22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hari Aids, 1 Desember – “Pengalaman Sebagai Relawan Aids”

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
November 30, 2019
in Esai
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

 Indonesia menjadi salah satu negara yang termasuk dalam kawasan Asia Pasifik. Kawasan yang menduduki peringkat ketiga sebagai wilayah dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak di seluruh dunia dengan total penderita sebanyak 5,2 juta jiwa. Indonesia menyumbang angka 620.000 jumlah kasus. Propinsi Bali berada di peringkat ke-5 di Indonesia dengan 21.000 jumlah kasus dan kabupaten Buleleng dengan perkiraan tiga ribuan kasus menjadikannya sebagai kabupaten dengan jumlah kasus ke-3 terbanyak di Bali. Masalah sangat serius yang sebetulnya dihadapi oleh bangsa saat ini bukan saja penyebaran virus HIV itu sendiri, melainkan budaya buruk hipokrit. Ia telah menciptakan sebuah paradoks.

Kasus penderita Aids yang terus bertambah pesat di negeri yang sangat taat beragama, bahkan dengan kecenderungan fanatik. Apa yang salah dengan budaya hipokrit?

Budaya hipokrit atau sifat munafik adalah penyakit yang tak bergejala. Dalam dunia medis, persoalan serius muncul saat suatu penyakit berbahaya dan mematikan tak menunjukkan gejala dan tanda. Ambillah satu contoh klasik lain, hipertensi. Sebanyak 80% penderita penyakit ini tak menyadari penyakitnya, sebuah keadaan “hipokrit biologis”, bahkan saat tekanan darahnya melonjak sampai sistole 200 mm air raksa pun tak memberi keluhan apa-apa, suatu keadaan yang sangat mengancam. Teori inilah yang diadopsi dalam dunia intelejen, mengirim mata-mata atau eksekutor tanpa disadari lalu mengambil kesempatan untuk menusuk melumpuhkan. Budaya hipokrit sebuah bangsa jelas membawa dampak buruk untuk membangun atmosfir keterbukaan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sulit. Berikut satu implikasi sikap hipokrit yang berimbas pada lajunya penyebaran virus HIV.

Sikap seperti itu tanpa disadari telah menutupi mata kita akan realitas penyebab penyebaran virus HIV yang terutama adalah prilaku seks yang tidak aman. Satu prilaku yang menjadi kebutuhan dasar biologis setiap manusia. Lalu bisakah untuk mencegah penularan HIV kita cukup melarang seseorang melakukan seks? Atau mengharuskan melakukan seks hanya dengan satu pasangan saja? Bahkan di seluruh dunia sekalipun, fenomena biologis tak cukup berhasil dikendalikan dengan penekanan moralitas. Ia butuh pendekatan kemanusiaan dan bukan kesucian.

Maka semestinya kita tak malu-malu untuk melakukan pendidikan seks yang lebih lugas dan kampanye penggunaan kondom. Demikian pula pengalaman saya dalam menangani pasien-pasien Aids. Satu prinsip dasar yang dibutuhkan dalam penyembuhan yaitu sikap pasien menerima penyakitnya masih sangat sulit dalam budaya kita. Sebagian besar pasien masih sulit keluar dari fase denial. Ini pun bukan tanpa alasan, ini semua terjadi karena kita sebagai masyarakat, bahkan boleh dikatakan oleh keluarganya sendiri pun masih kerap mengucilkan mereka dalam ruang gelap stigmatisasi. Saya kembali menulis tentang Aids di hari Aids sedunia 1 Desember ini, sebelumnya telah ada dua tulisan terkait HIV/Aids dalam kolom ini berjudul “Anak-anak Kita dan HIV” dan “Tetap Sehat Dengan Kondom”.

Pengalaman Menjadi Relawan Aids

Saya termasuk orang beruntung, karena pernah bergaul dekat dengan kaum ODHA saat mereka masih tampak sangat sehat, karena telah terdeteksi pada stadium awal. Ketika itu infeksi HIV masih menjadi penyakit yang sangat mewah, di tahun sembilanpuluhan. Karena masih merupakan penyakit yang cukup langka dan selalu menjadi sorotan masyarakat. Lain halnya dengan keadaan sekarang saat penyakit ini telah berserakan hampir di setiap RS dan bukan lagi menjadi “barang mewah”. Saat itu, sepulang kuliah saya sering mengisi waktu bersama mereka,

ODHA yang masih begitu muda-muda untuk sharing keliling Bali berbagi soal HIV/Aids. Hal yang perlu dihargai dari mereka adalah, timbulnya motivasi yang kuat dari keterpurukaan dengan prinsip “Bagi kami saat ini bukanlah panjangnya hari, melainkan artinya hari”. Mereka paham, dengan tingkat kesembuhan yang rendah dan besarnya risiko infeksi opurtunistik (infeksi yang disebabkan karena penurunan daya tahan tubuh dalam lingkungan yang banyak kuman) hidup mereka takkan terlalu panjang. Maka dengan pengalaman buruk riil yang mereka alami akan menjadi pesan yang cukup kuat untuk generasi muda lain dalam komunitas untuk berprilaku lebih aman, syukur-syukur bisa bersikap lebih baik.

HIV Yang Unggul

Saat ini pun, bersama Yayasan Sesama Singaraja saya masih beruntung karena tetap dapat membantu pasien-pasien Aids, dalam pengobatan maupun memberi dukungan dalam berbagai hal. Bedanya saat ini pasien-pasien yang saya hadapi adalah mereka yang sudah dalam keadaan-keadaan sangat lemah dan sakit berat. Ini, sepertinya sesuai dengan teori tiga epidemi HIV yaitu pertama epidemi infeksi HIV pada kelompok penduduk Afrika sub Sahara, kedua epidemi penularan HIV ke seluruh dunia dan ketiga epidemi pasien-pasien pada fase Aids.

Seoalah-olah ini memang sebuah siklus yang saya pun harus jalani. Saat remaja dulu, pada masa kuliah saya berteman dengan ODHA yang tampak masih sehat, bersama-sama menjadi volunteer sebagai pendidik sebaya. Saat ini ketika sudah menjadi dokter ahli penyakit dalam, saya melayani mereka, ODHA yang sebagian besar dalam keadaan sangat buruk dalam ancaman kematian. Dalam kurun waktu dari awal sembilanpuluhan hingga sekarang (30 tahun), melihat keadaan seperti ini, rasanya kita harus mengakui kita telah gagal dalam penanggulangan penyebaran HIV. Virus ini tetap memimpin.Berbagai

Mitos

Serius, kita betul-betul kalah menghadapi virus bengal ini. Padahal dalam ilmu jasad renik (mikrobiologi), virus ini aslinya sedemikian rapuh. Mati seketika saat kena sinar matahari atau air sabun. Pastilah ada yang salah di sana, kenapa ia lestari bestari. Kita kalah karena tak betul-betul mau berhadapan dengan virus dan penyakit ini. Kita selalu mengucilkannya, menyangkal keberadaannya bahkan cuma mengarahkan kebencian.

Kita terus membangun lorong gelap stigma kepada penderitanya, menghindari mereka alih-alih memeluknya. Lorong gelaplah yang menumbuhkan mereka dengan subur, saat tak ada sinar mentari di sana. Bahkan takut memandikan jasad mereka yang sudah takkan menularkan apa-apa lagi. Mungkin akan ada obat-obat yang semakin hebat, namun tanpa kasih sayang dan spirit humanisme itu takkan cukup berarti. Stop Aids right now! [T]

Tags: AIDSHIVkesehatan
Share158TweetSendShareSend
Previous Post

Moli

Next Post

Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya

Kisah Penjaja Cinta dan Kesehatannya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co