24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
December 9, 2019
in Opini
Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja

Foto ilustrasi: Dewi Durga, lukisan wayang kaca Nagasepaha, Karya Made Wijana, murid SMK Sukasada

Mendengar sebuah kesaksian memang menarik, apalagi itu adalah pengalaman yang sangat personal—rahasia. Ini cerita dari desa, ketika dua orang Pemangku berkisah tentang pengalaman spiritualnya. Pemangku yang pertama karakternya lembut, tenang, perenung, sementara Pemangku satunya lagi terlihat keras, emosinya meledak-ledak, rambutnya kisut, kumis jempe, jenggot semrawut, gemar merajah tubuhnya, isinya makhluk menyeramkan.

Konon menurut cerita, Mangku ini sering kerauhan. Menusuk diri dengan keris, teriak-teriak, mata melotot, dan sering ngoyot arak tabuh, menggigit dupa panas. “Hoos,” begitu ia menyemburkan panas.

Meski memiliki karakter berbeda, mereka berdua adalah Mangku di Pura Dalem di desa adat yang berbeda. Kebetulan, saya mengenalnya, suka mendengar cerita mereka, bahkan sampai larut malam. Urusan begadang, dua pemangku ini tak pantas dilawan. Menariknya, pengalaman spiritual mereka juga berbeda, ketika mereka melukiskan sosok Bhatari Durgha.

Pemangku yang saya sebut karakternya lembut, mengaku pernah didatangi Bhatari Durgha, wajahnya cantik, rambutnya panjang, baunya harum. Tidak seperti petapakan yang disungsung di Pura Dalem, mata membelalak, lidah menjulur, rambut kisut, kuku panjang, susu ngelenteng. “Beliau sangat cantik. Saya sampai menangis melihatnya,” kisahnya pelan. “Berarti selama ini saya keliru membayangkan beliau,” lanjutnya.

Saya terdiam. Teringat bacaan tentang arti istilah setra Gandamayu—yakni sebuah taman yang berbau harum. Bukan sebaliknya, berbau bangkai, anyir darah, busuk. Kuburan pun diidentikkan dengan taman berbau harum. Adakah ini bau Bhatari Durgha? Bisa jadi iya, jika kita kaitkan dengan kesaksian Pamangku yang memiliki karakter lembut ini.

Tetapi pengalaman berbeda datang dari pemangku yang karakternya keras, emosional. Ia juga mengaku sering memimpikan Bhatari Durgha. Tetapi kali ini wajah Bhatari Durgha berbeda seperti yang dilukiskan Pemangku sebelumnya. Ia malah nungkalik, melukiskan Bhatari Durgha mirip seperti petapakan di Pura Dalem: mata melotot, lidah menjulur keluar api, rambut panjang, taring tajam, kuku panjang, menari di atas pemuun setra. “Wajah beliau menyeramkan. Saya sering mimpi dicari oleh beliau. Setiap mimpi itu datang, saya masegeh di depan rumah. Beliau meminta labaan, jika tidak masyarakat akan gerubug. Akan banyak orang meninggal karena penyakit tak jelas. Terserah warga percaya atau tidak,” cetusnya meyakinkan. Menurut cerita masyarakat; pemangku ini ‘langganan’ kerauhan tiap piodalan.

Apa yang menarik di sini? Dua pengalaman tentang pertemuan dengan Bhatari Durgha. Yang satu berwajah cantik, yang satunya menyeramkan. Adakah yang pertama adalah Bhatari Uma yang belum dikutuk oleh Siwa? Bukankah setelah dikutuk Uma berubah wujud menjadi Durgha? Jika sudah berwujud Durgha, mengapa pemangku itu bisa bertemu wajah Durgha yang cantik dan berbau harum? Apakah Uma-Durgha, cantik dan menyeramkan ada di Pura Dalem?

Perhatian saya justru tidak ke sosok Bhatari yang dimimpikan ini. Tetapi ke sosok dua pemangku tadi. Adakah sifat-sifat diri si pemuja berhubungan dengan apa yang dipuja? Apabila sifat si pemuja tenang dan lembut, ia bertemu dengan Bhatari atau Dewa yang mewakili sifat-sifat tenang dan lembut, begitu juga sebaliknya, ketika si pemuja kuat akan karakter emosional, destruktif, meledak-ledak, maka ia bertemu dengan Bhatari atau Dewa yang mewakili karakternya?

Jika iya, ini artinya, representasi wajah Tuhan, Dewa atau Bhatari sangat berhubungan dengan sifat-sifat si pemuja. Jadi representasi tentang Tuhan dan si pemuja, adalah sesuatu yang ‘intim’. Adakah mereka adalah satu?

Jika kita hubungkan dengan situasi keberagamaan di Bali saat ini: fenomena kerauhan, antusiasme terhadap Calonarang dan sosok Rangda, ketertarikan pada pengeleakan, maraknya masyarakat yang nyungsung petapakan dengan ekspresi menyeramkan, apakah ini berhubungan dengan situasi, sifat, dan emosi kolektif masyarakat Bali saat ini?

Apakah ini juga berhubungan dengan krisis, dan situasi sosial Bali: kemacetan, sesaknya ruang hidup, sempitnya ruang ekspresi diri, problem keluarga, tingginya angka perceraian, meroketnya angka gangguan jiwa, angka bunuh diri, dan problem sosial lain? Atau malah sebaliknya, fenomena ini menunjukkan tingginya kualitas spiritualitas Bali sehingga layak disebut sebagai pulau spiritual?

Atau apakah ini mewakili ciri kepribadian Bali: yang dinamis dan skizofrenik secara kultural? Tidak seperti yang dilukiskan para antropolog kolonial yang memberi citra statis, seimbang, dan romantik atas Bali? Silakan setuju, silakan juga tidak.

Saya teringat dengan seorang praktisi Tantra, Julius Evola yang menyatakan bahwa ketertarikan pada Tantra-jalan realisasi diri—sangat berhubungan dengan situasi zaman, dan keadaan manusia. Paham atau ideologi keagamaan yang hidup di zaman Kerta Yuga dan Kali Yuga sangatlah berbeda.

Hal ini tergantung dari situasi zaman dan sifat pemuja. Seperti misalnya, pemujaan terhadap Dewi, atau aspek yang disebut Shakti dibedakan dalam dua jenis yakni pertama bercahaya (Parvati, Uma, Laksmi) dan yang kedua menakutkan, menunjukkan kegelapan, (Kali, durga, Bhairawi, Camunda).

Namun menurut Evola, tidak ada perbedaan terhadap dua karakter tersebut. Lalu? Evola menyebut Dewi yang sama dapat mengambil salah satu aspek ketika mencerminkan sikap penyembah yang mendekatinya. Sikap penyembah yang dimaksud Evola juga adalah si pemuja. Artinya, karakter dewi sangat berhubungan dengan sifat-sifat si pemuja. Yang berbeda adalah sifat si pemuja itu sendiri.

Pandangan Evola dalam bukunya The Yoga of Power: Tantra, Shakti, and Secret Way seolah memiliki korelasi dengan cerita yang penulis tulis di atas, bahwa representasi wajah Tuhan sangat berhubungan dengan sifat si pemuja. Atau jika kita cukil pandangan PT Raju dalam The Concept of Man in Indian Thought bahwa representasi Tuhan eksternal merupakan subordinat dari Atman di dalam diri.

Artinya, ekspresi ketuhanan tidak bisa dipisahkan dari situasi eksistensial itu sendiri. Justru situasi eksistensial ini yang berpotensi melahirkan Sarwa Tattwa—termasuk pengalaman plural tentang apa yang kita sebut: Ketuhanan. Pengalaman personal yang bersifat plural inilah yang justru memperkaya ekspresi ketuhanan selama ini. Apakah teologi Bali berangkat dari sini? [T]

Tags: agamabaliTeologiteologisTuhan
Share122TweetSendShareSend
Previous Post

Perempuan-Perempuan Gede Aries Pidrawan

Next Post

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co