3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Moli

L Margi by L Margi
November 30, 2019
in Cerpen
Moli

Foto ilustrasi: Mursal Buyung

Cerpen L Margi

Hari ini Moli belum menyentuh makanan sama sekali. Dia hanya termenung sendirian di belakang pintu sambil menunggu hujan reda. Sangat terlihat keresahan di matanya, namun dia juga sangat takut sekali tubuhnya kuyup oleh air. Sama halnya ketakutanku padanya beberapa tahun lalu. Dan sampai pada akhirnya dia menjadi sahabatku yang paling setia. Aku sangat paham sekali bagaimana perasaan takut itu mengikat pikiran kita.

Aku menghampirinya, membawakan segelas susu dan semangkuk makanan buatnya. Kudekati, kuusap tubuhnya. Tak ada suara riang seperti beberapa waktu lalu. Tak ada. Dia hanya menggeliat sambil mengedip-edipkan matanya yang terlihat lelah. Matanya menatapku seolah mengiba padaku agar aku membantunya. Lalu apa yang bisa aku perbuat? Hanya menenangkannya ketika dia mulai kebingungan. Meyakinkan bahwa dia tidak sendiri.

Usianya sudah tidak muda lagi. Mungkin saja dia hanya menunggu giliran untuk pergi. Ya, siapa yang bisa menolak dijemput jika memang sudah saatnya. Segala yang datang pasti akan pergi dan segala yang hidup pasti akan mati. Semua makhluk hidup memang diberi hidup untuk merasakan kematian suatu hari nanti. Sama seperti aku dan Moli. Tugasku saat ini hanya memastikan agar Moli akan baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo,  anak kesayangannya yang masih berumur empat bulan. Pasti Milo juga sangat kesepian tanpa ibunya.

Aku memangku Moli, sedikit memaksa untuk meminum susunya. Kusendok dan kumasukkan pelan-pelan masuk ke mulutnya, “Seperti bayi saja, Kau.” Mungkin terdengar seperti ejekan, tapi tepatnya lebih prihatin tentang apa yang terjadi. Melihat keadaannya, aku menjadi merasa semakin takut menunggu dan bertemu hari esok.

Bagaimana manusia bisa tertidur sejenak saat malam dan terjaga keesokan harinya lalu berteriak pada diri sendiri di depan cermin: “Semangat pagi. Saatnya menjalani hidup yang absurd.” Menyemangati diri sendiri adalah hal yang paling mujarab sembari menunggu giliran kita dijemput. 

Tiba-tiba Moli berlari. Berhenti di bawah pohon dan memastikan apakah hujan sudah reda. “Sudahlah, Moli. Tidak usah keluar untuk mencari Milo lagi,” tubuhnya segera melesat pergi dan mengabaikan teriakanku. Tindakan yang sia-sia karena sebenarnya Moli tidak akan pernah bisa menemui Milo.

Satu hal lagi yang aku pahami kenapa dia mengabaikan sekelilingnya. Bahkan sekalipun bahaya yang mungkin saja menunggunya. Bagaimana bisa aku berpikir kalau dia tidak ingin menemukan kesayangannya? Dia yang melahirkan dan beberapa bulan susu mengalir menjadi darah di tubuh Milo. Pasti Moli sangat tertekan. Dia merasa telah berbuat kesalahan terbesar ketika meninggalkan Milo sendirian dua bulan lalu. Tubuhnya yang masih rentan jatuh ke dalam selokan dan tak ditemukan. Milo tidak akan bisa bertahan.

***

Tak berapa lama setelah Moli menghilang dari pandangan, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Ia sudah cukup lama tak menjengukku. Ya, sudah enam bulan aku tidak menerima kunjungan dari siapapun. Mungkin mereka sudah bosan dan merasa aku sudah bisa menerima keadaan dan mengatasi diriku sendiri.

            “Bagaimana kabar Zen?” Tak ada jawaban dari seseorang di depanku. Ia hanya balik bertanya padaku, “Dimana, Moli? Biasanya dia menyambutku.”

“Dia mencari anaknya yang sebenarnya sudah mati. Menjelang malam nanti pasti dia akan kembali.”

“Kenapa sampai anaknya mati?” pertanyaan itu membuat aku gemetar

“Dia meninggalkan anaknya terjatuh ke dalam selokan sampai mati.”

 “Ceroboh sekali dia.”

            “Siapa yang tak pernah berbuat kesalahan?” Aku bergumam dengan mata berkaca-kaca.

Seseorang itu mulai berbicara tentang bagaimana, kenapa, seharusnya, dan penghakiman-penghakiman sepihak. Seseorang yang mulai mengambil alih tugas Tuhan. Aku mulai tidak nyaman dan memintanya pulang karena kebetulan jam berkunjung juga sudah habis.

            “Tetap jaga kesehatan. Tak ada yang bisa menolongmu kecuali Tuhan,” ucapan itu terdengar membosankan dan aku sebenarnya juga ragu apakah aku masih mempercayai hal itu. Aku hanya mengangguk karena aku tahu sebenarnya ia tak pernah ada niat buruk sedikitpun. Bahkan selalu baik padaku.

***

Sepi itu sangat memuakkan. Aku menamainya sebuah kutukan terlebih di tempat yang tidak pernah kita inginkan. Sampai pada saat Moli mengangguku setiap malam dengan suaranya yang membuat telingaku sakit dan tubuhku panas dingin. Dia selalu berada di bawah jendela kamar yang berhadapan langsung dengan taman dan tidak akan pergi sampai aku memberinya guyuran air. Sebenarnya ada perasaan tak tega, tapi aku juga tidak bisa mengontrol ketakutanku pada binatang, lebih-lebih pada seekor kucing. 

Phobia yang tak beralasan. Aku juga tak pernah tahu alasannya kenapa phobia itu lenyap dan jadi begitu sayang dengan Moli. Pada akhirnya memutuskan untuk merawatnya dan menjadikan dia sebagai sahabat. Mungkin satu-satunya alasan adalah kami sama-sama memiliki rasa takut yang berlebihan. Takut kesendirian, pengabaian, ataupun ditinggalkan. Bahkan sering merasa tidak memiliki makna hidup. Ah, terlalu berlebihan rasanya. Apakah kucing juga bisa merasakan itu? Ketika muncul pikiran itu, aku melempar pertanyaan pada Moli,”Sebenarnya siapa menjaga siapa? Kau yang menjaga aku ataukah aku yang menjagamu?”, Tentu saja Moli hanya mengeong dan meringkuk di pahaku.  

 Akhirnya aku dan Moli tak menyoal hal itu. Kami saling menjaga. Sama seperti malam ini aku menunggunya kembali. Berharap mendengar suaranya yang manja karena menemukan kebahagiaan yang baru. Atau setidaknya melihat dia bisa menerima kenyataan bahwa tidak akan bisa menemui Milo lagi.

Tapi kali ini aku melihat Moli masuk kamar dengan keadaan yang mengejutkan. Dia berjalan gontai dan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya. Sepertinya dia terbabrak sebuah kendaraan ketika di jalan. Apa mungkin dia sengaja menabrakkan dirinya karena putus asa? Duh, liar sekali pikiranku.

Bergegas kugendong dia, membersihkan darah yang masih segar, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Setidaknya tubuhnya yang menggigil bisa hangat dan segera tertidur untuk melupakan kekecewaannya. Meskipun pikiranku kacau melihat keadaan Moli, tapi aku merasa dia akan baik-baik saja. Dia lebih kuat dari aku dan akan tetap baik-baik saja sampai dia bisa melupakan Milo – anak kesayangannya.

***

“Semangat pagi, Moli. Mari kita mulai menemui hidup yang absurd ini,” Aku menggoyang-goyang perutnya yang tak gendut lagi. Tak ada reaksi, tak ada gerakan, dan Moli mulai membuatku panik. Beberapa menit aku tunggu respon dari tubuhnya tapi sia-sia saja. Sepertinya dia lebih awal dijemput daripada diriku.

Meskipun aku selalu ketakutan, marah, dan benci jika ditinggalkan tapi aku tidak menangis atas kepergiannya. Untuk apa? Toh aku sudah tahu semua makhluk akan saling meninggalkan satu sama lain. Hanya caranya saja yang berbeda-beda. Aku segera meminta bantuan pada seorang cleaning service rumah sakit untuk membantuku. Mencarikan tempat yang tidak terlalu jauh untuk menguburnya.

Dua hari setelah Moli pergi, aku melihat sekelebat wajah dalam kamar. Wajah itu muncul dari dalam pigura yang aku tempel di semua sisi dinding. Dalam pigura itu kami berdua nampak sangat akrab, tapi kenapa sepertinya dia tak mengenalku. Lalu apakah aku harus memperkenalkan diri lagi padanya? Apakah dia mau menggenggam tanganku atau bahkan memelukku? Apakah aku masih bisa melihat senyum seperti dalam pigura itu? Apakah…, apakah…, apakah…, apakah…

Tiba-tiba semua gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa selain melihat seutas tali menggantung dan berusaha memutus rantai hidup yang absurd. [T]

Tags: Cerpen
Share31TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Sanggar Seni Mangurupa: Mengeksplorasi Medium Beludru

Next Post

Hari Aids, 1 Desember – “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

L Margi

L Margi

Alumnus Magister Pendidikan UNESA

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Hari Aids, 1 Desember - “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co