22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
December 10, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Pemuja dan Pujaan

Anwam Siwi, demikian pengarang kidung Lungsir Petak atau Murtining Jagat Bangli menyebut dirinya dalam pupuh demung bait ke sembilan. Anwam adalah sebutan untuk mengganti kata Nyoman. Sedangkan kata Siwi adalah singkatan yang dapat dipecah menjadi dua silable [suku kata]: Si dan Wi. “Si” singkatan dari Singgin, dan “Wi” singkatan dari Wikarman. Singkatnya, pengarangnya adalah Nyoman Singgin Wikarman.

Karya ini selesai ditulis pada hari Senin [Soma], Umanis [perhitungan 5 hari atau panca wara], Wuku Sungsang, pada bulan paro terang [sukla paksa], sasih ke-enam [posya], tahun saka 1913 [murtining bhumi rong tunggal] atau pada tahun 1991 M. Jika ditelusuri, tepatnya pada hari Senin, tanggal 9 Desember 1991. Menurut catatan yang terdapat di bagian belakang naskah, Nyoman Singgin Wikarman lahir pada tanggal 31 Desember 1947, itu berarti kidung Lungsir Petak diselesaikan saat berusia sekitar 43 tahun.

Palguna [1998] menyebut sastra, tidak berhenti pada pengertian kesusastraan, tapi juga ajaran. Bukan kebetulan jika kalimat tersebut dapat digunakan sebagai peta untuk menelusuri “hutan” bernama kidung Lungsir Petak. Konsekuensi memasuki hutan itu jelas ada, pilihannya antara kembali atau menghilang. Bagi yang kembali, tugasnya adalah menyampaikan segala yang ditemukan di dalam hutan kepada yang belum atau akan memasuki. Bagi yang menghilang, ada dua kemungkinan, pertama dia sedang menelusuri hutan lebih dalam, kedua dia tersesat. Namun tidak jarang, orang yang kembali tidak mengerti harus menceritakan apa-apa. Sebab di dalam hutan, dia tertidur.

Kawula adalah kata yang digunakan oleh Anwam Siwi untuk menunjuk dirinya. Terjemahan kata ini ke dalam bahasa Indonesia adalah hamba, saya, atau aku. Kata Kawula umumnya digunakan untuk sebutan bagi seorang abdi. Penggunaan kata ini tentu bukannya tanpa pertimbangan. Setidaknya kesan yang ditimbulkan adalah suara personal penyair yang menganggap dirinya seorang abdi. Lalu, kepada siapakah suara pengabdian itu ingin ditujukan? Ada baiknya dilihat penggalan dari pupuh Megatruh [1] berikut.


singgih sang hyang kawiswara maha agung, ginelaran sang hyang aji, wiwitane ngawe kidung, karya tuna tan akikit, manawi katunan kawot

[wahai sang hyang kawiswara yang maha agung, disebut pula sang hyang aji, sebagai sebab menggubah kidung, karya yang tidak sedikit kurangnya, mungkin juga kurang berwibawa]


Sang Hyang Kawiswara adalah sebutan yang diungkapkan pada bagian awal kidung Lungsir Petak, sebagai sebab membuat kidung [wiwitane ngawe kidung]. Kawiswara berarti kawi yang utama atau pemimpin para kawi. Segeralah dapat diketahui, kepada siapa pujaan itu dihaturkan oleh penyair. Kata kawi memang diterjemahkan sebagai sebutan untuk orang yang telah melahirkan karya, atau juga untuk menyebut Tuhan sebagai pencipta. Penyebutan yang terakhir ini, seringkali ditambahkan dengan kata sang hyang, parama, iswara, dan seterusnya. Kawiswara dihadirkan oleh penyair sebagai sebab serta tujuan [sangkan paran]. Kepada Sang Hyang Kawiswaralah karyanya dipermaklumkan agar tidak dikutuk [tan keneng pamastu] seraya menyebut dirinya sebagai abdi [kawula].

Pola pemujaan demikian bukanlah hal yang baru sama sekali, sebab telah digunakan pada beberapa sastra kakawin, terkecuali Ramayana. Suara-suara yang serupa, tampak pada manggala kakawin Sumanasantaka yang menyebut Kawiswara disejajarkan dengan Sang Hyang Hyang sebagai dewa yang bersemayam pada alat tulis kawi. Sangat sulitlah untuk didekati [atidurlabha], karena meresap dan tersembunyi secara halus pada serbuk tanah para kawi yang diruncingkan dengan kuku. Tetapi itu tidak mengurangi kesegaran yang ditawarkan oleh Lungsir Petak. Pengandaian sangat mungkin dipengaruhi oleh bacaan-bacaan atau pengetahuan penyair. Adanya kemiripan pengungkapan bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan, hal ini dapat dilihat dengan membandingkan manggala kakawin Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dengan kakawin Kunjarakarna Dharmakatana karya Mpu Dusun. Lalu apakah Anwam Siwi serta merta berarti membaca Sumanasantaka, sebab ada kemiripan pengungkapan? Tentu itu adalah kasus lain lagi.

Wajarnya, Kawiswara adalah salah satu gelar yang sering dihindari, atau dianggap tidak pantas dipakai oleh penyair ketika berbicara tentang dirinya sendiri [Zoetmulder, 1994: 187]. Selain gelar itu, ada gelar kawiwara, kawindra, dan kawiraja yang mendapat perlakuan yang sama. Maka jelaslah bahwa kawi sebagai pemuja, menghaturkan pemujaannya berupa karya yang penuh kekurangan [karya tuna tan akikit] kepada Kawi sebagai pujaan.

Jika kawi mempersembahkan sesuatu kepada pujaannya, itu berarti ada jarak di antara pemuja dengan pujaan. Jarak itulah yang mengajarkan rindu. Rindu menjadi penggerak seorang penyair untuk melakukan perjalanan ke laut maupun gunung. Pada tempat-tempat itulah umumnya seorang kawi berdiam dan mencoba menggapai langö. Yang dimaksud dengan langö, adalah keindahan yang sublim. Pencarian langö oleh kawi disebut alanglang kalangwan. Sangat memperihatinkan jika perjalanan itu berujung pada keputusasaan, sebab yang namanya pencarian tidak selalu menemukan.

Bukan Karena Tahu

Mengapa Anwam Siwi menggubah kidung Lungsir Petak? Pertanyaan itu diajukan untuk menuntun ke arah jawaban alasan-alasan yang melatarbelakangi Lungsir Petak terlahir. Alasan itu dapat dicari di dalam tubuh Lungsir Petak. Oleh sebab itu, pada bagian ini, perlu dicatat salah satu bagian dari kidung ini sebagai berikut.


sarana bhakti metu karsa ngawe kidung, norana sangkaning uning, ngiket sastra adi luhung, angdoh sastra kawi, angdoh uger-uger mango

[sebagai sarana bhakti maka lahirlah keinginan membuat kidung, bukan karena tahu, membuat karya sastra yang baik, jauh dari sastra kawi, jauh pula dari aturan pencari keindahan]


Eksplisit pernyataan Anwam Siwi, bahwa Lungsir Petak terlahir bukan karena ia merasa tahu. Melainkan sebagai sarana bhakti. Jelas rasa bhakti itu ditujukan kepada Kawiswara yang dipujanya pada manggala. Pernyataan “bukan karena tahu” itu mengungkapkan yang dikatakan, sekaligus menyiratkan yang tidak terucapkan. Pada tataran kata secara harfiah, kata-kata itu menyatakan sebagaimana adanya. Namun, secara implisit, sesungguhnya juga menyatakan yang sebaliknya. Akan sangat sulit untuk menyusun kata-kata yang demikian, jika saja Anwam Siwi tidak mengerti apa yang dikatakannya. Juga tentu akan sulit memenuhi aturan pada lingsa yang dituntut oleh pupuh Megatruh.

Jika dilihat pergantian pupuh yang terdapat di dalam kidung ini, ada sebanyak 21 kali pergantian. Hanya saja, Megatruh digunakan dua kali sepanjang kidung ini yakni pada awal serta akhir. Pupuh Durma juga digunakan sebanyak dua kali. Maka jika dilihat berdasarkan nama-nama pupuhnya, ada 19 pupuh yang digunakan. Masing-masing pupuh itu ditandai penggunaannya dalam penyebutan di dalam kidung: winursita Ki Megatruh [Megatruh], Ki Demung anganti mangke [Demung], tekeng adri den ahayu [Adri], aliting jarum tatas denta [Jerum], raden panji ngawe lango [Panji], tuhandulu penuh asmarani [Smaradahana], laraning sang nandang lara [dandang], kembang maring kalanguan [Kumambang], turunganing alis ijo [Alis-alis Ijo], ginada ngantos [Ginada], angapus kadurmanggalan [Durma], dadi apa kapungkur [Pangkur], ulah basur ngawe weci [Basur], kadi tikus kapantingan [Tikus Kapanting], papa nraka ingambuhi [Gambuh], ing sumanggen durmanggala [Durma], sekarura kembang santun [Warga Sari], Ki Megatruh nyineb kawi [Megatruh].

Megatruh sebagai pembuka dan penutup mungkin saja mengandung suatu maksud tertentu bagi Anwam Siwi. Tentang hal itu, sama sekali belum ditemukan jejak di dalam Lungsir Petak yang dapat digunakan sebagai bahan untuk sekedar berhipotesa. Jika nama pupuh ini dianggap sebagai jejak yang ditinggalkan oleh Anwam Siwi, lalu apa maksudnya? Pencarian terhadap maksud itu, tampaknya hanya akan berujung kepada kesia-sian semata. Namun demikian, perhatian secara khusus terhadap pemilihan pupuh ini tidak juga dapat dihindarkan. Meskipun akhirnya hanya akan menghadirkan pendapat-pendapat yang ex silentio, percobaan mestilah dilakukan.

Sebagai petunjuk awal, ada baiknya jika Megatruh ini dipecah menjadi dua kata sebagaimana dipahami dalam bahasa Jawa Kuna: Mega dan Truh. Mega berarti awan, sedangkan Truh berarti hujan gerimis. Solusi lain yang bisa ditawarkan adalah pembagian menjadi Megat dan Ruh atau antara Megat dan Truh. Kata Megat dalam hal ini berarti memutuskan. Hanya saja, tafsir ini tentu memiliki kelemahan jika dilakukan perbandingan antara kata Mega serta Megat. Ada fonem yang berbeda antara kedua kata itu yakni fonem “e”. Fonem itu sesungguhnya akan menjadi jelas jika ditulis dengan menggunakan aksara Bali yang membedakan penggunaan keduanya dengan pangangge aksara suara: taleng untuk vocal é, dan pӗpӗt untuk vocal ӗ. Jika kata Megat dipadukan dengan Ruh yang equivalen dengan wruh [tahu] maka artinya adalah memutus pengetahuan, sedangkan jika dipadukan dengan kata Truh berarti memutus hujan. Semuanya sama-sama memungkinkan, meskipun dalam tafsirnya sebagai “memutus hujan” semestinya ditulis Megattruh dengan double fonem /t/. Penghilangan fonem konsonan ganda yang mengakhiri dan mengawali satu kata bukan suatu yang aneh dalam karya sastra. Dalam hal ini, catatan dari Peter Worsley dkk [2014] ketika mengkaji kakawin Sumanasantaka dapat dijadikan rujukan penting. Lain dari pada itu, penelusuran pemilihan pupuh Megatruh tetap tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Terkecuali, dalam tulisan ini pilihan tetap dijatuhkan pada terjemahan Awan Hujan [Mega Truh], sebab awan hujan itulah yang melalui sirkulasi tri kona, utpati-stiti-pralina.

Selain pemilihan pupuh itu, pemilihan kata-kata dalam penyusunan bait-bait Lungsir Petak tampak juga tidak sederhana.


warnanen sira sri bhupati, patitising sarat, ratna manik raden dhanu, nurageng rat siniwi, wibuhing bala brtya, tyaga ring swadharma, maka mukya wipradi, dipati mwang tanda mantra wira

wirosa ngemit siniwi, wihikan sabrtya kapwa anungkul, kulagotra subhakti, tinuru kadharmestan, tan wihang ring swadharma, marmanira amukti, tininggalin mrana lan lapa


Ada sebanyak empat bait puh demung sawit yang terjalin sebagaimana ditunjukkan dalam dua bait di atas. Untuk melihat hal ini, bisa dibandingkan dengan petikan Ramayana berikut.


guha peteng tang mada moha kasmala, maladi yolanya mageng maha wisa

wisata sang wruh wikanang jurang kali, kalingan ing sastra suluh nika prabha.

[bagai gua gelap kesombongan kebingungan dan kekotoran pikiran itu, ketidakbaikan adalah ular besar beracun, tenanglah ia yang mengetahui datangnya masa kehancuran, sebab ‘berlindung’ pada sastra yang bersinar]


Demikian jika Lungsir Petak dan Ramayana dibandingkan dalam hal tekhnik pemilihan kata-katanya. Setidaknya, ini membuktikan bahwa ungkapan ‘bukan karena tahu’ oleh Anwam Siwi adalah ungkapan yang diajarkan oleh tradisi. Dan sebagaimana tradisi, ungkapan itu juga menyembunyikan pengetahuan tentang ‘ketidaktahuan’. Sebagai akhir dari tulisan ini maka ungkapan Agastia [1987] yang agak panjang ketika membicarakan perihal Sastra, Keindahan, Kelepasan dipinjam.

Dalam studi sastra Jawa Kuna, existensi sang Penyair [baca: Kawi] menjadi hal yang sangat menarik. Mulai dari idea, filsafat hidup sampai pada kedudukan dan fungsinya dalam masyarakat adalah beberapa hal yang sangat menarik untuk diteliti. Apabila pada kesempatan ini kita mengadakan llirikan terhadap hal tersebut, sudah tentu antara lain dimaksudkan untuk lebih menumbuhkan “gairah kreativitas” para penyair kita. “Gairah kreativitas” yang bertumpu pada suatu filsafat hidup. [T[

Tags: kidungsastrasastra bali
Share34TweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Tuhan dan Sifat Pemuja

Next Post

Usai Menonton Tabu Project, Mana Yang Lebih “Tabu”?

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Usai Menonton Tabu Project, Mana Yang Lebih “Tabu”?

Usai Menonton Tabu Project, Mana Yang Lebih “Tabu”?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co