12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Geliat Nusa Penida dan Penambal Borok Pariwisata

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
June 25, 2019
in Opini

Saya sadar sekarang, kenapa pariwisata (masih) begitu mempesona bagi sebagian kalangan masyarakat. Salah satunya mungkin karena begitu sumringahnya masyarakat di wilayah yang sebelumnya tak terjamah pariwisata, menyambut “dewa penolong” yang datang menghampiri mereka. Mereka sumringah karena telah ditemukan lokasi pariwisata yang bisa menguntungkannya. Layaknya sang mesias yang menghadirkan perubahan derajat hidup bagi masyarakatnya. Semuanya disambut dengan gegap gempita. Hampir keseluruhan tatanan kehidupan diarahkan untuk mendukung zaman baru; era yang membuat kepala mereka tegak berhadapan dengan orang-orang yang sebelumnya berpandangan sebelah mata dan merendahkan.

Untuk beberapa saat, gegap gempita itu betul-betul terasa nikmatnya. Masyarakat berlomba-lomba untuk mengais rejeki dari kekayaan potensi pariwisata di daerah mereka. Generasi mudanya mendadak memutuskan untuk memilih jurusan pariwisata pada pendidikan sekolah menengah, diploma, maupun pendidikan tinggi. Arah pembangunan desa juga menyesuaikan dengan potensi yang baru ditemukan ini. Program-program pembangunan desa dan pekrimik (perbincangan sehari-hari) di tengah masyarakat tidak lepas dari konteks itu. Bagaimana berlomba-lomba memantaskan diri dan ambil bagian dalam dunia pariwisata. Kontestasi dan gengsi masyarakat tidak terelakkan terjadi. Nusa Penida yang dalam sejarahnya adalah pulau pembuangan para pembangkang Kerajaan Klungkung kini bersalin rupa.

Pertaruhan

Medio Agustus 2018 lalu saya terkagum-kagum melihat perubahan di daerah Nusa Penida, Klungkung. Gugusan kepulauan yang terdiri dari Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan ini tersentuh bergantian oleh pariwisata. Nusa Penida (mungkin) menikmatinya terakhir. Salah satunya di Desa Sakti. Saya terkagum menyaksikan begitu subur tumbuhnya home stay dan restaurant yang dikelola oleh masyarakat Sakti sendiri. Sisanya, investor luar Bali dan warga negara asing menanamkan modalnya.

Pembangunan fasilitas pariwisata berlangsung gencar di kawasan Nusa Penida (foto: I Ngurah Suryawan)

Hidup masyarakatnya berubah drastis. Dulu, seingat saya, seorang tetangga di sebelah rumah di Denpasar berasal dari Nusa Gede (nama lain Nusa Penida). Ia sering sekali memberikan buah tangan berupa lengis tanusan (minyak kelapa) dalam air mineral kemasan. Katanya, orang-orang di Nusa Gede kesehariannya mencari buah kelapa yang tumbuh subur kemudian diolah menjadi lengis tanusan. Lenis tanusan inilah yang kemudian dijual di pasar-pasar desa untuk sekadar membeli beras dan kebutuhan dapur. Salah satu desa yang menjadi penghasil lengis tanusan itu adalah Desa Sakti. Tentu itu dulu. Kini, sepintas saya lihat, penghasil lengis tanusan berubah menjadi pengawai bahkan sebagai villa dan restaurant. Mereka berubah orientasi kehidupan. Modal masyarakat lokal mempunyai tanah sangatlah berarti. Jika tidak sanggup berdiri sendiri, mereka biasanya akan bekerjasama dengan orang lain untuk membangun penginapan sederhana.   

Bagi daerah-daerah pesisir, belum lekang dalam ingatan, jika rumput laut pernah mengalami masa kejayaan di tiga gugusan pulau itu (Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan). Kisah-kisah sukses petani rumput laut yang berhasil mensarjanakan anaknya bukanlah hal baru. Sebelum menjulang namanya dengan pariwisata seperti sekarang, Pulau Nusa termasyhur dengan petani dan produksi rumput lautnya. Namun kini itu hanya kenangan. Ada keinginan untuk merengkuh kembali kejayaan rumput laut, namun profesi masyarakat sudah kadung ngekoh (sudah malas) untuk berbasah-basahan di laut. Pekerjaan nelayan pun sudah mulai menyurut. Mereka santep (semangat) kalau menjadi pengemudi jukung (perahu) atau boat untuk snorkeling atau diving para wisatawan. Alasannya sederhana, uang cepat dalam genggaman. 


Boat dan jukung (perahu) parkir di laut untuk fasilitas wisata bahari di Nusa Penida (foto: I Ngurah Suryawan)

Setelah Nusa Lembongan (Jungut Batu dan Tanjung Sanghyang) dan Nusa Ceningan yang lebih dahulu terjamah Pariwisata, kini giliran Nusa Penida. Salah satu contohnya adalah Desa Sakti, yang baru saja menggeliat pada awal tahun 2017. Made Sar, sebut saja begitu, salah satu tokoh penggerak pariwisata berkisah bahwa tidak mereka sangka, banyak orang-orang bule datang ke desa mereka. Mereka datang ke pantai-pantai yang berada di pesisir wilayah desa. Banyak memang pantai-pantai, tapi masyarakat tidak mempedulikannya. Padahal, di kemudian hari, pantai yang tidak mereka hiraukan itu menjadi sumber pendapatan mereka menggeruk dollar.

Tamu yang awalnya belasan orang datang silih berganti. Dengan sukarela, masyarakat mempersilahkan rumah mereka sebagai tempat istirahat dengan “harga ramah”. Beberapa yang tidak kebagian tempat penginapan memilih bermalam di pinggiran pantai. Gugusan pantai-pantai yang indah sebelumnya hanya menjadi klangenan warga akan hidup mereka yang terpencil dari pusat Kota Klungkung bahkan Denpasar. Terbantu oleh teknologi, keindahan pantai-pantai tersebut tersebar di masyarakat global. Pada akhirnya, potensi bahari yang secara alami mereka miliki mejadi sangat berharga. Menyadari potensi itu, masyarakat sekitar melihat peluang untuk memanfaatkan potensi alam tersebut. Maka perlahan-lahan, masyarakat mulai berani berhutang untuk membangun home stay, villa dan rumah makan sederhana sebagai awalnya.

Bungalow dan home stay berjamuran yang selalu diburu oleh wisatawan (foto: I Ngurah Suryawan)

“Terkenal sube nak Nusa wanen-wanen,” ungkap Made Sar. Orang-orang Nusa (Penida, Lembongan, dan Ceningan) terkenal dengan keberaniannya (meminjam uang untuk membangun fasilitas pariwisata). Mereka bertaruh. Mereka berlomba-lomba membangun villa dan infrastruktur pariwisata lainnya di bongkahan batu yang keras dan tebing-tebing curam. Mereka melihat emas yang akan menghidupi keluarga dan keturunannya. Bermilyar-milyar mereka membutuhkan uang untuk membangun sarana pendukung pariwisata. Mereka berani berhutang puluhan juta per bulan ke bank yang dengan senang hati memberikan pinjaman.

Pertaruhan mereka bukannya tanpa resiko. Ya, resikonya sangat besar dan menanti di depan mata. Pesona pariwisata begitu membius, tanpa pikiran panjang. Saya khawatir, menggeliatnya Nusa Penida menghadirkan begitu banyak resiko di kemudian hari, seperti juga gemerlap pariwisata pada umumnya. Tata ruang desa sontak berubah. Tempat primadona harus terus dipoles agar tampak menarik. Eksploitasi berlebihan akan mendatangkan masalah. Pada masa mendatang, orientasi dan pola pikir masyarakat juga pasti akan berubah. Orang-orang rakus yang mencari keuntungan di tengah kerumunan juga pasti akan tumbuh subur.

Mimpi mensejahterakan masyarakat melalui pariwisata, kini perlahan-lahan menjadi sebagian kenyataan di Nusa Penida. Bagaimana tidak, kini mereka bisa memegang uang puluhan juta per bulan dari usaha home stay, wisata bahari, dan restaurant. Luar biasa. Tapi pariwisata adalah hal yang rentan dan tidak berdiri sendiri. Jaminan keamanan dan situasi dunia sangat mempengaruhi, selain tentunya promosi. Bulan-bulan panen liburan adalah waktu yang dinanti. Jika tidak jeli untuk menyimpan keuntungan melimpah di bulan-bulan tersebut, bisa dipastikan akan kelabakan membayar utang kredit di bulan-bulan sepi. Pertaruhan mereka untuk menyandarkan kehidupan di pariwisata sangatlah besar.

Menambal Borok

Selain hal-hal yang bersifat fisik tersebut, tanpa disadari, pariwisata juga memproduksi cara berpikir dan berperilaku masyarakat. Dalam perbincangan yang lebih luas, barang yang bernama pariwisata dengan berbagai pirantinya, mengkonstruksikan politik kebudayaan sebuah diri dan komunitas, baik itu keluarga, desa, bahkan negara. Pada sisi lainnya, dari pariwisata—pembangunisme dalam konteks yang lebih luas—menghasilkan kelas sosial baru di tengah masyarakat yaitu golongan kelas menengah, para elit-elit baru. Para OKB (Orang Kaya Baru) atau nak buta tuben kedat (orang buta baru melihat)—sebuah perumpamaan untuk menunjukkan orang yang dulunya miskin mendadak menjadi kaya.

Pura Besakih, salah satu pura terpenting di Bali menjadi salah satu kawasan wisata (foto: I Ngurah Suryawan)

Satu hal lagi yang melekat dan mempunyai relasi khusus dengan pariwisata adalah kata sakti bernama kebudayaan. Boleh saja pengembangan destinasi menyasar berbagai lahan baru semisal ekowisata, wisata bahari, green tourism, yang konon merekognisi lingkungan dan sebagai antithesis dari mass tourism (pariwisata massal). Namun, kata kebudayaan lah juga yang menjadi kata kunci untuk menghidupkan pariwisata. Tidak heran hubungan yang sebenarnya diskursif sekaligus politis antara pariwisata dan kebudayaan disimplifikasi menjadi ideologi “pariwisata budaya”. Hal ini sudah harga mati. Tidak ada pertanyaan atau gugatan terhadap konsep yang masyarakat Bali yakini secara samar-samar ini.

Bali memiliki sejarah panjang hubungan yang tidak selalu harmonis antara pariwisata dan masyarakat seperti dibayangkan oleh pembuat konsep dan praktisi kebijakan Pariwisata Budaya. Jauh sebelumnya, Ngurah Bagus (2011) sudah mencatat bahwa transformasi dari pertanian ke pariwisata menyebabkan perubahan drastis secara fisik, dimana lahan-lahan pertanian disulap menjadi resort dan hotel megah, dan investor masuk melahap bentangan sawah sumber penghidupan petani. Lanskap geografis berubah dan relasi manusia dan situs-situs kebudayaannya juga ikut berubah.

Momen terpenting pariwisata massal adalah pada tahun 1980-an saat diberlakukannya deregulasi kebijakan penerbangan langsung ke Bali. Arus global tersebut kemudian direspon dengan membuka Bali untuk penanaman modal berskala besar di sector pariwisata pada akhir 1980. Pada waktu itulah industri pariwisata bercorak kapitalisme mulai berkembang dan pada akhirnya mencaplok sejumlah besar tanah rakyat Bali. Kondisi ini kemudian didukung dengan kebijakan lokal dengan dikeluarkannya SK Gubernur Bali No. 528/1993 yang menentukan 21 kawasan wisata yang siap dijual untuk meningkatkan PAD. Saat itulah kebijakan tersebut akhirnya tertuang dalam Perda No. 4 Tahun 1996 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Pasca itulah Bali seperti diguyur air bah investor pariwisata yang melahap tanah-tanah Bali.

Salah satu dampak —kalau tidak dikatakan borok pariwisata yang menyeruak halus bagai jin adalah membentuk identitas diri, cara berpikir, dan perilaku orang Bali. Pada saat itulah bermunculan istilah “jangan melawan arus” saat rezim otoritarian Orde Baru berkuasa melalui pembangunan nasional dan pariwisata budayanya di Bali. Pada saat itu juga orang-orang Bali lekat dengan istilah Koh Ngomong (malas/segan berbicara), Nyangut (mencari selamat), dan Mecik Manggis (pura-pura menghormat sehingga dapat menarik perhatian atasan). Pada titik inilah masyarakat Bali hanya dianggap sebagai massa, bukan rakyat yang berdaulat dan bermartabat untuk memperjuangkan hak dan kepentingannya (Ngurah Bagus, 2011: 614-616; Siegel, 1993).    

Menggeliatnya kawasan Nusa Penida bagi saya seolah menambal borok jejak pariwisata di pulau ini. Ketersingkiran manusia, kerusakan lingkungan, dan “biaya sosial budaya” sebagai “museum pertunjukan pariwisata” membawa pengaruh luar biasa dalam perubahan kehidupan manusia Bali. Berbagai komponen pariwisata, termasuk akademisi ahli pariwisata, mencari peluang-peluang baru untuk memodifikasi dunia pariwisata yang terlanjur menjadi panglima dan dianggap menjadi jantung kehidupan ekonomi masyarakat Bali. Kita pun mengerti bahwa tidak mungkin manusia bisa hidup hanya dengan jantung. 


Saya masih ingat sekali, Santikarma (2004) dalam esainya Pentas Antropologi di Indonesia, mengungkapkan bahwa ada relasi yang rumit antara kebudayaan, kekerasan, dan kekuasaan yang coba disederhanakan oleh rezim pariwisata budaya. Antropologi sebagai salah satu ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan, dalam konteks Bali, bisa diuangkan melalui industri pariwisata. Pada masa colonial orang-orang asing datang ke Bali untuk transaksi rempah-rempah dan budak. Kini, wong sunantara (orang luar, wisatawan) datang membeli komoditas yang dinamakan kebudayaan. Para antropolog, seniman, budayawan, bahkan pelaku bisnis seni dan budaya, bisa menjadi juragannya. Untuk itulah, di Bali, untuk menyambut kedatangan pembawa devisa, berjamurlah sekolah pariwisata maupun perguruan tinggi yang menawarkan “kurikulum kebudayaan” oleh insan-insan akademis. Di sinilah terletak benang kusut antara pengetahuan, takhta, dan uang.      

Fasilitas transportasi yang cepat dari Denpasar menuju Nusa Penida dan Nusa Lembongan sangat mempengaruhi perkembangan pariwisata (foto: I Ngurah Suryawan)

Geliat yang saya lihat di Sakti, Nusa Penida memang pertanda baik, namun saya tidak lepas dari kekhawatiran. Pembangunan yang merusak lingkungan dan hadirnya investasi yang menyingkirkan masyarakat tempatan selalu membayang. Memang bukan kini, tapi kelak. Kini, memang tampak mempesona. Namun kelak, selalu saja ada ironi dari pertaruhan masyarakat Sakti, Nusa Penida, bahkan destinasi sebelumnya yang kini mungkin sudah jenuh dan meninggalkan borok. Entah mengapa saya selalu sinis melihat pesona pariwisata. Saya kok melihatnya bagai candu. Membius tapi sekaligus melumpuhkan [T]

Peguyangan, Juni 2019  

Tags: balidesa wisataNusa LembonganNusa PenidaPariwisatawisata
Share218TweetSendShareSend
Previous Post

Festival Tepi Sawah: Performing Arts In Nature

Next Post

Jika PPDB Zonasi, Jangan-jangan Jodoh juga Zonasi?

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Jika PPDB Zonasi, Jangan-jangan Jodoh juga Zonasi?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co