2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moli

L Margi by L Margi
November 30, 2019
in Cerpen
Moli

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Cerpen L Margi

Hari ini Moli belum menyentuh makanan sama sekali. Dia hanya termenung sendirian di belakang pintu sambil menunggu hujan reda. Sangat terlihat keresahan di matanya, namun dia juga sangat takut sekali tubuhnya kuyup oleh air. Sama halnya ketakutanku padanya beberapa tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya dia menjadi sahabatku yang paling setia. Aku sangat paham sekali bagaimana perasaan takut itu mengikat pikiran kita.

Aku menghampirinya, membawakan segelas susu dan semangkuk makanan buatnya. Kudekati, kuusap tubuhnya. Tak ada suara riang seperti beberapa waktu lalu. Tak ada. Dia hanya menggeliat sambil mengedip-edipkan matanya yang terlihat lelah. Matanya menatapku seolah mengiba padaku agar aku membantunya. Lalu apa yang bisa aku perbuat? Hanya menenangkannya ketika dia mulai kebingungan. Meyakinkan bahwa dia tidak sendiri.

Usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin saja dia hanya menunggu giliran untuk pergi. Ya, siapa yang bisa menolak dijemput jika memang sudah saatnya. Segala yang datang pasti akan pergi dan segala yang hidup pasti akan mati. Semua makhluk hidup memang diberi hidup untuk merasakan kematian suatu hari nanti. Sama seperti aku dan Moli. Tugasku saat ini hanya memastikan agar Moli akan baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo,  anak kesayangannya yang masih berumur empat bulan. Pasti Milo juga sangat kesepian tanpa ibunya.

Aku memangku Moli, sedikit memaksa untuk meminum susunya. Kusendok dan kumasukkan pelan-pelan masuk ke mulutnya, “Seperti bayi saja, Kau.” Mungkin terdengar seperti ejekan, tapi tepatnya lebih prihatin tentang apa yang terjadi. Melihat keadaannya, aku menjadi merasa semakin takut menunggu dan bertemu hari esok.

Bagaimana manusia bisa tertidur sejenak saat malam dan terjaga keesokan harinya lalu berteriak pada diri sendiri di depan cermin: “Semangat pagi. Saatnya menjalani hidup yang absurd.” Menyemangati diri sendiri adalah hal yang paling mujarab sembari menunggu giliran kita dijemput. 

Tiba-tiba Moli berlari. Berhenti di bawah pohon dan memastikan apakah hujan sudah reda. “Sudahlah, Moli. Tidak usah keluar untuk mencari Milo lagi,” tubuhnya segera melesat pergi dan mengabaikan teriakanku. Tindakan yang sia-sia karena sebenarnya Moli tidak akan pernah bisa menemui Milo.

Satu hal lagi yang aku pahami kenapa dia mengabaikan sekelilingnya. Bahkan sekalipun bahaya yang mungkin saja menunggunya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau dia tidak ingin menemukan kesayangannya? Dia yang melahirkan dan beberapa bulan susu mengalir menjadi darah di tubuh Milo. Pasti Moli sangat tertekan. Dia merasa telah berbuat kesalahan terbesar ketika meninggalkan Milo sendirian dua bulan lalu. Tubuhnya yang masih rentan jatuh ke dalam selokan dan tak ditemukan. Milo tidak akan bisa bertahan.

***

Tak berapa lama setelah Moli menghilang dari pandangan, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Ia sudah cukup lama tak menjengukku. Ya, sudah enam bulan aku tidak menerima kunjungan dari siapapun. Mungkin mereka sudah bosan dan merasa aku sudah bisa menerima keadaan dan mengatasi diriku sendiri.

            “Bagaimana kabar Zen?” Tak ada jawaban dari seseorang di depanku. Ia hanya balik bertanya padaku, “Dimana, Moli? Biasanya dia menyambutku.”

“Dia mencari anaknya yang sebenarnya sudah mati. Menjelang malam nanti pasti dia akan kembali.”

“Kenapa sampai anaknya mati?” pertanyaan itu membuat aku gemetar

“Dia meninggalkan anaknya terjatuh ke dalam selokan sampai mati.”

 “Ceroboh sekali dia.”

            “Siapa yang tak pernah berbuat kesalahan?” Aku bergumam dengan mata berkaca-kaca.

Seseorang itu mulai berbicara tentang bagaimana, kenapa, seharusnya, dan penghakiman-penghakiman sepihak. Seseorang yang mulai mengambil alih tugas Tuhan. Aku mulai tidak nyaman dan memintanya pulang karena kebetulan jam berkunjung juga sudah habis.

            “Tetap jaga kesehatan. Tak ada yang bisa menolongmu kecuali Tuhan,” ucapan itu terdengar membosankan dan aku sebenarnya juga ragu apakah aku masih mempercayai hal itu. Aku hanya mengangguk karena aku tahu sebenarnya ia tak pernah ada niat buruk sedikitpun. Bahkan selalu baik padaku.

***

Sepi itu sangat memuakkan. Aku menamainya sebuah kutukan terlebih di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Sampai pada saat Moli mengangguku setiap malam dengan suaranya yang membuat telingaku sakit dan tubuhku panas dingin. Dia selalu berada di bawah jendela kamar yang berhadapan langsung dengan taman dan tidak akan pergi sampai aku memberinya guyuran air. Sebenarnya ada perasaan tak tega, tapi aku juga tidak bisa mengontrol ketakutanku pada binatang, lebih-lebih pada seekor kucing. 

Phobia yang tak beralasan. Aku juga tak pernah tahu alasannya kenapa phobia itu lenyap dan jadi begitu sayang dengan Moli. Pada akhirnya memutuskan untuk merawatnya dan menjadikan dia sebagai sahabat. Mungkin satu-satunya alasan adalah kami sama-sama memiliki rasa takut yang berlebihan. Takut kesendirian, pengabaian, ataupun ditinggalkan. Bahkan sering merasa tidak memiliki makna hidup. Ah, terlalu berlebihan rasanya. Apakah kucing juga bisa merasakan itu? Ketika muncul pikiran itu, aku melempar pertanyaan pada Moli,”Sebenarnya siapa menjaga siapa? Kau yang menjaga aku ataukah aku yang menjagamu?”, Tentu saja Moli hanya mengeong dan meringkuk di pahaku.  

 Akhirnya aku dan Moli tak menyoal hal itu. Kami saling menjaga. Sama seperti malam ini aku menunggunya kembali. Berharap mendengar suaranya yang manja karena menemukan kebahagiaan yang baru. Atau setidaknya melihat dia bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan bisa menemui Milo lagi.

Tapi kali ini aku melihat Moli masuk kamar dengan keadaan yang mengejutkan. Dia berjalan gontai dan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya. Sepertinya dia terbabrak sebuah kendaraan ketika di jalan. Apa mungkin dia sengaja menabrakkan dirinya karena putus asa? Duh, liar sekali pikiranku.

Bergegas kugendong dia, membersihkan darah yang masih segar, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setidaknya tubuhnya yang menggigil bisa hangat dan segera tertidur untuk melupakan kekecewaannya. Meskipun pikiranku kacau melihat keadaan Moli, tapi aku merasa dia akan baik-baik saja. Dia lebih kuat dari aku dan akan tetap baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo – anak kesayangannya.

***

“Semangat pagi, Moli. Mari kita mulai menemui hidup yang absurd ini,” Aku menggoyang-goyang perutnya yang tak gendut lagi. Tak ada reaksi, tak ada gerakan, dan Moli mulai membuatku panik. Beberapa menit aku tunggu respon dari tubuhnya tapi sia-sia saja. Sepertinya dia lebih awal dijemput daripada diriku.

Meskipun aku selalu ketakutan, marah, dan benci jika ditinggalkan tapi aku tidak menangis atas kepergiannya. Untuk apa? Toh aku sudah tahu semua makhluk akan saling meninggalkan satu sama lain. Hanya caranya saja yang berbeda-beda. Aku segera meminta bantuan pada seorang cleaning service rumah sakit untuk membantuku. Mencarikan tempat yang tidak terlalu jauh untuk menguburnya.

Dua hari setelah Moli pergi, aku melihat sekelebat wajah dalam kamar. Wajah itu muncul dari dalam pigura yang aku tempel di semua sisi dinding. Dalam pigura itu kami berdua nampak sangat akrab, tapi kenapa sepertinya dia tak mengenalku. Lalu apakah aku harus memperkenalkan diri lagi padanya? Apakah dia mau menggenggam tanganku atau bahkan memelukku? Apakah aku masih bisa melihat senyum seperti dalam pigura itu? Apakah…, apakah…, apakah…, apakah…

Tiba-tiba semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa selain melihat seutas tali menggantung dan berusaha memutus rantai hidup yang absurd. [T]

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Sanggar Seni Mangurupa: Mengeksplorasi Medium Beludru

Next Post

Hari Aids, 1 Desember – “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Hari Aids, 1 Desember - “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co