14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Usai Menonton Tabu Project, Mana Yang Lebih “Tabu”?

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
December 12, 2019
in Ulasan
Usai Menonton Tabu Project, Mana Yang Lebih “Tabu”?

Tabu Project, peraih hibah Seni Kelola 2019 dalam kategori kolaborasi. Pementasan berlangsung di Cush-Cush Gallery, Denpasar, Bali.

Sabtu, 7 Desember 2019 adalah hari kedua dilaksanakanya pementasan oleh Tabu Project, peraih hibah Seni Kelola 2019 dalam kategori kolaborasi. Pementasan berlangsung di Cush-Cush Gallery, Denpasar, Bali. Dalam lingkaran Tabu Project ada lima seniman muda yang bergerak dibidang berbeda, yang kemudian menjadikan dirinya satu pilar untuk membuat sebuah project yang dinamakan Tabu Project.

Dalam lingkaran tersebut diantaranya ada Ninus sebagai penari sekaligus choreographer, kemudian ada bli Wayan yang lebih akrab dipanggil Swoof One sebagai visual director, mbak Myra Juliarti sebagai costume designer, lalu ada Agha sebagai music composer, dan Gung Indra sebagai videographer. Lima muda-mudi tersebut adalah bagian inti dari Tabu Project, walaupun masih ada beberapa kawan yang ikut dalam kolaborasi tersebut menjadi penari yang tidak sempat saya ketahui namanya satu persatu.

Menonton Tabu Project jujur saja saya tidak mempunyai interpretasi apa-apa sebelumnya, karena saya sendiri memang tidak memikirkan hal tersebut seperti teman-teman lainya yang sudah mempunyai bayanganya sendiri soal pementasan Tabu Project ini. Saya boleh jadi mengatakan diri saya adalah salah satu penonton yang jujur, sebab saya tidak mengetahui betul apakah Tabu adalah sebuah judul naskah dari narasi-narasi yang hadir dari wacana yang dikerjakan. Atau sebuah lakon drama yang dikembangkan.

Dari rumah, saya hanya berniat menonton pentas sambil ngobrol dengan teman-teman, sebab memang yang biasanya saya pentingkan jika ada pentas adalah selain menonton pementasan yaitu pertemuan dengan orang lain dan ngobrol tentang apapun. Apalagi jika usai pentas ada sesi diskusinya. Ini akan menjadi nilai tambah buat saya sebagai penonton untuk sekiranya mengetahui dan dapat mendengar cerita dalam proses kreatif pementas.

Tapi saat pentas berlangsung karena terlalu jujurnya saya menjadi penonton, saya sama sekali tidak mengerti ini sedang mementaskan apa. Saya sempat berpikir di tengah jalanya pementasan arti kata Tabu, sangat susah untuk saya menjelaskan ketika menerima moment yang hadir tersebut begitu cepat di depan mata saya. Tapi sebagai penonton yang jujur dan terbuka saya tetap menikmatinya, bahkan sangat menikmati sekali. Sebab secara estetika bentuk gerakan tari dan kemudian visual yang hadir di depan mata memang sangat memanjakan. Jadi saya memutuskan untuk berhenti memikirkan soal Tabu, saya lebih memilih untuk menyaksikan tiap adegan yang diberikan oleh pementas.

Dari awal pementasan dimulai dengan masuknya enam penari berbaju serba hitam, yang menari sekiranya mungkin merespown video mapping dan musik yang ada, atau memang sudah terchoreographerkan sesuai narasi. Saya tidak juga ingin mencari jawaban tersebut. Sebab pikiran yang timbul jika bertanya-tanya soal adegan dengan mudah dialihkan dengan adegan selanjutnya. Ditambah video visual mapping yang ciamik.

Bahkan untuk mengedipkan mata saja saya tidak rela karena takut kehilangan moment indah yang hadir di depan mata saya. Walaupun lagi-lagi saya ingat, bahwa saya tidak mengerti ini pementasanya berbicara tentang apa. Sebab tak ada teks yang hadir, hanya potongan-potongan video yang menyimbulkan sesuatu tapi yang tetap juga tidak menyadarkan saya ini tentang apa.

Akhirnya pentas selesai dan ditutup dengan ruangan yang gelap secara keseluruhan. Tentu saja ditambah dengan keriuhan tepuk tangan penonton yang begitu keras, itu adalah simbul bahwa memang visual yang hadir sangat bagus. Saya tidak juga ingin kelewatan moment tersebut, saya ikut serta tepuk tangan dengan riuh sekaligus bahagia akhirnya setelah pementasan selesai saya sekiranya dapat memikirkan tentang hal yang baru saja saya saksikan. Selain itu, bahagia juga karena akhirnya saya dapat meluruskan kaki saya, sebab selama 50 menit pementasan berlangsung saya tanpa sadar hanya duduk bersila saja. Sudah tak dapat dibayangkan bagaimana setiap adegan tersebut melintas di depan saya. Jika boleh saya akan memberikan delapan jempol, tapi apa daya jempol saya hanya empat.

Kemudian setelah menghela nafas beberapa menit dan minum air serta nyemil sedikit yang tentu sudah disediakan di tempat pentas untuk penonton. Akhirnya ada pembawa acara yang menyadarkan saya akan hal yang baru saja hilang karena terlalu merasa lega, saya lupa untuk mencari tahu tentang pementasan tersebut. Untung saja ada pembawa acara yang menyadarkan akan ada sesi diskusi.

Akhirnya saat diskusi diadakan ada beberapa hal yang kemudian hadir dalam pikiran saya, tanpa saya sadari ternyata selama ini baru pertama kalinya saya menonton sebuah pementasan yang berwacana dan digali dengan jalan riset. Tapi dalam pembagian informasinya baik dalam sosial media ataupun dalam bentuk sebuah catatan seperti browser tidak ada sama sekali, alih-alih untuk membagikan data kecil kepada penonton atau lebih sederhanya sebuah sinopsis sebelum pentas.

Hanya ada poster dalam akun sosial media Tabu Project. Yang hanya berisi tanggal, tempat pentas, serta jam pementasan dimulai. Tidak lupa, tentu saja dengan visual yang tetap intensitas kebagusanya dijaga dengan kesadaran.

Saya baru sadar ketika sesi diskusi ada hal yang menjanggal saya, karena dalam menggali sebuah wacana apalagi disertai dengan riset tentu saja ada sebuah temuan yang kemudian nantinya dialih wahanakan menjadi sebuah narasi cerita untuk membangun sebuah adegan demi adegan. Lalu yang saya pertanyakan sekarang, kemana hasil data-data tersebut? Apalagi menariknya jika ini sebuah kolaborasi yang pasti bisa dikatakan mempunyai interpretasi yang berbeda dalam memandang wacana yang digarap. Saya baru saja sadar bahwa dari tadi saya mabuk dengan bentuk-bentuk yang hadir, sampai saya lupa dari mana asal usul narasi tersebut hadir dan menjadikanya bentuk semacam itu.

Sebab sebagai penonton yang tak hanya ingin menonton saja, saya merasa tidak puas ketika jejak-jejak tersebut harus dimaklumi oleh penonton hilang begitu saja. Lalu bagaimana menyusun proses kreatif, jika data tersebut dihilangkan dengan begitu saja. Akan tetapi pementasan tersebut katanya selalu mengalami perkembangan, bahkan empat jam sebelum pentas hari kedua berlangsung. Lalu bagaimana merumuskan atau merancang adegan baru jika data atau narasi tertulis tidak ada.

Kemudian saya sebagai penonton yang latar belakangnya aktor teater pastilah mempunyai rasa ingin tahu lebih, terutama kepada para pelaku di atas panggung. Pun demikian saya rasa dengan penonton lainya yang sekiranya mempunyai latar belakang yang sama dengan para anggota kolaborasi. Baik penonton yang latar belakangnya musik, visual mapping, ataupun videographer.

Saya yakin pasti ada penonton yang memang fokus menyaksikan lebih detail soal itu. Kemudian yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, dimana kami sebagai penonton yang kagum dan ingin sekiranya mengapresiasi karya tersebut bisa mendapatkan jejaknya. Atau sekiranya mungkin bisa membuat kelompok kolaborasi lagi pasca pentas dari data temuan yang ada kemudian dikembangkan.

Saya rasa akan menarik sekali jika semisal dapat mengintip rekam jejak dari tiap multi disiplin tersebut, agar tidak menjadi hanya sebatas penonton yang tepuk tangan lalu pulang dengan pemikiran yang kosong.

Menyoal Tabu sendiri saya sangat baru mengerti konteksnya ketika sesi diskusi. Konteks Tabu menjadi sangat begitu menakutkan bahkan lebih menakutkan mungkin dari hukum tradisi. Apa-apa yang Tabu tak boleh dipertanyakan sama sekali. Sebab kata Mbak Ninus sendiri, “Tabu itu tidak bisa dijelaskan dan disimpulkan artinya secara mudah”.

Jika benar demikian, tentu saja untuk mengetahui bahwa Tabu tidak mudah ditemukan artinya pasti ada sebuah proses pencarian panjang, sampai akhirnya menemukan jawaban tersebut. Lalu kemana proses panjang sebelum menemukan jawaban tersebut, apakah semata-mata bisa dijadikan sebagai simbul saja tanpa ada penjelasan yang megandeng untuk menghidupkan simbul tersebut. Mungkin jika saya tidak ikut sampai akhir diskusi lalu saya memilih pulang usai pentas, bisa jadi saya mempunyai interpretasi sendiri tentang pentas tersebut bukan lagi soal wacana dasar yaitu Tabu.

Sebab rasanya akan lebih menarik jika misal saya mengartikan pentas tersebut bagaimana situasi saat ini ketika kaum lelaki memperbutkan wanita. Apalagi ada potongan film yang memperlihatkan ayam yang sedang berkelahi atau seperti metajen dalam istilah Bali-nya. Kemudian konteks Tabu itu seolah hilang begitu saja dan tidak berarti.

Lalu pilihan soal identitas pendatang yang mencoba mencari identitas ke-Bali-anya dengan cara medekatkan diri dengan wacana Tabu, saya rasa sifat ke-Tabu-an itu sendiri tidak hanya berkembang dan dipercaya di Bali saja. Namun di daerah lain pasti terjadi hanya contoh kejadianya yang berbeda. Jika memang tujuanya menyoal identitas pendatang yang harus mengetahui tanah tempat tinggalnya, saya rasa mengangkat wacana Tabu bagi saya terlalu jauh lompatanya.

Sedangkan saya sendiri yang lahir dan besar di Bali masih jauh untuk memikirkan itu, jika saya boleh menawar mungkin saya akan mengangkat wacana calonarang misalnya. Yang lalu dikerjakan dengan riset panjang dan dengan data yang mudah dicari, sebab banyak bantuan buku-buku calonarang yang saya rasa akan sangat mudah membantu untuk mengumpulkan data. Lalu menjadikannya sebuah narasi yang gampang diterima dan dimengerti banyak orang. Bonusnya jika itu berhasil mungkin saja saya akan dipanggil ahli calonarang. Tapi itu hanya tawaran saja, bukan bermaksud apa-apa.

Tapi tetap saja Tabu Project hadir secara estetika bentuk memang sudah tidak dapat lagi untuk sekiranya dipermaslahkan, ditambah lagi para penarinya saya yakin adalah orang-orang yang memang sudah dalam bidangnya. Namun yang menjadi catatan penting adalah lagi-lagi sebuah data yang melahirkan apa yang terjadi diatas panggung. Agar ketika ditanya sekiranya sudah mudah untuk menimbang jawaban, agar tidak seperti menggurui.

Karena konteks diskusi adalah berbagi proses kreatif untuk sekiranya menjadi penyamangat kita di kalangan seniman muda untuk saling berbagi. Mungkin saja nanti sebab pertemuan ini yang akhirnya sedikit menyadarkan jejak proses kita, dan akhirnya menjadi kerja kolaborasi yang benar-benar kolaborasi. Semisal jika memang tidak dapat menangani dalam menggerakan atau management akun sosial media karena begitu sibuknya menyediakan yang lain. Ditambah jadwal latihan yang begitu ketat, kan bisa saja mengajak kolaborasi orang yang memang dalam bidangnya.

Atau jika kesulitan untuk menulis data-data hasil riset yang begitu banyak dengan pandangan yang berbeda-beda, bisa saja mengajak tim penulis kecil-kecilan misalnya, untuk mempetakan ulang hasil data tersebut untuk sekiranya menjadi tanggung jawab sebagai sebuah kelompok kolaborasi. “Apakah itu kurang kolaborasi dari segi kolaborasi? Hahahaa”, jadi buruan kakak-kakak tunggu apalagi kebetulan saya sangat bersedia jika semisal diajak belajar bersama dan membantu.

Seperti kata mbak Gita salah satu pihak Yayasan Kelola yang kebetulan hadir di pementasan tersebut juga sedikit mengingatkan, bahwa pentingnya soal penonton. Yang ternyata tanpa disadari dapat memberi energy yang baik dengan cara memberi timbal balik kepada pementas. Mungkin ini adalah salah satu cara saya untuk memberikan timbal balik tersebut, sekali lagi selamat kepada Tabu Project pementasanya sangat keren secara bentuk. Namun saya sedikit menyayangkan soal gagasan ide yang tak selesai secara maksimal.

Pernah melihat dalam film drama di tv ada sebuah adegan yang menunjukan ada sesosok mahkluk halus yang berbicara di sebelah telinga kanan dan kiri. Yang kiri biasanya identik dengan suruhan jahat, warnanya merah dan bertanduk.

Saya rasa apa yang saya tulis diatas itu adalah suruhan mahkluk halus disebelah kiri telinga saya yang harus diutarakan. Namun kata makhluk halus di sebelah telinga kanan saya yang identik baik dan bersayap waranya ptuih. Begini katanya, “mungkin saja biar sekalian sesuai sama wacananya, jadi sekalian saja semuanya dijadikan TABU. Penggagasnya sungguh berhasil dan totalitas bukan?” [T]

Tags: CushCush GalleryTeater
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Lungsir Petak dan Anwam Siwi

Next Post

Sisa Hujan Semalam

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Sisa Hujan Semalam

Sisa Hujan Semalam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co