12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berita Pagi

Agus Darmita Wirawan by Agus Darmita Wirawan
April 7, 2019
in Cerpen
Berita Pagi

Ilustrasi diolah dari lukisan IB Pandit Parastu

Cerpen Agus Darmita Wirawan

Lelaki itu tampak dalam kecemasan. Pagi itu ia duduk di beranda ditemani secangkir kopi kental manis dengan imbangan sebatang sigaret putih dengan tar rendah. Entah nengapa sejak seminggu ini, ia sengaja menyisakan waktu untuk melacak isi koran sebelum berangkat dijemput sopir kantornya yang patuh.

Pagi itu, loper koran datang menyodoknya dengan lipatan koran. Langsung saja disambarnya tanpa sedikitpun basa-basi. Kemudian, seperti biasanya, menjelajah dari judul berita satu ke judul berita yang lain sambil sesekali meneguk sisa kopinya. Seluruh judul berita nasional disedotnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dahinya pun mengkerut ketika tertumbuk pada  judul berita, Hasil Produksi IPTN Ditukar Ketan.

“Sialan, ada saja wartawan,” pikirnya tidak yakin. Karena sepengetahuannya, perdagangan antar negara selalu menghitung total ekspor dan impor kedua negara. Pembayaran senantiasa dilakukan dengan barang pula sebagainana sistem perdagangan nenek moyang jaman bahula. Barter ¾ barang tukar barang.

Hitung-hitung, akhirnya ia pun menyadari jika kebutuhan ketan di negeri ini makin meningkat. Ia jadi ingat waktu kecil di kampung, bagaimana lemper membutuhkan ketan. Dodol, wajik, jaja uli, jaja gina, bantal, trenginang, tape, semuanya dari ketan, semuanya butuh ketan. Ia manggut-manggut saja, sambil   menyedot   batang sigaret dengan tar rendah di lipatan jari tangannya dan sesekali meneguk kopi kental manisnya.

Pagi  itu,  ia masih suntuk menjelajahi seluruh  isi  koran. Berita di daerah menunjukkan keberhasilan tim dokter menjalankan operasi penyakit kanker, nenyebutkan  Burung Gimbar  Kembali Berkokok, Niat Berpacaran Tumbuh.  Baru  separuh kolom  saja dibacanya, tiba-tiba suara isterinya pecah  sembari menenteng kemeja dan sepatu kulitnya.

“Mas, semuanya sudah siap. Mandilah dulu,” potong  isterinya dari balik kamar.

“Sebentar, Nur…sebentar saja,” sahutnya agak serius.

Ia pun lantas memanggil isterinya, seolah tak ingin memborong sendiri isi berita itu.

“Nur, sini Nur. Ke sini sebentar. Lihat ni, lihat.”

“Apa sih, Pak. Kok serem amat. Apa lagi tu.”

“Baca. Coba baca,” katanya meyakinkan.”

Nurhayati  hanya  membaca  judul  beritanya  saja,   Wanita Setengah Milyard Diajukan ke Pengadilan.

“Apa, komentarmu, Nur.”

“Penipu memang harus diadili, Mas.”

“Apa ? Penipu. katamu!”

“Ya, karena ada pihak-pihak yang dirugikan. Ini kasus pidana dengan delik aduan, Mas. Harus ada yang keberatan.”

“Kalau tidak?”

“Ya, ndak toh !”

“Udah,… udah. Wis,… urus kerjamu sana.”

“Lho, Mas?”

“Kalau ngomong, mbok ya jangan nyinggung, gitu ah.”

Ia  tak  ingin berdebat dengan istrinya. Bagai  kutu  loncat atau layaknya virus komputer, ia meloncat-loncat pada judul berita yang lain.

Pembekalan Caleg, antara Pro dan Kontra. Tak sempat dibaca, kemudian loncat lagi, Tanah Laba Pura Karang Awak Telah Dibebaskan. Loncat lagi, Hindu selalu Marak  dalam Upakara, Tapi Selalu Kalah dalam Politik Beragama. Baru dua kolom dibacanya. Ia pun tersedak, ketika nenghabiskan sisa kopi yang tidak diketahuinya sudah kemasukan anak nyamuk.

Hampir saja ia muntah. Kemudian permen “rasa rame” yang selalu terselip di saku dapat meredam dan mengepel kanal kerongkongannya. Tapi rasa mual dan batuk-batuk kecil masih terdengar. Terakhir, hanya ia  mendehem sebagai pamungkas.

Ia masih dalam kecemasan, tapi mampu tersenyum, walau hambar dan agak aneh bagai senyum bayi yang lelap di  pangkuan ibunya digoda Sang Kumara.   Ketika berita unik, Jembatan   Roboh, Rombongan. Gubernur Tercerbur, menyapu pandangannya. Belum habis berita ini dilahapnya, tiba-tiba ada sinyal dari perutnya ¾ pabrik omnivora yang pemakan segala itu ¾ merambat bagai sengatan listrik. Limbahnya harus dibuang. Buru-buru ia ke kamar kecil sekalian mengepit koran itu pada ketiaknya.

***

Sekarang ia selesai berdandan. Berdasi warna abu-abu yang tergantung di kerah kemeja putihnya dibungkus jas biru tua. Tampak ia bernar-benar menjadi seorang direktur. Bersih dan berwibawa. Ia menunggu sopir kantor menjemputnya, tapi tak kunjung tiba. Sesekali ia mendongak dari balik gorden, ketika ada deru mobil lewat.

Akhirnya ia putuskan untuk sarapan sendiri. Seperti biasanya, di meja makan hanya ada menu telur rebus dua butir,  nasi uduk, bawang goreng, kerupuk, dan sedikit garam.  Di ceper  lain ada kacang goreng garing dan beberapa  potong  tempe-tahu  bacem  tergeletak, serta dua gelas  susu  sebagai  pembasuh tenggorokannya.  Ia  seorang vegetarian sejak ikut  bergabung  di Ashram Canting Mas.

Ia masih tampak dalam kecemasan. Sopir kantornya belum juga nampak ujung rambutnya. Padahal, waktu sudah molor 35 menit  dari biasanya.  Demi  melatih kesabaran, ia coba  membunuh  waktu.  Ia sambar  lagi  koran  di atas meja yang belum  tuntas  dibaca. 

Ia menjelajah lagi isi koran itu, tapi ia berhenti pada sebuah tajuk rencana,  Hakim Korea Selatan Mengadili Roh. Pada  kolom  opini ada  tulisan  bertajuk,  Negara-Negara dengan  Tingkat   Korupsi Terparah  di  Asia.  Lagi-lagi matanya  tergoda,  melahap  habis berita  itu.  Dan pada kolom “refleksinya” John  Tana   tertulis, Lima  Pejabat Nondepartemen Dimutasi. Setelah  membaca  berita inilah,  ia  ingat  detik-detik perjuangannya  dulu yang sangat menegangkan  itu. 

Saat ia berhasil merobohkan  lawan  kariernya, Pak Darus,  di  kantor yang sama. Waktu itu,  ia  sebagai  Kabag Audit,  berhasil menemukan kejanggalan manajemen Pak  Darus  yang membekukan  sejumlah  uang untuk dipinjamkan  kepada  karyawannya dengan  bunga nol persen. Delapan puluh  karyawan   masing-masing mendapat  pinjaman maksimal seratus juta. Tujuan Pak Darus  hanya semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan karyawannya. 

Dengan pemberian   fasilitas  itu,  diharapkan   produktifitas   kinerja perusahaan  makin  meningkat. Nyatanya benar, PT Bank  Alfa Mega telah berhasil membuka beberapa cabang  baru di beberapa kota dan ibu kota. Bahkan puncaknya, bank ini mampu membuka cabang di  Los Angelos, A.S. Suatu kemajuan yang luar biasa dalam dekade dasa warsa terakhir ini. Jika dihitung-hitung, kesalahan Pak Darus kecil dibanding keberhasilannya menjadi Direktur Utama PT Bank Alfa Mega.

Di lain pihak, Pak Darus telah berkolusi dengan nasabahnya yang sebagian kecil famili. Mertuanya, istrinya, menantunya, keponakannya, dan kerabat-kerabatnya mendapat fasilitas pinjanan dengan bunga terendah bahkan tanpa jaminan. Tapi, untungnya tak pernah macet. Pada berkas “akad kreditnya” tertulis, “Jaminan ada pada Direktur. Acc seluruhnya.”

Inilah saatnya Pak Darus dicopot dari jabatannya untuk selanjutnya dikarantina selama beberapa waktu dengan alasan, diamankan dalam pembinaan mental. Pak Darus harus mengakui kekalahan dari saingan dan suingan lawan karirnya. Sudahlah !

“Inilah saatnya aku meniti karir,” pikir Kabag Audit itu, yang kini telah duduk di kursi dan menempati meja Pak Darus sejak 5 tahun terakhir.

Pak Karnani, Direktur baru yang agak tuli, tapi untung tidak bisu, diangkat oleh pamannya yang Komisaris Pusat. Ia tidak dipilih, tapi diangkat. Karena itu, ia agak angkuh dan sombong, serta selalu tertutup, kurang tanggap untuk   bisa memahami bawahannya. Sejak lima tahun terakhir ini tercatat kasus pemogokan 6 kali, demo 11 kali, PHK 27 kali, dan pemecatan karyawan secara tidak homat 14 kali. Prestise, prestasi atau frustasi. Entahlah!

Lelaki itu masih tampak cemas, sebagaimana kecemasannya sejak awal duduk di beranda muka dengan secangkir kopi kental tanis dan sebatang sigaret dengan tar rendah. Rupanya ia telah terdampar pada berita yang selama ini ditunggu-tunggu. Terbukti sopir kantornya yang patuh tak lagi bisa menjemput sang Direktur.

Berita pagi terakhir inilah yang menubruknya di jalan tol. Menghempaskannya, menyudutkannya menjadi tak berkutik, bahkan berkedip sekalipun. Matanya yang agak sipit yang plus 2,5 itu mewajibkan ia harus menyelipkan kacamata pada bidang wajahnya. Bank Alfa Mega Dirubung Nasabah, Pihak Keamanan Turun, dibacanya tuntas-tas. Setelah itu, mukanya jadi sepucat mayat. Tiba-tiba langit di wajahnya redup, tak bercahaya. Matahari seakan tertutup tembok. Tekanan darahnya naik, karena jantungnya memompa lebih keras dan tak teratur. Telpon seluler tiba-tiba jatuh dari genggamannya.

Lalu, perlahan-lahan ia buka dasi abu-abunya, sepatunya, jas biru tuanya, kemeja putihnya. Semuanya itu disodorkannya lagi pada isterinya yang setia telah menemaninya hampir seperempat abad penuh, dengan kondite “baik sekali.” Dan “pajer”-nya tulalit terus. Komputer di rumahnya pecah. Ferozanya jadi ringsek. Rent Car di kawasan Kuta disegel.

Beberapa hektar tanah yang baru disertifikatkan ditumbuhi padang gajah. Ia tak bisa lagi menghitung depositonya di beberapa bank. Sepekulasi Valas-nya dibekukan. Sejumlah wanita yang dikawin sirih ngambul, pulang ke daerah asalnya. Teringat ia dengan rivalnya, Pak Darus. Terbayang ia bagaimana seorang narapidana harus menghabiskan waktunya di kamar tahanan. Anak-anaknya pasti menuduhnya sebagai koruptor, penipu, perampok, pencoleng, maling, penghianat dan sejenis itu.

“Nur, kita mulai dari nol kecil,” katanya terbata-bata, sedangkan Nurhayati diam semati tugu Caturmuka. [T]

Tags: Cerpen
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Golput dan Apolitisme Milenial pada Pilpres 2019

Next Post

Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Agus Darmita Wirawan

Agus Darmita Wirawan

Lahir di Jembrana, kini menetap di Marga, Tabanan. Menulis puisi, cerpen, dan artikel pendidikan. Baru saja pensiun menjadi kepala SMKN 2 Tabanan.

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co