24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Kardian Narayana by Kardian Narayana
April 23, 2019
in Ulasan
Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Personel 3akebuleleng

Belum tau ya? Band #akebuleleng telah meluncurkan album kedua yang diberi judul “Semangat Berkarya”. Oh, sudah tahu? Hahahaha, tulisan ini memang telat.

Album kedua ini diluncurkan pada tanggal 31 Maret 2019. Dalam albumnya terdapat sembilan lagu. Album kedua #akebuleleng diluncurkan dalam bentuk fisik CD audio. Penggarapan album kali ini membutuhkan waktu satu tahun.

Begitu kutipan yang diambil dari siaran pers yang dibagikan saat peluncuran album, yang bertempat di Rumah Musik Demores, Pantai Penimbangan, yang menjadi basecam #akebuleleng. 

Jujur saja, saya sangat senang ketika mendengar #akebuleleng akan meluncurkan album kembali. Sebagai penikmat musik lokal buleleng, saya selalu bergembira ketika mendengar ada grup band lokal yang berani meluncurkan single lagu meraka bahkan jika sampai meluncurkan album. Hal Ini menandakan bahwa kehidupan kreatif musisi-musisi Buleleng masih memiliki nyawa. Sebagai sebuah band dan musisi, mempunyai album merupakan salah satu tonggak kekhidupan mereka, bukti dari kesenimanan yang dimiliki. 

Terlepas dari hal positif yang dilakukan oleh #akebuleleng yang telah menghasilkan dua buat album, saya yakin diluar sana (masih disekitaran Buleleng) pasti ada musisi yang nyinyir kepada #akebuleleng. “Pantas aja bisa bikin dua album, mereka punya studio rekaman toh!!!” (sekedar informasi bahwa Demores Rumah Musik adalah studio rekaman yang dimiliki oleh Gde Kurniawan, pentolan #akebuleleng”).

Walau punya studio musik sendiri, mari kita coba hitung secara ekonomi, berapa kisaran dana yang dikelurkan oleh #akebuleleng untuk album keduanya. Biaya rekaman di Buleleng satu lagu hingga mixing, ada pada kisaran satu juta rupiah. Dalam album #akebuleleng ada sembilan lagu, jadi totalnya sembilan juta rupiah. Biaya pembuatan keping cd audio lengkap dengan covernya, kita perkirakan harganya dua puluh ribu rupiah, dengan minimal cektak 100 keping jadi harganya sekitar dua juta rupiah.

#akebulleeng saat launching album kedua

Untuk rekaman dan membuat keping CD saja dana yang dihabiskan sudah Rp. 11.000.000. Ditambah dengan pembuatan satu video klip sekitar empat juta rupiah, totalnya menjadi Rp. 15.000.000 setara dengan gaji satu tahun seorang guru kontrak di Buleleng. Pantas saja jika banyak musisi yang sedikit nyinyir dengan #akebuleleng. Segitu saja membahasnya ya…

Setelah melakukan peluncuran album, saya diberikan satu CD album #akebuleleng, ada sembilan lagu, 1. Semangart Berkarya, 2. IKAKU, 3. Depang Anake Ngadanin 4.Sahabat Sejati 5. Paedah 6. Lagu Luu 7. Suksma Meme Bapa, 8. Rasa Cinta Pertama 9.Perbedaan Bukan Alasan. Semua lagunya sudah saya dengarkan, sebagai teman perjalanan di dalam mobil (jika lagi bawa mobil karena pemutar CD cuma ada di mobil hehehe).

Saat mendengarkan lagu #akebuleleng seluruhnya, saya langsung terbayang dengan ES ANCRUK. Es Ancruk adalah salah satu varian es campur yang cukup melegenda di Buleleng. Kata ancruk sama dengan hancur, jadi bisa dibayangkan tampilan esnya. Penjual Es Ancruk yang melegenda di Buleleng, dulu ada di pasar senggol sebelah barat kantor Telkom Singaraja. Sudah lama tidak beli es ancruk semoga masih ada dagangnya.

Isian dari Es Ancruk cukup banyak, saking banyaknya jadi terlihat hancur. Didalam es ancruk, seperti es campur yang didalamnya, isi bubur sagu, ongkoe, agar-agar, kolang paling, kolek, susu, kolek mutiara, dan masih ada isi lainnya yang tidak jelas saya tau namanya. Seperti itulah isian dalam lagu dan musik #akebuleleng di album “Semangat Berkarya” 

Sekarang #akebuleleng beranggotakan lima orang personil awalnya tujuh orang, dua orang mengundurkan diri. Dengan berlima, materi lagunya menjadi Ancruk, padahal mereka #akebuleleng mengaku dalam album kedua kali ini, materi lagu dibuat lebih sederhana dan easy listening dan lebih real saat dibawakan saat live perfomance.

Pengabungan berbagai genre musik dalam album kedua ini, benar-benar dilakukan secara ancruk. Lagu yang paling saya suka, adalah lakgu ke 5 yang berjudul paedah. Sentuhan gendang pantura dalam lagu paedah bikin sangat menyenangkan, maklum saya orang indonesia dangdut is my life, dangdut is the music of my country. 

Kekhasan yang ada dalam lirik lagu dialbum kedua #akebuleleng, mereka mencoba memperkanalkan kata-kata lokal yang familiar di Buleleng, seperti kata gocingan yang artily Rp. 5.000,- kata yang populer karena pengaruh warga cina yang ada di Buleleng. Kata paedah menurut orang Buleleng dapat diartikan sedanga dalam keadaan banyak uang. Dalam bahasa Indonesia kata paedah di tulis dengan huruf F “Faedah”. Penggunaan huruf E dalam kata “Faedah” merupakan proses pengenalan dari bahasa daerah. Kata Faedah merupaka serapan dari bahasa Arab. Wah malah jadi bahasa kata nihhh…

Seperti itulah lagu #akebuleleng yang benar-benar superit es ancruk. Berantakan hancur namun nikmat untuk didengarkan. 

Setelah meluncurkan album kedua, saya yakin #akebuleleng akan banyak mengisi di panggung-panggung musik yang ada di Buleleng, bain diacara Pemerintah maupun acara swasta. Dengan bukti keseriusan dalam berkarya di dunia musik wajar #akebuleleng mendapatkan banyak panggung, walau event di Buleleng lebih banyak diselenggarakan oleh Pemerintah bukan berarti #akebuleleng adalag musisi plat merah.

Dengan biaya produksi yang cukup banyak yang dikeluarkan oleh #akebuleleng untuk menjaga eksistensinya, banyak job manggung menjadi saluki satu usaha untuk balik modal. Jadi para musisi di Buleleng jangan nyinyir ya… kalau #akebuleleng banyak ngisi di event pemerintah. Kalau ingin kecipratan Paedah-nya, ayo bikin lagu sendiri, bikin album sendiri. Cukuplah panggung-panggung musik di Buleleng di isi dengan band yang hanya bisa nyanyiin dan ngenakin lagu orang lain yang sudah terkenal.

Mari ramaikan panggung musik di Buleleng dengan musisi dan lagu karya sendiri. Jangan juga merasa sumbar setelah merilis satu, dua single saja. Teruslah berkarya ramaikan blantikan musik buleleng dengan karya-karya musisi Buleleng. Biar banyak punya follower di IG, jika sudah banyak job pasti datang dan pasti jadi “PAEDAH” 

Selamat #AKEBULELENG [T]

Tags: Ake BulelengbulelenglagumusikSeni
Share300TweetSendShareSend
Previous Post

Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Next Post

Menerima Tanpa Terlena

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Menerima Tanpa Terlena

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co