14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 9, 2019
in Opini
Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja

Foto ilustrasi: Dewi Durga, lukisan wayang kaca Nagasepaha, Karya Made Wijana, murid SMK Sukasada

Mendengar sebuah kesaksian memang menarik, apalagi itu adalah pengalaman yang sangat personal—rahasia. Ini cerita dari desa, ketika dua orang Pemangku berkisah tentang pengalaman spiritualnya. Pemangku yang pertama karakternya lembut, tenang, perenung, sementara Pemangku satunya lagi terlihat keras, emosinya meledak-ledak, rambutnya kisut, kumis jempe, jenggot semrawut, gemar merajah tubuhnya, isinya makhluk menyeramkan.

Konon menurut cerita, Mangku ini sering kerauhan. Menusuk diri dengan keris, teriak-teriak, mata melotot, dan sering ngoyot arak tabuh, menggigit dupa panas. “Hoos,” begitu ia menyemburkan panas.

Meski memiliki karakter berbeda, mereka berdua adalah Mangku di Pura Dalem di desa adat yang berbeda. Kebetulan, saya mengenalnya, suka mendengar cerita mereka, bahkan sampai larut malam. Urusan begadang, dua pemangku ini tak pantas dilawan. Menariknya, pengalaman spiritual mereka juga berbeda, ketika mereka melukiskan sosok Bhatari Durgha.

Pemangku yang saya sebut karakternya lembut, mengaku pernah didatangi Bhatari Durgha, wajahnya cantik, rambutnya panjang, baunya harum. Tidak seperti petapakan yang disungsung di Pura Dalem, mata membelalak, lidah menjulur, rambut kisut, kuku panjang, susu ngelenteng. “Beliau sangat cantik. Saya sampai menangis melihatnya,” kisahnya pelan. “Berarti selama ini saya keliru membayangkan beliau,” lanjutnya.

Saya terdiam. Teringat bacaan tentang arti istilah setra Gandamayu—yakni sebuah taman yang berbau harum. Bukan sebaliknya, berbau bangkai, anyir darah, busuk. Kuburan pun diidentikkan dengan taman berbau harum. Adakah ini bau Bhatari Durgha? Bisa jadi iya, jika kita kaitkan dengan kesaksian Pamangku yang memiliki karakter lembut ini.

Tetapi pengalaman berbeda datang dari pemangku yang karakternya keras, emosional. Ia juga mengaku sering memimpikan Bhatari Durgha. Tetapi kali ini wajah Bhatari Durgha berbeda seperti yang dilukiskan Pemangku sebelumnya. Ia malah nungkalik, melukiskan Bhatari Durgha mirip seperti petapakan di Pura Dalem: mata melotot, lidah menjulur keluar api, rambut panjang, taring tajam, kuku panjang, menari di atas pemuun setra. “Wajah beliau menyeramkan. Saya sering mimpi dicari oleh beliau. Setiap mimpi itu datang, saya masegeh di depan rumah. Beliau meminta labaan, jika tidak masyarakat akan gerubug. Akan banyak orang meninggal karena penyakit tak jelas. Terserah warga percaya atau tidak,” cetusnya meyakinkan. Menurut cerita masyarakat; pemangku ini ‘langganan’ kerauhan tiap piodalan.

Apa yang menarik di sini? Dua pengalaman tentang pertemuan dengan Bhatari Durgha. Yang satu berwajah cantik, yang satunya menyeramkan. Adakah yang pertama adalah Bhatari Uma yang belum dikutuk oleh Siwa? Bukankah setelah dikutuk Uma berubah wujud menjadi Durgha? Jika sudah berwujud Durgha, mengapa pemangku itu bisa bertemu wajah Durgha yang cantik dan berbau harum? Apakah Uma-Durgha, cantik dan menyeramkan ada di Pura Dalem?

Perhatian saya justru tidak ke sosok Bhatari yang dimimpikan ini. Tetapi ke sosok dua pemangku tadi. Adakah sifat-sifat diri si pemuja berhubungan dengan apa yang dipuja? Apabila sifat si pemuja tenang dan lembut, ia bertemu dengan Bhatari atau Dewa yang mewakili sifat-sifat tenang dan lembut, begitu juga sebaliknya, ketika si pemuja kuat akan karakter emosional, destruktif, meledak-ledak, maka ia bertemu dengan Bhatari atau Dewa yang mewakili karakternya?

Jika iya, ini artinya, representasi wajah Tuhan, Dewa atau Bhatari sangat berhubungan dengan sifat-sifat si pemuja. Jadi representasi tentang Tuhan dan si pemuja, adalah sesuatu yang ‘intim’. Adakah mereka adalah satu?

Jika kita hubungkan dengan situasi keberagamaan di Bali saat ini: fenomena kerauhan, antusiasme terhadap Calonarang dan sosok Rangda, ketertarikan pada pengeleakan, maraknya masyarakat yang nyungsung petapakan dengan ekspresi menyeramkan, apakah ini berhubungan dengan situasi, sifat, dan emosi kolektif masyarakat Bali saat ini?

Apakah ini juga berhubungan dengan krisis, dan situasi sosial Bali: kemacetan, sesaknya ruang hidup, sempitnya ruang ekspresi diri, problem keluarga, tingginya angka perceraian, meroketnya angka gangguan jiwa, angka bunuh diri, dan problem sosial lain? Atau malah sebaliknya, fenomena ini menunjukkan tingginya kualitas spiritualitas Bali sehingga layak disebut sebagai pulau spiritual?

Atau apakah ini mewakili ciri kepribadian Bali: yang dinamis dan skizofrenik secara kultural? Tidak seperti yang dilukiskan para antropolog kolonial yang memberi citra statis, seimbang, dan romantik atas Bali? Silakan setuju, silakan juga tidak.

Saya teringat dengan seorang praktisi Tantra, Julius Evola yang menyatakan bahwa ketertarikan pada Tantra-jalan realisasi diri—sangat berhubungan dengan situasi zaman, dan keadaan manusia. Paham atau ideologi keagamaan yang hidup di zaman Kerta Yuga dan Kali Yuga sangatlah berbeda.

Hal ini tergantung dari situasi zaman dan sifat pemuja. Seperti misalnya, pemujaan terhadap Dewi, atau aspek yang disebut Shakti dibedakan dalam dua jenis yakni pertama bercahaya (Parvati, Uma, Laksmi) dan yang kedua menakutkan, menunjukkan kegelapan, (Kali, durga, Bhairawi, Camunda).

Namun menurut Evola, tidak ada perbedaan terhadap dua karakter tersebut. Lalu? Evola menyebut Dewi yang sama dapat mengambil salah satu aspek ketika mencerminkan sikap penyembah yang mendekatinya. Sikap penyembah yang dimaksud Evola juga adalah si pemuja. Artinya, karakter dewi sangat berhubungan dengan sifat-sifat si pemuja. Yang berbeda adalah sifat si pemuja itu sendiri.

Pandangan Evola dalam bukunya The Yoga of Power: Tantra, Shakti, and Secret Way seolah memiliki korelasi dengan cerita yang penulis tulis di atas, bahwa representasi wajah Tuhan sangat berhubungan dengan sifat si pemuja. Atau jika kita cukil pandangan PT Raju dalam The Concept of Man in Indian Thought bahwa representasi Tuhan eksternal merupakan subordinat dari Atman di dalam diri.

Artinya, ekspresi ketuhanan tidak bisa dipisahkan dari situasi eksistensial itu sendiri. Justru situasi eksistensial ini yang berpotensi melahirkan Sarwa Tattwa—termasuk pengalaman plural tentang apa yang kita sebut: Ketuhanan. Pengalaman personal yang bersifat plural inilah yang justru memperkaya ekspresi ketuhanan selama ini. Apakah teologi Bali berangkat dari sini? [T]

Tags: agamabaliTeologiteologisTuhan
Share122TweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan-Perempuan Gede Aries Pidrawan

Next Post

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co