12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kejiwaan, Energi dan Vibrasi

Putu Sri Suciyati by Putu Sri Suciyati
February 4, 2020
in Esai
Kejiwaan, Energi dan Vibrasi

Foto ilustrasi: Putu Suciyati/Untitled design

Kejiwaan yang dimaksud disini adalah spiritualitas ( spirituality ) yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Religi atau kepercayaan tertentu.Spiritual simplenya bisa diartikan akan kesadaran seseorang yang lebih kepada keberadaan Sang Jiwa dalam setiap individu yang lepas dari nilai nilai materialisme. Kejiwaan yang mana sifat dan tekstur perasaanya lebih halus.

Oleh karenanya, pemenuhan kebutuhan spiritualitas adalah dengan cara melihat kedalam dengan memutuskan segala koneksi dengan kesenangan – kesenangan yang mengandung unsur duniawi : nafsu & keserakahan.

Kepercayaan , budaya dan tradisi kita di Bali kuat menanamkan pemahaman Tri Hita Karana yang menyebutkan koneksi dengan Tuhan, sesama manusia dan dengan alam yang mengantarkan kita pada keharmonisan. Koneksi dengan Tuhan dilaksanakan dengan cara : menghaturkan yadnya dan persembahyangan . Sedangkan dengan alam, disamping dengan yadnya juga diwujudkan dengan perilaku menjaga kelestarian dan keseimbangan alam . Tidak berburu, tidak mengotori dan “menyakiti” alam.

Harusnya, jelas terpapar adanya pemahaman akan unsur kejiwaan atau spiritualisme dalam kehidupan ini. Spiritual itu natural adanya dalam setiap individu yang ada. Di saat kita menjalani hidup dalam berbagai aspek dan tahapannya, kita mungkin saja mencapai titik di mana kita menyadari bahwa semua hal dimana kita pernah dan sedang terlibat – semua yang kita anggap penting dan berharga tidak benar-benar menuntun kita pada pemenuhan atau kepuasan batin yang menciptakan perasaan ketidak lengkapan.

Ruang lingkup spirituality atau kejiwaan jauh diluar jangkauan unsur – unsur duniawi. Berangkat dari perspektif inilah akan banyak menimbulkan pertanyaan dalam level kesadaran batin mengenai Sang Jiwa. Orang bijak sangat memahami jika, semua jawaban mengenai kehidupan dan jiwa yang selama ini kita cari diluar sana – sudah ada didalam diri kita. Hanya saja kita belum bisa mendapatkannya karena ada cara atau metode tertentu yang digunakan .

Kita terlalu  menyibukkan diri untuk memenuhi kebutuhan fisik dengan memanfaatkan panca indriya , pikiran dan perasaan kita. Namun apabila kedua mata mulai ditutup , indriya lainnya digunakan dalam keadaan siaga dan sadar , mengambil sikap badan tegak dan nyaman , pikiran fokus terkontrol – dalam keheningan perjalanan batin inilah jawaban itu nantinya akan dapat ditemukan. Katakanlah bermeditasi, merupakan cara yang tepat yang dapat dilakukan.

Meditasi – kedengarannya sangat mudah . Pemahaman awam : duduk diam merenung. Hanya sampai disana sajakah? Pasti ada banyak hal yang perlu dipahami. Dua mata kita sebagai indriya penglihatan , memiliki fungsi untuk melihat keluar – keadaan di luar yang bersifat objek duniawi dan di sekitar badan fisik ini. Ada istilah mata ketiga atau inner eye . Mata ini membawa kita kepada pemahaman mendalam karena “melihat” dengan kebijaksanaan dan intelek yang mana informasi yang ditangkap bukan lagi dalam wujud objek tertentu melainkan vibrasi energi.

Sekali lagi , meditasi adalah praktek spirituality yang telah berusia ribuan tahun dengan cara mengontrol pikiran dan indriya dalam sikap tubuh yang tegak dan siaga. Pikiran sejatinya bisa membimbing kita menuju kepada kedamaian, penyembuhan ataupun sebaliknya menjerumuskan kita kedalam penderitaaan.

Maka dari itu, sadarilah akan the power of mind. Sakit dan bahagia datangnya dari bagaimana kita mengelola pikiran. Ketika dalam posisi duduk dengan kaki bersilang , tulang punggung harus dalam posisi tegak. Semua bagian tubuh mulai dari ujung kepala hingga kaki dalam posisi siaga – aware namun relaxed.

Sikap tegap ini sangat berpengaruh pada bagaimana sirkulasi energi prana didalam tubuh mengalir tanpa adanya hambatan.Diawali dengan keteguhan yang kuat secara disiplin , lama kelamaan akan terbentuklah habit.

Dengan pola kebiasaan yang telah terarah ke hal yang lebih positif memicu perubahan terhadap kualitas energi spiritual kita: kecantikan dari dalam , intelektual dan aura otomatis akan terpancar keluar dan terlihat melalui badan fisik, tingkah laku, bagaimana kita berbicara dan bagaimana kita bereaksi atas suatu hal.

Pikiran ini tidak lagi terisi dengan segala keluh kesah, kebingungan, ketepurukan namun telah menjadi tempat lahirnya ide-ide dan berbagai inspirasi yang nantinya pasti berguna dalam perjalanan hidup kita kedepannya. Kita mungkin  perlahan-lahan akan menemukan passion – kecintaan atau sesuatu yang membuat kita selalu bergairah untuk melakukannya. Tidak peduli harus bangun lebih pagi, cuaca kurang bersahabat, atau alasan-alasan lainnya.

Ketika kita masuk lebih dalam ke dalam wilayah ini, selain disiplin yang lebih positif telah terbentuk kualitas diri kita pun menjadi lebih baik. Frekuensi energi kita setingkat lebih diatas. Layaknya sebuah radio, pada frekuensi tertentu tidak akan dapat menjangkau siaran dengan frekuensi yang berbeda.

Coba kita perhatikan mengapa untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik , harus dimulai dengan merubah frekuensi energi kita. Pada saat kita dapat mengendalikan pikiran ini , instead of  mengulang-ulang  kemalangan, kejelekkan, ketidaksempurnaan, akan jauh lebih bermanfaat apabila kita menanam bibit-bibit pikiran positif dengan berafirmasi.

Saya penuh dengan talenta. Saya penuh dengan cinta kasih . Saya sehat. Saya bahagia. Saya terberkati. Saya penuh perlindungan, dsb. Pernafasan harus lebih teratur, panjang, tenang, pada saat bermeditasi, hal ini dipercaya dapat memperkuat dan memperluas energi kehidupan (prana) pada setiap individu yang menjalaninya.

Begini, kita tahu ada aliran energi didalam tubuh kita. Untuk menciptakan keadaan sehat dan harmonis, energi harus dapat mengalir tanpa adanya hambatan. Seringkali apa yang kita pikirkan menimbulkan kegelisahan, kekhawatiran, marah, cemburu, iri hati, rakus, sedih – segala hal yang berbau negatif. Apabila tidak segera dikeluarkan atau ‘disembuhkan’ sudah pasti akan membawa segala macam kesengsaraan dan membentuk semacam block pada titik-titik tertentu.

Irama pernafasan yang tenang mempengaruhi irama pikiran kita. Semakin tenang nafas , semakin tenang pikiran. Dalam ketenangan muncul kejelasan ( clarity ). Jelas yang mana hitam dan putih tidak lagi abu-abu . Bijaksana. Pemahaman yang mendalam tentang Sang Jiwa yang murni dan bersih ,menyadarkan kita tidak perlu lagi memendam ketidaknyamanan dalam tingkat fisik, mental dan jiwa. Melepas dengan jalan afirmasi dan visualisasi – lagi lagi kekuatan pikiran – dan pernafasan merupakan kombinasi yang ampuh. 

Perubahan akibat inner work , mengubah frekuensi energi spiritual dan hampir semua pola dalam diri kita ( pikir , sikap , berbicara ) kearah yang lebih berkualitas. Inner work juga mengantarkan kita kedalam pemahaman yang luas akan siapa dan apa kita seutuhnya.

“The Secret” karya Rhonda Byrne merupakan buku best – selling pada tahun mungkin diantara 2006 – 2007 yang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa dan telah terjual puluhan juta copy di seluruh dunia. Menjabarkan bagaimana ia mengubah nasibnya melalui kekuatan pikiran. Ada hukum alam yang ia mengerti dan lakukan yaitu Hukum tarik menarik (The law of attraction).

You become what you think about! Kita menjadi apa yang kita pikirkan ! – kurang lebih itulah pesannya. Dalam hukum tarik menarik ia menyebutkan beberapa langkah kerja untuk membuat keinginannya terwujud : minta (request), percaya (believe), visualisasi (visualization) dan terima (receive).

Untuk dapat mengirimkan permintaan pada semesta , haruslah ada getaran / vibrasi yang diterima. Maka dari itu buatlah dengan detail dan sejelas – jelasnya apa yang Anda inginkan, sehingga jelas juga vibrasi yang kita kirimkan. Vibrasi yang bekualitas guna menerima hasil yang berkualitas pula pastilah bermula dari energi spiritual yang berkualitas. Kembali lagi keawal, apa yang ada didalam diri kita – terpancar keluar. Semua terlahir sukses, semua terlahir berbakat, semua terlahir cerdas, semua terlahir sempurna.

Kita percaya akan adanya hukum karma yang dapat menjelaskan kenapa kita berada dalam kondisi yang berbeda dalam kehidupan ini. Namun ini bukan seharusnya menjadi pelampiasan akan nasib kita yang begitu-begitu saja. Terlebih lagi pada era sekarang , dimana kebutuhan duniawi  menutupi kebutuhan batin menyebabkan keharmonisan dan keseimbangan tidak karuan-karuan disaat semua orang menginginkan ketentraman. Yang disangkanya membawa kepuasan, justru mengundang keserakahan.

Alam semakin menyempit dan kumuh. Kesadaran semakin rendah. Dan kita seolah-olah nyasar tak tahu arah semakin jauh dari Sang Jiwa . Prinsip-prinsip kejiwaan dalam menjalani hidup seperti : kemurnian, kepuasan batin, ketaatan spiritual, belajar, kesetiaan – semakin jarang  walaupun beberapa pasti ada. Vibrasi energi kita, dapat mengubah kondisi kita ke arah positif maupun negatif -tergantung dari apa yang kita tanam di pikiran yang berdampak pada frekuensi energi .

You Become What You Think About! Kita Menjadi Apa Yang Kita Pikirkan! [T]

Tags: energikejiwaanmeditasirenungan
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Budaya X Jegeg Bagus Tabanan 2020: Ciptakan Keindahan, Lestarikan Kebudayaan

Next Post

Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

Putu Sri Suciyati

Putu Sri Suciyati

Tinggal di Puri Tengah Siangan , Banjar Triwangsa, Siangan, Gianyar, Bali. Bisa ditemui di FB: Putu Suciyati dan IG: putu_suciyati

Related Posts

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails
Next Post
Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

Melawat ke Flores [3] : Masih di Perairan Komodo

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co