2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Permainan Lucu ala Michael Haneke

Surya Gemilang by Surya Gemilang
January 25, 2020
in Cerpen
Permainan Lucu ala Michael Haneke

Ilustrasi: Pandit Parastu

Cerpen: Surya Gemilang


Namaku Arno Frisch, sebelum dipaksa berubah menjadi Paul.

Pada awal 1997, suatu malam, ketika aku sedang tidur nyenyak, Michael Haneke—sutradara asal Austria itu—tiba-tiba membangunkanku dengan satu colekan di dahi. Jangan tanya bagaimana bisa ia masuk ke kamarku. Tanpa tedeng aling-aling, ia berkata, “Aku mau kau bermain di filmku, sebagai seorang pemuda psikopat.” Tentu aku kaget bukan main, dan kurasa wajar saja andai aku marah pada ketidaksopanannya. Namun, karena pada 1992 aku bermain di filmnya, Benny’s Video, sebagai tokoh utama—waktu itu, ia menawariku peran dengan cara “normal”—kuputuskan untuk tak memarahinya, dan bertanya soal film yang akan dibuatnya itu. Secara singkat, beginilah kira-kira penjelasannya: Film tersebut berjudul Funny Games; aku berperan sebagai Paul; bercerita tentang sebuah keluarga yang sedang berlibur di sebuah rumah di samping danau, lalu mereka kedatangan dua orang tamu psikopat yang pada akhirnya membunuh mereka semua secara perlahan-lahan dan “lucu”.

            Aku kurang ingat bagaimana Haneke mengakhiri pertemuan kami malam itu. Yang jelas, keesokan paginya, di meja makan, tahu-tahu telah tersaji secangkir teh, sepiring tafelspitz[1], skenario Funny Games, dan surat perjanjian. Sesudah menghabiskan teh dan tafelspitz, aku membaca skenario film tersebut hingga selesai, dari pagi sampai siang. Lantas, setelah berdecak kagum sambil memaki Haneke dengan suara lirih, aku menandatangani surat perjanjian itu.

            “Terima kasih banyak, Paul,” sekonyong-konyong Haneke muncul di belakangku dan menyambar surat perjanjian itu, sebelum mendadak lenyap, seakan tubuhnya menyatu dengan udara. (Belakangan, aku bertanya-tanya, kenapa Haneke yang mengambil surat perjanjian itu, alih-alih Veit Heiduschka, sang produser?)

            Karena saking sukanya dengan skenario Funny Games, tadi aku terburu-buru menandatangani surat perjanjian, sebelum membaca isi dari surat tersebut. Namun, sudah terlambat ….

***

Sekitar dua minggu kemudian, sesudah aku membaca skenario Funny Games berkali-kali, aku mendapat panggilan telepon dari Haneke, berbunyi, “Besok pagi, kita akan mengadakan rapat kecil-kecilan di sebuah studio. Di sana, kau akan kuperkenalkan dengan aktor-aktor lainnya. Oya, aku akan menjemputmu.”

Tapi nyatanya Haneke tak menjemputku; begitu terbangun, aku, dan tempat tidurku, tahu-tahu sudah berada di suatu tempat asing, yang perlahan-lahan kusadari adalah sebuah studio. Di sudut studio, terdapat sebuah televisi; kamera yang mengambil gambar di televisi itu berada di sebuah perahu kosong yang mengapung di tengah danau, dan di tepi danau tersebut terlihat sebuah rumah. Di samping televisi, duduklah Haneke seorang diri—tak ada siapa pun di studio ini kecuali kami berdua—yang segera menyambutku dengan, “Selamat pagi, Paul, ayo kita mulai sekarang.”

            “Mulai apa?” tanyaku. “Rapat kecil-kecilan itu? Di mana yang lainnya?”

            Dengan langkah-langkah tenang, Haneke mendekatiku. Kusadari ia memegang sebatang tongkat golf di belakang punggungnya. Ia pun duduk di tepi kasur, di sampingku, dan merangkulku dengan tangan yang tak memegang tongkat. “Hari ini kau akan kumasukkan ke dalam televisi itu.”

            “Hah?”

            Haneke berdiri, dan tanpa basa-basi ia menghantam kepalaku dengan tongkat golf! Aku tidak pingsan; tubuhku hanya mendadak tak berdaya, tatapanku berkunang-kunang. Aku masih dapat merasakan tubuhku yang diseret Haneke mendekati televisi, lantas ia angkat dengan bersusah payah, dan ia lempar ke dalam layar televisi tersebut!

            Aku pun secara ajaib telah berada di atas perahu di tengah danau itu. Ternyata, dari posisiku sekarang, yang kulihat bukan hanya ada sebuah rumah di tepi danau, melainkan beberapa. Dan, di perahu ini rupanya aku tak sendirian; ada seorang pria lain, yang segera memperkenalkan diri sebagai Peter.

            “Jadi,” kata Peter, “ayo kita mulai permainan ini. Aku pilih rumah yang itu sebagai target pertama, karena barusan kulihat ada sebuah keluarga yang baru sampai di sana.”

            “Mesti buru-buru seperti inikah?” Suaraku bergetar.

            “Oh ya, di film ini, bukankah kau yang seharusnya lebih dominan ketimbang aku?”

            “Ya ….”

            “Tapi kenapa kau sekarang terlihat seperti anak anjing sekarat?”

***

Kukira keluarga yang dimaksud oleh Peter adalah keluarga Anna, sang tokoh utama.

            “Bukan. Keluarga Anna belum datang,” jelas Peter, seraya menyalakan mesin perahu. “Mereka yang baru datang adalah keluarga Fred. Keluarga yang akan kita bantai terlebih dahulu sebelum keluarga Anna.”

            “Kita harus benar-benar membantai keluarga Fred?” sahutku, terbata-bata.

            “Kau belum membaca skenario, heh?”

            “Aku sudah membaca skenario, tentu saja. Maksudku, di skenario, bukankah tidak diperlihatkan adegan kita membantai keluarga Fred?”

            Peter tertawa kecil, seakan melihat seekor anak anjing terbuang yang sedang bertindak bodoh di hadapannya. “Benar. Tapi, sesuai isi surat perjanjian, kita harus benar-benar membantai keluarga Fred juga. Bahkan, sesudah membantai keluarga Anna, walaupun film telah selesai pada adegan di mana kau memasuki rumah keluarga selanjutnya, kita tetap harus benar-benar membantai keluarga itu.”

            “Kau dapat surat perjanjian, bukan?” lanjut Peter.

            Perahu mulai melaju. Rasanya aku ingin segera tenggelam saja di danau ini, persis seperti yang Anna alami pada bagian klimaks film.

***

Setelah dipaksa membunuh tiga keluarga dalam permainan lucu ala Michael Haneke dan dibebaskan dari dalam televisi, aku cepat-cepat pergi ke psikolog.

            Sepuluh tahun kemudian, ketika aku merasa kejiwaanku sudah sedikit membaik, aku melihat Michael Pitt di layar bioskop, dipaksa menjadi Paul dalam permainan lucu yang pernah kualami.[T]


[1] Masakan terkenal dari Wina, berupa daging sapi yang direbus dalam kaldu, lalu disajikan dengan saus apel dan lobak.

Tags: Cerpen
Share54TweetSendShareSend
Previous Post

Erick Est di Antida Soundgarden, Film Long Sa’an dan Kreatifitas Berdarah-nanah

Next Post

Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Surya Gemilang

Surya Gemilang

Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Antologi cerpen tunggal pertamanya berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Tulisan-tulisannya yang lain dapat dijumpai di lebih dari delapan antologi bersama dan sejumlah media massa.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Nyepi Teater Kalangan – Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Nyepi Teater Kalangan - Membaca Ulang dan Meragukan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co