14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moli

L Margi by L Margi
November 30, 2019
in Cerpen
Moli

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Cerpen L Margi

Hari ini Moli belum menyentuh makanan sama sekali. Dia hanya termenung sendirian di belakang pintu sambil menunggu hujan reda. Sangat terlihat keresahan di matanya, namun dia juga sangat takut sekali tubuhnya kuyup oleh air. Sama halnya ketakutanku padanya beberapa tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya dia menjadi sahabatku yang paling setia. Aku sangat paham sekali bagaimana perasaan takut itu mengikat pikiran kita.

Aku menghampirinya, membawakan segelas susu dan semangkuk makanan buatnya. Kudekati, kuusap tubuhnya. Tak ada suara riang seperti beberapa waktu lalu. Tak ada. Dia hanya menggeliat sambil mengedip-edipkan matanya yang terlihat lelah. Matanya menatapku seolah mengiba padaku agar aku membantunya. Lalu apa yang bisa aku perbuat? Hanya menenangkannya ketika dia mulai kebingungan. Meyakinkan bahwa dia tidak sendiri.

Usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin saja dia hanya menunggu giliran untuk pergi. Ya, siapa yang bisa menolak dijemput jika memang sudah saatnya. Segala yang datang pasti akan pergi dan segala yang hidup pasti akan mati. Semua makhluk hidup memang diberi hidup untuk merasakan kematian suatu hari nanti. Sama seperti aku dan Moli. Tugasku saat ini hanya memastikan agar Moli akan baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo,  anak kesayangannya yang masih berumur empat bulan. Pasti Milo juga sangat kesepian tanpa ibunya.

Aku memangku Moli, sedikit memaksa untuk meminum susunya. Kusendok dan kumasukkan pelan-pelan masuk ke mulutnya, “Seperti bayi saja, Kau.” Mungkin terdengar seperti ejekan, tapi tepatnya lebih prihatin tentang apa yang terjadi. Melihat keadaannya, aku menjadi merasa semakin takut menunggu dan bertemu hari esok.

Bagaimana manusia bisa tertidur sejenak saat malam dan terjaga keesokan harinya lalu berteriak pada diri sendiri di depan cermin: “Semangat pagi. Saatnya menjalani hidup yang absurd.” Menyemangati diri sendiri adalah hal yang paling mujarab sembari menunggu giliran kita dijemput. 

Tiba-tiba Moli berlari. Berhenti di bawah pohon dan memastikan apakah hujan sudah reda. “Sudahlah, Moli. Tidak usah keluar untuk mencari Milo lagi,” tubuhnya segera melesat pergi dan mengabaikan teriakanku. Tindakan yang sia-sia karena sebenarnya Moli tidak akan pernah bisa menemui Milo.

Satu hal lagi yang aku pahami kenapa dia mengabaikan sekelilingnya. Bahkan sekalipun bahaya yang mungkin saja menunggunya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau dia tidak ingin menemukan kesayangannya? Dia yang melahirkan dan beberapa bulan susu mengalir menjadi darah di tubuh Milo. Pasti Moli sangat tertekan. Dia merasa telah berbuat kesalahan terbesar ketika meninggalkan Milo sendirian dua bulan lalu. Tubuhnya yang masih rentan jatuh ke dalam selokan dan tak ditemukan. Milo tidak akan bisa bertahan.

***

Tak berapa lama setelah Moli menghilang dari pandangan, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Ia sudah cukup lama tak menjengukku. Ya, sudah enam bulan aku tidak menerima kunjungan dari siapapun. Mungkin mereka sudah bosan dan merasa aku sudah bisa menerima keadaan dan mengatasi diriku sendiri.

            “Bagaimana kabar Zen?” Tak ada jawaban dari seseorang di depanku. Ia hanya balik bertanya padaku, “Dimana, Moli? Biasanya dia menyambutku.”

“Dia mencari anaknya yang sebenarnya sudah mati. Menjelang malam nanti pasti dia akan kembali.”

“Kenapa sampai anaknya mati?” pertanyaan itu membuat aku gemetar

“Dia meninggalkan anaknya terjatuh ke dalam selokan sampai mati.”

 “Ceroboh sekali dia.”

            “Siapa yang tak pernah berbuat kesalahan?” Aku bergumam dengan mata berkaca-kaca.

Seseorang itu mulai berbicara tentang bagaimana, kenapa, seharusnya, dan penghakiman-penghakiman sepihak. Seseorang yang mulai mengambil alih tugas Tuhan. Aku mulai tidak nyaman dan memintanya pulang karena kebetulan jam berkunjung juga sudah habis.

            “Tetap jaga kesehatan. Tak ada yang bisa menolongmu kecuali Tuhan,” ucapan itu terdengar membosankan dan aku sebenarnya juga ragu apakah aku masih mempercayai hal itu. Aku hanya mengangguk karena aku tahu sebenarnya ia tak pernah ada niat buruk sedikitpun. Bahkan selalu baik padaku.

***

Sepi itu sangat memuakkan. Aku menamainya sebuah kutukan terlebih di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Sampai pada saat Moli mengangguku setiap malam dengan suaranya yang membuat telingaku sakit dan tubuhku panas dingin. Dia selalu berada di bawah jendela kamar yang berhadapan langsung dengan taman dan tidak akan pergi sampai aku memberinya guyuran air. Sebenarnya ada perasaan tak tega, tapi aku juga tidak bisa mengontrol ketakutanku pada binatang, lebih-lebih pada seekor kucing. 

Phobia yang tak beralasan. Aku juga tak pernah tahu alasannya kenapa phobia itu lenyap dan jadi begitu sayang dengan Moli. Pada akhirnya memutuskan untuk merawatnya dan menjadikan dia sebagai sahabat. Mungkin satu-satunya alasan adalah kami sama-sama memiliki rasa takut yang berlebihan. Takut kesendirian, pengabaian, ataupun ditinggalkan. Bahkan sering merasa tidak memiliki makna hidup. Ah, terlalu berlebihan rasanya. Apakah kucing juga bisa merasakan itu? Ketika muncul pikiran itu, aku melempar pertanyaan pada Moli,”Sebenarnya siapa menjaga siapa? Kau yang menjaga aku ataukah aku yang menjagamu?”, Tentu saja Moli hanya mengeong dan meringkuk di pahaku.  

 Akhirnya aku dan Moli tak menyoal hal itu. Kami saling menjaga. Sama seperti malam ini aku menunggunya kembali. Berharap mendengar suaranya yang manja karena menemukan kebahagiaan yang baru. Atau setidaknya melihat dia bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan bisa menemui Milo lagi.

Tapi kali ini aku melihat Moli masuk kamar dengan keadaan yang mengejutkan. Dia berjalan gontai dan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya. Sepertinya dia terbabrak sebuah kendaraan ketika di jalan. Apa mungkin dia sengaja menabrakkan dirinya karena putus asa? Duh, liar sekali pikiranku.

Bergegas kugendong dia, membersihkan darah yang masih segar, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setidaknya tubuhnya yang menggigil bisa hangat dan segera tertidur untuk melupakan kekecewaannya. Meskipun pikiranku kacau melihat keadaan Moli, tapi aku merasa dia akan baik-baik saja. Dia lebih kuat dari aku dan akan tetap baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo – anak kesayangannya.

***

“Semangat pagi, Moli. Mari kita mulai menemui hidup yang absurd ini,” Aku menggoyang-goyang perutnya yang tak gendut lagi. Tak ada reaksi, tak ada gerakan, dan Moli mulai membuatku panik. Beberapa menit aku tunggu respon dari tubuhnya tapi sia-sia saja. Sepertinya dia lebih awal dijemput daripada diriku.

Meskipun aku selalu ketakutan, marah, dan benci jika ditinggalkan tapi aku tidak menangis atas kepergiannya. Untuk apa? Toh aku sudah tahu semua makhluk akan saling meninggalkan satu sama lain. Hanya caranya saja yang berbeda-beda. Aku segera meminta bantuan pada seorang cleaning service rumah sakit untuk membantuku. Mencarikan tempat yang tidak terlalu jauh untuk menguburnya.

Dua hari setelah Moli pergi, aku melihat sekelebat wajah dalam kamar. Wajah itu muncul dari dalam pigura yang aku tempel di semua sisi dinding. Dalam pigura itu kami berdua nampak sangat akrab, tapi kenapa sepertinya dia tak mengenalku. Lalu apakah aku harus memperkenalkan diri lagi padanya? Apakah dia mau menggenggam tanganku atau bahkan memelukku? Apakah aku masih bisa melihat senyum seperti dalam pigura itu? Apakah…, apakah…, apakah…, apakah…

Tiba-tiba semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa selain melihat seutas tali menggantung dan berusaha memutus rantai hidup yang absurd. [T]

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Sanggar Seni Mangurupa: Mengeksplorasi Medium Beludru

Next Post

Hari Aids, 1 Desember – “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Hari Aids, 1 Desember - “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co