2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menerima Tanpa Terlena

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
April 23, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Seseorang menulis pesan. Isinya begini, “Bijaksanalah dengan pikiran, kecerdasan membuatnya terobsesi kecurigaan, jangankan pada cahaya dan bayang yang tertangkap mata, dan mata hati, bahkan ia juga curiga pada bayangannya sendiri. Buatlah pikiran jadi bijak, berpijak pada tempatnya, menerima tanpa terlena”.

Pesan itu membuat saya tertegun dan tidak berhenti memikirkan maksudnya. Seperti biasa, hasil dari memikir-mikirkan, bukanlah jawaban yang datang tapi pertanyaan. Apakah pikiran selalu menghasilkan kecurigaan? Jika iya, mengapa demikian?

Pertanyaan semacam itu wajar saja bisa lahir. Bahkan ada banyak pertanyaan yang bisa dilahirkan dari satu objek saja. Tugas selanjutnya adalah mencari dan menemukan jawaban. Yang namanya jawaban tidak datang begitu saja. Dia mesti diawali dengan pencarian. Maka mari kita mulai mencari jawaban atas pertanyan tadi.

Tentang pikiran, ada banyak pustaka-pustaka lontar yang memuatnya. Ada yang menulisnya sebagai pikiran, ada juga yang menganalogikannya dengan benda lain. Mpu Tanakung menganalogikan pikiran seperti telaga yang di dalamnya terdapat lingga. Ada juga yang menganalogikannya dengan danau yang lebih besar. Ada juga yang menganalogikan pikiran seperti lautan yang bergejolak. Jadi sejauh ini ada tiga analogi pikiran: telaga, danau dan lautan.

Selain tiga hal tadi, ada lagi analogi pikiran yang bisa ditemukan dalam satu bagian dari kakawin Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa yang terkenal itu. Mpu Kanwa mengibaratkan pikiran seperti air di dalam gentong. Hanya dalam gentong yang airnya jernih bayangan bulan akan terlihat. Jadi ada empat analogi pikiran yaitu telaga, danau, lautan dan air dalam gentong. Keempatnya meski terlihat berbeda, sesungguhnya memiliki persamaan. Persamaan keempatnya adalah air. Singkatnya, pikiran diibaratkan seperti air.

Ungkapan seperti itu, tidak hanya terdapat dalam pustaka-pustaka kuno. Konsep pikiran yang seperti air, ada juga dalam peribahasa “seperti air di atas daun talas”. Yang artinya kurang lebih adalah tidak tetap pendirian. Apalah yang menyebabkan ketidaktetapan itu kecuali pikiran yang berubah-ubah. Gitu. Maka hati-hatilah pada pikiran! Orang boleh membayangkan masa depan dengan pikiran.

Ia juga boleh mengenang masa lalu dengan pikiran. Tapi kehidupan adalah yang terjadi sekarang, meski hidup yang sekarang itu selalu menjadi masalalu. Bagaimana membijaksanai hal ini?

Membijaksanai waktu, berarti ada tiga rangkaian waktu yang mesti dipahami betul-betul. Tiga rangkaian itu adalah masa lalu, masa depan dan masa kini. Tiga rangkaian itu juga disebut Tri Samaya. Ketiga aliran waktu ini memiliki Nyasa yang juga adalah sekaligus mantra. Mantra ketiga aliran waktu ini ada tiga dengan masing-masing tiga dewanya. Untuk lebih jelasnya, silahkan tanyakan pada yang tahu. Sebagai petunjuk, ketiga mantra itu konon bergerak dalam dua arah.

Waktu juga mengalir, jadi ia juga mirip dengan pikiran dan air. Karena waktu itu mengalir, jadi segala macam hal dilewati oleh waktu. Karena segalanya dilewati, maka segalanya ditelan oleh waktu. Ciri-ciri sesuatu ditelan waktu adalah perubahan. Dengan cara pandang seperti itu, kita bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda sama sekali. Contohnya adalah gunung yang konon tidak berpindah-pindah. Karena gunung tidak berpindah, maka ia disebut Acala.

Tidak berpindah, bukan berarti gunung tidak berubah. Sebab menurut suatu ajaran yang dapat ditelusuri sumbernya, konon segala yang berbentuk pastilah akan berubah. Itulah sebabnya, meski gunung yang terlihat tenang itu tidak berpindah, bukan berarti ia akan selalu diam. Sesekali ia akan meletus. Barangkali, bentuknya juga akan berubah. Perubahan bentuk gunung, bisa disebabkan bermacam-macam. Salah satunya adalah karena memang perubahannya alami. Salah duanya, karena manusia yang merubah atas dasar banyak kepentingan.

Kita tinggalkan dulu pembicaraan tentang gunung itu. Mari kita lanjutkan lagi tentang air dan pikiran. Karena pikiran adalah air, maka sifat-sifat pikiran bisa dibandingkan dengan air. Sifat air adalah mengalir. Oleh orang-orang bijaksana, yang mengalir itu disebutnya Saraswati. Mungkin itu sebabnya, ada aliran air sungai bernama Saraswati. Juga ada aliran pikiran berpengetahuan disebut dengan nama yang sama.

Yang namanya pikiran, bisa meresap dimana saja. Dia bisa ke kanan, dan ke kiri. Dia juga bisa ke depan dan belakang. Bahkan bisa juga ia ke atas dan ke bawah. Pikiran bisa meresap, karena ia sangat kecil. Pikiran juga sangat ringan. Saking ringannya dia bisa terbang kemana-mana. Bahkan dia bisa mengatasi segalanya yang berat-berat. Orang ada di kutub utara, pikirannya sudah di selatan.

Selalu begitu. Karena itulah, konon ada orang yang berusaha mengikat pikirannya. Caranya? Ya dengan tali berupa pikiran yang berpikir. Buktinya? Coba pikirkan satu titik di tengah-tengah dahi. Maka bagi pikiran yang sudah terlatih, ia akan memusatkan pikirannya pada titik itu. Bagi yang kurang berlatih, pikiran punya cara yang halus untuk mengubah titik pusat.

Sifat pikiran yang lain adalah sangat besar. Saking besarnya, ia bisa memenuhi segala ruang. Tidak ada ruang yang tidak terpenuhi olehnya. Konsekuensi dari hal itu, maka segala ruang yang ada di dunia ini dipenuhi oleh pikiran-pikiran. Sifat pikiran yang besar ini disebut Mahima. Berasal dari kata Maha yang berarti besar. Jika ada yang bernama Mahima, barangkali harapannya agar menjadi sangat besar.

Pikiran juga sangat cepat. Saking cepatnya, segala tempat dapat segera dicapainya. Sampai adalah nama lain dari prapta. Karena pikiran selalu cepat sampai, maka disebutlah dia dengan prapti. Pikiran juga adalah penguasa yang tidak bisa dilawan kehendaknya. Ia selalu dibayangkan seperti raja. Karena ia raja, maka segalanya diperintahkan olehnya. Mungkin ini sebabnya, dalam banyak sekali lontar-lontar, banyak yang menggunakan pikiran untuk memerintahkan sesuatu. Perintah-perintah itu, tidak hanya untuk memerintah tubuhnya sendiri. Tapi juga memerintahkan dewa-dewi, bhuta-bhuti, bhatara-bhatari, dan sebagainya.


CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak
  • Kembali
  • Yang Kita Cari Adalah Hening
  • Siang Malam Berpikir Sendiri
  • Teman Tidak Makan Teman

Pikiran juga disebut dengan Yang Utama. Ia disebut utama karena segala hal berasal dan akan kembali kepadanya. Apalah sebutan bagi asal dan tujuan selain yang utama? Karena konon, pelajaran tentang asal dan tujuan adalah pelajaran paling sulit sekaligus paling menarik. Tidak kurang orang berbondong-bondong belajar tentang asal sampai ke negeri seberang. Tidak sedikit pula orang yang ingin tahu tujuan sampai diam-diam mendiamkan dirinya.

Kemampuan pikiran untuk memerintahkan setidaknya dapat dibagi menjadi tiga. Pertama adalah kemampuan untuk menciptakan. Kedua kemampuan untuk memelihara. Ketiga adalah untuk melebur. Ketiganya adalah sifat-sifat dewa yang dikenal oleh kebanyakan orang. Jadi melebur adalah sifat dewa? Tentu saja!

Pikiran itu bisa juga dikuasai. Tentu dengan sadar. Jika pikiran sudah dikuasai dengan sadar, sulitlah hal-hal gaib berbalik menguasai pikiran. Sifat pikiran yang satu ini, sulit diceritakan dengan kata-kata. Karena tidak semua yang bisa dipikirkan bisa juga dikatakan. Tapi karena kata-kata, pikiran bisa berpikir.

Itu dia sifat-sifat pikiran yang sudah banyak diketahui oleh banyak orang. Karena banyaknya sifat pikiran, maka wajar ada yang berpesan agar membijaksanai pikiran sendiri. Sayangnya kecurigaan adalah salah satu akibat dari membijaksanai pikiran sendiri. Bijaksana saya artikan sebagai cara pandang berbeda. Cara pandang yang berbeda dimungkinkan jika orang banyak pengalamanan. Entah itu pengalaman hidup, entah itu pengalaman membaca. Pengalaman-pengalaman itu memungkinkan pikiran tetap terjaga agar sadar. Sadar adalah terjemahan dari kata Tutur dalam bahasa Jawa Kuna. Jika ada orang nutur barangkali maksudnya adalah menyadarkan.

Untuk mengetahui bagaimana kesadaran pikiran kita bekerja, dalam tulisan ini saya ajukan satu baris dari sebuah kakawin. Silahkan dibijaksanai. Ungkapannya begini: “Jika ada gentong sedikit airnya, maka air di dalamnya mudah berkecipak. Berbedalah jika air gentong itu penuh, dia akan tenang” [T]

Tags: berpikirrenungansastraTuhan
Share26TweetSendShareSend
Previous Post

Album Kedua #Akebuleleng Kayak Es Ancruk Senggol Telkom

Next Post

Cerita Kecil Petugas KPPS: Cemas, Bingung, Sempat Ingin “Ngambul”

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Kecil Petugas KPPS: Cemas, Bingung, Sempat Ingin “Ngambul”

Cerita Kecil Petugas KPPS: Cemas, Bingung, Sempat Ingin “Ngambul”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co