12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Wayan Junaedy by Wayan Junaedy
April 22, 2019
in Khas
Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Penulis gembira dalam acara Gietman Mountain Bike 2019 (Foto-foto Istimewa)

Waktu menunjukkan pukul 6.30 ketika saya hadir di banjar itu. Masih pagi. Beberapa lampu di depan rumah penduduk masih kelihatan menyala, walaupun matahari pagi sudah mulai menerangi. Saya memarkir mobil di depan rumah Pak Made Susana. Segera berkemas. Memakai sepatu cleat. Mengeluarkan sepeda gunung dan perlengkapan dari mobil.

Pintu gerbang rumah Pak Made Susana terbuka. Tuan rumah tersenyum hangat menyapa.  Ternyata di dalam rumah sudah ada Pak Wayan Tirtayasa, peserta yang jauh-jauh datang dari Ubud. Beliau duduk santai di bale bengong, menyeruput kopi sambil mendengar gemericik air kolam. Kami bersalam-salaman, seperti beberapa sahabat yang bertahun-tahun tidak jumpa.

Para peserta Gietman sudah mulai berdatangan melewati rumah Pak Made Susana. Mobil pick up membawa beberapa sepeda gunung. Ambulan, serta mobil patwal dari polsek setempat, lewat.  Banjar Selemadeg Bale Agung itu menjadi ramai, bergemuruh sepagi itu. Mobil-mobil parkir di pinggir jalan, mengular ke utara.Titik kumpul di wantilan banjar, karena peserta akan dilepas di depan wantilan. Kami menyeruput kopi susu di bale bengong Pak Made Susana, ngobrol ngalor-ngidul, dari tema sepeda sampai tanaman-tanaman. Kebetulan di rumah Pak Made ada banyak tanaman buah dalam pot.

Kemudian kami pun bergegas ke wantilan, karena ada sejumlah urusan administrasi, seperti menanda-tangani daftar absensi yang sudah tercetak nama para peserta, sambil mengambil nomer urut untuk dipasang di stang sepeda dan punggung. Peserta semakin banyak yang datang. Di daftar ada 125 orang peserta. Sungguh ramai dan meriah. Acara itu menjadi tontonan warga.

Para pemangku berdiri berjejer di depan pura Puseh, membawa tirta dan bija. Satu per satu para peserta nunas, sambil berdoa dalam hatiagar selamat nanti menempuh medan. Tirta yang segar dengan harum bunga menyusup ke kerongkongan. Kemudian pikiran jadi tenang setelah kami menelan bija, butir-butir beras yang penuh makna dan simbol. Beberapa butir bija kami letakkan di ajna cakra, di antara dua alis agak ke atas.

Kami berbaur di kerumunan para peserta. Ketemu dengan teman-teman lama seperti: Gede Sucaya, Gede Dika, Made Rendra, Putu Arief Sudarsana, Agus Erwan Diputra, Yudik Setiawan, Wayan Wisnaya, Gede Cakra, Kadek Dwipayana, Pak Made Suma, Agus Rumaja dan banyak lagi. Ngobrol dengan hangat sambil beberapa kali sefie.  

Kira-kira pukul 7.30, ketika semua peserta sudah betul-betul lengkap dan menanda-tangani daftar hadir, peserta Gietman Mountain Bike 2019 dilepas oleh Kelihan Adat banjar Selemadeg Bale Agung itu, didampingi Pak Wayan Kertayasa sebagai Ketua Yayasan Atlit Nusantara yang menggagas acara.

 Peleton sepeda bergerak ke utara, dipimpin Agus Erwan Diputra sebagai marshal. Nampak gunung Batukaru yang biru jauh di utara sana, berdiri gagah. Cuaca cerah dengan langit biru. Pagi yang sejuk. Di sepanjang jalan melewati perkampungan, kami jadi tontonan warga yang ramah. Anak-anak kecil melambaikan tangan dengan raut wajah gembira. Ibu-ibu ngumpul di warung menonton kami. Seseorang mengambil video secara sembunyi-sembunyi dari balik pagar rumahnya, lewat sebuah smartphone.

Jalan desa itu mulus ke utara. Di kanan-kiri nampak hamparan sawah, berlembah-lembah, dengan padi yang sudah mulai merunduk dan menguning. Sebentar lagi akan panen. Inilah Tabanan, sebagai lumbung padinya Bali. Petani-petani semangat menanam padi, walaupun harga gabah sering jatuh.

Peleton berbaris rapi ke utara. Di kilometer 3, tiba-tiba seorang peserta mendahului marshal. Dia kayuh sepeda sekencang-kencangnya meninggalkan rombongan. Padahal tadi pihak panitia sudah memberi saran, jangan dulu ngebut di awal, karena medan sepanjang 38 kilometer itu sangat berat. Betul saja, kira-kira di kilometer 6, saat medan sudah mulai menanjak, ada jalan yang terputus sehingga kami harus menggendong sepeda melewati sungai, peserta yang ngebut tadi itu duduk di rumput dengan napas terengah-engah. Makanya, bersepeda itu tidak perlu emosi, jangan kebanyakan show…hehehe

Di kilometer 8 ada sebuah tanjakan curam yang panjang. Jalan menuju Desa Pupuan Sawah. Betul-betul sebuah tantangan kardio. Saya berusaha menaklukkannya. Pelan-pelan saja, akhirnya bisa sampai di atas, walaupun tadi jam tangan saya sempat bergetar memberi peringatan bahwa saya telah melewati batas heart rate.

Personil Suma Bike Cycling Club

Iya, bukan Gietman namanya kalau medannya biasa-biasa. Ini bukan acara fun bike untuk pemula. Di daerah Pupuan Sawah itu banyak tanjakan. Tanjakan seperti tak habis-habisnya. Sempat terhibur karena ada turunan, tapi beberapa menit kemudian kami harus menghadapi tanjakan lagi. Peserta banyak juga yang mengeluh, karena tak menyangka medannya seberat itu.

Di antara napas yang memburu, tubuh yang hangat dan basah oleh keringat, kalori yang terbakar, energi yang hampir habis, saya sangat terhibur ketika melihat pemandangan yang indah-indah. Menyusuri hamparan persawahan hijau dengan padi-padi setengah umur yang bergoyang-goyang dipermainkan angin. Keluar masuk tegalan kelapa, coklat, cengkeh dan manggis dengan jalan yang sudah dibeton.

Kelihatanlah efek dari kucuran dana desa yang sekarang telah merata dan menyentuh daerah-daerah terpencil. Kemudian saya bertemu sungai-sungai, yang mengalirkan airnya yang bersih dan murni. Terasa sejuk memandangi aliran air itu dengan suara gemericik, sehingga lelah pun bisa sedikit terobati.

Beberapa kali saya menyeberangi sungai yang dangkal, dengan batu-batu besar, mungkin peninggalan letusan gunung Batukaru puluhan tahun lalu. Di tengah sungai, di atas bebatuan sempat juga saya selfie sendiri, tapi buru-buru bergegas lagi, takut karena konon di sungai banyak mahluk wong samar …hehehe. Terus suara burung. Suara nongcret, sejenis serangga yang sudah langka. Paduan suara dari hewan-hewan itu menambah keindahan alam.

Di kilometer 10, rombongan kami sudah tercerai-berai. Sekarang semua biker menyesuaikan diri dengan kemampuan stamina masing-masing. Sepanjang jalan itu saya seperti orang yang bersepeda sendiri. Yang kuat-kuat sudah jauh di depan tak terkejar, sementara yang di belakang masih banyak. Saya mengamati tanda penunjuk arah setiap kali ada pertigaan, supaya tidak tersesat. Panitia sudah bekerja dengan sangat profesional. Tanda-tanda penunjuk arah begitu jelas.

Di jalan saya beberapa kali bertemu dengan para petani. Mereka ramah-ramah.

“Saking napi, Pak?” tanya seorang petani.

Saya menghentikan sepeda.  “Tiang saking Marga, Pak,” jawab saya.

“Ngiring simpang!” Petani itu tersenyum ramah.

Begitulah. Keramahan menyapa kami.  Alam yang murni dengan penduduk yang bersahabat. Kami melewati Desa Pupuan Sawah, Wanagiri, Kemetug Kanciana, Manik Yang, Sesandan, dengan jalan muter-muter. Naiknya menukik, kemudian menurun dengan curam.

Jelajahi medan di daerah Wanagiri, Selemadeg

Di Segment Strava sepanjang 3 kilometer, tenaga saya betul-betul hampir habis. Karbohidrat sudah terbakar menjadi energi, yang tersisa sepertinya masih sedikit di tubuh. Untunglah tadi sempat mengambil logistik di check point pada kilometer 18, dua buah pisang dan sekaleng Pocari Sweat.

Para peserta memacu sepedanya di Segment Strava ini, karena siapa yang finis dengan waktu terpendek, dialah pemenang.  Strava adalah aplikasi bersepeda yang terhubung dengan GPS. Saya memang tidak ikut balapan. Rasanya bisa finis dengan sehat saja, itu sudah cukup. Biarlah yang kuat-kuat mengadu otot, stamina dan napas. Saya mengambil jalur kiri, memberi jalan para atlit itu balapan. Jalur di Segment Strava  ini lebih parah lagi. Jalannya menanjak tak habis-habis. Saat itu sekitar pukul 11 siang. Matahari mulai menyengat. Tapi dengan kerimbunan pohon-pohon di kanan kiri, kami pun terlindung dari panasnya sinar matahari.


BACA JUGA:

  • Gietman Mountain Bike 2019: Bersepeda di Alam, Menaklukkan Alam, Mencintai Alam…

Setelah melewati Segment Strava, jalannya mulai datar.  Sebuah tanda panah berisi red line bertuliskan Polygon dari sponsor memberi arah kanan. Jalan pun mulai menurun. Rasa lelah setelah karbohidrat terkuras, sekarang memberi kami sedikit waktu untuk mengistirahatkan tubuh. Menurun dan menurun. Tapi hati-hati, jalan beton yang berlumut itu licin. Seminggu yang lalu seorang panitia sempat jatuh di sini saat ngecek medan.

Melewati air terjun, saya istirahat sebentar ketika melihat rombongan Gede Cakra sedang ngopi di sebuah warung kecil. Saya beli pop mie. Lapar sudah memberi tanda di lambung. Karbohidrat yag terkuras, sekarang harus diisi lagi. Beberapa teman mandi di air terjun.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Saat itulah kami bertemu dengan hamparan sawah hijau yang sangat indah. Terasering berundak-undak. Padi setengah umur yang bergoyang dipermainkan angin. Ini seperti harta karun yang tersimpan di Selemadeg ini.

Menjelajahi sisi sawah di wilayah Pupuan Sawah

 Sebenarnya paket wisata sepeda bisa dibuat di jalur yang sangat indah ini. Mungkin setelah acara Gietman ini, jalur ini semakin banyak dikunjungi para penghobi sepeda. Dan paket wisata pun bisa dijual kepada para wisatawan, sehingga mereka bisa mengunjungi Bali dengan banyak pilihan dan tujuan. Memang paket wisata bersepeda sekarang sudah semakin marak dengan jalur Ubud dan sekitarnya, tapi belum ada yang menyentuh Selemadeg. Padahal kecamatan di barat Tabanan ini menyimpan potensi pariwisata yang bisa diunggulkan.

Beberapa menit kami di sini. Selfie bersama-sama. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan , sambil menghirup oksigen yang bersih. Sejuk dan segar. Pemandangan yang membuat hati tersenyum. Semoga saja sawah-sawah itu tetap terjaga seperti sekarang. Sebab sawah adalah masa depan kita.

Sedikit menanjak di Desa Manik Yang, kemudian kami meluncur ke selatan dengan jalan hot mix yang mulus dan menurun. Tiba di wantilan Banjar Selemadeg Bale Agung itu kembali. Membuka makan siang bersama-sama. Panitia tak henti-henti mengingatkan kepada kami agar menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik yang sangat merusak lingkungan. Karbohidrat dan protein kembali terisi ke tubuh saya yang betul-betul kelelahan. Irisan semangka yang menyegarkan kerongkongan. Sekaleng Pocari Sweat untuk mengembalikan ion tubuh.

Nama-nama juara di Segment Strava diumumkan oleh panitia. Ada juara di kategori Elite, Master dan Junior. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Di akhir acara Pak Wayan Kertayasa mengucapkan banyak terima kasih kepada para sponsor seperti: Polygon, toko sepeda Rodalink Denpasar, Coco Group, Bank Woori Saudara. Atas kerja sama para sponsor, acara Gietman Mountain Bike 2019 tersenggara dengan sukses. Dan juga Pak Wayan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Kelihan Adat Banjar Selemadeg Bale Agung, seluruh warga, pecalang dan para pemangku pura, serta para kru Gietman Foundation.  [T]

Tags: alambalap sepedagowesolahragasepedatabanan
Share306TweetSendShareSend
Previous Post

Pilihan Bertani, Demi Kekayaan atau Kebahagiaan Hidup?

Next Post

Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Wayan Junaedy

Wayan Junaedy

Lahir dan tinggal di kawasan Taman Margarana, Marga, Tabanan. Suka gowes, suka menulis, suka berteman

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co