23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Wayan Purne by Wayan Purne
April 8, 2019
in Esai
Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Stiker dinding

Sebagai seorang pendidik, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal?

Selain itu, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Kemudian, pemahaman pedagogi mana yang kita gunakan sebagai seorang pendidik?

Bisa juga kita sama sekali tidak pernah memahami kedua-duanya sebagai seorang pendidik. Kita hanya paham caranya anak didik meraih  nilai angka tertinggi setiap tes yang mereka hadapi. Jika hanya ini modal kita sebagai seorang pendidik, tidak mengherankan jutaan anak-anak disebut sebagai komoditas pasar.

Komoditas pasar Pendidikan yang membelenggu keuangan para orang tua tanpa mengetahui dengan jelas arah proses pendidikan anak-anak mereka. Mereka bahkan mungkin hanya tahu bahwa jika anak-anak bisa meraih semua gelar pendidikan, mereka sudah bisa mengantarkan anak-anaknya meraih pekerjaan tertinggi dengan gajih yang sangat tinggi. Apakah sederhana itu? Apakah justru jika salah memahami Pendidikan, kita akan menjerumuskan bahkan menghancurkan masa depan anak-anak kita?

Bagaimana kita tidak menyesatkan dalam menjalankan pendidikan? Jika sebagai seorang pendidik, tumpukan bahan materi Pendidikan dipahami sebagai bahan konsep yang netral, obyektif, dan universal. Akhirnya, kita hanya terpacu menyelesaikan tumpukan materi pendidikan dan menjejalinya kepada anak-anak didik dengan rasa ketakutan materi tidak akan terselesaikan.

Konsep pondasi dasar dan daya kritis anak pun semakin terlupakan. Mereka pun sebagai anak didik yang tidak mampu melahap tuntutan dari tumpukan bahan materi Pendidikan hanya dikurung dalam permakluman dan kompromi KKM. Dasar personalitas anak-anak pun terlupakan. Kita hanya terjebak pada formalitas pendidikan, yakni sibuk mengurusi ritual adminitrasi sabagai bentuk penyelamatan diri dari teguran pimpinan yang memegang kebijakan.

Siapa sebenarnya yang salah dengan semua ini? Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku terlalu kecil untuk memikirkan permasalahan ini dan tidak akan ada yang mendengarnya. Begitu juga dengan perubahan kurikulum, berakali pun ada perubahan kurikulum yang berubah adalah hanya perubahan adminitrasinya saja. Ritual formalitas Pendidikan pun semakin meningkat dan semakin rumit.

Di sisi yang lain, bagaimana dengan seorang pendidik? Entahlah, mungkin tetap saja nyaman dengan pola setatus quo sampai berkarat. Perkembangan imajinasi, kreativitas, daya kritis, dan personalitas anak pun ikut berkarat.

 “Ahh, yang terpenting aku sudah memiliki sertifikat profesi dan sudah mendapat tunjangan profesi. Terpenting lagi, aku sudah memenuhi semua adminitrasi yang sudah ditentukan. Posisiku tetap akan aman walau ada pendidik muda yang kratif!” Mungkinkah pikiranku itu benar?

Mungkin saja semua itu benar adanya, tetapi kita hanya pura-pura tidak tahu saja. Toh kita melakukanya sudah biasa dan sudah menjadi kebenaran Bersama. Oooh, pikiranku terlalu ngelantur kemana seperti melihat jaman kegelapan di Yunani. Mari kita kembali kepimikiran yang sederhana.

Bagaimana memahami sebuah materi dengan konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Aku teringat kepada seorang teman, namanya Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya. Ia ingin menjelaskan tentang bintang kepada anak-anak PAUD. Ia pun membuat sebuah cerita tentang bintang agar imajinasi anak-anak tetap hidup di masa keemas an anak itu sendiri.

Begini cerita yang dibuat Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya yang diberi judul “Sebuah Cerita tentang Bintang”.

 Pada suatu hari hiduplah seorang gadis kecil bernama Starla. Dia tinggal hanya dengan ayahnya. Mungkin karena namanya, dia sangat suka dengan bintang. Setiap malam, sebelum tidur ia selalu duduk di serambi dan menatap bintang yang jauh. Ketika ia melihat bintang jatuh ia selalu berharap suatu hari ia bisa berkunjung ke bintang-bintang.

Suatu malam ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ketika ia bangun dan membuka pintu ia melihat seorang peri bintang.

 “Hei, Starla, permintaanmu telah terkabulkan! Kemarilah kita akan terbang menuju bintang, jadi kamu bisa bertemu dengan mereka.”

Peri memegang tangan Starla dan tiba-tiba mereka sudah tinggi, sangat tinggi di langit. Bintang pertama yang ia lihat adalah matahari.

 “Ini adalah bibiku namanya Matahari.” Peri berkata. “Kita tidak bisa mendekatinya karena dia sangat panas.”

“Namun, bukankah itu matahari?” Starla bertanya.

“Ya benar, tapi ia juga sebuah bintang. Dia bintang yang sangat dekat dengan bumi dan orang–orang menamainya matahari. Bintang yang lain letaknya lebih jauh dari bumi. Ayo, aku akan memperkenalkan kamu pada keponakanku.”

Sekarang mereka melihat sebuah bintang berwarna biru yang sangat cantik. “Halo nama saya Starla, kenapa kamu berwarna biru? Aku bahkan tidak tahu kalau ada bintang berwarna biru.”

“Kamu tidak bisa melihatku dari bumi. Aku adalah bintang yang masih sangat muda sehingga aku berwarna biru. Ketika aku sudah tumbuh menjadi lebih dewasa aku akan menjadi seperti bintang lainnya.”

“Oh, aku mengerti,“ kata Starla. “Terimakasih atas penjelasannya, da..da…!”

Bintang selanjutnya yang ditunjukkan peri adalah bintang berwarna merah. “Ini adalah nenek saya yang sudah sangat tua.”

“Tapi kenapa ia sangat merah?”

Bintang merah kemudian menjawab pertanyaan Starla, “Aku berwarna merah karena aku sudah sangat tua, aku tidak kuat lagi untuk bersinar terang dan tak lama lagi aku akan jatuh.”

Starla menangis, “Oh tidak, tolong jangan jatuh!”

Kemudian nenek bintang menjawab, “Itu tidak masalah anak manis, kita semua dilahirkan dan kita akan mati suatu saat nanti. Ketika aku terjatuh orang-orang di bumi bisa melihatku dan mengajukan sebuah permintaan. Itu semua membuat aku sangat senang.” Starla akhirnya mengerti.

Di bumi ayah Starla sedang menatap langit saat nenek bintang merah terjatuh. “Lihat betapa indahnya, sebuah bintang jatuh,” dia berkata. “Aku mohon agar besok, ibuku, neneknya Starla akan datang dan membawakannya hadiah yang bagus.”

Dan kamu tahu? Setelah Starla bangun dari mimpinya yang luar biasa, neneknya datang berkunjung dan membawakannya buku yang paling bagus tentang…, tentu saja tentang BINTANG.

Bagaimana jika materi tentang bintang kita lihat sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal pada anak-anak usia PAUD? tentu bisa jadi kita hanya memberikan pengalaman yang kering.

Kita hanya memberikan, “Bintang adalah….” Kemudian apa yang terjadi pada anak-anak seusia itu? Anak-anak hanya menghapal materi itu saja. Masa keemasan pembentukan daya imajinasi, kreatifitas, kritis, dan personalitas anak akan terlewatkan begitu saja.

Beda halnya jika kita memahami tahap perkembangan umur anak secara psikologi pendidikan. Tentu kita akan dengan tepat menerapkan pedagogi dalam belajar bersama dengan anak-anak. Pengalaman Starla pun akan menjelajahi setiap imajianasi anak-anak. Tanpa disadari, anak-anak sudah belajar tentang rasa empati dan rasa sayang maupun hal lainnya yang akan membentuk karakter mereka.

“Sebuah Cerita tentang Bintang” tidak hanya hanya mengajarkan tentang bintang dengan pengertian yang baku, tetapi menjelajah dan hidup di dalam dunia anak-anak. Begitulah Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya menghidupkan bagian kecil topik “Bintang” dengan cerita tentang bintang.

Bagaimana dengan kita sebagai seorang pendidik? Apakah kita sudah memahami perkembangan pedagogi dan psikologi Pendidikan?  

“Eheem, aku hanya tersesat dan terpaksa menjadi seorang pendidik. Hari ini tidak merenungkan jalanku, tapi merenungka jalan menambahkan pendapatanku,” pikiran tersesat.

Bagaimana dengan kamu? [T]

Tags: dongengguruPendidikanpendidikan usia dini
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Berita Pagi

Next Post

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! - Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co