24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Wayan Purne by Wayan Purne
April 8, 2019
in Esai
Cerita Tentang Bintang: Memahami Pedagogi sebagai Konsep Kritis, Berpihak, dan Kontekstual

Stiker dinding

Sebagai seorang pendidik, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal?

Selain itu, apakah kita memahami pedagogi sebagai konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Kemudian, pemahaman pedagogi mana yang kita gunakan sebagai seorang pendidik?

Bisa juga kita sama sekali tidak pernah memahami kedua-duanya sebagai seorang pendidik. Kita hanya paham caranya anak didik meraih  nilai angka tertinggi setiap tes yang mereka hadapi. Jika hanya ini modal kita sebagai seorang pendidik, tidak mengherankan jutaan anak-anak disebut sebagai komoditas pasar.

Komoditas pasar Pendidikan yang membelenggu keuangan para orang tua tanpa mengetahui dengan jelas arah proses pendidikan anak-anak mereka. Mereka bahkan mungkin hanya tahu bahwa jika anak-anak bisa meraih semua gelar pendidikan, mereka sudah bisa mengantarkan anak-anaknya meraih pekerjaan tertinggi dengan gajih yang sangat tinggi. Apakah sederhana itu? Apakah justru jika salah memahami Pendidikan, kita akan menjerumuskan bahkan menghancurkan masa depan anak-anak kita?

Bagaimana kita tidak menyesatkan dalam menjalankan pendidikan? Jika sebagai seorang pendidik, tumpukan bahan materi Pendidikan dipahami sebagai bahan konsep yang netral, obyektif, dan universal. Akhirnya, kita hanya terpacu menyelesaikan tumpukan materi pendidikan dan menjejalinya kepada anak-anak didik dengan rasa ketakutan materi tidak akan terselesaikan.

Konsep pondasi dasar dan daya kritis anak pun semakin terlupakan. Mereka pun sebagai anak didik yang tidak mampu melahap tuntutan dari tumpukan bahan materi Pendidikan hanya dikurung dalam permakluman dan kompromi KKM. Dasar personalitas anak-anak pun terlupakan. Kita hanya terjebak pada formalitas pendidikan, yakni sibuk mengurusi ritual adminitrasi sabagai bentuk penyelamatan diri dari teguran pimpinan yang memegang kebijakan.

Siapa sebenarnya yang salah dengan semua ini? Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan keadaan ini. Aku terlalu kecil untuk memikirkan permasalahan ini dan tidak akan ada yang mendengarnya. Begitu juga dengan perubahan kurikulum, berakali pun ada perubahan kurikulum yang berubah adalah hanya perubahan adminitrasinya saja. Ritual formalitas Pendidikan pun semakin meningkat dan semakin rumit.

Di sisi yang lain, bagaimana dengan seorang pendidik? Entahlah, mungkin tetap saja nyaman dengan pola setatus quo sampai berkarat. Perkembangan imajinasi, kreativitas, daya kritis, dan personalitas anak pun ikut berkarat.

 “Ahh, yang terpenting aku sudah memiliki sertifikat profesi dan sudah mendapat tunjangan profesi. Terpenting lagi, aku sudah memenuhi semua adminitrasi yang sudah ditentukan. Posisiku tetap akan aman walau ada pendidik muda yang kratif!” Mungkinkah pikiranku itu benar?

Mungkin saja semua itu benar adanya, tetapi kita hanya pura-pura tidak tahu saja. Toh kita melakukanya sudah biasa dan sudah menjadi kebenaran Bersama. Oooh, pikiranku terlalu ngelantur kemana seperti melihat jaman kegelapan di Yunani. Mari kita kembali kepimikiran yang sederhana.

Bagaimana memahami sebuah materi dengan konsep yang kritis, berpihak, dan kontektual? Aku teringat kepada seorang teman, namanya Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya. Ia ingin menjelaskan tentang bintang kepada anak-anak PAUD. Ia pun membuat sebuah cerita tentang bintang agar imajinasi anak-anak tetap hidup di masa keemas an anak itu sendiri.

Begini cerita yang dibuat Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya yang diberi judul “Sebuah Cerita tentang Bintang”.

 Pada suatu hari hiduplah seorang gadis kecil bernama Starla. Dia tinggal hanya dengan ayahnya. Mungkin karena namanya, dia sangat suka dengan bintang. Setiap malam, sebelum tidur ia selalu duduk di serambi dan menatap bintang yang jauh. Ketika ia melihat bintang jatuh ia selalu berharap suatu hari ia bisa berkunjung ke bintang-bintang.

Suatu malam ada suara ketukan di pintu kamarnya. Ketika ia bangun dan membuka pintu ia melihat seorang peri bintang.

 “Hei, Starla, permintaanmu telah terkabulkan! Kemarilah kita akan terbang menuju bintang, jadi kamu bisa bertemu dengan mereka.”

Peri memegang tangan Starla dan tiba-tiba mereka sudah tinggi, sangat tinggi di langit. Bintang pertama yang ia lihat adalah matahari.

 “Ini adalah bibiku namanya Matahari.” Peri berkata. “Kita tidak bisa mendekatinya karena dia sangat panas.”

“Namun, bukankah itu matahari?” Starla bertanya.

“Ya benar, tapi ia juga sebuah bintang. Dia bintang yang sangat dekat dengan bumi dan orang–orang menamainya matahari. Bintang yang lain letaknya lebih jauh dari bumi. Ayo, aku akan memperkenalkan kamu pada keponakanku.”

Sekarang mereka melihat sebuah bintang berwarna biru yang sangat cantik. “Halo nama saya Starla, kenapa kamu berwarna biru? Aku bahkan tidak tahu kalau ada bintang berwarna biru.”

“Kamu tidak bisa melihatku dari bumi. Aku adalah bintang yang masih sangat muda sehingga aku berwarna biru. Ketika aku sudah tumbuh menjadi lebih dewasa aku akan menjadi seperti bintang lainnya.”

“Oh, aku mengerti,“ kata Starla. “Terimakasih atas penjelasannya, da..da…!”

Bintang selanjutnya yang ditunjukkan peri adalah bintang berwarna merah. “Ini adalah nenek saya yang sudah sangat tua.”

“Tapi kenapa ia sangat merah?”

Bintang merah kemudian menjawab pertanyaan Starla, “Aku berwarna merah karena aku sudah sangat tua, aku tidak kuat lagi untuk bersinar terang dan tak lama lagi aku akan jatuh.”

Starla menangis, “Oh tidak, tolong jangan jatuh!”

Kemudian nenek bintang menjawab, “Itu tidak masalah anak manis, kita semua dilahirkan dan kita akan mati suatu saat nanti. Ketika aku terjatuh orang-orang di bumi bisa melihatku dan mengajukan sebuah permintaan. Itu semua membuat aku sangat senang.” Starla akhirnya mengerti.

Di bumi ayah Starla sedang menatap langit saat nenek bintang merah terjatuh. “Lihat betapa indahnya, sebuah bintang jatuh,” dia berkata. “Aku mohon agar besok, ibuku, neneknya Starla akan datang dan membawakannya hadiah yang bagus.”

Dan kamu tahu? Setelah Starla bangun dari mimpinya yang luar biasa, neneknya datang berkunjung dan membawakannya buku yang paling bagus tentang…, tentu saja tentang BINTANG.

Bagaimana jika materi tentang bintang kita lihat sebagai konsep yang netral, obyektif, dan universal pada anak-anak usia PAUD? tentu bisa jadi kita hanya memberikan pengalaman yang kering.

Kita hanya memberikan, “Bintang adalah….” Kemudian apa yang terjadi pada anak-anak seusia itu? Anak-anak hanya menghapal materi itu saja. Masa keemasan pembentukan daya imajinasi, kreatifitas, kritis, dan personalitas anak akan terlewatkan begitu saja.

Beda halnya jika kita memahami tahap perkembangan umur anak secara psikologi pendidikan. Tentu kita akan dengan tepat menerapkan pedagogi dalam belajar bersama dengan anak-anak. Pengalaman Starla pun akan menjelajahi setiap imajianasi anak-anak. Tanpa disadari, anak-anak sudah belajar tentang rasa empati dan rasa sayang maupun hal lainnya yang akan membentuk karakter mereka.

“Sebuah Cerita tentang Bintang” tidak hanya hanya mengajarkan tentang bintang dengan pengertian yang baku, tetapi menjelajah dan hidup di dalam dunia anak-anak. Begitulah Ngakan Putu Angga Nantha Wijaya menghidupkan bagian kecil topik “Bintang” dengan cerita tentang bintang.

Bagaimana dengan kita sebagai seorang pendidik? Apakah kita sudah memahami perkembangan pedagogi dan psikologi Pendidikan?  

“Eheem, aku hanya tersesat dan terpaksa menjadi seorang pendidik. Hari ini tidak merenungkan jalanku, tapi merenungka jalan menambahkan pendapatanku,” pikiran tersesat.

Bagaimana dengan kamu? [T]

Tags: dongengguruPendidikanpendidikan usia dini
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Berita Pagi

Next Post

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! – Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

CHARCOAL FOR CHILDREN 2019: HANDS ON! - Mengasah Kreativitas Anak dan Gaya Hidup Peka Lingkungan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co