23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pilihan Bertani, Demi Kekayaan atau Kebahagiaan Hidup?

Tobing Crysnanjaya by Tobing Crysnanjaya
April 22, 2019
in Esai
Pilihan Bertani, Demi Kekayaan atau Kebahagiaan Hidup?

Hamparan sawah di Buleleng. (Foto: Mursal Buyung)

Bertani itu kotor, dekil, tidak menguntungkan, ndeso. Pikiran-pikiran seperti itu yang selama ini mejejali otak generasi muda karena sangat alergi mendengar kata petani maupun pertanian.

Ungkapan itu muncul mungkin karena pertanian diasosiasikan sebagai tempat untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya. Dan kekayaan sepertinya tidak mungkin bisa didapatkan di dalam dunia pertanian. Perubahan pola pikir anak muda seperti itu, khususnya yang menetap di desa, dengan bombardir ikon pariwisata yang senantiasa jadi magnet bagi kesejahteraan, justru membuat pertanian seiring waktu semakin ditinggalkan.

Jika kita melihat dan membuktikan secara kasat mata, pertanian tak ubahnya sebagai pemanis di tengah euphoria  masyarakat yang menikmati dan merasakan dampak pariwisata di pedesaan.

Bali sebagai Pulau Dewata, Pulau Seribu Pura, pulau terbaik di dunia, menjadi primadona bagi pelaku bisnis. Pertanian seharusnya menjadi prioritas untuk dijaga, karena subak sebagai sistem pertanian sudah mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai salah satu warisan peradaban dunia yang patut dipertahankan.

Saat ini pertanian seakan dilihat hanya sebagai sapi perah, namun tidak benar-benar dijaga dan dilestarikan. Hal ini terbukti, semakin maraknya alihfungsi lahan sebagai sebuah alasan untuk mendukung sarana prasarana (akomodasi) pariwisata itu sendiri. Inilah kondisi dilematis yang dihadapi oleh sektor pertanian di Bali, bertahan di tengah carut marut berbagai kepentingan korporasi yang hanya mementingkan rupiah semata tanpa berpikir masalah sustainability lingkungan, social dan budaya di Bali.

Kondisi seperti ini membuat kita harus memikirkan ulang, apakah kekayaan itu diasosiasikan dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya, namun melupakan esensi dari kekayaan sebagai sebuah kondisi bahagia yang dirasakan oleh manusia yang merdeka?

Jika merujuk kepada fakta tahun 1950 dan 1960, terdapat upaya secara massive untuk mengkapanyekan revolusi hijau untuk memastikan ketersediaan pangan di seluruh dunia. Konsep ini diinisiasi oleh Norman Borlaug yang akhirnya dikenal sebagai salah satu penerima Nobel Perdamaian di tahun 1970. Seluruh negara melalui kebijakan pemerintah masing-masing diharapkan untuk mencapai swasembada pangan, sebagai upaya untuk memenuhi keperluan pangan untuk masyarakatnya sendiri dan bisa memberikan kontribusi bagi Negara-negara yang mengalami masalah keterbatasan pangan.

Di Indonesia kita mengenal gerakan Bimbingan Masyarakat (BIMAS) yang di antaranya terdiri dari instesifikasi dan ekstensifikasi yang meliputi 5 kelompok kegiatan atau panca usaha tani antara lain pengunaan bibit unggul, cara bercocok tanam yang baik, penggunaan obat pemberantasan hama, ketepatan pengunaan pupuk dan perbaikan system pengairan.  Kejayaan dari system ini manakala Indonesia berhasil mendapatkan penghargaan dari badan pangan dunia (FAO ) tahun 1984 sebagai Negara yang berhasil mencapai predikat swasembada pangan.

Jika merujuk fakta pada penjelasan sebelumnya, tingkat pencapaian yang didapatkan pada sektor pertanian hanya berada pada level ekonomi semata. Tidak terlihat gambaran optimis dari kampanye ketenaran masa lalu yang membuat anak muda tergugah dan berniat kembali untuk kembali terjun sebagai petani. Yang lebih miris, bedasarkan informasi yang didapatkan hanya sedikit saja mahasiswa jurusan ilmu pertanian yang mau mengembangkan sektor pertanian.

Kegagalan merangsang partisipasi anak muda untuk bertani, kemungkinan karena terjadi perubahan paradigma berpikir masyarakan tentang kegiatan pertanian itu sendiri. Pertanian hanya dipandang sebagai kegiatan monoton yang mengharuskan masyarakat harus diam di sawah seharian dan menanam hanya satu jenis tanaman sebagai langkah efisien untuk meningkatkan hasil pertanian.

Pertanian tidak diperkenalkan melalui pendekatan-pendekatan budaya, dimana para nenek moyang kita mampu bertahan hidup dengan bahagia Karena mereka benar-benar memahami hakekat dari pertanian itu sendiri. Pertanian tidaklah seperti perusahaan yang harus dikelola dan dipaksakan untuk menghasilkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak resiko dari setiap aktivitas yang berdampak pada ekosistem.

Yang lebih hakiki dari proses pertanian itu adalah harmonisasi segala pikir, tingkah dan gerak untuk senantiasa menjaga keberlangsungan alam sebagai bagian dari upaya untuk pelibatan seluruh komponen eksosistem dalam setiap kegiatan bertani. Konsep Tri Hita Karana sebagai faslafah umat Hindu dalam memandang keterhubungan, menjelaskan bahwa tidak ada makhluk hidup yang tidak memiliki manfaat dalam eksosistem, semua terlibat dan mengambil peran masing-masing.

Jika merujuk dari philosofi itu, maka sudah saatnya kita belajar bagaimana melihat hubungan pertanian itu sebagai sebuah hubungan yang membahagiakan, tidak hanya membahagiakan manusia, namun juga seluruh alam dan isinya sebagai wujud rasa syukur terhadap kemuliaan akan memandang ciptaan Tuhan.

Pertanian tidak hanya dilihat dari ukuran produktifitas, namun dilihat sebagai satu bagian holistic dalam memaknai arti kebahagiaan kita sebagai manusia yang hidup sederhana dan mensyukuri kehidupan di dunia ini. [T]

Singaraja, 12 April 2019

Tags: balikebahagiaankehidupanpertanianpetani
Share95TweetSendShareSend
Previous Post

Biaya Kesehatan Harus Dibikin Semahal-mahalnya

Next Post

Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Tobing Crysnanjaya

Tobing Crysnanjaya

Pegawai, petani, bapak rumah tangga. Kini sedang mengikuti kelas Creative Writing di Mahima Institute Indonesia

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Gietman Mountain Bike 2019: Jelajahi Hijau Alam Selemadeg & Betapa Ramah Petaninya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co