13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simpang Siur Nama Nusa Penida: Dari Batu Kapur, Pandita Hingga Memati-mati

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
February 15, 2020
in Opini
Simpang Siur Nama Nusa Penida: Dari Batu Kapur, Pandita Hingga Memati-mati

Pulau Nusa Penida di Penida (Desa Sakti). Sumber foto: travelingyuk.com

Anda mungkin salah satu orang yang sering bolak-balik ke Pulau Nusa Penida? Entah untuk urusan berwisata, bisnis, pulang kampung dan atau urusan lainnya. Akan tetapi, pernahkan terlintas di pikiran Anda, dari mana sesungguhnya asal muasal penamaan “Nusa Penida” itu?

Mungkin beberapa ada yang sudah tahu. Sebagian pura-pura tahu. Sebagian yang lainnya memilih cuek, alias masa bodoh. Sisanya, memilih tersinggung, karena dianggap tidak punya kerjaan mengungkit-ngungkit nama yang sudah ada. Kok, kayak hasil kuesioner aja!

Mirip dengan seorang artis yang sedang naik daun, nama Nusa Penida (sekarang) memiliki nilai yang layak untuk dipergunjingkan. Hah, kayak gosip selebriti aja! Bukan hanya karena pulau ini melejit sektor pariwisatanya, melainkan beberapa objek wisatanya masuk top ranking dunia. Misalnya, Kelingking Beach masuk sebagai pantai peringkat 2 terbaik se-Asia dan 19 besar di dunia (versi TripAdvisor 2019). Bahkan, yang cukup menghebohkan Pulau NP menduduki peringkat 1 dunia sebagai destinasi backpacker 2020 versi Hostelworld.

Wow, amazing! Beberapa gelar tersebut menyebabkan Pulau NP mendapat perhatian dan sorotan dari masyarakat internasional. Ratusan ribu wisatawan (per hari), secara bergantian mengunjungi pulau ini untuk menikmati keindahan fisik alamnya. Kondisi alam yang unik (tebing, pantai, dasar laut, dsb.) membuat NP tersohor dan mempesona para pelancong baik domestik maupun mancanegara.      

Modal kecantikan alam dan massa (pengunjung) yang begitu besar, menciptakan daya tarik tersendiri bagi NP. Ia tidak hanya menarik dieksplorasi dari aspek fisik alamnya saja, tetapi juga menarik ditelisik dari sisi literasinya (asal-usul nama NP). Karena itulah, silsilah identitas (nama) NP sangat menarik untuk diketahui oleh para wisatawan, masyarakat umum, dan termasuk juga masyarakat setempat.

Versi Nama Nusa Penida

Hingga sekarang nama NP masih mengalami simpang siur. Simpang siur inilah yang menyebabkan saya bingung berkepanjangan. Daripada bingung tidak ketulungan, saya datangi Mbah Google, balian internasional yang terkenal sakti itu. Saya bermaksud “nunas baos (minta petunjuk)” untuk meredakan kebingungan saya.

Dari pawisiknya, saya mendapatkan dua petunjuk yang mencerahkan. Pertama, versi kekuasaan (power). Konon “Penida” berasal dari kata “ped” dan “Ida”. Ped artinya kematian, sedangkan Ida berarti kekuasaan. Jadi, “penida” diartikan sebagai kekuasaan yang “memati-mati” atau kekuasaan yang sangat hebat (wisata.beritabali.com). 

Menurut sumber tersebut, dulu NP dikatakan memiliki wilayah kekuasaan sendiri yang terpisah dengan Bali.NP memiliki empat wilayah yang dijadikan kekuatan utama, yaitu Ped, Penida, Tunjuk Pusuh, dan Puncak Mundi. Wilayah-wilayah ini berdiri kokoh dan dikuasai oleh seorang raja yang hebat. Saking hebatnya, NP merasa mampu menguasai seluruh wilayah, termasuk menguasai Bali.  

Maka pergilah, Kerajaan Penida ke daratan (Bali). Keinginan ini tentu disambut murka kerajaan Bali. Selanjutnya, pecahlah perang antara Penida dengan Bali. Penida yang dipimpin oleh Dalem Dukut harus berperang melawan Toh Langkir dari Karangasem. Toh Langkir sendiri merupakan utusan Kerajaan Gel-Gel yang kala itu menguasai Bali.

Untuk mengalahkan kekuatan Penida, pihak Toh Langkir memakai kekuatan (taring) Besakih. Dalem Dukut kalah. Namun, sebelum Dalem Dukut meninggal, ada sebuah pesan yang ditingggalkan, “Saya terima kekalahan saya dengan syarat di kemudian hari setelah saya tidak ada, darat harus ingat dengan NP. Kapan darat tidak ingat dengan NP,  maka saat itu akan terjadi bencana besar-besaran”.

Kedua, dari versi penguasa (penjajah Belanda). Menurut kacamata barat (Belanda), nama Nusa Penida sesuai dengan keadaan tanah seluruh kepulauan ini. Dalam bahasa Bali ‘penida’ artinya kapur tohor (Bal. ‘pamor bubuk’). Referensi ini merujuk pada H.N. van der Tuuk, Kawi Balineesch Nederlandsch Woordenboek, vol.IV., dan Batavia: Landsdrukkerij, 1912; p.19 (www.nusapenida).

Orang Belanda mengaitkan nama “penida” dengan kondisi geografi (real) Pulau NP yang dominan tanah batu kapur. Kondisi geografi ini dianggap sangat representatif untuk pulau ini. Karena hampir seluruh wilayah NP basisnya tanah batu kapur. Dominasi inilah yang (mungkin) menguatkan orang barat menyebutkan bahwa nama “penida” cocok disematkan kepada Pulau NP.

Ketiga, versi babad. Versi ini saya baca dalam buku yang berjudul Babad Nusa Penida yang ditulis oleh Jero Mangku Made Buda. Dalam buku tipis ini ditulis bahwa nama Nusa Penida berasal dari frase “manusia pandita” (Buda, 2007:1-2).  

Menurut Buda, konon pada tahun Saka 50 Ida Bhatara Siwa dan saktinya (istri) Dewi Uma turun ke bumi bersama pengikutnya seperti Tri Purusa, Catur Lokha Pala, dan Asta Gangga. Beliau tedun (berkumpul) di Bukit Mundhi. Di tempat inilah keduanya merubah raga (status), dari meraga Dewa menjadi manusia. Ida Bhatara Siwa menjelma menjadi seorang laki-laki, meraga seorang pandita yang bergelar Dukuh Jumpungan. Konon, dari penjelmaan inilah asal muasal nama Nusa Penida. Nama sebenarnya ialah Manusia Pandita. Manusia itu mengacu kepada seseorang yang bernama Dukuh Jumpungan, seorang pandita. Dari frase “manusia pandita”, lama kelamaan berubah menjadi Nusa Penida.

Lalu, Anda mungkin bertanya, versi manakah yang mendekati kebenaran? Wah, pertanyaan ini tentu tidak mudah untuk dijawab! Karena masing-masing versi mempunyai dasar pembenaran tersendiri.

Kalau kita merujuk pada kronologi waktu, maka versi ketiga usianya paling tua. Karena dalam catatan babad (silsilah) NP, Dukuh Jumpungan merupakan generasi paling tua (pertama) sebelum era Dalem Dukut. Tokoh Dalem Dukut muncul ketika zamannya Dalem Sawang (generasi keempat) dalam silsilah (babad) NP (Buda, 2007:13 dan hal 51). Malah, dalam buku Babad Nusa Penida, Dalem Dukut disebutkan sebagai utusan Ida Hyang Toh Langkir untuk meredam kekuasaan Dalem Sawang yang sewenang-wenang di NP.

Sedangkan, era Belanda mungkin paling muda. Era Belanda hanya menjadi penegasan atas nama “penida” dengan mengaitkan makna kata tersebut dengan kondisi khas geografi NP, yaitu kapur tohor (pamor bubuk). Untuk memastikan makna itu, saya mencoba mencari kata “penida” di kamus bahasa Bali, menanyakan langsung kepada guru bahasa Bali dan internet, tetapi tidak menemukan makna yang dimaksud. Namun, saya yakin referensi Belanda tersebut memiliki dasar untuk menjelaskan “penida” dengan kapur tohor.

Saya tidak berani berspekulasi untuk membenarkan versi yang satu dan mengeliminasi versi yang lainnya. Ada baiknya kita mencari bukti-bukti otentik yang lebih kompleks sebelum gegabah memberikan kesimpulan. Anda mungkin memiliki bukti-bukti itu?

Nusa Penida: Simbol Power, Kehebatan, dan Kesucian

Kompleksitas bukti mungkin penting sebagai petunjuk untuk menguatkan salah satu versi yang ada. Perihal ini menjadi tantangan bagipeneliti agar mendapatkan kajian asal-asul nama NP yang lebih intens dan rasional.  

Bagi saya, tiga versi tersebut cukup meredam kebingungan saya selama ini. Saya tidak ingin mengukuhkan satu versi, lalu melemahkan versi lain. Saya lebih senang melihat dasar pembenaran versi dan makna yang melekat pada kata “penida”. Sekali lagi, menurut saya. Anda boleh berbeda pandangan!

Dari tiga versi di atas, ketiganya menguatkan bahwa diksi (nama) “penida” sangat tepat. Karena ketiganya memberikan makna positif yakni simbol power, kehebatan, dan kesucian. Versi pertama (Ped dan Ida) menandakan bahwa nama “penida” bukan nama sembarangan. “Penida” mengandung ikon kekuasaan yang hebat. Dari versi ini, kita mendapat gambaran bahwa leluhur orang NP bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang hebat. Dengan kata lain, sejak dulu, leluhur kita (NP) sangat diperhitungkan dalam dunia kerajaan di Bali (meskipun sejarah Bali, rasanya kurang peka dalam pencatatan histori NP)..           

Berikutnya (versi kedua), “penida” dihubungkan dengan kapur tohor atau pamor bubuk. Makna ini mengandung kesucian. Bukankah pamor bubuk dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan perlengkapan (eteh-eteh) upakara. Entah kebetulan atau disengaja, pamor bubuk merupakan perlengkapan porosan (daun sirih-Wisnu, buah pinang-Brahma, dan pamor-Siwa) yang konon melambangkan simbol tri murti. Tanpa porosan, canang konon belum bisa disebut sebagai canang.

Menurut Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, porosan juga melambangkan Tri Premana, yaitu Bayu (pikiran), Sabda (perkataan), dan Idep (perbuatan), yang membuat tubuh bernyawa dan dapat melakukan aktivitas. Begitu juga porosan menjadi nyawa atau jiwa bagi setiap persembahan (baliexpress.jawapos.com/). Pamor bubuk juga merupakan sarana mistis bagi sang balian (tapak dara) sebagai bagian dari ritual penyembuhan (sejarahharirayahindu.blogspot.com).

Tidak hanya itu, pamor bubuk juga dihubungkan sebagai alat (baca: senjata), yang berkaitan dengan cerita meninggalnya tokoh panglima perang Kebo Iwa, yang sakti mandraguna. Ketika Kebo Iwa masuk dalam perangkap taktik Gajah Mada, ia sangat sulit untuk dibunuh. Satu-satunya senjata yang dapat membunuh Kebo Iwa adalah siraman pamor bubuk. Taburan pamor bubuk, konon membuat Kebo Iwa meninggal tanpa bekas (alias moksa).

Saya tidak persis tahu, apakah kedahsyatan pamor bubuk itu ada korelasinya dengan makna kata “penida”? Untuk menjawab persoalan ini, diperlukan penelitian-penelitian lebih lanjut.

Versi ketiga, “penida” dikaitkan dengan manusa pandita (Dukuh Jumpungan). Pandita artinya pendeta atau orang suci. Kemungkinan besar orang NP leluhurnya berasal dari manusia pandita (orang suci). Entah benar atau tidak, itu pekerjaan para peneliti. Dalam konteks penamaan, versi ini memandang bahwa diksi “penida” memiliki makna yang suci (positif). Artinya, layak disematkan pada kata “penida”.

Begitulah analisa saya. Atau jangan-jangan Anda memiliki interpretasi yang lebih mapan (kuat) untuk memperkaya referensi tentang asal-usul nama (Nusa) Penida.[T]

Tags: baliNusa Penidasejarah
Share553TweetSendShareSend
Previous Post

Berbahagia di Hari Kasih Sayang Padahal Tak Punya Pacar? Gampang!

Next Post

Profesi Jurnalis, Sebuah Jalan Penyadar Hidup

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Profesi Jurnalis, Sebuah Jalan Penyadar Hidup

Profesi Jurnalis, Sebuah Jalan Penyadar Hidup

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co