3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 12, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

-Mengarungi Perairan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
  • Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo

Saya masih terlelap waktu itu. Di pojokan tempat tidur, di kamar yang sempit. Masih jam empat pagi. Mesin kapal yang menyala membangunkan saya. Perlahan-lahan kapal bergerak. Dan bergoyang mengikuti gelombang.

Makin lama, goyangan kapal makin kuat. Saya memejamkan mata. Mencoba mengikuti iramanya. Di luar masih gelap. Gelombang cukup besar. Angin juga berhembus kencang.

Saya lebih baik bangun saja. Mendingan pergi ke kamar kecil. Tapi saat di dalam, saya mulai mual. Pusing. Tak tahan berlama-lama dalam ruang tertutup di atas kapal yang oleng. Beruntung tak sampai muntah.

Menuju Pulau Padar

Setelah sekitar satu jam terombang-ambing gelombang, akhirnya kapal kami merapat di teluk Pulau Padar. Di sisi bagian timur. Begitu juga kapal-kapal lain.

Langit remang-remang. Kami akan mendaki bukit di pulau ini. Melihat matahari terbit. Dan tentu saja foto-foto. Karena itulah tujuan utama orang-orang ke Pulau Padar.

Pulau Padar adalah tempat foto paling favorit. Hampir semua yang ke Komodo pasti berfoto di tempat ini. Jalannya yang mendaki sudah tertata apik. Tangga kayu dan batu terpasang rapi. Tetap terlihat alami.


Pulau Padar yang ramai [Foto: IK Gde Subagia}

Karena menjadi spot foto terfavorit, wisatawan ramai. Mendaki bersama. Berfoto di beberapa titik dengan latar pemandangan cekungan pulau. Bebatuan dan bukit dengan padang ilalang. Laut biru bersih dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Serta langit memerah menyembulkan matahari di ufuk timur.

Saya takjub dengan pemandangan ini. Apa yang saya lihat benar-benar indah. Tak kalah dengan New Zealand. Yang saya kepincut ingin ke sana. Dan ini adalah Indonesia. Rasanya, Indonesia jauh lebih indah dari negeri mana pun.

Gelombang Laut Sawu

Gelombang laut di sekitar Pulau Padar masih tinggi. Arah perjalanan kami berikutnya ke selatan. Menuju perairan terbuka. Laut di utara Pulau Sumba. Yang tersambung dengan Samudera Hindia.

Kami akan memutari Pulau Padar. Menuju sisi baratnya. Perahu menerjang gelombang. Saya duduk di bagian depan. Melihat langsung ujung kapal memecah air. Cipratannya ke mana-mana. Membuat pakaian saya basah.


Ketika Kapal Menuju ke Selatan, Gelombang Makin Besar [Foto: IK Gde Subagia]

Nyali saya ciut juga melihat gelombang-gelombang yang tinggi. Sekitar satu meteran. Yang mebuat kapal terombang-ambing. Tapi saya tak panik. Berusaha tetap tenang. Saya percaya pada Opa Abi, sang nahkoda.

Beginilah lautan. Kadang ia tenang. Kadang ia mengamuk. Kita warga nusantara hidup di negeri kepulauan. Laut adalah halaman rumah. Mau tidak mau kita harus membiasakan diri dengan keadaannya.

Merapat ke Pantai

Kapal merapat lagi ke sisi barat Pulau Padar. Perairan mulai bertambah tenang. Sekoci mengantarkan kami mendarat di pantai.

Pasir pantai kemerahan. Karena berasal dari terumbu karang berwarna merah yang terkikis air laut. Ketika bercampur dengan pasir putih, warnanya menjadi merah muda. Makanya lebih sering disebut dengan pantai pink. Ada banyak pantai seperti ini di Kepulauan Komodo.


Pantai Pink karena Bebatuan di Kepulauan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Menunggu Angin

Kami rencananya akan ke Taka Makassar dan Manta Point. Titik perairan yang dipenuhi terumbu karang yang indah. Tempat diving maupun snorkling.

Gelombang laut sudah mulai tenang. Tapi angin muson tenggara bertiup sangat kencang. Ini adalah musim angin yang bertiup dari Australia. Beberapa hari terakhir kecepatannya menjadi-jadi. Nahkoda memutuskan untuk menunggu angin membaik.

Kapal kami bukan phinisi. Tak memakai layar. Angin kencang biasanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong layar.  Tapi tidak untuk kapal kami. Tanpa layar, angin kencang bisa membahayakan. Bisa membuat terbalik dan tenggelam.

Sampai menjelang sore, angin tak kunjung berubah. Kami akhirnya membatalkan niat ke Taka Makassar dan Manta Point. Lalu memutuskan kembali ke Teluk Pulau Rinca yang tenang. Untuk bermalam.

Melaut di Hari Ketiga

Ini hari ketiga. Dari Teluk Pulau Rinca, kami akan kembali menuju Labuan Bajo. Ada beberapa pulau yang akan kami singgahi. Yaitu Siaba, Sebayur, dan Kanawa.

Di Siaba dan Sebayur, kami berhenti cukup lama di perairannya. Melakukan aktivitas renang permukaan alias snorkling. Salah satu selatnya yang kecil berarus cukup kencang. Membuat saya harus berenang mengikuti arus.


Laut di Sekitar Pulau Siaba dan Sebayur [IK Gde Subagia]

Pulau-pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni. Ada banyak elang laut bersarang di tebing-tebing pantai. Terbang ke sana kemari. Berputar dan menghujam ke dalam laut memburu ikan.

Menjelang tengah hari, kapal bergerak lagi. Makin mengarah ke timur. Mendekati pulau utama, Flores.

Pulau Kanawa adalah pulau berikutnya yang disinggahi. Pulau ini adalah pulau pribadi. Terdapat resort yang tak berfungsi lagi. Pantainya tenang. Bersih dan jernih. Ikannya banyak. Menyebabkan banyak pula wisatawan yang datang berkunjung.

Berpisah

Kami mulai meninggalkan Kanawa. Selepas makan siang, kapal mulai bergerak lagi. Kali ini tak ada lagi yang disinggahi. Tujuannya langsung merapat ke Pelabuhan Labuan Bajo.

Perpisahan harus terjadi. Terharu rasanya tiga hari melaut dengan teman-teman baru. Dari tak kenal, menjadi akrab. Seperti kata Ricardus, kami berangkat sebagai teman, pulang sebagai keluarga.


Burung Elang di Tebing-tebing Pulau [IK Gde Subagia]

Sampai di pelabuhan, kami pun berpisah. Pergi satu demi satu. Ke tempat tujuan lain masing-masing. Tak tahu, entah kapan waktu akan mempertemukan kami lagi.

Dan saya, akan melanjutkan perjalanan. Sendiri. Tapi rasanya tak sepenuhnya akan sendiri. Karena saya percaya, perjalanan akan selalu mempertemukan kita dengan hal-hal baru. Kejadian baru maupun teman-teman baru. [T]

Labuan Bajo, Juni 2019



Baca Selanjutnya:

  • Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

Tags: FloresLabuan BajoPariwisataperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kejiwaan, Energi dan Vibrasi

Next Post

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co