2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Wayan Purne by Wayan Purne
April 8, 2019
in Esai
Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Stiker dinding

Sebagai seorang pendidik, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal?

Selain itu, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Kemudian, pemahaman pedagogi mana yang kita gunakan sebagai seorang pendidik?

Bisa juga kita sama sekali tidak pernah memahami kedua-duanya sebagai seorang pendidik. Kita hanya paham caranya anak didik meraih  nilai angka tertinggi setiap tes yang mereka hadapi. Jika hanya ini modal kita sebagai seorang pendidik, tidak mengherankan jutaan anak-anak disebut sebagai komoditas pasar.

Komoditas pasar Pendidikan yang membelenggu keuangan para orang tua tanpa mengetahui dengan jelas arah proses pendidikan anak-anak mereka. Mereka bahkan mungkin hanya tahu bahwa jika anak-anak bisa meraih semua gelar pendidikan, mereka sudah bisa mengantarkan anak-anaknya meraih pekerjaan tertinggi dengan gajih yang sangat tinggi. Apakah sederhana itu? Apakah justru jika salah memahami Pendidikan, kita akan menjerumuskan bahkan menghancurkan masa depan anak-anak kita?

Bagaimana kita tidak menyesatkan dalam menjalankan pendidikan? Jika sebagai seorang pendidik, tumpukan bahan materi Pendidikan dipahami sebagai bahan konsep yang netral, obyektif, dan universal. Akhirnya, kita hanya terpacu menyelesaikan tumpukan materi pendidikan dan menjejalinya kepada anak-anak didik dengan rasa ketakutan materi tidak akan terselesaikan.

Konsep pondasi dasar dan daya kritis anak pun semakin terlupakan. Mereka pun sebagai anak didik yang tidak mampu melahap tuntutan dari tumpukan bahan materi Pendidikan hanya dikurung dalam permakluman dan kompromi KKM. Dasar personalitas anak-anak pun terlupakan. Kita hanya terjebak pada formalitas pendidikan, yakni sibuk mengurusi ritual adminitrasi sabagai bentuk penyelamatan diri dari teguran pimpinan yang memegang kebijakan.

Siapa sebenarnya yang salah dengan semua ini? Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku terlalu kecil untuk memikirkan permasalahan ini dan tidak akan ada yang mendengarnya. Begitu juga dengan perubahan kurikulum, berakali pun ada perubahan kurikulum yang berubah adalah hanya perubahan adminitrasinya saja. Ritual formalitas Pendidikan pun semakin meningkat dan semakin rumit.

Di sisi yang lain, bagaimana dengan seorang pendidik? Entahlah, mungkin tetap saja nyaman dengan pola setatus quo sampai berkarat. Perkembangan imajinasi, kreativitas, daya kritis, dan personalitas anak pun ikut berkarat.

 “Ahh, yang terpenting aku sudah memiliki sertifikat profesi dan sudah mendapat tunjangan profesi. Terpenting lagi, aku sudah memenuhi semua adminitrasi yang sudah ditentukan. Posisiku tetap akan aman walau ada pendidik muda yang kratif!” Mungkinkah pikiranku itu benar?

Mungkin saja semua itu benar adanya, tetapi kita hanya pura-pura tidak tahu saja. Toh kita melakukanya sudah biasa dan sudah menjadi kebenaran Bersama. Oooh, pikiranku terlalu ngelantur kemana seperti melihat jaman kegelapan di Yunani. Mari kita kembali kepimikiran yang sederhana.

Bagaimana memahami sebuah materi dengan konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Aku teringat kepada seorang teman, namanya Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya. Ia ingin menjelaskan tentang bintang kepada anak-anak PAUD. Ia pun membuat sebuah cerita tentang bintang agar imajinasi anak-anak tetap hidup di masa keemas an anak itu sendiri.

Begini cerita yang dibuat Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya yang diberi judul “Sebuah Cerita tentang Bintang”.

 Pada suatu hari hiduplah seorang gadis kecil bernama Starla. Dia tinggal hanya dengan ayahnya. Mungkin karena namanya, dia sangat suka dengan bintang. Setiap malam, sebelum tidur ia selalu duduk di serambi dan menatap bintang yang jauh. Ketika ia melihat bintang jatuh ia selalu berharap suatu hari ia bisa berkunjung ke bintang-bintang.

Suatu malam ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ketika ia bangun dan membuka pintu ia melihat seorang peri bintang.

 “Hei, Starla, permintaanmu telah terkabulkan! Kemarilah kita akan terbang menuju bintang, jadi kamu bisa bertemu dengan mereka.”

Peri memegang tangan Starla dan tiba-tiba mereka sudah tinggi, sangat tinggi di langit. Bintang pertama yang ia lihat adalah matahari.

 “Ini adalah bibiku namanya Matahari.” Peri berkata. “Kita tidak bisa mendekatinya karena dia sangat panas.”

“Namun, bukankah itu matahari?” Starla bertanya.

“Ya benar, tapi ia juga sebuah bintang. Dia bintang yang sangat dekat dengan bumi dan orang–orang menamainya matahari. Bintang yang lain letaknya lebih jauh dari bumi. Ayo, aku akan memperkenalkan kamu pada keponakanku.”

Sekarang mereka melihat sebuah bintang berwarna biru yang sangat cantik. “Halo nama saya Starla, kenapa kamu berwarna biru? Aku bahkan tidak tahu kalau ada bintang berwarna biru.”

“Kamu tidak bisa melihatku dari bumi. Aku adalah bintang yang masih sangat muda sehingga aku berwarna biru. Ketika aku sudah tumbuh menjadi lebih dewasa aku akan menjadi seperti bintang lainnya.”

“Oh, aku mengerti,“ kata Starla. “Terimakasih atas penjelasannya, da..da…!”

Bintang selanjutnya yang ditunjukkan peri adalah bintang berwarna merah. “Ini adalah nenek saya yang sudah sangat tua.”

“Tapi kenapa ia sangat merah?”

Bintang merah kemudian menjawab pertanyaan Starla, “Aku berwarna merah karena aku sudah sangat tua, aku tidak kuat lagi untuk bersinar terang dan tak lama lagi aku akan jatuh.”

Starla menangis, “Oh tidak, tolong jangan jatuh!”

Kemudian nenek bintang menjawab, “Itu tidak masalah anak manis, kita semua dilahirkan dan kita akan mati suatu saat nanti. Ketika aku terjatuh orang-orang di bumi bisa melihatku dan mengajukan sebuah permintaan. Itu semua membuat aku sangat senang.” Starla akhirnya mengerti.

Di bumi ayah Starla sedang menatap langit saat nenek bintang merah terjatuh. “Lihat betapa indahnya, sebuah bintang jatuh,” dia berkata. “Aku mohon agar besok, ibuku, neneknya Starla akan datang dan membawakannya hadiah yang bagus.”

Dan kamu tahu? Setelah Starla bangun dari mimpinya yang luar biasa, neneknya datang berkunjung dan membawakannya buku yang paling bagus tentang…, tentu saja tentang BINTANG.

Bagaimana jika materi tentang bintang kita lihat sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal pada anak-anak usia PAUD? tentu bisa jadi kita hanya memberikan pengalaman yang kering.

Kita hanya memberikan, “Bintang adalah….” Kemudian apa yang terjadi pada anak-anak seusia itu? Anak-anak hanya menghapal materi itu saja. Masa keemasan pembentukan daya imajinasi, kreatifitas, kritis, dan personalitas anak akan terlewatkan begitu saja.

Beda halnya jika kita memahami tahap perkembangan umur anak secara psikologi pendidikan. Tentu kita akan dengan tepat menerapkan pedagogi dalam belajar bersama dengan anak-anak. Pengalaman Starla pun akan menjelajahi setiap imajianasi anak-anak. Tanpa disadari, anak-anak sudah belajar tentang rasa empati dan rasa sayang maupun hal lainnya yang akan membentuk karakter mereka.

“Sebuah Cerita tentang Bintang” tidak hanya hanya mengajarkan tentang bintang dengan pengertian yang baku, tetapi menjelajah dan hidup di dalam dunia anak-anak. Begitulah Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya menghidupkan bagian kecil topik “Bintang” dengan cerita tentang bintang.

Bagaimana dengan kita sebagai seorang pendidik? Apakah kita sudah memahami perkembangan pedagogi dan psikologi Pendidikan?  

“Eheem, aku hanya tersesat dan terpaksa menjadi seorang pendidik. Hari ini tidak merenungkan jalanku, tapi merenungka jalan menambahkan pendapatanku,” pikiran tersesat.

Bagaimana dengan kamu? [T]

Tags: dongengguruPendidikanpendidikan usia dini
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Berita Pagi

Next Post

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! - Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co