2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbakarnya Pura Dalem Banjar dengan Ukiran dan Patung Langka: Direstorasi atau Dipralina?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 22, 2020
in Khas
Terbakarnya Pura Dalem Banjar dengan Ukiran dan Patung Langka: Direstorasi atau Dipralina?

Salah satu pelinggih di Pura Dalem Banjar yang terbakar [Foto-foto: Ole]

Sejumlah bangunan pelinggih di Pura Dalem Desa Adat Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, terbakar, Minggu, 24 November 2019 sekira pukul 13.30 siang. Ketika video terbakarnya pelinggih itu tersebar secara langsung di facebook, banyak orang prihatin sekaligus terkagum-kagum.

Prihatin, tentu karena bangunan suci itu dilalap api dengan ganas, dengan asap yang membubung di atas pelinggih. Terkagum-kagum, karena melihat betapa unik ukiran dan patung yang menghiasi pelinggih itu, terutama pelinggih gedong yang mengalami kerusakan paling parah; seluruh tiang dan atap bangunan lunas jadi puing. Bahkan, ada teman yang berujar, jika pelinggih itu tak terbakar, mungkin tak banyak yang tahu jika pura itu menyimpan nilai cagar budaya yang tua, unik, langka dan tentu amat mengagumkan.

Saya datang ke Pura Dalem Desa Adat Banjar, hampir dua bulan setelah terbakar, Minggu, 20 Januari 2020. Itu pun karena saya diajak oleh perupa Dewa Purwita Sukahet dan pemerhati sastra Bali, Gede Gita Purnama alias Bayu. Dewa Purwita memang memiliki perhatian besar terhadap seni ukir dan seni patung Bali Utara dan Bayu adalah dosen di Unud yang selalu giat meneliti sastra, termasuk nilai sastra yang dikandung benda-benda cagar budaya. Istri saya, Kadek Sonia Piscayanti, juga turut serta, dengan alasan ingin tahu tentang ornament unik yang kerap saya obrolkan dengan amat provokatif di waktu senggang.


Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala

Sehari-hari Pura Dalem Desa Adat Banjar itu terkunci. Namun atas lobi-lobi seorang teman wartawan, Ida Bagus Wisnaya, datanglah Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala membawakan kami kunci setelah beberapa saat menunggu di jaba pura. Saya mengenal Ida Bagus Kosala saat ia menjadi Perbekel Desa Banjar beberapa tahun lalu ketika saya menjadi wartawan aktif yang kerap meliput sejumlah acara dan kasus-kasus politik serta hukum di wilayah Desa Banjar. Ida Bagus Kosala seorang yang ramah, penuh humor, dan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami, Ida mempersilakan kami masuk.

Di areal jeroan pura, di areal pelinggih yang terbakar, kami sibuk mengambil gambar sembari geleng-geleng melihat puing bekas kebakaran dan tanpa henti berdecak-decak kagum melihat ornament berupa patung dan ukiran di hampir semua dinding pelinggih. Di sejumlah pelinggih yang terbakar, antara lain Pelinggih Gedong (Linggih Bhatara Siwa), Pelingih Pesaren, Menjangan Siliwang, Pelinggih Prajapati dan Pelinggih Argi Manik, hampir semuanya dihias ukiran yang mengundang decak.        

Restorasi atau Pralina?

Saya sendiri, meski awalnya ikut-ikutan, sesungguhnya punya misi terselubung. Saya ingin tahu apakah bangunan pura yang terbakar itu akan direstorasi atau dipralina. Restorasi artinya pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang materi bangunan, terutama materi yang berisi ukiran dan patung langka. Jika dipralina, artinya bangunan bekas terbakar itu dienyahkan dan warga adat membangun pura itu kembali dengan seluruh materi dan bahan-bahan yang baru.

Pertanyaan ini muncul sebab saya sempat mendengar sejumlah orang wikan berujar bahwa bekas-bekas bangunan pura yang sudah terbakar tak boleh digunakan lagi untuk membangun karena dianggap sudah leteh atau cemar. Bangunan bekas kebakaran itu dipralina, dan pura dibangun ulang dengan menggunakan bahan yang semuanya baru. Saya berpikir kemudian, jika bangunan di Pura Dalem Banjar itu benar-benar dipralina, alangkah sayang sekali, karena ukiran dan patung itu akan lenyap tanpa bekas. Alangkah sedihnya.

Ketika bertemu Ida Bagus Kosala, tentang itulah yang pertama kali saya tanyakan. Apakah bangunan bekas terbakar itu akan dipralina atau direstorasi? Jawabannya sungguh melegakan saya. Restorasi.


Relief di bagian bawah sebuah pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar Kecamatan Banjar Buleleng

Saya tak tahu soal sastra agama, misalnya sastra mengenai petunjuk-petunjuk tentang apa yang boleh dilakukan, apa yang tak boleh dilakukan, apa yang  harus diikuti 100 persen, dan apa yang boleh ditawar-tawar. Yang jelas, jauh dalam lubuk hati, saya senang jika pura itu direstorasi, tentu dengan berbagai upacara-upacara agama yang harus diikuti sesuai sastra dan agama.   

Awalnya, kata Ida Bagus Kosala, dalam rapat desa adat, terdapat dua pendapat yang berbeda terkait pembangunan ulang Pura Dalem di Desa Adat Banjar yang terbakar itu. Ada yang mengatakan pura dibangun kembali dengan bahan-bahan yang baru, ada juga yang ingin mempertahankan bangunan-bangunan lama, terutama yang berisi ukiran dan patung yang dibuat penglingsir-penglingsir mereka di masa lalu.

Dengan sejumlah pertimbangan, salah satunya pertimbangan bahwa bangunan itu punya nilai cagar budaya, akhirnya diputuskan pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang bahan-bahan lama seperti semula.

“Kami masih menunggu petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk mengecek kembali bahan-bahan yang akan dipasang kembali. Nanti pihak Balai yang akan membantu membuka bata dan paras itu, lalu diisi kode-kode, agar bisa dipasang lagi sesuai urutannya,” kata Ida Bagus Kosala.

Setelah dibongkar, kata Ida Bagus Kosala, bahan-bahan itu nanti diupacarai dengan upacara prayascita agar bisa digunakan selayaknya bahan yang masih baru. Untuk bahan lain yang hangus terbakar, seperti kayu, ijuk dan lain-lain kini sedang diupayakan untuk mencarinya ke sejumlah tempat agar mendapatkan kayu berkualitas dan memang layak untuk bangunan pura. “Dulu kami menggunakan kayu majegau, tapi kini agak susah mencarinya,” kata dia.

Berapa Usia Bangunan?

Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Kerja Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur atau biasa disebut BPCB Bali sebelumnya sudah sempat meninjau bangunan pura yang terbakar itu. Para petugas memeriksa lebih detail ukiran dan patung yang ada di Pura Dalem itu. Kendati sejumlah pelinggih hangus terbakar, namun kondisi ukiran masih terlihat jelas. Untuk itu pihak BPCB menyarankan agar materi yang punya nilai besar itu dilestarikan dengan cara memasang kembali saat pura itu dibangun kembali. 

Dewa Purwita Sukahet, teman saya yang sebelumnya asyik memotret dengan kamera DSLR, turut menjelaskan bahwa peninggalan benda yang usianya lebih dari 50 tahun, memiliki keunikan dan mencerminkan keistimewaan sebuah daerah, apalagi tidak ditemukan di tempat lain, dan bisa dijadikan media pendidikan, memang wajib dilestarikan.


Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar


Ida Bagus Kosala tak bisa memastikan kapan pelinggih di Pura Dalem itu dibangun. Namun, jika melihat bahwa di areal pura tak ditemukan pelinggih padmasana, ia memperkirakan bangunan yang berisi ukiran dan patung di Pura Dalem usianya diperkirakan lebih dari 300 tahun. “Jika dilihat di areal pura tak ada bangunan padmasana, diperkirakan pura itu berusia lebih dari 300 tahun,” kata Ida Bagus Kosala.

Ketiadaan padmasana digunakan sebagai patokan tentu merujuk pada kedatangan Dang Hyang Dwijendra yang memperkenalkan konsep pembangunan padmasana sebagai linggih atau sthana Ida Sang Hyang Widhi. Artinya, secara logika sederhana, Pura Dalem itu sudah dibangun sebelum kedatangan Dang Hyang Dwijendra. Logika ini tentu masih bisa diperdebatkan. Namun yang jelas, bangunan itu adalah bangunan kuno, dengan konsep ukiran yang unik, langka, dan memang layak untuk diteliti sekaligus dilestarikan.

Apanya yang Beda?

Sepulang dari Pura Dalem Banjar, saya bersama Dewa Purwita Sukahet dan Bayu Gita Purnama melihat-lihat kembali hasil jepretan sejumlah pelinggih, tentu melihat dengan cukup teliti ukiran atau patung yang menempel di dinding bangunan.

Dewa Purwita Sukahet menyebutkan, ukiran dengan bun-bunan yang tebal dan mencolok serta patung besar dengan wajah-wajah besar, seram, dan begitu menonjol  memang merupakan karakter ukiran atau pahatan khas Buleleng. Namun ada yang berbeda dari stil ukiran di Pura Dalem Banjar itu dengan sejumlah relief atau ukiran di dinding pura di wilayah Buleleng bagian timur seperti di wilayah Sawan dan sekitarnya. Di Buleleng bagian timur wajah-wajah seram pada patung raksasa dibuat dengan eksplorasi yang sungguh aeng, seramnya sungguh-sungguh seram dan mungkin menakutkan. “Wajah-wajah patung raksasa di Pura Dalem Banjar itu sebenarnya juga seram, namun tampak agung,” katanya.

Kami tak henti-henti kagum menyaksikan foto-foto raksasa dan karakter manusia, dewa, atau kala, di hampir seluruh dinding pelinggih, terutama di pelinggih gedong. Pada setiap dinding, di bagian kanan, kiri, dan belakang, terdapat tiga bagian wajah. Paling bawah, pada bidang yang biasa dianggap sebagai kaki bangunan, atau dupak atau kedapa, terdapat deretan relief wajah seram dengan berbagai bentuk dan atraksi tubuh. Diduga bagian itu adalah deretan dari simbol-simbol kala, sebab di bagian belakang tampak jelas terdapat karakter Kala Sungsang dengan posisi kepala terbalik yang mudah ditebak.

Di bagian atas terdapat tiga patung raksasa yang masing-masing menyunggi sosok tubuh dengan anatomi yang berbeda-beda. Lama kami memperhatikan sosok-sosok yang disunggi di bagian atas, sampai akhirnya kami menduga bahwa deretan relief pada sisi-sisi bangunan itu melukiskan sosok-sosok penting dalam kisah Ramayana.


Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar

Di satu sisi bangunan terdapat tiga sosok kakak-adik; Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana.  Penemuan itu berawal ketika Dewa Purwita melihat satu sosok raksasa memiliki caling yang hanya menjulur ke bawah. Caling ke bawah adalah ciri Rahwana. Satu sosok raksasa lagi memiliki caling ke atas dan ke bawah, dan itu diduga karakter dari Kumbakarna. Dan satu sosok lagi berwajah manusia. Itu diduga Wibisana.

Belakangan, setelah diperhatikan dengan seksama, terdapat temuan menarik yang makin menguatkan dugaan kami bahwa deretan relief patung-patung besar di dinding pelinggih itu adalah tokoh-tokoh penting dalam kisah Ramayana. Yakni ditemukannya ekor di satu sosok. Kami langsung menduga itu adalah tokoh Hanoman. Dugaan dikuatkan dengan kalung pada leher berupa kalung ular. Hanya, yang sangat menarik, wajah yang kami duga tokoh Hanoman itu berwujud raksasa, atau setidaknya dibuat dengan wajah yang cukup seram. Dua sosok lagi di satu sisi bangun itu juga adalah sosok kera, mungkin Subali, mungkin Sugriwa, mungkin Anggada, atau tokoh kera lain dalam kisah Ramayana.

Dengan temuan itu, kami langsung menduga bahwa di sisi bangunan yang lain adalah deretan patung Rama dan keluarganya, mungkin Laksamana, mungkin Dasarata, mungkin juga Kosalya atau Sita. Hampir seluruh karakter dalam relief itu tak memberikan petunjuk tunggal. Wajah-wajah itu diduga dibuat dengan daya kreatif yang tinggi, apalagi bentuk-bentuk wajah dengan segala ekspresinya bukanlah bentuk dan ekspresi yang dikenal dalam dunia pewayangan di zaman kini. Dulu, mungkin tokoh-tokoh memang dibuat lebih bebas, lebih liar, tanpa pakem yang ajeg.  

Sungguh ukiran dan bentuk-bentuk itu sepertinya mengajak kami bermain-main dengan imajinasi sekaligus membuktikan bahwa pengetahuan tentang seni dan rupa, atau seni rupa, juga kehidupan, mungkin agama dan kreatifitas di dalamnya tidaklah ajeg. Dugaan kami mungkin salah bahwa tokoh yang dilukiskan di dinding pelinggih itu adalah tokoh-tokoh penting dalam epos Ramayana. Tapi bukankah dugaan adalah awal dari berkembangnya ilmu pengetahuan?

Masa lalu meninggalkan pengetahuan, dan kita membedahnya untuk menambah pengetahuan. Karena itulah, mungkin keputusan untuk merestorasi bangunan pelinggih di Pura Dalem Banjar itu adalah keputusan yang tepat. Karena benda-benda kuno itu memberi pelajaran sekaligus nilai-nilai. [T]



                   

Tags: bulelengcagar budayalukisanPura Dalem Desa BanjarreligiusSeni Rupa
Share1510TweetSendShareSend
Previous Post

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Next Post

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co