2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 12, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

-Mengarungi Perairan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
  • Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo

Saya masih terlelap waktu itu. Di pojokan tempat tidur, di kamar yang sempit. Masih jam empat pagi. Mesin kapal yang menyala membangunkan saya. Perlahan-lahan kapal bergerak. Dan bergoyang mengikuti gelombang.

Makin lama, goyangan kapal makin kuat. Saya memejamkan mata. Mencoba mengikuti iramanya. Di luar masih gelap. Gelombang cukup besar. Angin juga berhembus kencang.

Saya lebih baik bangun saja. Mendingan pergi ke kamar kecil. Tapi saat di dalam, saya mulai mual. Pusing. Tak tahan berlama-lama dalam ruang tertutup di atas kapal yang oleng. Beruntung tak sampai muntah.

Menuju Pulau Padar

Setelah sekitar satu jam terombang-ambing gelombang, akhirnya kapal kami merapat di teluk Pulau Padar. Di sisi bagian timur. Begitu juga kapal-kapal lain.

Langit remang-remang. Kami akan mendaki bukit di pulau ini. Melihat matahari terbit. Dan tentu saja foto-foto. Karena itulah tujuan utama orang-orang ke Pulau Padar.

Pulau Padar adalah tempat foto paling favorit. Hampir semua yang ke Komodo pasti berfoto di tempat ini. Jalannya yang mendaki sudah tertata apik. Tangga kayu dan batu terpasang rapi. Tetap terlihat alami.


Pulau Padar yang ramai [Foto: IK Gde Subagia}

Karena menjadi spot foto terfavorit, wisatawan ramai. Mendaki bersama. Berfoto di beberapa titik dengan latar pemandangan cekungan pulau. Bebatuan dan bukit dengan padang ilalang. Laut biru bersih dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Serta langit memerah menyembulkan matahari di ufuk timur.

Saya takjub dengan pemandangan ini. Apa yang saya lihat benar-benar indah. Tak kalah dengan New Zealand. Yang saya kepincut ingin ke sana. Dan ini adalah Indonesia. Rasanya, Indonesia jauh lebih indah dari negeri mana pun.

Gelombang Laut Sawu

Gelombang laut di sekitar Pulau Padar masih tinggi. Arah perjalanan kami berikutnya ke selatan. Menuju perairan terbuka. Laut di utara Pulau Sumba. Yang tersambung dengan Samudera Hindia.

Kami akan memutari Pulau Padar. Menuju sisi baratnya. Perahu menerjang gelombang. Saya duduk di bagian depan. Melihat langsung ujung kapal memecah air. Cipratannya ke mana-mana. Membuat pakaian saya basah.


Ketika Kapal Menuju ke Selatan, Gelombang Makin Besar [Foto: IK Gde Subagia]

Nyali saya ciut juga melihat gelombang-gelombang yang tinggi. Sekitar satu meteran. Yang mebuat kapal terombang-ambing. Tapi saya tak panik. Berusaha tetap tenang. Saya percaya pada Opa Abi, sang nahkoda.

Beginilah lautan. Kadang ia tenang. Kadang ia mengamuk. Kita warga nusantara hidup di negeri kepulauan. Laut adalah halaman rumah. Mau tidak mau kita harus membiasakan diri dengan keadaannya.

Merapat ke Pantai

Kapal merapat lagi ke sisi barat Pulau Padar. Perairan mulai bertambah tenang. Sekoci mengantarkan kami mendarat di pantai.

Pasir pantai kemerahan. Karena berasal dari terumbu karang berwarna merah yang terkikis air laut. Ketika bercampur dengan pasir putih, warnanya menjadi merah muda. Makanya lebih sering disebut dengan pantai pink. Ada banyak pantai seperti ini di Kepulauan Komodo.


Pantai Pink karena Bebatuan di Kepulauan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Menunggu Angin

Kami rencananya akan ke Taka Makassar dan Manta Point. Titik perairan yang dipenuhi terumbu karang yang indah. Tempat diving maupun snorkling.

Gelombang laut sudah mulai tenang. Tapi angin muson tenggara bertiup sangat kencang. Ini adalah musim angin yang bertiup dari Australia. Beberapa hari terakhir kecepatannya menjadi-jadi. Nahkoda memutuskan untuk menunggu angin membaik.

Kapal kami bukan phinisi. Tak memakai layar. Angin kencang biasanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong layar.  Tapi tidak untuk kapal kami. Tanpa layar, angin kencang bisa membahayakan. Bisa membuat terbalik dan tenggelam.

Sampai menjelang sore, angin tak kunjung berubah. Kami akhirnya membatalkan niat ke Taka Makassar dan Manta Point. Lalu memutuskan kembali ke Teluk Pulau Rinca yang tenang. Untuk bermalam.

Melaut di Hari Ketiga

Ini hari ketiga. Dari Teluk Pulau Rinca, kami akan kembali menuju Labuan Bajo. Ada beberapa pulau yang akan kami singgahi. Yaitu Siaba, Sebayur, dan Kanawa.

Di Siaba dan Sebayur, kami berhenti cukup lama di perairannya. Melakukan aktivitas renang permukaan alias snorkling. Salah satu selatnya yang kecil berarus cukup kencang. Membuat saya harus berenang mengikuti arus.


Laut di Sekitar Pulau Siaba dan Sebayur [IK Gde Subagia]

Pulau-pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni. Ada banyak elang laut bersarang di tebing-tebing pantai. Terbang ke sana kemari. Berputar dan menghujam ke dalam laut memburu ikan.

Menjelang tengah hari, kapal bergerak lagi. Makin mengarah ke timur. Mendekati pulau utama, Flores.

Pulau Kanawa adalah pulau berikutnya yang disinggahi. Pulau ini adalah pulau pribadi. Terdapat resort yang tak berfungsi lagi. Pantainya tenang. Bersih dan jernih. Ikannya banyak. Menyebabkan banyak pula wisatawan yang datang berkunjung.

Berpisah

Kami mulai meninggalkan Kanawa. Selepas makan siang, kapal mulai bergerak lagi. Kali ini tak ada lagi yang disinggahi. Tujuannya langsung merapat ke Pelabuhan Labuan Bajo.

Perpisahan harus terjadi. Terharu rasanya tiga hari melaut dengan teman-teman baru. Dari tak kenal, menjadi akrab. Seperti kata Ricardus, kami berangkat sebagai teman, pulang sebagai keluarga.


Burung Elang di Tebing-tebing Pulau [IK Gde Subagia]

Sampai di pelabuhan, kami pun berpisah. Pergi satu demi satu. Ke tempat tujuan lain masing-masing. Tak tahu, entah kapan waktu akan mempertemukan kami lagi.

Dan saya, akan melanjutkan perjalanan. Sendiri. Tapi rasanya tak sepenuhnya akan sendiri. Karena saya percaya, perjalanan akan selalu mempertemukan kita dengan hal-hal baru. Kejadian baru maupun teman-teman baru. [T]

Labuan Bajo, Juni 2019



Baca Selanjutnya:

  • Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

Tags: FloresLabuan BajoPariwisataperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kejiwaan, Energi dan Vibrasi

Next Post

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co