24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moli

L Margi by L Margi
November 30, 2019
in Cerpen
Moli

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Cerpen L Margi

Hari ini Moli belum menyentuh makanan sama sekali. Dia hanya termenung sendirian di belakang pintu sambil menunggu hujan reda. Sangat terlihat keresahan di matanya, namun dia juga sangat takut sekali tubuhnya kuyup oleh air. Sama halnya ketakutanku padanya beberapa tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya dia menjadi sahabatku yang paling setia. Aku sangat paham sekali bagaimana perasaan takut itu mengikat pikiran kita.

Aku menghampirinya, membawakan segelas susu dan semangkuk makanan buatnya. Kudekati, kuusap tubuhnya. Tak ada suara riang seperti beberapa waktu lalu. Tak ada. Dia hanya menggeliat sambil mengedip-edipkan matanya yang terlihat lelah. Matanya menatapku seolah mengiba padaku agar aku membantunya. Lalu apa yang bisa aku perbuat? Hanya menenangkannya ketika dia mulai kebingungan. Meyakinkan bahwa dia tidak sendiri.

Usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin saja dia hanya menunggu giliran untuk pergi. Ya, siapa yang bisa menolak dijemput jika memang sudah saatnya. Segala yang datang pasti akan pergi dan segala yang hidup pasti akan mati. Semua makhluk hidup memang diberi hidup untuk merasakan kematian suatu hari nanti. Sama seperti aku dan Moli. Tugasku saat ini hanya memastikan agar Moli akan baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo,  anak kesayangannya yang masih berumur empat bulan. Pasti Milo juga sangat kesepian tanpa ibunya.

Aku memangku Moli, sedikit memaksa untuk meminum susunya. Kusendok dan kumasukkan pelan-pelan masuk ke mulutnya, “Seperti bayi saja, Kau.” Mungkin terdengar seperti ejekan, tapi tepatnya lebih prihatin tentang apa yang terjadi. Melihat keadaannya, aku menjadi merasa semakin takut menunggu dan bertemu hari esok.

Bagaimana manusia bisa tertidur sejenak saat malam dan terjaga keesokan harinya lalu berteriak pada diri sendiri di depan cermin: “Semangat pagi. Saatnya menjalani hidup yang absurd.” Menyemangati diri sendiri adalah hal yang paling mujarab sembari menunggu giliran kita dijemput. 

Tiba-tiba Moli berlari. Berhenti di bawah pohon dan memastikan apakah hujan sudah reda. “Sudahlah, Moli. Tidak usah keluar untuk mencari Milo lagi,” tubuhnya segera melesat pergi dan mengabaikan teriakanku. Tindakan yang sia-sia karena sebenarnya Moli tidak akan pernah bisa menemui Milo.

Satu hal lagi yang aku pahami kenapa dia mengabaikan sekelilingnya. Bahkan sekalipun bahaya yang mungkin saja menunggunya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau dia tidak ingin menemukan kesayangannya? Dia yang melahirkan dan beberapa bulan susu mengalir menjadi darah di tubuh Milo. Pasti Moli sangat tertekan. Dia merasa telah berbuat kesalahan terbesar ketika meninggalkan Milo sendirian dua bulan lalu. Tubuhnya yang masih rentan jatuh ke dalam selokan dan tak ditemukan. Milo tidak akan bisa bertahan.

***

Tak berapa lama setelah Moli menghilang dari pandangan, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Ia sudah cukup lama tak menjengukku. Ya, sudah enam bulan aku tidak menerima kunjungan dari siapapun. Mungkin mereka sudah bosan dan merasa aku sudah bisa menerima keadaan dan mengatasi diriku sendiri.

            “Bagaimana kabar Zen?” Tak ada jawaban dari seseorang di depanku. Ia hanya balik bertanya padaku, “Dimana, Moli? Biasanya dia menyambutku.”

“Dia mencari anaknya yang sebenarnya sudah mati. Menjelang malam nanti pasti dia akan kembali.”

“Kenapa sampai anaknya mati?” pertanyaan itu membuat aku gemetar

“Dia meninggalkan anaknya terjatuh ke dalam selokan sampai mati.”

 “Ceroboh sekali dia.”

            “Siapa yang tak pernah berbuat kesalahan?” Aku bergumam dengan mata berkaca-kaca.

Seseorang itu mulai berbicara tentang bagaimana, kenapa, seharusnya, dan penghakiman-penghakiman sepihak. Seseorang yang mulai mengambil alih tugas Tuhan. Aku mulai tidak nyaman dan memintanya pulang karena kebetulan jam berkunjung juga sudah habis.

            “Tetap jaga kesehatan. Tak ada yang bisa menolongmu kecuali Tuhan,” ucapan itu terdengar membosankan dan aku sebenarnya juga ragu apakah aku masih mempercayai hal itu. Aku hanya mengangguk karena aku tahu sebenarnya ia tak pernah ada niat buruk sedikitpun. Bahkan selalu baik padaku.

***

Sepi itu sangat memuakkan. Aku menamainya sebuah kutukan terlebih di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Sampai pada saat Moli mengangguku setiap malam dengan suaranya yang membuat telingaku sakit dan tubuhku panas dingin. Dia selalu berada di bawah jendela kamar yang berhadapan langsung dengan taman dan tidak akan pergi sampai aku memberinya guyuran air. Sebenarnya ada perasaan tak tega, tapi aku juga tidak bisa mengontrol ketakutanku pada binatang, lebih-lebih pada seekor kucing. 

Phobia yang tak beralasan. Aku juga tak pernah tahu alasannya kenapa phobia itu lenyap dan jadi begitu sayang dengan Moli. Pada akhirnya memutuskan untuk merawatnya dan menjadikan dia sebagai sahabat. Mungkin satu-satunya alasan adalah kami sama-sama memiliki rasa takut yang berlebihan. Takut kesendirian, pengabaian, ataupun ditinggalkan. Bahkan sering merasa tidak memiliki makna hidup. Ah, terlalu berlebihan rasanya. Apakah kucing juga bisa merasakan itu? Ketika muncul pikiran itu, aku melempar pertanyaan pada Moli,”Sebenarnya siapa menjaga siapa? Kau yang menjaga aku ataukah aku yang menjagamu?”, Tentu saja Moli hanya mengeong dan meringkuk di pahaku.  

 Akhirnya aku dan Moli tak menyoal hal itu. Kami saling menjaga. Sama seperti malam ini aku menunggunya kembali. Berharap mendengar suaranya yang manja karena menemukan kebahagiaan yang baru. Atau setidaknya melihat dia bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan bisa menemui Milo lagi.

Tapi kali ini aku melihat Moli masuk kamar dengan keadaan yang mengejutkan. Dia berjalan gontai dan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya. Sepertinya dia terbabrak sebuah kendaraan ketika di jalan. Apa mungkin dia sengaja menabrakkan dirinya karena putus asa? Duh, liar sekali pikiranku.

Bergegas kugendong dia, membersihkan darah yang masih segar, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setidaknya tubuhnya yang menggigil bisa hangat dan segera tertidur untuk melupakan kekecewaannya. Meskipun pikiranku kacau melihat keadaan Moli, tapi aku merasa dia akan baik-baik saja. Dia lebih kuat dari aku dan akan tetap baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo – anak kesayangannya.

***

“Semangat pagi, Moli. Mari kita mulai menemui hidup yang absurd ini,” Aku menggoyang-goyang perutnya yang tak gendut lagi. Tak ada reaksi, tak ada gerakan, dan Moli mulai membuatku panik. Beberapa menit aku tunggu respon dari tubuhnya tapi sia-sia saja. Sepertinya dia lebih awal dijemput daripada diriku.

Meskipun aku selalu ketakutan, marah, dan benci jika ditinggalkan tapi aku tidak menangis atas kepergiannya. Untuk apa? Toh aku sudah tahu semua makhluk akan saling meninggalkan satu sama lain. Hanya caranya saja yang berbeda-beda. Aku segera meminta bantuan pada seorang cleaning service rumah sakit untuk membantuku. Mencarikan tempat yang tidak terlalu jauh untuk menguburnya.

Dua hari setelah Moli pergi, aku melihat sekelebat wajah dalam kamar. Wajah itu muncul dari dalam pigura yang aku tempel di semua sisi dinding. Dalam pigura itu kami berdua nampak sangat akrab, tapi kenapa sepertinya dia tak mengenalku. Lalu apakah aku harus memperkenalkan diri lagi padanya? Apakah dia mau menggenggam tanganku atau bahkan memelukku? Apakah aku masih bisa melihat senyum seperti dalam pigura itu? Apakah…, apakah…, apakah…, apakah…

Tiba-tiba semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa selain melihat seutas tali menggantung dan berusaha memutus rantai hidup yang absurd. [T]

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Sanggar Seni Mangurupa: Mengeksplorasi Medium Beludru

Next Post

Hari Aids, 1 Desember – “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Hari Aids, 1 Desember - “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co