23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memahami Golput dan Sikapnya

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
March 15, 2019
in Opini
Memahami Golput dan Sikapnya

Hari pencoblosan pemilu 2019 sudah hampir tiba. Layaknya pasar, setiap orang mulai menimbang serius, menawar harga, berbasa-basi antara penjual-pembeli, atau sekedar lihat-lihat lalu ngloyor pergi. Namun ada juga suara penjual layaknya mengobral barang, atau pembeli yang menggrutu karena barang yang diidamkan tak kuasa diraih.

Ya, benar,  pemilu masih layaknya pasar, orang hanya jual dan beli, lalu selesai. Masih jauh dari landasan moral, landasan etika , atau landasan politik yang kokoh, layaknya sebuah polis, di zaman Athena dulu, yang menjadi epistemologi politik dan demokrasi dunia saat ini.

Athena, yang merupakan sebuah kota atau polis, dimana warganya dipandang telah memiliki sebuah peradaban luhur, hingga mampu memisahkan antara yang public atau res-publica dan yang privat atau res-privata, di mana di ranah publik, ide-ide dan gagasan disandingkan, dipertarungkan, dan diperdebatkan. Dalam polis setiap orang berdiri sejajar, setara, tanpa memandang kekeyaanya, pendidikanya, atau status sosial yang lain. Setiap orang boleh berbicara, berekpresi, tanpa harus takut dijerat hukum.

Omongan yang tak bermutu tentu akan disoraki dan omongan yang bagus mendapat aplus. Semuanya berjuang dan berpikir untuk kebaikan bersama.

Dalam polis tidak ada ruang untuk kepentingan pribadi atau kelompok, tidak pula boleh melekat sebuah identitas tertentu dalam ruang di res-publica.

Dalam dinamika politik Indonesia selalu muncul fenomena golput. Tak terkecuali di pemilu 2019 ini. Tentunya banyak faktor dan alasan orang tidak menggunakan hak pilihanya. Mungkin karena alasan administrasi, masalah waktu, atau alasan teknis yang lain.

Namun fenomena golput adalah fenomena politik. Ia berbeda dengan alasan-alasan tak memilih lainya. Golput, yang awalnya lahir pada pemilu 1971, dengan seorang tokoh yng bernama Arief Boediman, menjadi tolak ukur, sikap ketidakpuasan terhadap atmosfir politik yang berkembang. Termasuk pada pemilu ini, walaupun setiap masa memiliki ciri dan tantangannya sendiri, namun secara umum, golput adalah sikap politik yang mewakili suara protes dan ketidakpuasan.

Nah apakah yang menjadi landasan politik golput pada pemilu 2019 ini? Apakah benar seperti yang dikatakan orang sebagai parasit, bodoh, dan gangguan jiwa? Penulis mencoba merangkumnya dalam beberapa catatan, yang sedikit banyak menjadi kegelisahan yang banyak disuarakan saat ini, hingga kita memiliki pandangan yang berimbang terhadapnya.

PEMILU sebagai ritual elektoral hanya sebagian kecil dari bentuk partisipasi publik dalam politik dan kehidupan bernegera. Saat ini kita terlalu banyak menghabiskan energi untuk proses elektoral ini.

  • Bagian kecil dari partisipasi publik, yang katanya sebagai wujud kedaulatan rakyat ini pun masih dipereteli dari tujuan idealnya. Seperti masih banyak  dimajukanya calon anggota DPR yang pernah tersangkut kasus korupsi atau diidikasikan sedang tersangkut kasus korupsi. Hal ini mengindikasikan kegagalan partai politik memberikan pilihan-pilihan calon yang bermutu kepada rakyat, dan bentuk pelecehan kedaulatan rakyat itu sendiri. Dibatasinya calon presiden dengan adanya ketentuan parliamentary threshold 20% yang menutup peluang munculnya calon presiden lebih banyak. Alih-alih mempermudah munculnya calon dari kalangan independen, peraturan ini juga menutup peluang calon diluar partai politik untuk tampil menyodorkan gagasanya kepada rakyat.
  • Adanya ketentuan bahwa partai harus bersifat nasioanal, sehingga menutup peluang munculnya partai lokal sebagi wujud desentralisasi politik dan reformasi kelembagaan partai politik. Membangun partai besar diperlukan modal yang besar, sehingga hanya segelintir elite saja yang menguasai partai dan kekuasaan terpusat pada segelintir orang yang menyerupai dinasti politik.
  • Pemilihan umum masih bersifat prosudural, belum menyentuh hal yang substansial. Indikasinya politik uang masih kuat, penyelewengan dana bansos sebagai iming-iming bagi para pemilih, dan tak adanya adu gagasan dan program yang kuat terlihat diantara calon.

Masih banyak bentuk partisipasi rakyat dalam politik di luar ritual elektoral pemilu, misalnya menulis wacana sosial, diskusi publik,  kajian ilmiah, turut dalam musyawarah desa, ikut serta mengawasi jalanya pemerintahan, menulis cerpen, novel, dan kegiatan lain yang mana sekiranya memungkinkan mempengaruhi kebijakan publik.

  • Perisipasi rakyat dalam politik tidak juga hanya dengan menjadi anggota dewan atau berada dalam barisan pemerintah. Berada diluar pemerintah pun, misalnya menjadi GOLPUT, tetap memungkinkan seseorang berkontribusi, dengan memberikan kritik yang membangun, atau berupaya menumbuhkan saluran alternatif , yang jika mungkin dapat menjadi cikal bakal partai alternatif dengan gagasan-gagasan yang baru atau berbeda dari yang ada saat ini.

Golput bukanlah netral. Golput bukanlah pasif  dan apatis. Namun GOLPUT adalah wujud aktif kepedulian, dan keinginan memperjuangkan kepentingan bersama.

  • Jika proses pilpres dianggap sebagai konflik, karena hanya melahirkan dua kubu yang bertarung sengit, namun tanpa ide dan gagasan, bahkan menjurus memecah belah dengan hoak, kebencian, saling ledek, saling sindir, maka sikap GOLPUT dapat dipandang sebagai upaya memecah kebekuan situasi tersebut.
  • Dalam sebuah konflik sikap netral bisa diartikan sebagai upaya mempertahankan hidup atau sense 0f survival. Sikap ini tercermin dari sikap melayani dan berbaik-baik sikap kepada kedua belah pihak yang berkonflik. Golput disini menghindari sikap mengambil keuntungan dari kedua belah pihak yang berkonflik.
  • Sikap netral kadang juga diartika mencari perlindungan. Kadang juga diartikan sebagai upaya mendamaikan pihak yang berkonflik. Sikap golput bukan pada keduanya, namun lebih sebagai upaya meneguhkan hal-hal yang benar dan dianggap ideal dalam sistem politik dan bernegara yang menjadi cita-cita bersama. Dengan begitu dapat dipandang semacam koreksi terhadapa situasi yang berkembang saat ini.

Pemilu pada dasarnya adalah upaya memenangkan kehendak rakyat, bukan malah menjadikan rakyat sekedar sebagai objek ekspoilitasi dan pihak yang dimanfaatkan. Sudah bukan rahasia umum jika rakyat hanya diperlukan untuk mendulang suara. Selekas pemilu usai, rakyat kembali memperjuangkan nasibnya sendiri. Atau yang paling tragis sang politikus berpikir suara rakyat telah  mereka bayar dan mereka gantikan dengan sejumlah uang.

  • Untuk dapat memenangkan rakyat, agenda-agenda pro rakyat, agenda-agenda reformasi, penegakan supremasi hukum, supremasi sipil dan demokratisasi harus dapat didorong dan dipastikan calon-calon yang tampil melaksanakanya dengan sungguh-sungguh.
  • Tanpa keberhasilan mendorong agenda-agenda rakyat, pemilu hanya menjadi ritual elektoral yang tak berarti banyak dan tak mampu mengubah apa-apa.
  • Untuk dapat mendorong agenda-agenda rakyat diperlukan organisasi rakyat, koalisi sipil mandiri, atau konsolidasi kekuatan rakyat yang memadai sehingga memiliki kekuatan untuk bersuara dan didengar.
  • Menimbang hak bekumpul, berserikat, dan berpendapat dilindungi undang-undang, ekpresi dalam bentuk golput sewajarnya mendapat tempat. Karena pada hakekatnya golput adalah kehendak melakukan koreksi terhadap proses politik  tak sehat yang sedang berlangsung ini.
  • Mendesak Negara mengakomodir kelompok golput, bukan malah memojokan mereka atau berupaya mengkriminalisasi mereka.

Kekuatiran bahwa rakyat akan kalah dalam proses politik saat ini, memiliki alasan yang kuat, dengan melihat begitu banyaknya kepentingan oligarki dan elite bisnis diseputaran kedua kubu yang bertarung dalam pilpres, yang mana tentunya memiliki agenda-agenda tersembunyi, seperti ekploitasi sumber daya alam, penguasaan tambang atau lahan sawit, yang mana hanya mementingkan keuntungan segelintir orang dan kelompok tertentu.

  • Untuk itu dirasa perlu memajukan pendidikan politik warga dan menjadikan pemilu sebagai public school, dengan begitu para bohir dan makelar politik tak dapat leluasa bermain.

Ke depan tujuan perjuangan yang menjadi gol bersama adalah membuka lebih luas partisipasi publik dalam politik, membuka saluran alternatif, dan membangun suasana politik yang lebih bermartabat dengan mengedepankan program, ide, gagasan, soal sosial politik yang bermutu.

  • Peluang pembentukan partai baru lebih dipermudah dengan konsep desentralisasi politik, memungkinkan partai lokal bertanding mengajukan gagasanya, tanpa harus partai bersifat nasional.
  • Calon independen dipermudah tampil dan berlaga.
  • Menghapus parliamentary treshhold 20% hingga memungkinkan lebih banyaknya calon presiden dengan begitu pilihan rakyat lebih banyak pilihan dan wacana publik pun lebih bervariasi.
  • Dilakasanakanya agenda-agenda reformasi dan demokratisasi dengan sungguh-sungguh, meneguhkan supremasi sipil, menolak dwi fungsi meliter, penyeselasian kasus-kasus HAM masa lalu dan konflik-konflik yang berhubungan dengan tambang dan infrastruktur, seperti kasus 65, tanjung priok, talangsari, atau yang terkini kasus konflik tanah di papua, reklamasi teluk benoa bali, tambang tumpang pitu banyuwangi dan lain-lainnya.
  • Dimunculkanya diskursus dan wacana yang lebih elementer, yang langsung menjurus pada penyelesaian kasus, bukan sekedar basa-basi politik yang bersifat permukaan.
  • Stop ekploitasi dan pembodohan rakyat dengan isu-isu SARA, primordial, HOAKS, dan isu-isu kebencian yang tidak mengarahkan rakyat pada kemajuan.

Cebong dan kampret jangan baper…!

Tags: golputIndonesiapemiluPilpresPolitik
Share102TweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Pilpres: Solipsisme, Cebong dan Kampret Tak Akan Tertukar

Next Post

Lomba Penulisan Esai Seni Rupa Tahun 2019

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Lomba Penulisan Esai Seni Rupa Tahun 2019

Lomba Penulisan Esai Seni Rupa Tahun 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co