23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Terbakarnya Pura Dalem Banjar dengan Ukiran dan Patung Langka: Direstorasi atau Dipralina?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
January 22, 2020
in Khas
Terbakarnya Pura Dalem Banjar dengan Ukiran dan Patung Langka: Direstorasi atau Dipralina?

Salah satu pelinggih di Pura Dalem Banjar yang terbakar [Foto-foto: Ole]

Sejumlah bangunan pelinggih di Pura Dalem Desa Adat Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, terbakar, Minggu, 24 November 2019 sekira pukul 13.30 siang. Ketika video terbakarnya pelinggih itu tersebar secara langsung di facebook, banyak orang prihatin sekaligus terkagum-kagum.

Prihatin, tentu karena bangunan suci itu dilalap api dengan ganas, dengan asap yang membubung di atas pelinggih. Terkagum-kagum, karena melihat betapa unik ukiran dan patung yang menghiasi pelinggih itu, terutama pelinggih gedong yang mengalami kerusakan paling parah; seluruh tiang dan atap bangunan lunas jadi puing. Bahkan, ada teman yang berujar, jika pelinggih itu tak terbakar, mungkin tak banyak yang tahu jika pura itu menyimpan nilai cagar budaya yang tua, unik, langka dan tentu amat mengagumkan.

Saya datang ke Pura Dalem Desa Adat Banjar, hampir dua bulan setelah terbakar, Minggu, 20 Januari 2020. Itu pun karena saya diajak oleh perupa Dewa Purwita Sukahet dan pemerhati sastra Bali, Gede Gita Purnama alias Bayu. Dewa Purwita memang memiliki perhatian besar terhadap seni ukir dan seni patung Bali Utara dan Bayu adalah dosen di Unud yang selalu giat meneliti sastra, termasuk nilai sastra yang dikandung benda-benda cagar budaya. Istri saya, Kadek Sonia Piscayanti, juga turut serta, dengan alasan ingin tahu tentang ornament unik yang kerap saya obrolkan dengan amat provokatif di waktu senggang.


Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala

Sehari-hari Pura Dalem Desa Adat Banjar itu terkunci. Namun atas lobi-lobi seorang teman wartawan, Ida Bagus Wisnaya, datanglah Bendesa Adat Banjar Ida Bagus Kosala membawakan kami kunci setelah beberapa saat menunggu di jaba pura. Saya mengenal Ida Bagus Kosala saat ia menjadi Perbekel Desa Banjar beberapa tahun lalu ketika saya menjadi wartawan aktif yang kerap meliput sejumlah acara dan kasus-kasus politik serta hukum di wilayah Desa Banjar. Ida Bagus Kosala seorang yang ramah, penuh humor, dan memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Setelah memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami, Ida mempersilakan kami masuk.

Di areal jeroan pura, di areal pelinggih yang terbakar, kami sibuk mengambil gambar sembari geleng-geleng melihat puing bekas kebakaran dan tanpa henti berdecak-decak kagum melihat ornament berupa patung dan ukiran di hampir semua dinding pelinggih. Di sejumlah pelinggih yang terbakar, antara lain Pelinggih Gedong (Linggih Bhatara Siwa), Pelingih Pesaren, Menjangan Siliwang, Pelinggih Prajapati dan Pelinggih Argi Manik, hampir semuanya dihias ukiran yang mengundang decak.        

Restorasi atau Pralina?

Saya sendiri, meski awalnya ikut-ikutan, sesungguhnya punya misi terselubung. Saya ingin tahu apakah bangunan pura yang terbakar itu akan direstorasi atau dipralina. Restorasi artinya pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang materi bangunan, terutama materi yang berisi ukiran dan patung langka. Jika dipralina, artinya bangunan bekas terbakar itu dienyahkan dan warga adat membangun pura itu kembali dengan seluruh materi dan bahan-bahan yang baru.

Pertanyaan ini muncul sebab saya sempat mendengar sejumlah orang wikan berujar bahwa bekas-bekas bangunan pura yang sudah terbakar tak boleh digunakan lagi untuk membangun karena dianggap sudah leteh atau cemar. Bangunan bekas kebakaran itu dipralina, dan pura dibangun ulang dengan menggunakan bahan yang semuanya baru. Saya berpikir kemudian, jika bangunan di Pura Dalem Banjar itu benar-benar dipralina, alangkah sayang sekali, karena ukiran dan patung itu akan lenyap tanpa bekas. Alangkah sedihnya.

Ketika bertemu Ida Bagus Kosala, tentang itulah yang pertama kali saya tanyakan. Apakah bangunan bekas terbakar itu akan dipralina atau direstorasi? Jawabannya sungguh melegakan saya. Restorasi.


Relief di bagian bawah sebuah pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar Kecamatan Banjar Buleleng

Saya tak tahu soal sastra agama, misalnya sastra mengenai petunjuk-petunjuk tentang apa yang boleh dilakukan, apa yang tak boleh dilakukan, apa yang  harus diikuti 100 persen, dan apa yang boleh ditawar-tawar. Yang jelas, jauh dalam lubuk hati, saya senang jika pura itu direstorasi, tentu dengan berbagai upacara-upacara agama yang harus diikuti sesuai sastra dan agama.   

Awalnya, kata Ida Bagus Kosala, dalam rapat desa adat, terdapat dua pendapat yang berbeda terkait pembangunan ulang Pura Dalem di Desa Adat Banjar yang terbakar itu. Ada yang mengatakan pura dibangun kembali dengan bahan-bahan yang baru, ada juga yang ingin mempertahankan bangunan-bangunan lama, terutama yang berisi ukiran dan patung yang dibuat penglingsir-penglingsir mereka di masa lalu.

Dengan sejumlah pertimbangan, salah satunya pertimbangan bahwa bangunan itu punya nilai cagar budaya, akhirnya diputuskan pura itu dibangun kembali dengan tetap memasang bahan-bahan lama seperti semula.

“Kami masih menunggu petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk mengecek kembali bahan-bahan yang akan dipasang kembali. Nanti pihak Balai yang akan membantu membuka bata dan paras itu, lalu diisi kode-kode, agar bisa dipasang lagi sesuai urutannya,” kata Ida Bagus Kosala.

Setelah dibongkar, kata Ida Bagus Kosala, bahan-bahan itu nanti diupacarai dengan upacara prayascita agar bisa digunakan selayaknya bahan yang masih baru. Untuk bahan lain yang hangus terbakar, seperti kayu, ijuk dan lain-lain kini sedang diupayakan untuk mencarinya ke sejumlah tempat agar mendapatkan kayu berkualitas dan memang layak untuk bangunan pura. “Dulu kami menggunakan kayu majegau, tapi kini agak susah mencarinya,” kata dia.

Berapa Usia Bangunan?

Balai Pelestarian Cagar Budaya Wilayah Kerja Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur atau biasa disebut BPCB Bali sebelumnya sudah sempat meninjau bangunan pura yang terbakar itu. Para petugas memeriksa lebih detail ukiran dan patung yang ada di Pura Dalem itu. Kendati sejumlah pelinggih hangus terbakar, namun kondisi ukiran masih terlihat jelas. Untuk itu pihak BPCB menyarankan agar materi yang punya nilai besar itu dilestarikan dengan cara memasang kembali saat pura itu dibangun kembali. 

Dewa Purwita Sukahet, teman saya yang sebelumnya asyik memotret dengan kamera DSLR, turut menjelaskan bahwa peninggalan benda yang usianya lebih dari 50 tahun, memiliki keunikan dan mencerminkan keistimewaan sebuah daerah, apalagi tidak ditemukan di tempat lain, dan bisa dijadikan media pendidikan, memang wajib dilestarikan.


Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar


Ida Bagus Kosala tak bisa memastikan kapan pelinggih di Pura Dalem itu dibangun. Namun, jika melihat bahwa di areal pura tak ditemukan pelinggih padmasana, ia memperkirakan bangunan yang berisi ukiran dan patung di Pura Dalem usianya diperkirakan lebih dari 300 tahun. “Jika dilihat di areal pura tak ada bangunan padmasana, diperkirakan pura itu berusia lebih dari 300 tahun,” kata Ida Bagus Kosala.

Ketiadaan padmasana digunakan sebagai patokan tentu merujuk pada kedatangan Dang Hyang Dwijendra yang memperkenalkan konsep pembangunan padmasana sebagai linggih atau sthana Ida Sang Hyang Widhi. Artinya, secara logika sederhana, Pura Dalem itu sudah dibangun sebelum kedatangan Dang Hyang Dwijendra. Logika ini tentu masih bisa diperdebatkan. Namun yang jelas, bangunan itu adalah bangunan kuno, dengan konsep ukiran yang unik, langka, dan memang layak untuk diteliti sekaligus dilestarikan.

Apanya yang Beda?

Sepulang dari Pura Dalem Banjar, saya bersama Dewa Purwita Sukahet dan Bayu Gita Purnama melihat-lihat kembali hasil jepretan sejumlah pelinggih, tentu melihat dengan cukup teliti ukiran atau patung yang menempel di dinding bangunan.

Dewa Purwita Sukahet menyebutkan, ukiran dengan bun-bunan yang tebal dan mencolok serta patung besar dengan wajah-wajah besar, seram, dan begitu menonjol  memang merupakan karakter ukiran atau pahatan khas Buleleng. Namun ada yang berbeda dari stil ukiran di Pura Dalem Banjar itu dengan sejumlah relief atau ukiran di dinding pura di wilayah Buleleng bagian timur seperti di wilayah Sawan dan sekitarnya. Di Buleleng bagian timur wajah-wajah seram pada patung raksasa dibuat dengan eksplorasi yang sungguh aeng, seramnya sungguh-sungguh seram dan mungkin menakutkan. “Wajah-wajah patung raksasa di Pura Dalem Banjar itu sebenarnya juga seram, namun tampak agung,” katanya.

Kami tak henti-henti kagum menyaksikan foto-foto raksasa dan karakter manusia, dewa, atau kala, di hampir seluruh dinding pelinggih, terutama di pelinggih gedong. Pada setiap dinding, di bagian kanan, kiri, dan belakang, terdapat tiga bagian wajah. Paling bawah, pada bidang yang biasa dianggap sebagai kaki bangunan, atau dupak atau kedapa, terdapat deretan relief wajah seram dengan berbagai bentuk dan atraksi tubuh. Diduga bagian itu adalah deretan dari simbol-simbol kala, sebab di bagian belakang tampak jelas terdapat karakter Kala Sungsang dengan posisi kepala terbalik yang mudah ditebak.

Di bagian atas terdapat tiga patung raksasa yang masing-masing menyunggi sosok tubuh dengan anatomi yang berbeda-beda. Lama kami memperhatikan sosok-sosok yang disunggi di bagian atas, sampai akhirnya kami menduga bahwa deretan relief pada sisi-sisi bangunan itu melukiskan sosok-sosok penting dalam kisah Ramayana.


Relief di satu sisi pelinggih yang terbakar di Pura Dalem Desa Banjar

Di satu sisi bangunan terdapat tiga sosok kakak-adik; Rahwana, Kumbakarna dan Wibisana.  Penemuan itu berawal ketika Dewa Purwita melihat satu sosok raksasa memiliki caling yang hanya menjulur ke bawah. Caling ke bawah adalah ciri Rahwana. Satu sosok raksasa lagi memiliki caling ke atas dan ke bawah, dan itu diduga karakter dari Kumbakarna. Dan satu sosok lagi berwajah manusia. Itu diduga Wibisana.

Belakangan, setelah diperhatikan dengan seksama, terdapat temuan menarik yang makin menguatkan dugaan kami bahwa deretan relief patung-patung besar di dinding pelinggih itu adalah tokoh-tokoh penting dalam kisah Ramayana. Yakni ditemukannya ekor di satu sosok. Kami langsung menduga itu adalah tokoh Hanoman. Dugaan dikuatkan dengan kalung pada leher berupa kalung ular. Hanya, yang sangat menarik, wajah yang kami duga tokoh Hanoman itu berwujud raksasa, atau setidaknya dibuat dengan wajah yang cukup seram. Dua sosok lagi di satu sisi bangun itu juga adalah sosok kera, mungkin Subali, mungkin Sugriwa, mungkin Anggada, atau tokoh kera lain dalam kisah Ramayana.

Dengan temuan itu, kami langsung menduga bahwa di sisi bangunan yang lain adalah deretan patung Rama dan keluarganya, mungkin Laksamana, mungkin Dasarata, mungkin juga Kosalya atau Sita. Hampir seluruh karakter dalam relief itu tak memberikan petunjuk tunggal. Wajah-wajah itu diduga dibuat dengan daya kreatif yang tinggi, apalagi bentuk-bentuk wajah dengan segala ekspresinya bukanlah bentuk dan ekspresi yang dikenal dalam dunia pewayangan di zaman kini. Dulu, mungkin tokoh-tokoh memang dibuat lebih bebas, lebih liar, tanpa pakem yang ajeg.  

Sungguh ukiran dan bentuk-bentuk itu sepertinya mengajak kami bermain-main dengan imajinasi sekaligus membuktikan bahwa pengetahuan tentang seni dan rupa, atau seni rupa, juga kehidupan, mungkin agama dan kreatifitas di dalamnya tidaklah ajeg. Dugaan kami mungkin salah bahwa tokoh yang dilukiskan di dinding pelinggih itu adalah tokoh-tokoh penting dalam epos Ramayana. Tapi bukankah dugaan adalah awal dari berkembangnya ilmu pengetahuan?

Masa lalu meninggalkan pengetahuan, dan kita membedahnya untuk menambah pengetahuan. Karena itulah, mungkin keputusan untuk merestorasi bangunan pelinggih di Pura Dalem Banjar itu adalah keputusan yang tepat. Karena benda-benda kuno itu memberi pelajaran sekaligus nilai-nilai. [T]



                   

Tags: bulelengcagar budayalukisanPura Dalem Desa BanjarreligiusSeni Rupa
Share1510TweetSendShareSend
Previous Post

Ari Anggara, Dari Ketua OSIS, Ketua BEM, ke Kepala Desa

Next Post

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails
Next Post
Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Teater Kalangan, Pertemuan Cerita, Kata Dan Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co