, ember di atas pundaknya tadi, jatuh dan beras tumpah-ruah ke tanah!! Serentak orang-orang yang melihat menyoraki dengan tawaan sinis. Saya tak bisa membantunya, bisa-bisa saya dianggap cem-ceman Marbot Li.”

“Marbot Li dibully habis-habisan oleh warga kampung. Ia dikatai sebagai orang gila. Orang gila tak pantas menjadi marbot. Karena tugas marbot tak hanya membersihkan masjid dan meminta sumbangan untuk kas masjid, juga bertugas mengumandangkan adzan. Adzan adalah seruan Tuhan. Seruan Yang Maha Mulia. Dan seruan Tuhan tak boleh diwakilkan oleh bekas orang gila. Tidak sah!!, kata mereka.”

Saya asyik menyimak.

“Semua karena Bapakmu.”

Sebentar lagi masuk waktu Sholat Maghrib, Bapak tak kunjung mau dibujuk untuk sholat ke masjid lagi. Dan yang lebih menyayat hati, Bapak disoraki sebagai orang gila oleh anak-anak nakal yang berjalan di depan rumah kami setiap sore hari.

Tahu-tahu terdengar suara adzan di masjid. Sebelumnya suara adzan terdengar lantang di balai desa. Tapi kali ini suara adzan di balai desa tak terdengar. Suara itu nampaknya berpindah ke masjid. Suara adzan yang mengesankan kemenangan baru saja diraih. Tinggi melengking dengan nada yang elok didengar. Nada yang tak pernah dipakai oleh siapapun sebelumnya. Tentu Bapak kaget mendengar adzan itu.

“Marbot Li! Itukah Marbot Li?” katanya takjub. “Indah betul adzannya kini!”

Bapak bergegas memakai sarung dan mengambil peci hitam yang biasa digantung di tiang rumah. Ia segera menuju masjid, memenuhi panggilaan sholat dari Tuhan semesta alam yang diperantarai oleh marbot pilihannya, marbot kesayangannya, yang beberapa hari lalu pergi menghilang entah ke mana. Dengan sigap ia turun dari tangga rumah, posisi pecinya tampak belum terlalu bagus, miring. Mamak terharu melihat Bapak segirang itu. Dan saya juga ikut terharu melihat Mamak.

“Pak! Makan dulu!” teriak Mama

Tapi Bapak sudah hilang dari pemandangan.

Tak lama waktu berselang, Bapak kembali dengan wajah kuyu dan badan lunglai. Ia berjalan dengan pandangan mata yang tak lepas dari kedua kakinya. Mamak bertanya ada apa gerangan, namun sama sekali tak disahut oleh Bapak. Kini Bapak berbalik badan, berjalan mundur menaiki tangga rumah dan duduk pada anak tangga yang paling atas dengan padangan mata yang jauh dan kosong.

Bapak tak habis pikir, kenapa Ba Sedo, anak buah Kepala Desa yang dulu jadi tim sukses di Pilkades itu, bisa menirukan lengkingan adzan Marbot Li dengan begitu mirip.    [T]

*Cerpen ini hasil workshop penulisan cerpen sehari dalam acara Mahima March March March, 14 Maret 2020 di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Balas Dendam

Next Post

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Pandu Kalam

Pandu Kalam

Lahir di Kalampa, Woha, Bima-NTB pada tanggal 04 Juli 1999. Kini merantau ke Singaraja-Bali dan aktif di organisasi dalam maupun luar kampus.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Covid-19 dan Pesan Jitu Presiden Jokowi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co