12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

I Komang Gde Subagia by I Komang Gde Subagia
February 12, 2020
in Tualang
Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

-Mengarungi Perairan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Baca juga:

  • Melawat ke Flores [1] : Perjalanan Dimulai Dari Labuan Bajo
  • Melawat ke Flores [2]: Mengarungi Perairan Komodo

Saya masih terlelap waktu itu. Di pojokan tempat tidur, di kamar yang sempit. Masih jam empat pagi. Mesin kapal yang menyala membangunkan saya. Perlahan-lahan kapal bergerak. Dan bergoyang mengikuti gelombang.

Makin lama, goyangan kapal makin kuat. Saya memejamkan mata. Mencoba mengikuti iramanya. Di luar masih gelap. Gelombang cukup besar. Angin juga berhembus kencang.

Saya lebih baik bangun saja. Mendingan pergi ke kamar kecil. Tapi saat di dalam, saya mulai mual. Pusing. Tak tahan berlama-lama dalam ruang tertutup di atas kapal yang oleng. Beruntung tak sampai muntah.

Menuju Pulau Padar

Setelah sekitar satu jam terombang-ambing gelombang, akhirnya kapal kami merapat di teluk Pulau Padar. Di sisi bagian timur. Begitu juga kapal-kapal lain.

Langit remang-remang. Kami akan mendaki bukit di pulau ini. Melihat matahari terbit. Dan tentu saja foto-foto. Karena itulah tujuan utama orang-orang ke Pulau Padar.

Pulau Padar adalah tempat foto paling favorit. Hampir semua yang ke Komodo pasti berfoto di tempat ini. Jalannya yang mendaki sudah tertata apik. Tangga kayu dan batu terpasang rapi. Tetap terlihat alami.


Pulau Padar yang ramai [Foto: IK Gde Subagia}

Karena menjadi spot foto terfavorit, wisatawan ramai. Mendaki bersama. Berfoto di beberapa titik dengan latar pemandangan cekungan pulau. Bebatuan dan bukit dengan padang ilalang. Laut biru bersih dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Serta langit memerah menyembulkan matahari di ufuk timur.

Saya takjub dengan pemandangan ini. Apa yang saya lihat benar-benar indah. Tak kalah dengan New Zealand. Yang saya kepincut ingin ke sana. Dan ini adalah Indonesia. Rasanya, Indonesia jauh lebih indah dari negeri mana pun.

Gelombang Laut Sawu

Gelombang laut di sekitar Pulau Padar masih tinggi. Arah perjalanan kami berikutnya ke selatan. Menuju perairan terbuka. Laut di utara Pulau Sumba. Yang tersambung dengan Samudera Hindia.

Kami akan memutari Pulau Padar. Menuju sisi baratnya. Perahu menerjang gelombang. Saya duduk di bagian depan. Melihat langsung ujung kapal memecah air. Cipratannya ke mana-mana. Membuat pakaian saya basah.


Ketika Kapal Menuju ke Selatan, Gelombang Makin Besar [Foto: IK Gde Subagia]

Nyali saya ciut juga melihat gelombang-gelombang yang tinggi. Sekitar satu meteran. Yang mebuat kapal terombang-ambing. Tapi saya tak panik. Berusaha tetap tenang. Saya percaya pada Opa Abi, sang nahkoda.

Beginilah lautan. Kadang ia tenang. Kadang ia mengamuk. Kita warga nusantara hidup di negeri kepulauan. Laut adalah halaman rumah. Mau tidak mau kita harus membiasakan diri dengan keadaannya.

Merapat ke Pantai

Kapal merapat lagi ke sisi barat Pulau Padar. Perairan mulai bertambah tenang. Sekoci mengantarkan kami mendarat di pantai.

Pasir pantai kemerahan. Karena berasal dari terumbu karang berwarna merah yang terkikis air laut. Ketika bercampur dengan pasir putih, warnanya menjadi merah muda. Makanya lebih sering disebut dengan pantai pink. Ada banyak pantai seperti ini di Kepulauan Komodo.


Pantai Pink karena Bebatuan di Kepulauan Komodo [Foto: IK Gde Subagia]

Menunggu Angin

Kami rencananya akan ke Taka Makassar dan Manta Point. Titik perairan yang dipenuhi terumbu karang yang indah. Tempat diving maupun snorkling.

Gelombang laut sudah mulai tenang. Tapi angin muson tenggara bertiup sangat kencang. Ini adalah musim angin yang bertiup dari Australia. Beberapa hari terakhir kecepatannya menjadi-jadi. Nahkoda memutuskan untuk menunggu angin membaik.

Kapal kami bukan phinisi. Tak memakai layar. Angin kencang biasanya bisa dimanfaatkan untuk mendorong layar.  Tapi tidak untuk kapal kami. Tanpa layar, angin kencang bisa membahayakan. Bisa membuat terbalik dan tenggelam.

Sampai menjelang sore, angin tak kunjung berubah. Kami akhirnya membatalkan niat ke Taka Makassar dan Manta Point. Lalu memutuskan kembali ke Teluk Pulau Rinca yang tenang. Untuk bermalam.

Melaut di Hari Ketiga

Ini hari ketiga. Dari Teluk Pulau Rinca, kami akan kembali menuju Labuan Bajo. Ada beberapa pulau yang akan kami singgahi. Yaitu Siaba, Sebayur, dan Kanawa.

Di Siaba dan Sebayur, kami berhenti cukup lama di perairannya. Melakukan aktivitas renang permukaan alias snorkling. Salah satu selatnya yang kecil berarus cukup kencang. Membuat saya harus berenang mengikuti arus.


Laut di Sekitar Pulau Siaba dan Sebayur [IK Gde Subagia]

Pulau-pulau ini adalah pulau kecil tak berpenghuni. Ada banyak elang laut bersarang di tebing-tebing pantai. Terbang ke sana kemari. Berputar dan menghujam ke dalam laut memburu ikan.

Menjelang tengah hari, kapal bergerak lagi. Makin mengarah ke timur. Mendekati pulau utama, Flores.

Pulau Kanawa adalah pulau berikutnya yang disinggahi. Pulau ini adalah pulau pribadi. Terdapat resort yang tak berfungsi lagi. Pantainya tenang. Bersih dan jernih. Ikannya banyak. Menyebabkan banyak pula wisatawan yang datang berkunjung.

Berpisah

Kami mulai meninggalkan Kanawa. Selepas makan siang, kapal mulai bergerak lagi. Kali ini tak ada lagi yang disinggahi. Tujuannya langsung merapat ke Pelabuhan Labuan Bajo.

Perpisahan harus terjadi. Terharu rasanya tiga hari melaut dengan teman-teman baru. Dari tak kenal, menjadi akrab. Seperti kata Ricardus, kami berangkat sebagai teman, pulang sebagai keluarga.


Burung Elang di Tebing-tebing Pulau [IK Gde Subagia]

Sampai di pelabuhan, kami pun berpisah. Pergi satu demi satu. Ke tempat tujuan lain masing-masing. Tak tahu, entah kapan waktu akan mempertemukan kami lagi.

Dan saya, akan melanjutkan perjalanan. Sendiri. Tapi rasanya tak sepenuhnya akan sendiri. Karena saya percaya, perjalanan akan selalu mempertemukan kita dengan hal-hal baru. Kejadian baru maupun teman-teman baru. [T]

Labuan Bajo, Juni 2019



Baca Selanjutnya:

  • Melawat ke Flores [4]: Enam Jam di Atas Motor

Tags: FloresLabuan BajoPariwisataperjalanan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kejiwaan, Energi dan Vibrasi

Next Post

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

I Komang Gde Subagia

I Komang Gde Subagia

Biasa dipanggil Gejor. Suka menulis. Suka memotret. Suka jalan-jalan. Suka tidur. Tinggal di Denpasar.

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Perupa Ketut Suasana Kabul Pamerkan Karya di Puri Anom Tabanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co